
Selamat membaca....
***
MALIA
“Kamu dari mana?”
Pertanyaan dari Reiji langsung menyapaku dengan nada suaranya yang terdengar hambar, saat aku memasuki unit apartemen kami.
“Jam segini baru pulang?”
Berikut roman muka Reiji yang masam.
“Ketemuan sama temen....”
Aku menjawab sambil berjalan menuju pantri apartemenku dan Reiji, dimana dia sedang duduk di depan televisi dengan sebuah konsol yang ada di tangannya.
Konsol game, dengan mata Reiji yang tertuju pada televisi.
Yap, Reiji tak menoleh padaku saat ia bertanya ketika aku masuk tadi.
Dan aku membuka kulkas untuk mengambil air minum dingin setelah meletakkan tas kerjaku di atas meja pantri.
Ada rasa sebersit rasa bersalah dalam hatiku pada Reiji sebenarnya, karena aku telah ‘ketemuan sama temen’ yang notabene adalah seorang lelaki dari masa laluku.
Selain itu aku berprasangka soal Reiji yang tidak menghubungiku, karena dia sedang bercengkrama bersama sahabat perempuannya.
Namun pada kenyataannya, Reiji sudah lebih dulu ada di apartemen kami sebelum diriku.
Dan melihat sikap Reiji sekarang ini, sepertinya dia sedang kesal padaku. Paham sih aku. Tapi kan aku sudah berusaha menghubungi Reiji?, namun panggilanku tidak dijawab olehnya.
“Ngasih kabar dulu ga bisa ya?” tanya Reiji lagi.
Sudah ketus dan sinis suara Reiji saat bertanya padaku barusan.
“Bisa biasa aja nanyanya?” kataku.
Reiji pun terdiam. Aku mendengus sebal.
Memang dia ga cek ponselnya dan melihat jika aku telah menghubunginya?.
“Kamu ga ada ngomong mau ketemuan sama temen hari ini? ..” kemudian Reiji bersuara lagi.
“Mendadak.” Aku segera menukas.
Kulihat Reiji berdecih sinis.
Dan sikap Reiji yang berdecih sinis itu jadi memicu kekesalanku.
“Aku udah coba menghubungi kamu ya, tapi kamu ga jawab telepon aku.”
Lalu aku kembali bicara, dengan aku yang masih berdiri di dekat kulkas pada pantri.
“Loh aku kan udah kasih kabar ke kamu kalau ada trouble di Bandara, dan aku harus ikut meeting.”
Reiji tampak melakukan pembelaan diri.
“Kalau aku ga jawab panggilan kamu berarti aku masih dalam meeting.”
Lalu Reiji kembali berbicara.
“Kalo telpon ga aku jawab, chat emang ga bisa?”
Kemudian Reiji berbicara lagi, dan nada suaranya kembali sinis.
Dan hal itu membuat emosiku sedikit terpicu. “Denger ya Rei ..”
Aku meletakkan botol minum pribadiku di atas meja pantri, di samping tas kerjaku.
“Waktu kamu ke Bogor setelah dari Monaco tanpa kasih tau aku sebelumnya, aku biasa aja ..”
Sambil aku meraih tas kerjaku yang tadi aku letakkan di atas meja pantri.
“Lagian kalo kamu penasaran kenapa ‘jam segini aku baru pulang’, kamu bisa kan telpon balik aku? Bukannya malah main PS!”
Aku menunjuk layar televisi dengan mataku.
Dan aku yakin, nada suaraku yang sinis tadi tertangkap oleh Reiji.
Karena aku sempat melihat Reiji menghentikan gerakan tangannya pada konsol game yang sedang ia mainkan di mesin video game miliknya itu, saat aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke kamar.
Aku mengaku salah soal kelakuanku hari ini yang tidak mengabari Reiji sebelumnya untuk pergi ‘mengobrol’ dengan Irsyad.
Tapi sikap Reiji saat aku masuk ke apartemen - sampai aku teringat jika aku tidak memberi salam saat masuk tadi, jadi memicu kekesalanku pada Reiji.
Hhhh, sepertinya aku harus segera pergi mandi. Mungkin saja kucuran air shower dapat meluruhkan kesalku pada Reiji, terutama pada pikiran-pikiran yang mulai menggelayut di kepalaku, sedikit menyesakkan benakku.
**
Malia yang biasa berleha-leha setelah pulang kantor sebelum dirinya membersihkan diri, langsung mengambil pakaian gantinya saat dirinya masuk ke dalam kamar, dan segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan Reiji yang masih duduk di ruang tamu apartemen mereka, dan memperhatikan Malia yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi itu.
Reiji menghela nafasnya sedikit berat sembari ia memperhatikan Malia yang nampak suntuk sekali roman mukanya.
Namun Reiji sudah tidak lagi memainkan game pada mesin konsol game-nya, dan juga sudah mematikan mesin permainan tersebut berikut televisinya. ‘Salah, kalo gue nanya kenapa istri gue baru pulang jam segini? ... Kalo gue ga angkat telepon, kirim pesan chat apa susah? ... Harusnya gue yang marah, istri baru pulang jam segini! ... Dahlah gue bela-belain ga makan sehabis meeting tadi! Sampai gue terpaksa harus makan mi instan...’
__ADS_1
Reiji membatin.
Reiji dan Malia sama-sama menyimpan kekesalan di dalam hati mereka. Lalu Reiji bangkit dari tempatnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Malia.
***
MALIA
Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untukku?.
Kenapa membuat Irsyad muncul kembali disaat aku telah menjadi milik Reiji?.
Dan kenapa aku jadi memikirkan soal itu?.
Kenapa aku harus bertanya-tanya soal takdir Tuhan yang mempertemukan aku kembali dengan Irsyad, setelah aku menikah dengan Reiji?.
Apakah karena aku sedang kesal dengan Reiji saat ini?.
Oh tidak! Apakah ini adalah karena aku masih menyimpan rasa itu pada Irsyad?.
Oh Tuhann .. mengapa Kau membuat perasaanku menjadi campur aduk begini? ..
Mengapa mempertemukanku lagi dengan Irsyad?. Laki-laki dimasa laluku, yang pernah membuatku jatuh cinta.
Hingga membuatku memikirkan lagi tentang masa lalu Reiji yang pernah mencintai wanita lain.
Aku jadi kembali memiliki tanda tanya besar di kepala dan hatiku.
Apakah sebenarnya aku ini memang belum siap menikah?.
Menikah dengan Reiji.....
Dan apakah kini aku merasa menyesal?.
Tidak, Tidak .... Aku harus menyingkirkan pikiran itu!.
Lo, hanya sedang kelewat baper dengan kehadiran Irsyad, Lia!
---
Hanya saja pertemuanku kembali dengan Irsyad, terutama hari ini.
Aku rasakan mulai mengganggu kestabilan hatiku. Membuat memori- memori indah itu terputar lagi di kepalaku.
Hal-hal mengenai laki-laki yang pernah membuat hari-hari dan hatiku berwarna itu-saat ini, seperti sebuah film favorit yang ingin aku tonton lagi.
Film tentang senior galak yang berubah menjadi senior paling baik padaku semasa kuliah dulu, hingga terus seperti itu sampai Irsyad telah lebih dulu lulus dariku, dan tetap sangat baik padaku hingga sampai dia pindah ke London.
Dan kebaikan Irsyad perlahan tapi pasti, tidak aku rasakan lagi.
Irsyad selalu aku impikan sejak itu. Akupun membagi cerita tentang Irsyad pada Avi, karena aku tak tahan rasanya untuk tidak menceritakan tentang lelaki impianku pada sahabatku itu.
Seseorang yang jago main biola dan selalu tampak bahagia. Seseorang yang selalu punya banyak cerita untuk ia bagi denganku.
Seseorang yang menjadi sumber alasanku menjomblo selama bertahun-tahun, dan menolak pernyataan cinta dari beberapa laki-laki lain di Kampus dulu.
Karena yang aku tunggu adalah pernyataan cinta dari Irsyad.
Tapi hingga sampai dua tahun kemudian, tak pernah ada pernyataan cinta dari Irsyad padaku, pun ajakan berkencan secara resmi.
Lalu jarak memisahkan ku dengan Irsyad. Namun begitu, dia tetap menjadi lelaki impianku. Hingga sampai pada titik bahwasanya aku telah dia lupakan.
Lalu aku dijodohkan dengan Reiji. Dan lelaki impianku itu-yang aku inginkan dengan sangat menjadi pendamping hidupku dimasa depan, mimpiku padanya, telah aku kubur demi sebuah perjodohan.
---
Malam ini, suasana dalam apartemenku dan Reiji terasa lebih sunyi dari biasanya. Selepas mandi aku langsung masuk kembali ke kamar dan memilih untuk menghabiskan waktu berselancar di ponselku, sembari aku mendudukkan diri di atas ranjang.
Aku tak melihat Reiji di tempatnya tadi saat aku keluar dari kamar mandi. Apa Reiji pergi keluar?.
Tapi setelah aku perhatikan, aku melihat ponsel Reiji berada di atas nakas dalam keadaan sedang di charge.
Dan aku rasa Reiji masih berada di dalam apartemen kami ini. Dan ah ya, aku ingat tentang ruang serbaguna kami.
Aku yakin dia pasti sedang berada disana saat ini. Yang mana, kemungkinan besar jika Reiji sedang berkutat dengan salah satu dari koleksi buku-buku bacaannya.
Dan aku enggan untuk mengecek kebenaran dari dugaanku tentang keberadaan Reiji saat ini.
Aku sedang merasa kesal pada Reiji, dan malas sekali untuk bicara atau sekedar menegurnya sekarang ini.
Sekalipun seharusnya aku menghampiri Reiji hanya untuk sekedar bertanya, apakah dia sudah makan atau belum. Bahkan aku sedikit merasa lapar juga sekarang ini. Tapi rasa kesalku pada Reiji membuatku malas beranjak dari ranjang, walau hanya untuk sekedar mencari camilan di pantri apartemen kami.
Aku sedang malas berbasa-basi jika berpapasan dengan Reiji.
Rasanya kesalku sedikit bertambah pada Reiji.
Alih-alih membujukku atau apa kek gitu agar redam kesalku padanya, tapi dia malah menghindariku selayaknya aku yang menghindarinya.
Heran, jadi cowok kok ga peka banget sama cewek. Dan terlebih lagi cewek ini adalah istrinya sendiri. Beda kalo istri orang.
Romantis kalo ada maunya doang! Menyebalkan!.
Lebih baik aku tidur!.
***
__ADS_1
Bunyi alarm memecah pada waktu yang seperti selalunya alarm pada dua ponsel itu berbunyi di setiap paginya.
Dimana dua insan yang tidur dengan saling memunggungi itu pun-seperti biasanya, akan segera terusik dengan bunyi alarm tersebut.
“Pagi Yang.”
Sapaan yang terdengar, membuat Malia yang telah bangun dan tangannya sedang meraih ponselnya itu untuk mematikan alarm pun menoleh.
“Pagi, Rei ..”
Malia pun membalas sapaan Reiji yang kemudian mengecup keningnya itu seperti biasa.
Namun Malia sejenak tertegun, karena sikap Reiji yang seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
‘Hhh.’
Malia menghela nafas dalam hatinya.
‘Bisa ya dia, bersikap seolah ga terjadi apa-apa?’
Malia membatin sambil memperhatikan Reiji yang telah berjalan menuju pintu kamar.
'Tapi kalo dia bahas lagi, gue juga pasti jadi bad mood!'
***
Memilih untuk memendam saja kekesalannya pada Reiji, Malia memposisikan dirinya sebagaimana selama ini ia bersikap pada Reiji.
Reiji pun sama halnya seperti Malia.
Pertengkaran mereka semalam, tak Reiji ambil pusing.
Tak mau Reiji bahas lagi, karena enggan memperpanjang masalah yang sepele dalam pandangan Reiji.
Hanya cekcok mulut kecil, buat apa diperpanjang? – Begitu pikir Reiji.
Jadi yang Reiji lakukan keesokan harinya adalah bersikap seperti biasa saja.
Toh cekcok antara suami istri dalam rumah tangga sudah biasa kan? .. Lagipula cekcok mulutnya dengan Malia hanya karena Malia pulang terlambat tanpa Reiji tahu kemana Malia pergi.
Sedikit banyak, Reiji merasa salah juga sih kalau mengingat ucapan Malia yang mengatakan kalau memang penasaran istrinya itu kemana kenapa ga telpon balik aja.
Kalau Reiji mau bahas yang sebenarnya, ya Reiji ingin sekali menghubungi Malia dan menanyakan dimana keberadaan istrinya itu, karena ketika Reiji sampai ke apartemen, tapi Reiji tidak menemukan Malia didalamnya.
Bukan tidak mau menghubungi juga. Yang pertama, ponsel Reiji low-bat.
Dan yang kedua, Reiji merasakan tubuhnya letih. Bahkan tak lama sampai di apartemen, dirinya jatuh terlelap selama beberapa jam.
Ketika Malia kembali pun, Reiji juga belum lama bangun dan selesai menikmati mie instan yang mau tidak mau dia konsumsi karena merasakan lumayan lapar.
Makanya Reiji sedikit emosi juga kala dia terbangun namun Malia belum terlihat juga batang hidungnya. Mau menghubungi atau melihat apakah Malia memberi kabar, Reiji lupa mengisi ulang baterai ponselnya.
Pun, powerbanknya tertinggal di dalam loker Reiji yang berada di Bandara. Jadi ponselnya yang mati total itu, akan Reiji isi ulang barang sejenak, baru setelahnya akan ia nyalakan kembali. Untuk itu Reiji membunuh bosan dengan bermain video game.
Dan saat baru sebentar bermain, tak lama Malia pulang.
Dan entah kenapa, tahu-tahu ada kesal yang hinggap di hati Reiji, setelah ia melirik pada jam dinding saat Malia datang ke apartemen mereka itu.
Jadilah pertanyaan bernada sinis terlontar dari mulut Reiji pada Malia yang baru pulang itu. Tapi Malia juga ikut-ikutan kesal rupanya karena merasa tak puas dengan sikap Reiji.
Namun begitu, saat Reiji menampakkan sikap biasa di keesokan paginya, Malia jadi meredam saja kesalnya pada Reiji dengan bersikap seperti biasa, walau tak diwarnai kemesraan, dan tidur saling memunggungi.
Namun Malia dan Reiji berkomunikasi dengan normal. Juga melakukan aktifitas dengan normal.
Dalam hal ini mengantar jemput Malia untuk pergi ke kantornya, jika memang waktunya tidak bentrok dengan jadwal kerja Reiji.
***
MALIA
Sejak aku pulang terlambat karena janjian dengan Irsyad hari itu, aku memendam kesalku pada Reiji.
Sepertinya juga Reiji merasakan kekesalannya padaku yang pulang terlambat hari itu.
Tapi esok harinya, tidak ada pembahasan lagi soal aku yang pulang terlambat dengan beralasan pada Reiji kalau aku ketemuan dengan teman.
Jadi aku membiarkan saja hal itu.
Daripada nanti merembet kemana-mana lagi.
Lagipula, jika aku pikir-pikir, seharusnya aku memaklumi sikap Reiji yang kesal karena aku pulang terlambat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Tapi toh aku kan juga sudah berusaha menghubungi Reiji, namun panggilanku tidak terjawab. Dan Reiji juga tidak berusaha balik menghubungiku.
So, mungkin kami sama-sama salah.
Tapi bicara tentang kesalahan, mungkin Irsyad yang perlu disalahkan karena tahu-tahu muncul lagi kehadapanku.
Membuat pikiranku terganggu. Dan perlahan, kenanganku bersamanya seolah sedang berusaha bangkit dari kubur.
Mengganggu kestabilan otak, juga hatiku.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih masih setia ...