
Selamat membaca..
***
“Makasih, atas pengertian lo sama gue .... Tapi gue janji akan jadi istri yang baik buat lo ....”
“Kalo gitu, boleh aku minta satu hal sama kamu?....”
“Apa? ....”
Malia sontak bertanya.
“Kalo boleh, mulai sekarang jangan ber-gue-elo lagi sama aku ....”
Tak perlu waktu lama bagi Malia untuk mengiyakan permintaan sederhananya Reiji barusan. “Iya ....” Ucap Malia.
Dan tak perlu menunggu detik saat Reiji mengembangkan senyumnya, karena Malia mau dengan cepat meng-iya-kan permintaannya tadi.
“Makasih ya? ....”
Reiji berucap tulus.
“Iya, sama-sama.” Sahut Malia.
“Coba dong kalo gitu ....”
Malia mengernyitkan dahinya.
“Coba panggil aku dengan sebutan ‘kamu’.”
“Hmm.... Harus gitu dicobain sekarang?.”
“Ya pengen denger aja kamu panggil aku bukan lagi dengan ‘elo’.”
“Awkward banget kayaknya kalo disengajain gitu....” Kata Malia.
“Ya coba aja.” Ujar Reiji. “Nanya kek, Rei, kamu makannya apa?. Nanti aku jawab, tempe!.”
Reiji berkelakar.
Dan Malia sontak tergelak.
“Ya ampun Rei, lo tuh ya ....” Malia masih menyisakan kekehannya.
Sedikit merasa gemas pada Reiji yang melontarkan kelakar garing, namun membuat Malia tertawa lebar.
“Yaahh, masih dipanggil ‘elo’ ....”
“Enngg ....”
Ucapan Reiji membuat Malia menghentikan kekehannya.
Reiji tersenyum geli.
Didetik berikutnya tangan Reiji terulur ke kepala Malia dan mengusapnya pelan. “Kamu tuh masih aja perasa.” Ucap Reiji. “Santai dikit napa? ....” Sambungnya.
“Iya sorry.” Sahut Malia. Lalu Reiji meraih tangan Malia.
“Dah ah!.... mending aku ajak kamu tour di ini apartemen.” Ucap Reiji. “Yuk.” Ajaknya kemudian.
Malia pun mengangguk.
**
“Gimana suka ga? ....” Tanya Reiji pada Malia, selepas ia menunjukkan tiap bagian apartemen pada Malia.
“Suka.” Jawab Malia.
“Beneran? ....” Reiji memastikan.
“Bener .... Suka banget malah! ....”
“Sukur deh kalo kamu emang suka ....”
__ADS_1
“Iya aku suka banget.” Tukas Malia antusias.
“Kalau seandainya ada yang mau kamu rubah, jangan sungkan bilang ke aku ya?....”
“Okeeyy....”
“Kan kamu ratunya nanti. Eh anggap aja udah deh.” Ucap Reiji dengan mengulas senyuman sembari mengusap pelan garis rahang Malia.
Dan Malia sedikit tersipu.
“Duh ngegemesin kalo lagi merona gini Neng Malia....” Canda Reiji.
“Ish!. Apa sih?....” Malia pun mencebik.
***
“Sekali lagi makasih ya, Rei?” Ucap Malia dengan tersenyum manis pada Reiji.
Dimana Reiji juga mengulas senyumannya pada Malia.
“Makasih buat apartemen ini, sama pengertian lo—“ Malia memotong ucapannya. “Sama pengertian ka-kamu soal perasaan a, ku....”
“Iya, sama-sama. Makasih juga udah mau merubah panggilan kamu sekarang ke aku.” Ucap Reiji.
“Iya....” Malia masih menampakkan senyum manisnya.
Untuk sesaat, netra Malia dan Reiji saling beradu pandang dengan tatapan lembut.
“Kamu duniaku sekarang, Lia ....”
Dan didetik berikutnya, Reiji mendekatkan wajahnya dengan wajah Malia.
Mata Reiji seolah mengunci tatapan Malia. Tatapan yang lembut, namun pasti.
Dua jari Reiji pun seolah sudah mengunci dagu Malia. Dan Malia, seolah terhipnotis oleh tatapan Reiji, meskipun cukup sadar dengan apa yang akan Reiji lakukan selanjutnya.
Hingga saat Reiji menempelkan bibirnya di bibir Malia, yang tak cepat Reiji lepaskan seperti kali pertama.
Masih sedikit merasa canggung dengan posisi sedekat ini dengan Reiji.
Sangat dekat malah. Karena Reiji telah menempelkan bibirnya di bibir Malia.
Namun kali ini berbeda. Ketegangan Malia mengendur, kala ia merasakan kelembutan dari ciuman Reiji.
Dan didetik selanjutnya, Malia memejamkan matanya. Merutuk dalam hati, karena merasa ia begitu terbuai saat bibir Reiji menekan bibirnya dan mulai menyertakan p*gutan dalam ciuman tersebut.
Bahkan tangan Malia kini sudah berada di kedua lengan Reiji yang sudah menangkup wajahnya.
Malia kian merasa tenggelam dalam kelembutan ciuman Reiji.
Lalu...
“Uhuk!”
Malia sedikit terbatuk dan Reiji sontak melepaskan ciumannya.
Lalu Reiji terkekeh kecil, dimana wajah Malia kian merona, dengan rutukan dalam hatinya yang Malia tujukan pada dirinya sendiri.
“Sorry, bikin kamu susah nafas....” Ucap Reiji yang sedikit merasa geli dan lucu karena Malia yang terbatuk disela ciuman mereka, yang memang dirasa cukup menuntut dari dirinya pada Malia itu.
***
“Ya udah yuk?.... Kayaknya udah cukup kita disini....”
Reiji berucap setelah menetralkan suaranya yang sempat menjadi sedikit parau saat mencium Malia cukup dalam tadi.
“Bahaya bisa-bisa kalo kita berduaan disini lama-lama.” Ucap Reiji sambil meraih satu tangan Malia, lalu menggenggamnya.
Malia mengulum senyum.
Satu lagi poin plus seorang Reiji Shakeel di mata Malia.
Pria yang mampu mengalahkan hasratnya, demi sebuah hubungan yang sehat. Meski situasi dan kondisi sungguh sangat memungkinkan bagi Reiji untuk berbuat jauh pada Malia.
__ADS_1
Yah, walau sebagai laki-laki normal, Reiji tak menampik ia sempat hampir hilang akal. Namun untung saja kesadarannya untuk menghentikan ciumannya pada Malia segera menghampirinya.
Dan untung juga Malia terbatuk.
Karena jika tidak, Reiji akan men-cap dirinya sebagai pria brengsek karena telah berbuat tak senonoh pada Malia, meskipun mereka akan positif menikah dalam waktu yang tak lama lagi.
“Mau makan lagi, ga? ....”
“Kita baru makan sejam lalu loh, kurang lebih.” Jawab Malia.
“Iya, sih....”
“Emang l—kamu, udah laper lagi?”
“Engga sih....”
Reiji mengusap tengkuknya. ‘Duh, Neng Lia nih, ga paham banget kalo Babang Reiji lagi mengalihkan rasa lapar yang ingin makan dirimu! ....’
Hati Reiji pun berbisik.
**
MALIA
Aku sedikit heran, saat Reiji membawaku ke sebuah kawasan hunian jangkung yang berada di daerah yang cukup berpotensi untuk berinvestasi dalam bentuk hunian yang sedang aku sambangi sekarang.
Aku pikir jika Reiji mungkin ingin memperkenalkanku dengan salah satu temannya, dan kawasan apartemen yang kami datangi itu adalah tempat tinggal temannya. Abbas Ramdan mungkin?. Hehe....
Namun kemudian saat Reiji menempelkan kartu akses di platform magnet pada pintu sebuah unit apartemen yang kukira adalah tempat tinggal temannya itu, dan saat pintu apartemen tersebut terbuka dan Reiji langsung bilang,
“Suka ga? ....”
Aku sontak terpana.
Karena aku dapat memahami maksud ucapan Reiji yang berupa pertanyaan itu. Yang mana artinya, unit apartemen yang aku jajaki itu akan menjadi tempat tinggal kami.
Dan perkiraanku itu bertambah kuat, saat Reiji bilang,
“Tenang aja, aku beli ini cash, jadi nanti setelah nikah kamu ga puyeng soal bayar cicilan apartemen ....”
Oh ya ampun. Reiji sudah membeli apartemen yang cukup bagus bagiku ini untuk tempat tinggal kami setelah menikah nanti.
Apartemen yang baru aku lihat saja, sudah terasa nyaman bagiku. Hadiah pernikahan darinya untukku kalo kata Reiji. Terharu aku tuh jadinya.
Seneng – kayaknya rasa itu hadir karena jiwa matre sedang naik ke permukaan.
Tapi bener aku terharu, karena Reiji sudah mempersiapkan pernikahan kami sampai sejauh ini. Lalu saat Reiji bilang,
“Semoga tempat yang ga seberapa ini, akan menjadi tempat pulang yang nyaman dan hangat bagi kita, setelah kita menikah nanti, meskipun saat itu kamu masih belum mencintaiku.”
Hatiku rasanya sejuk.
Tapi, kalimat terakhir Reiji itu, sedikit mengusik hatiku.
Seketika aku merasa bersalah pada Reiji. Dan Reiji tahu, jika aku memang belum memiliki rasa cinta padanya.
Hingga kata maaf langsung saja keluar dari mulutku ini. Tapi Reiji tak membiarkanku meneruskan kalimat permohonan maafku.
Karena Reiji menempelkan telunjuknya di bibirku. Kemudian dia bilang jika Reiji akan sabar menunggu hingga saat itu datang.
Lalu Reiji mengecup keningku dengan lembut barang sejenak. Dan setelahnya Reiji bilang,
“Saat dimana saat aku pulang, ada kamu yang menunggu aku, lalu menyambut aku dengan tatapan, dan pelukan penuh cinta.”
Oh Reiji, kenapa kamu yang dulunya aku kenal cuek, nyebelin dan cool macam freezer frozen food, sekarang jadi sering banget romantis dengan stok kalimat-kalimat manis seperti itu sih?.
Aku memang belum mencintai kamu, Rei....
Tapi kalau kamu mengatakan banyak kalimat manis seperti itu terus, kan bisa-bisa meleleh aku tuh Rei....
**
Bersambung ....
__ADS_1