
Selamat membaca...
***
“Eeemmppph.“
Reiji melenguh atas perlakuan Malia di ‘bawah’ sana.
Tak tahan menahan lenguhan itu keluar dari mulutnya, karena sungguh sensasi yang baru pertama kali Malia lakukan padanya ini-memang senikmat itu.
Sampai-sampai sering sekali Reiji mendongak sambil memejamkan matanya, karena memang rasanya luar biasa kinerja mulut Malia kali ini pada pusat server tubuh Reiji.
Hingga tangan Reiji spontan memegangi rambut Malia agar tidak mengganggu ‘kegiatan’ gerangan, lalu tanpa sadar juga tangan Reiji menekan kepala Malia hingga rasanya ‘pedang’ kian tenggelam, walau tidak sepenuhnya.
Reiji menjadi serakah, menekan kepala Malia untuk memaksa mulut gerangan menerima ‘sumpalan’ benda miliknya yang konon tidak bertulang.
Walhasil....
“Uhuk-uhuk-“
Ada suara terbatuk yang terdengar, kala mulut dia yang batuk itu terasa amat dijejali.
Membuat asupan oksigen yang masuk ke mulutnya terasa terhenti, oleh benda lunak elastis yang bisa memanjang dan membesar sendiri, sampai jadi keras sekali.
Saat suara batuk itu terdengar, Reiji tersadar.
Meski kenikmatan luar biasa yang ia sempat rasakan selama beberapa menit tadi hilang, namun ia benar-benar menarik dirinya, hingga pusat servernya yang tadi tersangkut dengan sengaja di mulut sang istri-Malia, tak lagi ia pedulikan.
Reiji fokus pada Malia yang terbatuk, yang tersadar jika itu karena ulahnya.
“Sorry, Yang....”
Reiji berucap seraya membantu Malia berdiri.
“Are you okay?” tanya Reiji dan Malia mengangguk malu-malu.
“Sorry ya, amatir soalnya....” ucap Malia, yang merasa tidak enak sendiri pada Reiji karena dia belum sejago itu dalam hal memanjakan ‘adik kecil’ Reiji dengan mulutnya.
“Apaan sih, segitu aja udah bikin aku merem melek....” ucap Reiji sambil mendongakkan wajah Malia yang sempat tertunduk itu.
“Enak emangnya?-“ polos Malia dan Reiji terkekeh kecil.
“Banget,” sahut Reiji.
“Mau lagi?-“
Malia memberikan penawaran yang menggoda.
“Engga-“ Namun Reiji menolak.
“Kenapa?....”
“Maunya yang lebih enak dari yang tadi.... boleh?”
Paham maksud Reiji, Malia pun mengangguk malu-malu.
__ADS_1
🌼🌼🌼
REIJI
Tubuh Lia langsung saja aku gendong ala – ala bridal style setelah aku mendapatkan lampu hijau darinya setelah Lia menjawab dengan anggukan ajakanku untuk sawadikapsyubiduppappaw.
Habis bagaimana tidak mengajak jika apa yang Lia lakukan sebelumnya sebelum dia terbatuk karena mulutnya kusumpal ketat dengan – ya itulah – pedang panjang kapiten, membuatku blingsatan – bergelora sampai ke ubun – ubun.
Kalo ga diterusin bisa vertigo berkepanjangan, ga bagus buat kesehatan. Karena bukan satu kepala aja yang pusing kalo laki – laki dibikin tanggung ga sampe pelepasan. Dan ya untungnya Lia paham, betapa suaminya ini sudah ‘gatal’ padanya.
Ya sudah\, lampu hijau telah aku terima\, gair*h sudah berkobar sebegitunya\, jadi langsung gaspol aja gendong Lia ke tempat tidur\, sambil kami saling menyusupkan lidah – saling menggoda – saling membangkitkan api gair*h yang memang sudah naik hingga ujung kepala.
Selanjutnya suara desah*nku dan Lia saja yang menggema di dalam kamar kami yang berada di rumah mertuaku itu, setelah lepas dan kubuang jauh – jauh semua yang dikenakan Lia hingga tidak tersisa satupun.
Tak aku pedulikan lagi jika dalam beberapa jam ke depan Lia masih harus pergi ke kantor, sudah terlanjur gair*hku berkobar.
Salahkan Lia yang memancingku, padahal tanpa dipancing aja aku selalu mau nyeruduk Lia.
Dan beginilah jadinya.
Suara desahku dan Lia menggema di udara, walau aku meredam suaraku karena ini bukan apartemen kami yang kedap suara.
Dan sebagaimana aku, Lia juga kuperhatikan menahan setiap suara yang keluar dari mulutnya akibat kegiatan kami yang melelahkan namun memabukkan ini. Sampai tiba saatnya ritme permainan aku percepat, ketika lenguhan Lia sedikit lebih nyaring dari sebelumnya – yang mana itu adalah suatu pertanda.
Kupercepat agar kami ‘sampai’ bersama. Dan, ugh! Leganya .... ketika momen itu menyapaku dengan dahsyatnya.
Kunikmati dengan syahdunya, seiring doa – jika ada hasil dari usahaku kali ini bersama Lia untuk dapat segera mendapat calon momongan yang kiranya tumbuh di rahim Lia, sebelum ia lahir ke dunia dan melengkapi kebahagiaanku dan Lia.
“Makasih ya, Yang?”
Bentuk apresiasi kecilku yang mungkin tak berarti, atau terdengar picisan – namun bagiku hal itu perlu - mengucapkan terima kasih pada istri setelah bercinta, sambil seperti biasa juga – aku cium dahi lia sedikit dalam dan lama.
Menyalurkan rasa, agar semata – mata Lia selalu merasakan, bahwa aku benar – benar mencintainya.
“Sama – sama, makasih juga buat kamu ....”
Lia menjawab ucapan terima kasihku, yang sudah Lia lakukan sejak ia katakanlah ‘kembali’ padaku.
Meski Lia memang tidak pernah meninggalkanku dalam arti yang sebenarnya, tapi kukatakan jika Lia telah kembali, karena sebelumnya ia gamang.
Tapi seperti yang selalu aku percaya - selain doa yang aku sematkan setiap sujudku pada Yang Kuasa, jika cinta tau kemana dia harus pulang.
--
“Bobo gih? masih bisa ini kamu tidur sebentar, Yang ....”
Aku membujuk Lia untuk melanjutkan tidurnya sebentar setelah kami selesai memadu kasih beberapa saat yang lalu.
“Engga ah, entar aku kebablasan,” jawab Lia.
“Ya kan aku ga tidur? Nanti pasti aku bangunin kamu pas azan.”
Aku meyakinkan Lia, karena memang rencanaku seperti itu. Untuk terjaga sampai nanti Lia berangkat ke kantor, dan aku bisa tidur setelahnya. Yah, mungkin setelah aku mengantar Lia ke kantor jika memang dia memintaku untuk itu.
Masih kuat staminaku untuk menunda tidur dan menyetir mobil untuk mengantar Lia ke kantor jika memang Lia memintaku untuk mengantarnya.
__ADS_1
Toh tugasku menerbangkan jet pribadi keluarga Bos Besarku tidak seperti ketika aku menerbangkan pesawat biasa, karena jet pribadi mereka itu sungguh luar biasa canggih hingga aku bisa agak lebih banyak santainya.
“Ah ntar ngibul lagi!”
Lia mencebik, dan aku terkekeh kecil.
“Nanti kayak waktu itu kamu sengaja – sengaja ga bangunin aku sampe aku harus bolos ngantor ....”
“Ya itu kan aku ga tega sama kamu yang kayaknya letih banget gegara aku garap berkali – kali –“
“Ish!” Lia membekap mulutku. “Ngomongnya ga usah kelewat blak – blakan gitu si?!”
Aku terkekeh lagi. “Ya udah tidur sebentar gih?”
Lalu aku berucap untuk membujuk Lia lagi untuk tidur sebentar.
“Tapi bener bangunin aku pas azan loh ya, Rei? –“
“Iya, Sayaaanng ....” sambarku, sambil mendekap tubuh Lia yang masih tak berbusana sepertiku.
Yang rasanya ingin aku serang lagi dan lagi jika tidak ingat Lia harus pergi ke kantor.
“Oh iya Yang? –“
“Hmm? ....”
Lia menjawabku dengan deheman seraya ia mengusel di dadaku.
Kalau aku turuti nafsu, sudah aku kukung dengan ketat nih istri bohayku.
“Cepetan mau ngomong apa? Aku udah mau tidur nih ....”
“Ga jadi –“
“Ya udah aku tidur bentar ....”
“Iya –“
“Jangan lupa bangunin pas azan ....”
Kalimat yang keluar dari Lia barusan sudah samar, sepertinya memang Lia ngantuk berat.
Dan tak lama memang aku merasakan hembusan nafas beraturan pelan dari hidungnya pada dadaku, aku dekap saja Lia lagi, agar nyaman tidurnya.
Sebenarnya tadi aku ingin membahas soal ponselnya yang tertangkap mataku, karena kata Lia kan lowbat ponselnya itu? ....
Tapi kenapa Lia membiarkan saja ponsel lowbatnya tergeletak begitu saja tanpa dia charge?
Karena setahuku Lia adalah manusia zaman now, yang akan lebih panik kalau ponsel lowbat ketimbang kehilangan duit.
Jadi jika Lia membiarkan ponsel lowbatnya begitu saja, kok rasanya aneh ya? ....
***
Bersambung ....
__ADS_1