
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
“I want you right now. Would you?” ucap Reiji yang menangkup posesif wajah Malia sambil ia tatap dengan lekat dan dalam, saat kini ia telah menghadapkan Malia dengan dirinya selepas Reiji mencumbu leher Malia dan mencium bibir Malia juga saat Reiji mendapati Malia sedang melakukan panggilan telepon dengan Irsyad.
Malia diam saja, namun matanya tak putus menatap pada Reiji.
“Aku anggap diammu, adalah ‘Ya’...” Dan tanpa lagi banyak kata, Reiji menyambar lagi bibir Malia. ‘Sorry, Lia, jika aku penuh pemaksaan sekarang...’
Sementara Malia yang masih nampak bergeming itu pada kenyataannya sedang berpikir keras dalam hatinya, apakah ia perlu untuk menolak Reiji atau ia akan mengikuti permainan Reiji yang akan melibatkan debur gairah Itu?.
Tak bisa Malia pungkiri jika perlahan fokusnya terganggu, Malia juga memikirkan soal Irsyad. Soal perasaannya pada Irsyad.
Tapi apa yang sedang Reiji lakukan di bibir, lalu wajah dan lehernya membuat tubuh Malia menegang, seperti saat malam pertamanya dengan Reiji.
Entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelusup di setiap sentuhan bibir dan tangan Reiji, meski belum sampai ke area paling sensitif di tubuh Malia. Tapi lagi-lagi Malia diliputi kegamangan untuk bertindak sekarang.
Lagi-lagi, Malia dibuat bingung oleh dirinya sendiri dengan pertanyaan haruskah diteruskan untuk ‘melayani’ Reiji sekarang?. Sementara Malia mencintai Irsyad. Begitu pikir Malia.
Tapi sentuhan Reiji rasanya dapat membuat Malia jadi mendamba, dan hal itu membuat Malia menjadi gamang.
Malia tak cinta pada Reiji memang.
Mungkin.
Tapi Reiji suaminya.
Yang mana Reiji sangat berhak atas tubuhnya, dan Malia wajib ‘melayani’ nya.
Karena janji setianya telah Malia berikan pada Reiji, kala Reiji telah sah mempersunting dirinya sebagai istri.
Malia memejamkan matanya, kala Reiji mulai membuka kancing piyama yang Malia kenakan saat ini. Lalu Reiji menyibakkan rambut Malia, dan menurunkan sedikit piyama Malia yang sudah terbuka sebagian kancingnya, lalu mengecup leher hingga ke bahu Malia.
Malia menghela nafasnya yang perlahan mulai tak beraturan akibat sentuhan tangan Reiji yang telah menjalar ke bagian punggungnya, dimana tangan Reiji bergerak sensual disana.
Dan Malia akui, Reiji memang pandai membuai dirinya hingga membuat letupan gairah di tubuh Malia perlahan namun pasti kian terasa. Harusnya, Malia merasa enggan disentuh Reiji setelah tahu bagaimana perasaan Irsyad padanya, dan atas dasar perasaan Malia juga masih ada pada lelaki dari masa lalunya itu.
Tapi herannya Malia, ia tak berusaha menolak atau menghentikan apa yang sedang Reiji lakukan saat ini.
Apakah Malia sebenarnya memang mendamba ‘sentuhan’ Reiji?...
Atau Malia yang enggan untuk menolak Reiji yang sedang menjurus ke arah keintiman, karena dirinya ingin melindungi Irsyad?...
Karena Malia mendengar kalimat yang menyiratkan ancaman dari satu ucapan Reiji yang Malia yakin betul tertuju pada Irsyad, dan Malia tidak ingin ada yang namanya baku hantam diantara dua pria yang sedang membuat hatinya gamang ini.
__ADS_1
****
“Maaf.”
“Hm?” Malia yang sudah terbuai oleh cumbuan dan belaian tangan Reiji di punggungnya terkesiap, setelah cumbuan dari Reiji terputus.
“Aku benar-benar menginginkan kamu sekarang Yang---“ kata Reiji. “Tapi melihat gelagat kamu yang ga ikhlas ini lebih baik tidak usah diteruskan...”
“Aku ---“
Malia menyahut kikuk kala Reiji sedang mengancingkan lagi piyamanya tanpa memandang pada Malia.
“Aku ini pria normal dan lagi memiliki istri ---“ kata Reiji. “Aku sungguh merindukan yang namanya ‘hubungan suami-istri’. Tapi rasanya jika aku tetap memaksa, aku macam sedang memperkosa.”
Lalu Reiji mendengus frustasi pada Malia yang bergeming di tempatnya. Membuat Malia jadi diliputi rasa bersalah, dan entah perasaan apalagi yang langsung berkecamuk di hatinya setelah mendengar kata- kata Reiji barusan.
“Tidurlah.”
Reiji berkata setelah rapih mengancingkan kembali piyama Malia yang sempat ia buka setengahnya.
Tadinya memang Reiji ingin egois karena tak terima dengan sikap Malia yang sedikit melewati batas padanya selain rasa cemburu dalam hati Reiji yang mendominasi karena dengan terang-terangan Malia menunjukkan jika ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan Irsyad ketimbang dirinya.
‘Senjata’ Reiji memang sudah menegang saat ia sudah mulai intens mencumbui dan meraba Malia. Namun pada akhirnya Reiji tersadar, selain Malian tidak menunjukkan reaksi lebih selain desahannya di kali pertama Reiji dengan tiba-tiba menghisap lehernya saat Malia sedang melakukan panggilan telepon dengan Irsyad.
Jadi Reiji dengan cepat memutuskan untuk mengurungkan niatnya ‘memaksa’ Malia untuk melakukan hubungan suami istri dengannya, walau kecewa kian meraja di hati Reiji saat ini.
Reiji menolak untuk menjadi brengsek walau sedikit, jadi Reiji tak mau memaksa Malia, sekalipun Malia adalah istrinya.
**
“Rei ..”
Malia memanggil Reiji yang telah berbalik badan dan akan melangkah menjauhi dirinya.
Reiji melirik lengannya, dimana tangan Malia kini menempel samar disana. “Ya?--“
Reiji menyahut seraya menoleh pada Malia yang menatap dirinya dengan tatapan yang sedikit sulit Reiji artikan.
Tapi tak berapa lama kemudian, Reiji dibuat tercengang dengan tindakan Malia yang tahu-tahu mencium bibirnya terlebih dahulu.
Reiji bahkan sampai terdiam dengan tindakan Malia itu, namun tak menampik jika Reiji merasa seolah ada kupu-kupu yang beterbangan dihatinya saat ini.
“Yang—“ Namun Reiji tidak lama terbuai dengan ciuman Malia yang tiba – tiba itu. “Jangan memaksakan diri.”
Reiji lanjut berucap, setelah ia yang mengurai ciuman dengan perlahan, meski rasanya rela tidak rela untuk berhenti menikmati bibir Malia yang sudah ia candui.
Malia menggeleng.
Lalu Malia menampakkan senyumnya walau tipis.
__ADS_1
“Aku ga merasa terpaksa –“ ucap Malia kemudian dengan menatap Reiji.
***
REIJI
Entah apa yang ada di dalam pikiran Lia saat ini, karena tahu-tahu dia menjadi sedikit lebih agresif padaku.
Tapi yang jelas aku rasa bahagia saja merasakan sedikit keagresifan Lia yang jarang-jarang aku dapatkan itu.
Meski saat hubungan kami belum terganggu dengan masalah perasaanku di masa lalu pada Irly - lalu kemudian lelaki dari masa lalu Lia kembali, Lia cukup aktif mengimbangiku saat kami sedang berpacu dalam gairah.
Namun tetap saja aku akan dibuat terperangah jika Lia berinisiatif lebih dulu untuk memulai permainan nikmat di atas ranjang itu.
“Kalau kamu memang menginginkannya, aku sama sekali ga merasa terpaksa Rei.” Ucap Lia setelah sebelumnya ia menyanggah ucapanku yang menyiratkan jika aku tak mau jika dirinya merasa terpaksa dan Lia menampik dugaanku.
“Benar begitu?-“
“Benar..”
“Kalau begitu, aku lepaskan ya?”
Aku berucap seraya penuh harap pada Lia, dengan tanganku yang sudah siap membuka kembali kancing atasan piyamanya.
“Iya ..” jawab Lia. Dan tanpa menunggu lama aku langsung menarik tubuh Lia dengan menempelkan tanganku di pinggangnya, dan membuat tubuh kami rapat.
Tak membuang waktu, aku langsung mencecap lagi ranumnya bibir Lia, dan menunda dulu untuk melepaskan setiap helai pakaian yang Lia pakai meski aku sudah kian bergairah.
Kulepaskan bibir Lia, saat ciuman aku rasa cukup, dan menangkup wajahnya sambil kutatap dalam dan lekat.
Aku sedang mencari celah keterpaksaan di sorot mata Lia. Tapi syukurlah tidak aku temukan sorot keterpaksaan itu.
Yang aku dapati, adalah sorot mata mendamba seperti halnya diriku.
Mungkinkah Lia sudah mau menyadari jika sebenarnya dia telah mencintaiku, dan Irsyad hanya pelariannya saja?.
Well, sebaiknya itu nanti saja, karena aku sudah terdesak hasrat kala aku mulai kembali mencumbui Lia dan lebih intens dari sebelumnya.
Dan aku sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat kelakianku ini, yang rasanya bisa meledak jika tidak kesampaian mendapat pelepasan. Mata Lia terpejam, dan tangannya-entah Lia sadar atau tidak, telah meremat rambutku seraya melenguh seksi kala aku bergerilya di leher dan dadanya yang masih terbungkus dua jenis pakaian itu.
Oh man, apakah ini yang namanya berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian?.
Bertengkar dahulu lalu bercinta kemudian.
Whatever, yang jelas aku lega malam ini.
***
Bersambung ..
__ADS_1