
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca....
***
MALIA
“Aku akan pergi denganmu besok, di acaramu dengan Irsyad...”
Dan lututku rasanya lemas, mendengar Reiji berkata ingin pergi denganku besok, dimana aku telah memiliki janji bertemu dengan Irsyad.
“Nah kamu bukannya ada acara yang tadi kamu bilang itu?...” sahutku kemudian, setelah aku menenangkan diri atas keterkejutanku akibat ucapan Reiji yang katanya ingin ikut denganku dalam acara janji temuku dengan Irsyad.
Reiji masih nampak sibuk di wastafel.
Sementara aku masih bergeming di tempatku duduk.
“*Tau apa arti**Family Gathering**?*”
Reiji menjawabku, dengan balik bertanya.
“Acara untuk mempererat antara karyawan dengan karyawan berikut keluarganya.”
Yang mana pertanyaan Reiji padaku itu, ia jawab sendiri.
“Jadi atas dasar itu, mereka yang telah berkeluarga datang dengan membawa keluarganya, minimal istri jika anak belum punya ----“
Kemudian Reiji membalikkan badannya dan menatapku setelah ia beres mencuci piring bekas makannya lalu menaruhnya di rak pengering, namun Reiji tetap berada di tempatnya sambil menyandar pada kabinet wastafel seraya ia bersedekap.
“Sampai sini, paham?” ucap Reiji. “Kalau aku belum menikah dan datang sendiri ke acara itu, orang ga akan menatapku aneh. Tapi jika sekarang aku yang mereka tahu telah memiliki istri ini datang sendiri, mereka akan bertanya-tanya, dan mungkin berspekulasi sendiri. Yang mana spekulasi mereka itu sungguh ingin aku hindari...“
Lalu Reiji bicara panjang lebar, tanpa memberikan aku kesempatan untuk bicara.
“Bukan aku memikirkan pemikirian orang lain atas diriku. Tapi aku enggan menjawab pertanyaan mereka nanti andai kamu tidak ikut, dan aku tetap datang. Aku malas berbohong, karena otakku sedang malas memikirkan alasan pengganti jika ada yang bertanya, ‘Kok datang sendiri Pak Reiji?. Istrinya kenapa ga ikut?’. Ga mungkin kan aku jawab, ‘Oh istri saya sedang ketemuan sama laki-laki dari masa lalunya ---“
“Stop!”
Aku dengan cepat menyergah Reiji untuk bicara lebih banyak lagi, karena hatiku mulai merasa tidak nyaman.
Sindiran Reiji begitu tajam. Dan itu terlalu mengena untukku.
Aku tertohok dengan ucapan Reiji, tapi aku juga tidak terima dengannya yang membuatku tersudut seperti ini.
---
Aku bergeming setelah aku menghentikan Reiji yang bicara panjang lebar sambil menyempilkan sindiran dalam kalimatnya, sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
“Kalau aku ga mau ikut ke acara kamu, kamu ga bisa paksa aku Rei. Ngerti?”
Aku berucap datar sambil menatap tak suka pada Reiji.
Karena aku memang tidak suka mendengar perkataan Reiji sebelumnya.
“Bagian mana dari perkataan aku yang memaksa kamu ikut ke acara kantor aku, Yang?...”
Reiji menyahut santai.
Aku terdiam.
Aku ingat memang Reiji tidak memaksaku ikut.
Tapi bukankah perkataannya mengenai dia yang malah ingin ikut denganku dimana aku akan bertemu Irsyad setelah aku bilang jika aku malad untuk ikut acara kantor Reiji, adalah bentuk lain dari pemaksaannya padaku untuk mendampingi Reiji di acara kantornya itu?.
“Oh, karena aku bilang aku yang ingin ikut dengan kamu menemui si Irsyad itu yang membuat otak skeptis kamu itu berpikir kalau aku sedang memaksa kamu untuk ikut denganku?”
Reiji seolah dapat membaca pikiranku.
Dan dengan santainya juga, Reiji lagi – lagi menggunakan kata skeptis untukku.
“Terserah kamu mau bilang apa, kalau aku bilang aku ga mau ikut, ya aku ga akan ikut ke acara family gathering kantor kamu itu atau kemanapun yang aku ga mau. Dan kamu, ga berhak ikut campur sama urusan aku ----“
“Aku berhak...” Reiji menyela ucapanku.
Matanya tajam menyorotku, dengan wajah Reiji yang kini datar ekspresi.
“Ga, kamu ga berhak, mencampuri urusanku meski kamu adalah suamiku Rei-“
“Sekali lagi aku ber - hak, Lia.” Potong Reiji, dan ada penekanan di ucapannya. Dan aku sudah enggan untuk lebih lama lagi berargumen dengan Reiji sekarang ini.
“Kamu ga berhak, karena kita menikah bukan murni keinginan aku...” ucapku ketus.
Reiji diam, namun aku perhatikan rahangnya mulai mengeras.
“Dan untuk itu, aku ga kasih kamu hak untuk mencampuri urusan aku-“
Aku langsung berlalu pergi dari meja makan, lalu menyambar tasku dan langsung masuk ke kamar.
---
Aku enggan sekali untuk keluar dari kamar setelah aku hengkang dari meja makan dan dari hadapan Reiji di pantri apartemen kami. Reiji tidak menyusulku saat aku berlalu dari hadapannya selepas aku memberikan penekan padanya untuk tidak mencampuri urusanku.
Yang mana aku bisa membayangkan jika kemungkinan besar Reiji pasti geram setelah mendengar ucapanku itu.
Aku pikir, Reiji akan mengejarku karena geram dan tak puas atas pernyataan tajamku, lalu kami akan kembali adu argumen di kamar.
Tapi tidak, Reiji tidak mengejarku.
__ADS_1
Mungkin saja Reiji berpikir jika aku mengunci kamar kami setelah aku masuk ke dalamnya, sama seperti beberapa waktu lalu, saat kami juga habis adu argumen.
Entahlah.
Yang jelas aku merasakan badanku cukup gerah dan lengket, meski sudah tersapa oleh hawa sejuk dalam kamarku dan Reiji di apartemen kami.
Tapi tetap tidak menghilangkan rasa gerah dan lengket di tubuhku.
Dan aku putuskan untuk pergi mandi, tak perduli jika aku berpapasan dengan Reiji saat aku keluar dari kamar, atau mungkin Reiji akan menarikku untuk bicara.
Masa bodohlah, lihat nanti bagaimana, yang jelas aku benar – benar perlu mandi.
Jadi aku segera mengambil baju ganti dan handuk baru dari dalam walk in closet dalam kamarku dan Reiji, dan bergegas keluar dari kamar setelahnya.
“.......”
Disaat dimana aku mendengar sayup – sayup suara Reiji dari ruang serbaguna – yang lebih tepat disebut sebagai ruang baca Reiji.
“Gue Cuma mau bilang..”
Sepertinya Reiji sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Yang mana hal itu membuatku penasaran, dengan siapa Reiji berbicara.
Dimana otak skeptisku ini berpikir, jika kemungkinan besar Reiji sedang bertelpon ria dengan Shirly.
Dan entah kenapa betapa hatiku ini punya keinginan untuk menyelidik-mencuri dengar, tentang apa sih yang biasanya Reiji bicarakan dengan sahabat perempuannya itu jika mereka sedang bertelpon ria?.
“*Gue ga ikut kayaknya besok. **Ada yang mau gue urus. Titip salam aja buat yang lain....*”
Tapi sepertinya bukan dengan Shirly, Reiji berbicara di telpon saat ini.
“Nanti gue ngomong sama Jill....”
Karena nama orang yang Reiji sebutkan itu aku tahu siapa.
Aku ingat itu adalah nama salah seorang staf di kantor Maskapai tempat Reiji bernaung selama ia bekerja sebagai Pilot.
Yang waktu itu Reiji tunjukkan padaku satu pesan chat dari orang yang bernama Jill tersebut, kala aku dan Reiji bertengkar sebelum kami perang dingin.
Dan entah kenapa juga hatiku terasa lega saat tahu jika Reiji tidak sedang bertelepon ria dengan Shirly.
Tapi sudahlah.
Karena sudah terbayar rasa penasaranku, akupun hendak melanjutkan langkah ke kamar mandi yang jaraknya cukup dekat dengan ruang baca.
Namun langkahku seketika terhenti, dan tubuhku seolah membeku kala aku dengar Reiji bilang,
“Mau kasih pelajaran sama seseorang yang mengganggu milik gue ----“
__ADS_1
****
Bersambung....