WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 217


__ADS_3

Selamat membaca....


************************


Didalam rasa was-was, gelisah dan khawatirnya Malia pada Reiji, pada akhirnya Malia mencari tahu sana-sini tentang kabar suaminya itu. Reiji yang tak kunjung datang untuk menghadiri candle light dinner yang telah Malia benar-benar persiapkan untuk merayakan ulang tahun Reiji dengan cara yang berbeda, karena mereka sudah menikah dan saling mencintai sekarang—sungguh membuat Malia resah.


Dan lagi, sudah dua jam berlalu dari rencana candle light dinner yang pada akhirnya Malia batalkan itu, Reiji tak kunjung memberi kabar ataupun dapat dihubungi.


Bahkan saking was-was, gelisah dan khawatirnya Malia yang takut-takut plus berharap dan berdoa agar jangan sampai Rei terkena musibah dalam pekerjaannya—Malia sampai mengotak-atik channel televisi untuk mencari berita seputar penerbangan, terutama dari Denpasar.


Walaupun konteksnya Rei mengemudikan jet pribadi, tapi jika ada berita pesawat nahas kan pasti ada beritanya di TV?—Pikir Malia.


Dan kalaupun ada apa-apa dengan penerbangan Rei yang mengantarkan salah satu anggota keluarga yang mempekerjakannya itu, bukankah dirinya pasti akan langsung mendapat kabar dari pihak tempat Rei bekerja? ..


Kembali pikiran-pikiran positif, Malia tanamkan dalam otak dan hatinya. Baru kemudian Malia membuka jadwal kerja Rei yang dikirimkan oleh seseorang yang Malia duga adalah salah satu staf kepercayaan dari satu keluarga sultan yang mempekerjakan Rei sebagai pilot pribadi mereka itu.


Nanti pas aku pulang dari Denpasar, aku sekalian mampir ke sini dari bandara.


Tapi mungkin sore aku ambilnya.


-


Yang, aku kayaknya ga sempet ambil hasil lab kita. Minta tolong kamu minta Dokter Dewi kirim via email aja ya?.


Emang seharusnya kamu sampai Jakarta jam berapa, Rei?.


Jam 3 atau jam 4 sih, takutnya macet dari bandara.


-


Tungguin aja di hotel ya? Takutnya hp aku mati pas lagi diperjalanan dari bandara ke hotel nanti, udah lowbat banget soalnya ini. Di room berapa kamu, Yang?


Yang, sorry aku agak telat mungkin sampai ke hotel. Ini aku masih di Denpasar. Jam 4 aku baru take-off dari sini.


“Dia kasih gue updatetan jadwal terbarunya Rei ga sih? ..”


Malia menggumam sambil ia melihat jadwal dalam suatu format berkas yang dikirimkan ke ponselnya oleh orang yang pernah diinformasikan Reiji, jika Malia bisa bertanya pada orang tersebut seputar jadwal kerja Reiji.


Ini nomornya Rasya. Dia orang kepercayaannya Pak Ommar, tangan kanannya Bos di maskapai. Soal jadwal penerbangan de-el-el kamu bisa langsung minta ke dia kalo kamu kurang percaya sama aku ..


Semua jadwal penerbangan dia pasti punya copynya, dan semua pasti yang terbaru, sekalipun ada perubahan mendadak, andai kamu minta, yang dia kasih udah pasti yang paling akurat.


“Kalau begitu, jadwal ini yang sebenar-benarnya dong ya? ..” gumam Malia lagi. “Tapi disini tertulis jam 3 Rei udah seharusnya ada di Jakarta. Berarti udah emang seharusnya jadwal ini benar adanya kan? .. tapi waktu telfon gue tadi, jam 4 dia baru take-off dari Denpasar? ..”


Malia bertanya-tanya sendiri.


‘Mana yang bener jadinya ini?’


Kembali Malia bertanya-tanya.


‘Apa Rei bohongi gue? ..’


**


MALIA


Rasa tidak nyaman langsung menyelusup ke dalam hatiku setelah aku melihat jadwal kerja Rei lalu aku teringat ucapannya sore tadi di sambungan telefon kami, dimana jam dalam jadwal kerjanya Rei tersebut tidaklah sama dengan ucapan Rei.


Jam 4 aku baru take-off dari sini


Aku ingat dan yakin betul jika itu yang Rei katakan padaku sore tadi.


Tapi kalau berdasarkan ucapan Rei tentang betapa akuratnya jadwal dari si Rasya ini, berarti Rei yang bohong padaku.


Tapi kenapa? ..

__ADS_1


**


Menit berlalu, dengan Malia yang bertanya-tanya sendiri yang mana yang harus ia percayai.


Jadwal dari orang maskapai yang kata Reiji jika setiap informasi dari orang tersebut pastilah akurat.


Atau Reiji yang mengatakan kalau suaminya itu baru take-off dari Denpasar pada jam 4 sore, padahal dari jadwal yang masih hangat Malia terima di ponselnya itu—Reiji sudah berada di Jakarta pada jam 3 sore WIB.


“No Lia, lo ga boleh pake emosi meskipun apa yang udah lo atur sedemikian rupa gagal, bahkan Rei ga kasih kabar.”


Malia menggumam.


‘Mungkin memang ada perubahan jadwal dan si Rasya ini belum dapet laporan terupdate dari stafnya, terus yang dikirim ke gue bukan jadwal yang udah di revisi.’


-


Rei tidak pernah sekalipun berbohong padaku dari sejak kami menikah, itu yang aku tahu.


Bahkan dulu sebelum aku mencintainya setelah kami menikah pun, Rei selalu jujur jika hendak kemana – mana.


Termasuk saat dia pernah mengantar si bibit pelakor--sahabat perempuannya yang sungguh mulai tidak aku sukai sekarang ini.


Jadi rasa – rasanya, aku berpikir untuk seharusnya mempercayai Rei yang mengatakan baru hendak take-off di jam 4 sore ketimbang mempercayai jadwal yang menuliskan bahwasanya Rei sudah ada di Jakarta pada jam 3 sore.


Pasti keteledoran pembaruan jadwal dilakukan oleh salah satu staf bos besarnya Rei. Toh sekalipun Rei pernah bilang kalau orang – orang yang bekerja dengan bos besar dan keluarganya itu adalah orang – orang yang amat cekatan dalam pekerjaan mereka, yang namanya manusia kan pasti ada teledornya.


Dan itu terjadi sekarang, pada jadwal Rei yang aku terima. Ada pembaruan, tapi revisi lupa untuk dilakukan oleh salah satu staf yang berhubungan dengan pekerjaan Rei.


Iya, pasti begitu yang terjadi sekarang.


Pasti.


Karena Rei tidak pernah bohong. Dan aku yakin Rei tidak akan pernah membohongiku, apalagi menyembunyikan sesuatu.


Mohon maaf mengganggu lagi, Pak Rasya. Jadwal yang Bapak berikan itu adalah jadwal yang terupdate kan ya? Soalnya kayaknya ponsel suami saya mati sementara saya baru mau kembali ke Jakarta rencananya hendak ke rumah orang tua saya karena takut suami saya belum pulang tugas.


Aku memang mencoba untuk mempercayai Rei, tapi satu sisi hatiku menyuruh untuk memastikan lagi agar aku sepenuhnya yakin jika tidak ada ‘apa – apa’ dengan Rei.


Mungkin aku juga membantu Rasya mengkoreksi keteledoran staf atau keteledorannya sendiri atas jadwal yang belum direvisi.


Iya Ibu Malia. Jadwal itu adalah jadwal terbaru yang sama dengan jadwal sebelumnya karena memang tidak ada perubahan apa – apa. Dan sepertinya Pak Reiji sudah menunggu anda di rumah. Toh kebetulan tadi saya ikut dengan Pak Reiji di mobil beliau.


Jawaban Rasya membuatku termangu.


-


Satu menit saja setelah aku termangu selepas membaca isi pesan chat dari Rasya. Ponselku berdering.


My hubby


Si pemanggil yang masuk untuk menghubungiku via ponsel.


Yang membuat aku sedikit gelagapan dan lega di waktu yang sama.


“As –“


“Rei!” Tak menunggu Rei melanjutkan kalimatnya yang hendak memberikan salam itu, aku memekik kecil menerima panggilan telepon dari Rei itu.


“Yang –“


“Ya Allah Rei, kamu di mana sih?!!”


“Maaf Yang, maaf –“


“Dua jam aku nunggu loh, Rei?! Ga ada kabar apapun dari kamu?” cecarku.

__ADS_1


Rei sekali lagi mengucap maaf dengan nada melirih.


-


Aku kesal sebenarnya.


Cukup kesal.


Jerih payahku untuk menyenangkan Rei di ulang tahunnya, terbuang begitu saja.


“Maaf, Yang. Ya Allah, maaf banget.”


“Aku bener – bener ga ada maksud ngecewain kamu begini.”


Begitu Rei melirih, dengan penyesalan dalam yang aku tangkap dari nada suaranya.


“Maaf ya Yang, maaf ..”


“Iya udah mau diapain, Rei ..”


Aku menyahut lemas. Tapi setidaknya aku merasa lega mengetahui Rei baik – baik saja dengan ia yang sudah menghubungiku.


“Nanti aku ganti semua yang udah kamu lakukan hari ini, termasuk semua biaya yang udah kamu keluarin .. Maaf sekali lagi, Yang.”


“Bukan perkara biaya yang udah aku keluarin, Rei .. aku itu khawatir sama keadaan kamu yang ga ada kabar sama sekali dua jam belakangan –“


“Iya, aku ngerti. Sekali lagi aku minta maaf ya, Yang.”


“Iya udah, yang penting kamu baik – baik aja Rei. Kalo biaya yang aku pake juga duit kamu,” ucapku dan Rei mendengus geli dari ujung sambungan telepon kami.


“Iya tetep deh aku ganti, plus charge EO nya Ibu Malia ..” cetus Rei, dan aku yang kemudian tersenyum di tempatku. Setidaknya apa yang aku lakukan tidak percuma – percuma amat, karena aku masih mengenakan gaunku yang belum aku ganti dan aku pikir tidak perlu aku ganti secara Rei akan tiba di kamar hotel yang aku pesan sebagai bagian dari hadiah ultahnya Rei.


Dan berpikir, mungkin aku akan meminta pihak restoran hotel untuk menyiapkan candle light dinner ala kadarnya di kamar hotel yang sudah aku sewa ini. Tapi untuk itu aku perlu tahu kira – kira berapa lama Rei akan sampai ke tempatku berada.


“Ya udah, aku tunggu transferan biaya EO plus bonus lelah saya nyiapin acara Bapak yang gagal,” kelakarku dan Rei terkekeh lalu menyahut.


“Siap 86!”


“Ya udah kalo gitu aku tungguin di sini. Udah dimana sekarang? Masih inget nomor kamar yang aku kasih tau tadi sore kan? –“


“Yang –“


“Apa? Lupa?” sambarku.


“Bu, kan ..”


“Jadi?” tanyaku.


“Aku minta maaf lagi, Yang. Ada kendala ..”


Kudengar suara Rei seperti ragu – ragu untuk berucap, dan aku menangkap suatu gelagat dari ucapan nada suara Rei itu.


“Maksud aku mengganti apa yang sudah kamu lakukan buat aku itu .. besok, Yang .. karena malam ini aku bener – bener ga bisa susul dan nemuin kamu ..”


Ucapan Rei membuatku merasa was – was seketika.


“Maksudnya? ..” tukasku kemudian.


“Kamu ada balik rencana ke apartemen ga malam ini? Atau kamu mau stay di sana sampai besok? Kalo iya aku jemput kamunya –“


“kamu di mana sekarang? ..” potongku setelah mendengar ucapan Rei yang membuatku memiliki suatu pemikiran.


“Aku .. masih di Denpasar, Yang ..“ ucap Rei.


Aku meremat gaunku.

__ADS_1


***


Bersambung ....


__ADS_2