
Selamat membaca....
***
“Rei..”
Reiji kembali menjeda langkahnya, saat mendengar Malia memanggil dirinya.
Dikala Reiji hendak melangkah keluar dari kamarnya dan Malia, selepas mereka melaksanakan ibadah Isya bersama.
“Ya?..” sahut Reiji.
“Sepertinya kita harus menunda waktu kita untuk bicara malam ini..” ucap Malia setelah ia membaca sebuah pesan chat yang masuk ke dalam ponselnya barusan.
“Kenapa?..”
Reiji sontak bertanya.
“Ada Avi dibawah.... Mau ngenalin cowoknya ke kamu katanya.”
Malia menjawab seraya sedikit menggerakkan tangannya yang sedang menggenggam ponsel miliknya itu.
“Ini dia WA aku.”
“Ohh.”
Reiji pun menggerakkan dagunya.
‘Si Avi kenapa kalo nongol seringnya diwaktu yang kurang tepat sih tuh anak?!’
Reiji menggerutu dalam hatinya.
“Ya udah kalo gitu biar aku yang hubungi resepsionis bawah buat nyuruh mereka langsung naik kesini.”
Reiji berkata pada Malia kemudian.
Malia pun mengangguk dan menyahut mengiyakan.
***
REIJI
Hubunganku yang kurang baik dengan Lia menciptakan rasa kurang nyaman untukku disetiap detiknya.
Tadinya aku berpikir untuk membiarkan saja sampai Lia tenang sendiri.
Karena memang aku menyadari Lia sedang gusar dan nampak terganggu dengan pertemananku dan Irly, sejak ia tahu bahwa aku pernah menyimpan rasa pada sahabat perempuanku itu.
Dan sejak itu, terkadang ada sindirian yang diselipkan Lia untukku atau untuk Irly-secara tidak langsung lewat ucapan Lia padaku. Namun tidak aku gubris, karena aku tidak ingin menyulut emosi Malia lebih lagi – meski aku merasa jika aku tidak pernah yang duluan menyulut pertengkaran diantara kami. Tapi ya sudah, terkadang laki-laki harus menerima ungkapan, ‘Perempuan selalu benar.’
Aku benci sebenarnya, dengan tudingan Lia yang mengatakan bahwa aku masih memiliki rasa pada Irly.
Makanya aku berinisiatif untuk mempertemukan Lia dan Irly.
Agar Lia lihat sendiri dan lebih mengenal Irly, dan bahwasanya aku ingin Lia mendengar langsung dari mulut Irly jika aku dan dia, memang murni bersahabat.
Seperti halnya tiga sahabat laki-laki ku yang lain.
Empat seharusnya, tapi satu sahabatku sudah ada yang lebih dulu menghadap Yang Kuasa.
Jadi saat ini hanya aku, Abbas, Irly, Aldo dan Irfan saja dengan persahabatan kami layaknya sejak saat SMA dulu.
Oke, kembali ke soal permasalahanku dan Lia. Yang entah sebenarnya siapa yang salah pada awalnya.
Yang mana ujung-ujungnya, mungkin – bukan mau mengkambinghitamkan Irly atas masalah keregangan hubunganku dan Lia, tapi semua berawal dari aku yang pernah mengantar Irly ke rumah kerabatnya.
Lalu Lia tahu jika aku pernah punya rasa pada Irly, lalu menuding ku bahwasanya dirinya adalah pelarianku.
Entah darimana pemikiran itu bisa sampai ke otaknya Lia?....
Well, aku melapangkan dada saja lalu memberikan Lia penjelasan, pengakuanku yang sudah mencintainya dengan kesungguhan.
Hanya, pada kenyataannya apa yang terucap dari bibir Lia – yang katanya percaya dan terima dengan penjelasanku itu berbeda dengan apa yang ada di hatinya.
__ADS_1
Itu yang aku baca dari gelagat Lia. Dari sikapnya padaku. Jadi aku berinisiatif untuk mempertemukannya dengan Irly.
Tapi Lia menolak, lalu mulai disibukkan dengan janjian dengan temannya, yang hingga detik ini aku tak tahu teman yang mana, begitu juga wujudnya.
Pertengkaran tidak bisa dielakkan antara aku dan Lia, saat aku membahas tentang sikapnya. Aku jenuh, serta juga sedikit dongkol pada istriku itu.
Aku tahu Lia labil, tapi tidakkah dia tidak terlalu larut dalam kelabilannya itu?.
Aku sudah mengajaknya bicara baik-baik, tapi sikap dan ucapannya kian lama kian memicu emosiku.
Ditambah, sikap acuhnya yang seolah tidak menghargaiku, dengan main asal pergi saja janjian dengan temannya tanpa meminta persetujuanku, atau setidaknya bilang dulu.
Aku juga tidak akan menahan pun melarang Lia untuk bersosialisasi dengan siapapun.
Hanya saja, seharusnya Lia bisa memilah kapan waktu yang tepat untuk itu. Bukan disaat kami seharusnya membahas hubungan kami yang mulai sering diwarnai perdebatan beberapa waktu belakangan.
Dan ujung-ujungnya, sikap dan ketusnya balasan Lia serta ucapannya yang tidak mengenakkan di telingaku membuat nada bicaraku meninggi padanya.
Dimana kala aku menyadari hal itu, aku langsung meminta maaf pada Lia, namun sayangnya Lia seolah tak perduli, karena dia meninggalkanku begitu saja.
Sejak itu, perlahan hubunganku dan Lia mulai terasa renggang dan hambar. Tak bersitegang memang, namun alih-alih sebagai suami istri, hubunganku dan Lia selama beberapa hari terakhir macam siswa pertukaran pelajar yang berbagi apartemen.
Hanya saling bertegur sapa tanpa ada obrolan ringan, apalagi candaan. Sungguh sangat membuatku merasa tidak nyaman.
Hingga pada akhirnya aku mendapatkan tugas untuk menerbangkan pesawat ke Paris, dan aku lekas berpikir bahwa setelah kembali dari Paris aku akan mengajak Lia bicara dari hati ke hati. Karena aku tak tahan dengan hubunganku dan Lia yang seperti ini.
Jadi, aku katakan keinginanku itu pada Lia.
Aku sampaikan lebih tepatnya.
Karena sampai waktunya aku berangkat, Lia belum kembali ke apartemen.
Dan niatan sekaligus permintaanku pada Lia itu aku sampaikan lewat pesan chat saja.
Hingga sampailah hari dimana aku kembali dari Paris dan aku hanya tinggal menunggu Lia pulang kantor lalu kami akan bicara dari hati ke hati.
Entah nanti bagaimana aku mengawali pembicaraan, yang penting aku dan Lia harus bicara malam ini juga. Tapi rencana tinggal rencana, karena pembicaraan dari hati ke hati – ku dengan Lia harus tertunda karena kedatangan Avi dan pacarnya, yang ingin adikku itu kenalkan secara langsung padaku.
Aku oke-oke aja.
Toh Avi sudah besar dan pastinya tahu mana yang terbaik untuk dirinya.
Dan aku senang kalau Avi selalu menghargaiku sebagai kakaknya, dan ingin memperkenalkan pacarnya itu padaku, untuk aku menilainya berdasarkan permintaan adikku itu walaupun restu dari orang tua kami sudah Avi kantongi.
Tapi kenapalah adikku satu-satunya itu datang begitu mendadak pada waktu yang kurang tepat?.
Tapi meski begitu, ada rasa senang yang menyelusup dalam hatiku, saat melihat Lia yang tersenyum lebar dan tampak gembira saat Avi telah sampai di unit apartemen kami.
Senyuman dan ekspresi yang tidak lagi aku lihat dan terima dari Lia padaku, selama beberapa hari belakangan.
“I miss you, Abangkuh!” ucap Avi yang langsung berhambur padaku.
“Ya, ya, miss you too, Adikkuh!”
Aku balas sapaan Avi dengan nada malas-malasan.
Tapi aku menarik sudut bibirku dengan juga membalas pelukan Avi yang sebentar saja padaku.
Karena didetik berikutnya Avi langsung berhambur pada Lia, dan aku berjabatan dengan pacar adikku itu yang ada dibelakangnya sambil saling memperkenalkan diri, lalu mempersilahkannya untuk lebih masuk agar aku bisa menutup pintu apartemen.
Lia tampak senang dengan kedatangan Avi.
Hal itu tak luput dari pandanganku.
“Miss you, Bestih!” ucap Avi pada Lia yang ia peluk dan juga balik memeluk adikku itu.
Dan aku senang melihat interaksi Lia dan Avi yang selalunya akrab, sama seperti sejak mereka kecil.
“Miss you too, Vi...” balas Lia pada Avi.
Aku tersenyum.
Ada senang namun juga ada sebaris pertanyaan yang muncul di benakku.
__ADS_1
Apa Lia pernah merindukanku?.
-----
Waktu hampir jam sebelas malam saat Avi dan Marco – pacar adikku itu, pamit untuk pulang dari apartemenku dan Lia.
“Langsung pulang, jangan mampir-mampir lagi.”
Aku berucap dengan menyelipkan sebuah nasehat dalam kalimatku itu, yang mana aku katakan itu sambil juga melihat pada Marco.
Dan aku rasa Marco paham maksud ucapanku yang bermakna untuk menjaga kepercayaan dariku dan dari orang tuaku dan Avi tentunya.
Yakni pacaran sehat.
Dan feelingku mengatakan jika Marco adalah tipe pria yang mampu menjaga kepercayaan serta bertanggung jawab.
Jadi aku merasa lega, karena Avi mungkin telah menemukan pria yang tepat.
Dan yah, Marco pun sama. Dia tepat menemukan Avi.
Mereka mungkin akan menikah, mengikuti jejakku dan Lia.
Tapi bedanya, Avi dan Marco saling cinta.
Sementara aku dan Lia?...
Hanya korban perjodohan.
Perjodohan sukses berujung pada pernikahanku dan Lia yang didalamnya sudah ada cinta memang, namun cinta dari sebelah pihak saja.
Aku.
Yang entah kapan bisa merasakan cintaku disambut oleh Lia, dan dia memberikan hatinya, seutuhnya untukku.
Yang harus aku tunda lagi untuk meyakinkan Lia soal perasaan cintaku ini, dalam pembicaraan dari hati ke hati yang sudah aku rencanakan.
Yang rasa-rasanya akan batal terlaksana malam ini, karena kulihat Lia sudah nampak mengantuk setelah aku dan Lia hendak kembali dari mengantar Avi dan Marco sampai ke lobi gedung apartemenku dan Lia.
“Kita bicaranya besok aja ya Rei? ....” ucap Lia saat kami berada di dalam lift setelah ia menguap, lalu melihat ke arahku dengan mata yang sudah nampak sayu.
“Iya ....”
Dan aku tidak mungkin menolak permintaan Lia yang matanya sudah nampak lima watt itu.
“Ga apa-apa kan? ....”
Aku tersenyum pada Lia, selepas ia bertanya barusan.
“Iya, ga apa-apa. Toh besok aku free kok.” Jawabku kemudian.
“Ya udah ....”
Lia pun mengiyakan sambil mengangguk.
Aku mengusap puncak kepala Lia dengan lagi tersenyum.
“Besok ga ada acara janjian sama temen kan?” tanyaku, saat aku dan Lia telah masuk ke dalam unit apartemen kami.
“....”
“Kalaupun ada, aku minta kamu batalkan. Karena aku ingin kita segera menghilangkan ketidak – nyamanan diantara kita ini. Dan aku menginginkan waktu kamu sebagai istri aku, untuk aku, suami kamu....”
Aku berujar. Tegas, namun suaraku aku lembutkan.
“Dan apapun yang menjadi keputusan aku, semata-mata demi kebaikan hubungan kita kedepannya ---“ sambungku.
Aku kembali memberikan penegasan pada Lia, bercampur permohonan.
“Jadi tolong jangan menghindar lagi....”
****
Bersambung...
__ADS_1