WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 158


__ADS_3

Selamat membaca...


Semoga bahagia selalu...


***


“Sekalipun masih ada cinta di hati kamu buat dia, tapi kamu kan udah juga mencintai aku, dan itu rasanya cukup buat aku. Aku hanya akan lebih berjuang lagi, sampai tidak ada lagi sisa cinta di hati kamu buat dia .... Bukan takut dengan aku yang ga nyamperin kalian tadi. Aku hanya ga ingin ribut. Aku ingin memenangkan hati kamu dengan cara yang benar, selain aku tidak mau bikin kamu malu-jika andainya aku nyamperin kalian, lalu ada hal darinya yang memicu emosi aku dan kemudian membuat keributan ....”


‘Oh Rei, bentuk hati kamu kayak apa sih?’ batin Malia yang tak habis pikir dengan kesabaran yang Reiji punya untuknya. “Maafin aku Rei ---“


“Hei ....” ujar Reiji sambil mengangkat dagu Malia yang tertunduk itu.


“Maaf untuk hari ini yang jadi mengabaikan kamu ....” tutur Malia dengan gurat penyesalan di wajahnya.


Reiji mengulas senyuman.


“Ga perlu minta maaf –“ kata Reiji. “Karena aku ga merasa kamu abaikan.”


“Makasih Rei.”


“Makasih buat apa sih Yang? –“


“Makasih karena kamu ga langsung men-judge aku, serta untuk pengertian dan kesabaran kamu.”


“Beruntung ga tuh bersuamikan aku?” Reiji berlagak pongah, namun sambil mesam-mesem memainkan alisnya.


Dan Malia langsung terkekeh.


Didetik berikutnya, kekehan Malia menjadi senyuman teduh.


“Iya aku beruntung ....” tulus Malia.


“🎶Kutersanjung ....”


Reiji sedikit berdendang canda.


Dan Malia pun terkekeh lagi.


***


“Jadi cowo yang tadi beneran itu si bibit pebinor?” tanya Reiji, tanpa ia sadari jika ia menanyakan soal Irsyad dengan sebutan yang Reiji sematkan pada laki-laki dimasa lalu Malia itu.


“Bibit pebinor?” tanya Malia spontan, dan Reiji langsung nyengir kuda.


“Iya itu, mantan kamu,” jawab Reiji kemudian.


“Aku ga pernah pacaran Rei, sama Irsyad,” tukas Malia.


Reiji melipat bibirnya.


“Ya pokoknya itu dia lah.”


Kemudian Reiji menjawab acuh.


“Males banget denger namanya,” gumam Reiji kemudian.


Yang merasa sebal mendengar Malia menyebut nama laki-laki yang Reiji cap sebagai bibit pebinor itu.


***


REIJI


Iya aku sebal.


Sangat sebal mendengar Lia menyebut nama si bibit pebinor dengan mulut yang bibirnya menjadi canduku itu.


Hingga aku menjawab acuh tak acuh pada ucapan Lia yang mengatakan jika dia dan si bibit pebinor itu ga pernah pacaran.


“Sorry Rei..”


Lalu Lia berucap sambil menatapku takut-takut.

__ADS_1


Aku sedikit mengernyit. Berpikir kenapa Lia meminta maaf begitu?


“Aku ga ada maksud nyebut namanya.”


Ah, ternyata Lia mendengar gumamanku ya?..


“Sorry Yang, aku ga ada maksud ketusin kamu.”


Aku menyadari sikapku yang menggumam ketus tadi.


Dan Buru-buru meralat ucapanku.


“Aku bukan kesel ke kamu kok-“ kataku. “Aku keselnya sama si bibit pebinor itu.”


Lia nampak tersenyum geli kemudian. “Kamu sebut Ir- em, dia, bibit pebinor?” tanya Lia yang menjeda sedikit ucapannya untuk menyebut nama si bibit pebinor dan langsung Lia bahasakan dengan dia.


Peka juga Lia ya?


“Iya aku sebut dia begitu-“ jawabku. “Ga keberatan kan?”


Lia menggeleng. “Hak kamu kok Rei ...”


“Aku yakin dia udah tau kamu ini udah nikah. Dan dia sering banget ajakin kamu ketemu-“


Aku berucap.


“Jadi ya aku sebut dia begitu,” sambungku.


“Terus kamu sebut aku apa?” Lia bertanya. “Istri yang mengabaikan suaminya karena ketemuan sama cowok lain?”


Pertanyaan Lia mengejutkanku.


“Kurang ajar banget ya aku?” imbuh Lia.


“Aku ga nganggep kamu begitu Yang,” jawabku sambil mengangkat wajah Lia yang tertunduk itu lewat dagunya.


Nampak jelas gurat penyesalan di wajah Lia, yang membuatku jadi merasa tidak enak padanya.


“Makasih ya Rei..”


Akupun mengangguk menanggapi ucapan terima kasih Lia.


--


“Jadi bener cowo tadi tuh dia?” tanyaku, bersamaan dengan adzan Isya yang sayup-sayup terdengar berkumandang.


“Iya.” jawab Lia.


“Hmm-“


“Tapi satu hal yang harus kamu tau Rei-“ ucap Lia kemudian.


“Apa?”


“Aku ga janjian sama dia.”


Lia berucap sambil menatapku.


Dan tatapannya itu mengisyaratkan jika Lia ingin aku mempercayainya.


Dan yah, aku percaya.


Aku percaya jika itu yang sebenarnya.


Yang seperti Lia katakan, jika dia tidak janjian dengan itu si bibit pebinor.


“Aku juga kaget waktu liat dia tau-tau udah ada di lobi gedung,” Lia menambahkan.


Berarti emang si bibit pebinor itu yang kegatelan!.


“Kamu percaya aku kan Rei?-“ ucap Lia lagi seraya ia bertanya dan menatapku penuh harap. “Aku bener-bener ga janjian sama dia.”

__ADS_1


“Iya, aku percaya kamu Yang..” jawabku dengan tersenyum.


Dan Lia pun juga tersenyum.


--


“Yang,” panggilku pada Lia, selepas aku dan Lia selesai menunaikan ibadah wajib kami sebagai umat.


“Ya, Rei?-“ sahut Lia.


“Laper banget ga?”


“Belom laper malah,” jawab Malia. “Kamu udah laper? Aku masakin atau mau order aja?”


Aku tersenyum dan menggeleng. “Kita makan diluar aja nanti,” ucapku kemudian.


“Loh kamu ga cape Rei?”


Lia bertanya lagi, dan aku pun menggeleng lagi.


“Makan di bawah aja,” ucapku setelahnya, dan Lia mengangguk.


“Terus tadi kamu tanya aku laper banget atau engga?” kembali Lia bertanya.


“Ada yang mau aku omongin sedikit.”


Aku menjawab Lia sambil meraih tangan Lia dan membawanya duduk di sofa landai dalam kamar kami.


“Soal? ...” tanya Lia.


“Kita,” jawabku.


--


Lia menatap penuh tanda tanya padaku. “Kita, kenapa, Rei?-“ dan pertanyaan itupun keluar dari mulutnya, dengan nada takut-takut.


Aku mengulas senyuman, sambil mengusap lembut pipi Lia. “Ga apa-apa..” jawabku.


“Kamu.. ragu ya Rei sama aku?-“


Lia menggigit bibir bawahnya.


“Tentang ungkapan perasaan aku ke kamu.”


“Tadinya iya-“ jujurku. “Sedikit sempat ragu-“


Sambil aku menatap Lia dengan lekat.


“Tapi hanya sebentar.. sekarang, aku udah yakin sama perasaan kamu ke aku.”


“Makasih, Rei-“ ucap Lia. Dan aku sedikit terkesiap, karena Lia langsung berhambur memelukku.


“Tuh gimana aku ga yakin kamu udah cinta aku kalo kamunya agresif begini?-“ candaku, dan Lia terkekeh kecil.


“Aku udah cinta kamu Rei,” ucap Lia. “Jangan diraguin ya?..” pintanya, sambil ia mendongak menatapku tanpa melepaskan pelukannya dan aku tersenyum.


“Kan aku udah bilang aku percaya sama kamu?-“ ujarku, sambil kubelai lembut surainya seraya tetap mengulas senyuman pada Lia. “Maka itu aku ingin sedikit membahasnya-“ imbuhku.


Lalu aku lepaskan dengan lembut tubuh Lia dan mengurai pelukannya, tapi tidak melepaskan tanganku dari kedua lengannya.


“Tapi sebelumnya aku mau nanya, dan aku mau kamu jawab sejujur-jujurnya-“ aku berujar. “Aku ga akan marah, ataupun tersinggung, jika jawaban kamu mungkin tidak memuaskan aku..”


Lia mengangguk. “Kamu mau tanya apa?..”


“Perasaan cinta kamu, ke laki-laki itu, apa masih ada?..”


***


Bersambung..


Jangan lupa jejak dukungan, bila memang berkenan yah.

__ADS_1


__ADS_2