
Noted : Budayakan membaca terlebih dahulu, sebelum memberikan LIKE / KOMEN.
Terima kasih.
***
Selamat membaca....
***
“Getol juga ya dia nelponin kamu?...”
Malia tahu-tahu berucap sinis setelah ia selesai membaca pesan chat yang Reiji tunjukkan di ponselnya, untuk menjawab tudingan Malia yang berpikir jika dia telah rapih diwaktu yang lumayan jauh dari jam kerjanya karena janjian dengan Shirly.
“Getol? ...”
Reiji yang tahu siapa yang Malia maksud dengan ‘dia’ kemudian menyahut, lalu ia terkekeh.
“Kamu, getol juga ya ketemuan sama si Irsyad itu?!”
Kata-kata balasan Reiji terasa menohok untuk Malia.
“Kamu pergi kemana sama dia kemarin sampai pulang hampir larut malam?”
“Mana ada larut malam?! Jam sepuluh kurang aku udah ada di sini ya.”
Malia membela diri.
“Iya, tapi dari pagi kamu pergi, Malia Leonard!”
Rahang Reiji mengeras.
“Apa harus aku ingatkan lagi, jika nama kamu sekarang sudah menjadi Malia Shakeel ---“
Reiji menatap Malia tajam kemudian.
“Silahkan kamu mau pergi kemana dan sama siapa aja, tapi ga hanya pergi berduaan sama teman lelaki kamu yang namanya Irsyad itu!”
Lalu Reiji berkata dengan tegas.
“Ga usah larang-larang aku!”
Malia membalas pedas.
Dimana balasan Malia itu cukup membuat Reiji tercengang.
“Aku ini suami kamu Lia!” Dan dengan cepat juga Reiji menyahut.
“Trus kenapa?!”
“Trus kenapa? ... kamu tanya trus kenapa? ...”
Reiji menatap Malia tak percaya dengan sikap Malia sekarang.
“Ingat ya Rei, aku nikah sama kamu karena kita dijodohkan.” kata Malia.
Dimana Malia telah berdiri dari duduknya, dan mata Reiji bergerak mengikuti pergerakan Malia namun Reiji masih duduk ditempatnya.
“Aku ga pernah ada rasa sama kamu dan aku menerima perjodohan ini hanya demi papa sama mama—“ Malia berkata dengan sinis, namun matanya mulai berkaca-kaca.
Reiji pun tercengang mendengar ucapan Malia.
“Aku bahkan ga ngerti kenapa jadi begini .....” ucap Malia yang matanya tadi sudah nampak berkaca-kaca, kini terlihat basah sudutnya. “Kenapa pernikahan ini sampai terjadi .....”
Reiji bergeming dan menatap nanar pada Malia. “Aku juga ga tahu kenapa pernikahan ini sampai terjadi, Lia –“ Reiji pun bersuara. “Yang jelas, jika kamu ingat waktu aku dateng ke wisuda kamu dan kamu langsung berhambur untuk memeluk aku, jantungku berdebar ga karuan. Dan aku sempat menyangkal perasaan itu, karena yang aku tahu selama ini kita saling mengasihi.”
Reiji berucap sambil memandang pada Malia.
“Setelah perjodohan kita itu tercetus, aku kembali teringat momen saat kamu peluk aku dengan wajah yang berbinar di wisuda kamu itu. Dan sepertinya sejak itu, aku sudah jatuh hati ke kamu. Meski aku pernah coba menyangkalnya.”
“....”
“Tapi sejak perjodohan itu, dengan seringnya kita bertemu dan menghabiskan waktu dalam persiapan pernikahan juga ... Di waktu itu aku semakin menyadari kalau aku udah memang mencintai kamu, Yang ...”
“....”
“Perjodohan ini, pernikahan kita yang sampai terjadi ini, udah menyulap rasa sayang aku sebagai seorang kakak ke kamu menjadi cinta –“
“....”
“Tapi untuk kamu tau Yang.”
Reiji bangkit dari duduknya. Berdiri menghadap pada Malia. Namun tetap pada jaraknya.
“Diluar itu, setelah aku menikahi kamu ...” sambung Reiji. “Dan aku rasanya udah pernah mengatakan ini ke kamu, bahwa komitmen aku dengan menikahi kamu adalah mencintai kamu, selain menjaga kamu. Komitmen yang jelas dan pasti dari aku buat kamu, yang ga perlu kamu ragukan lagi.”
Reiji terdiam kemudian.
Untuk sesaat Reiji hanya menatap Malia. “Dan yang aku tau, kamu pun menerima perjodohan ini secara sadar, bahkan kamu sendiri yang mengiyakan,” lalu Reiji kembali berbicara. “Tapi sekarang kamu sendiri yang mempertanyakan? Karena laki-laki bernama Irsyad itu? ...”
“Ga usah bawa-bawa dia.”
“Okay.” Sahut Reiji. “Aku ga akan bawa-bawa dia dalam pembicaraan kita ini.”
“....”
“Biar aku katakan sekali lagi ke kamu, dan tolong sekali lagi aku mohon kamu percaya.”
__ADS_1
“....”
“Aku dan Irly sudah berteman selama bertahun-tahun. Dan selama itu hubungan aku dan dia hanya murni pertemanan. Aku dan Irly hanya bersahabat. That’s it. Dan tentang aku pernah punya perasaan sama dia, iya aku akui itu. Dan aku pun telah pernah menjawab pertanyaan kamu soal itu tanpa ada yang aku tutup-tutupi kan? ..”
Reiji bicara panjang lebar.
Reiji mengangkat tangannya, saat Malia nampak hendak ingin bicara.
“Tapi perasaan aku ke Irly itu sudah aku buang jauh-jauh sejak dia memilih laki-laki lain untuk jadi pasangannya..”
“Pasangan? Kayaknya dia dateng sendirian di resepsi kita.” Sanggah Malia.
“Dia sudah berpisah dengan pasangannya jauh sebelum kita dijodohkan. Makanya –“
“Oh, janda?” sambar Malia seraya menyindir. “Udah jadi janda makanya dia ngedeketin kamu lagi?”
Malia tampak sengit.
“Ga seperti itu, Yang.”
Reiji langsung menyanggah.
“Wah, wah, suamiku sedang membela sahabatnya yang janda –“
“Lia!” Suara Reiji meninggi. “Bisa ga sih kamu berhenti bersikap skeptis dan percaya sama aku?”
“Entah Rei-“
Malia menghela nafasnya.
“Aku bahkan ga percaya kalau perjodohan yang berujung pernikahan kita ini sampai terjadi ..”
Malia berbalik badan setelahnya. Lalu dengan cepat melangkahkan kakinya ke dalam kamar pribadinya dan Reiji.
**
Perdebatan yang terjadi antara Reiji dan Malia beberapa hari yang lalu menciptakan kembali aura dingin diantara keduanya.
Lidah keduanya seolah menjadi kelu. Sama – sama enggan untuk memulai bicara terlebih dahulu.
Ego yang besar, sedang sama – sama menguasai Reiji dan Malia. Terlepas dari siapa yang sebenarnya bersalah hingga perang dingin di antara sepasang suami istri yang usia pernikahannya masih seumur jagung itu – istilahnya, terjadi.
Beberapa hari belakangan ini, Reiji dan Malia seolah sibuk dengan dunia mereka masing – masing. Tidak sepenuhnya tidak saling bicara, namun komunikasi antara Reiji dan Malia terjadi seperlunya saja. Hanya sekedar saling mengucapkan pamit jika ada yang berangkat duluan untuk bekerja.
Selebihnya tidak ada.
**
REIJI
Benar yang orang tuaku dan Lia bilang, jika rumah tangga itu tidak mudah.
Ya benar juga.
Kalau rumah tangga itu mudah, tidak akan ada yang namanya perceraian.
Padahal diantara beberapa pasangan yang bercerai itu, notabene saling mencintai sebelum mereka memutuskan untuk menikah.
Merasa yakin dengan pilihannya masing – masing, atas dasar cinta. Namun jika cinta adalah dasarnya, kenapa perceraian bisa jadi opsi dua orang yang saling mencintai untuk bercerai?..
Lalu bagaimana dengan pernikahanku dengan Lia yang tidak dilandasi dengan cinta ini?.
Rasanya rumah tangga yang tidak mudah itu, akan semakin terasa amat sangat tidak akan mudah untukku.
Well, tidak dilandasi oleh cinta dari satu pihak lebih tepatnya. Walau ada rasa sayang untukku.
Katanya. Kata Lia, yang katanya sudah menyayangiku lebih dari sebelumnya setelah kami menikah.
Benarkah? ..
Jika benar, mengapa ia sulit untuk mempercayaiku?.
Jika benar Lia menyayangiku,
Mengapa Lia lebih memilih untuk membiarkan saja krisis dalam rumah tangga kami ini?.
Bukankah ..
Jika Lia memang menyayangiku, setidaknya dia sedikit saja menghormatiku, menghargai perasaanku? ..
Bukannya semakin asik menghabiskan waktu bersama lelaki impiannya itu.
**
Dimata Reiji, Malia perlahan-lahan nampak berubah sejak kehadiran kembali seorang Irsyad dalam hidup Malia. Dan perubahan Malia itu semakin kentara bagi Reiji, dalam beberapa hari belakangan ini.
Hanya sekedar bertegur sapa-itupun irit adanya, seperti hanya sekedar memenuhi kewajiban saja-pun seolah terpaksa.
Selama beberapa hari ini pun Reiji lebih banyak diam seperti halnya Malia.
Namun bukan berarti Reiji sudah masa bodoh dengan nasib pernikahannya dengan istrinya itu.
Reiji hanya sedang tepekur diri. Sedang juga menyangkal ketidak beresan rumah tangganya dengan Malia.
Berpikir tentang kata orang-orang yang sering Reiji dengar seiring budaya yang ada di negara tempatnya tinggal ini, bahwa seyogyanya sebuah pernikahan adalah penyatuan antara dua pihak keluarga.
Namun jika begitu, bukankah seharusnya mudah bagi dirinya dan Malia untuk menjalani pernikahan mereka meski dilandasi dengan perjodohan? ... Karena toh keluarganya dan Malia telah dekat begitu lama, bahkan dari sebelum Malia lahir.
__ADS_1
Tapi pada kenyaataannya, rumah tangga yang ia jalani dan Malia tetaplah tidak mudah. Begitu kiranya yang Reiji pikirkan.
‘Belom sempet gue membuat Lia jatuh cinta sama gue, udah keburu dateng itu bibit pebinor.’ Batin Reiji yang menggerutu.
Walau hubungannya sedang dingin dengan Malia, dan Reiji merasa perkara yang terjadi sekarang bukanlah soal perasaannya di masa lalu pada sahabat perempuannya, melainkan karena kehadiran seseorang dari masa lalu Malia yang merupakan ancaman terbesarnya.
Dan sepertinya juga Malia sedang ‘terbuai’ dengan kehadiran masa lalunya itu hingga Malia terkesan melupakan perannya sebagai seorang istri bagi Reiji, suami Malia itu berusaha tenang, meski ia lebih banyak diam akhir-akhir ini. Yah setidaknya Reiji mencoba tenang, agar bisa jernih berpikir.
Menjernihkan pikirannya-jika hubungan Malia lelaki bernama Irsyad yang menurutnya adalah bibit pebinor itu, hanyalah sekedar pertemanan saja.
Reiji tak lantas menuduh Malia memiliki ‘hubungan terlarang’ dengan lelaki bernama Irsyad itu.
Mungkin-menurut pendapat Reiji, Malia hanya sekedar membalas kekesalannya pada dirinya yang pernah menyimpan kebenaran tentang perasaannya dimasa lalu pada Shirly, juga karena Malia menganggap jika ia masih menyimpan rasa pada Shirly, dikarenakan istrinya itu menemukan album foto berisikan keakraban dirinya dan Shirly.
Serta dua foto dengan jejak tulisan yang dianggap Malia, jika ia sengaja membawa jejak masa lalunya untuk tetap dikenang, karena rasa yang masih menggenang. Namun meski tuduhan Malia itu membuatnya jengkel, Reiji membesarkan hatinya-untuk berpikir jika sikap Malia itu adalah suatu bentuk kecemburuan yang meskipun dalam skala kecil.
Dan jika memang seperti itu, bukankah itu tandanya Malia sudah mulai memiliki rasa yang disebut cinta untuk dirinya? ..
Reiji membesarkan hatinya, namun juga tidak mau besar kepala untuk meyakini bahwa pada dasarnya Malia-sedikit banyak, telah mulai mencintainya.
Tapi yang jelas, Reiji telah cukup tepekur untuk mengambil langkah-dalam hal memperbaiki hubungannya dengan Malia.
Jadi ..
‘Kamu dimana Yang?’
Reiji mengirimkan sebaris pesan chat ke nomor kontak ponsel Malia.
‘Masih di kantor atau sudah pulang?’ satu pesan lagi Reiji kirimkan pada Malia, sebelum pesan chat pertamanya terbalas.
‘Udah di jalan pulang.’ Balasan pesan chat dari Malia masuk ke ponsel Reiji tak lama kemudian.
‘Bisa aku telpon?’
‘Chat aja. Hp aku lowbat.’
‘Ya udah kalo gitu. Ketemu di apartemen ya?’
‘Ya.’
Reiji hanya tersenyum tipis saja membaca balasan pesan chat Malia.
Namun begitu, Reiji tak mau putus asa. Masalah antara dirinya dan Malia ingin segera Reiji selesaikan, dan membuat kembali Malia menjadi Malia Shakeel dengan sikapnya yang sebagai seorang istri yang baik sebelum laki-laki bernama Irsyad itu datang mengganggu.
‘Gue mampir ke Gancit dulu ah! .. Tapi gue beliin Lia apa ya? ..’ batin Reiji yang telah melajukan mobilnya jauh dari parkiran bandara.
Mengetikkan pesan chat pada Malia saat lampu merah.
‘Gancit apa PP ya?’ Reiji menimbang-nimbang, untuk memilih salah satu Mal yang ingin ia sambangi, sebelum ia pulang ke apartemennya dan Malia saat mobil yang dikendarainya telah berada di kawasan selatan Jakarta. ‘Gancit aja deh! Siapa tau Perplus punya koleksi buku baru ..’
**
MALIA
Hari ini, setelah aku dan Reiji lebih banyak saling diam, bahkan hanya bertegur sapa saat bertemu saja, tanpa ada lagi komunikasi selain itu.
Bahkan kerap kali kami berselisih waktu karena pekerjaan kami yang berbeda jenisnya. Reiji pun lebih banyak diam, tanpa terlihat berusaha untuk berbaikan denganku.
Aku tak menyalahkan Reiji untuk itu.
Karena aku yang sebenarnya yang bermasalah-mungkin.
Dan Reiji terkena imbasnya. Lagi-lagi.
Namun begitu, aku merasakan kemelut yang kadang menyesakkan dadaku, dan sesak itu seolah menguap saat aku bersama dengan Irsyad.
Meski sebagian hal yang menyesakkan dadaku, juga ada peran Irsyad disana. Tapi yah, aku senang setiap kali bertemu dengannya.
Walau rasa bersalahku pada Reiji kadang mendera saat aku pergi bersama Irsyad. Rasa bersalah yang semakin tidak aku pikirkan lagi sepertinya dalam beberapa hari ini. Karena aku membiarkan setan menang dalam perdebatan antara ‘malaikat dan setan’ dalam hatiku.
Iya, selama aku perang dingin dengan Reiji dalam beberapa hari belakangan, aku malah intens bertemu dengan Irsyad, walau hanya sekedar makan bareng. Seperti halnya hari ini. Aku dan Irsyad janji bertemu di sebuah Mal yang berada di kawasan superbloknya Jaksel.
Dan For God Sake, Reiji tau-tau mengirimkan pesan chat padaku, saat aku baru saja bertemu Irsyad dan kami sedang berjalan menuju satu restoran jepang, yang mana memang makanan jepang adalah favoritku dan Irsyad.
Dari beberapa pesan chat Reiji yang masuk, aku menangkap, jika Reiji sedang mencoba berbaikan denganku. Tapi aku sudah terlanjur janjian dengan Irysad, bahkan sudah berjalan bersisian sekarang. Lalu aku berbohong pada Reiji, jika aku telah di jalan pulang.
Aku tidak mengingat untuk mengecek jadwal kerja Reiji hari ini, tapi setahuku, jika dia biasanya menghubungiku selepas Reiji baru selesai dengan tugasnya.
Jadi kuiyakan saat Reiji mengatakan ‘Ketemu di apartemen ya?’.
Karena aku rasa, jika aku hanya sekedar makan dengan Irsyad disini, aku akan sampai di apartemen sebelum Reiji sampai.
Mengingat, betapa hecticnya lalu lintas dari Bandara menuju ke selatan Jakarta.
Aku mengobrol panjang lebar dengan Irsyad sambil lagi bernostalgia-yang seolah tiada habisnya, bahkan sampai makanan kami telah tersaji dan mulai kami santap.
Entah kenapa aku teringat pada Reiji disela aku dan Irsyad sedang mengobrol. Bagaimana jika posisi terbalik, aku sedang menunggu Reiji pulang, sementara Reiji sedang makan diluar bersama wanita lain.
Dan pandanganku sejenak menerawang ke arah luar restoran. Memandang pada orang-orang yang lalu lalang di luar restoran. Ramai.
Dan dalam keramaian orang-orang itu, tidak mungkin ada Reiji diantaranya.
**
Bersambung ...
Terima kasih masih setia.
__ADS_1