WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 106


__ADS_3

Selamat membaca....


***


REIJI


“Sekarang ini Lia lagi dilema, jadi sikap lo yang anteng-anteng aja, bisa jadi bumerang buat lo sendiri, Bang.... Gue tau lo udah berusaha keras buat menangin hati Lia.”


“Gue tau lo udah sabar menghadapi Lia....”


“Tapi selain lo lebih berusaha ngertiin Lia, ya lo harus lebih sabar lagi buat menangin hatinya, Bang....”


Aku pikir, mengajak Avi bertemu dan membahas masalahku dengan Lia yang notabene adalah sahabat karib adikku itu akan membantuku menemukan solusi yang cepat. Memang ada nasihat yang Avi berikan padaku dalam pembicaraan kami tentang masalah yang aku hadapi bersama Lia, tapi sedikit banyak ada kata – kata Avi yang menyulut emosiku.


Aku harus lebih sabar lagi kata Avi, yang aku rasa dia lupa jika aku ini adalah kakaknya, karena dari sekian banyak ocehannya, Avi rasanya berpihak pada Lia.


Sabar..


Harus sabar bagaimana lagi menghadapi Lia.


Dan aku rasa, membahas permasalahanku dan Lia dengan Avi nyatanya tidak terlalu banyak membantu untukku.


“Contoh Papa deh, kalo Mama lagi ga senang terus diam, Papa pasti akan membujuk Mama sedemikian rupa, sampe Mama baik lagi, meskipun itu bertentangan sama pendapat Papa. Yang penting menyenangkan dulu hati Mama. Intinya.... mengalah ---“


Mengalah....


Rasanya aku sudah cukup mengalah pada Lia selama ini, selain sabar.


Dan bicara tentang hal itu-Mengalah, sejauh mana lagi aku harus mengalah pada Lia?.


Apa aku harus mengalah pada Lia yang gelagatnya mengkhianati pernikahan kami?.


Yang memilih untuk menemui laki-laki impiannya dihari sabtu dan meninggalkan suaminya di apartemen begitu saja.


Mengalah untuk membebaskan Lia memilih lelaki impiannya itu?.


Sial!.


Aku mengumpat.


Aku pergi dengan sangat kesal dari kedai kopi yang berada tak jauh dari komplek perumahan tempat orang tuaku dan Avi tinggal.


Lalu masuk ke dalam mobil dengan tergesa dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


**


‘Lo semua pada free ga sekarang?’


‘Kalo iya meet up majuin aja deh.’


Reiji mengetikkan pesan di sebuah grup chat pada satu aplikasi yang mana anggotanya adalah para sahabatnya, saat mobilnya berhenti sejenak di lampu merah.


**


“Kenapa muka lo kusut begitu?..”


Reiji sudah berada di apartemen salah satu sahabatnya, setelah pesan yang Reiji kirimkan di grup chat yang anggotanya adalah para sahabatnya itu bersambut.


“Eh, ngomong-ngomong, kenapa lo dateng sendirian? Katanya mau ajak bini lo?..” Ini Abbas yang bicara seraya bertanya-salah seorang sahabat Reiji, saat ia telah menyambut kedatangan Reiji di apartemen pribadinya.


Apartemen Abbas yang menjadi tempat pilihan Reiji dan para sahabatnya itu berkumpul , karena Reiji memajukan waktu bertemu mereka yang rencananya diadakan sore hari di sebuah kafe lalu akan menghabiskan sabtu malam minggu bersama melakukan apa saja yang menyenangkan.


Reiji sudah berencana mengajak Malia untuk berbagi waktu menyenangkan itu, makanya ia mencetuskan sebuah kafe yang sedang in saat ini demi untuk membuat Malia merasa nyaman.


Yang mana setahu Reiji, Malia memang gemar mendatangi tempat-tempat kekinian.


Tapi sayang, rencana Reiji hanya tinggal rencana, dan lagi-lagi di acara kumpul bersama para sahabatnya itu, ia datang sendirian.


**

__ADS_1


“Ga bisa ikut, udah keburu ada janji sama temennya.” Reiji menjawab pertanyaan Abbas sambil ia mengambil tempat di ruang tamu apartemen Abbas.


Abbas yang sudah menutup pintu apartemennya itu, lalu berjalan mendekati Reiji mendengus geli. “Jangan-jangan karena bini lo ga bisa ikut lagi, muka lo jadi kusem begitu?” Abbas berkelakar kemudian.


“PS nyalain!”


Reiji tak menggubris kelakar Abbas dan meminta salah satu sahabatnya itu untuk menyalakan mesin game konsol miliknya yang Reiji lihat.


“Iya Tuaan! ...” seloroh Abbas yang kemudian melangkah untuk menyalakan mesin game konsol miliknya.


Reiji pun mendengus geli dengan kelakuan Abbas yang menjawabnya dengan tingkah yang konyol itu.


Lalu Reiji menangkap dengan tangkas, satu game konsol yang Abbas lemparkan padanya.


Dan setelahnya Abbas mengambil tempat disamping Reiji, sambil menunggu sahabat mereka lainnya datang.


**


Abbas melirik pada Reiji yang sedang memilih game dalam mesin game konsol miliknya. “Ribut sama Malia lo?”


Abbas pun bertanya seraya menduga.


Reiji mengangguk samar tanpa menoleh pada Abbas dengan mata Reiji yang nampak fokus ke layar televisi tempat di mana mesin game konsol milik Abbas terpasang.


“Mau minum apa lo? ...” tanya Abbas yang menjeda dulu untuk bertanya pada Reiji, karena ia menangkap gelagat Reiji yang sedang gusar saat ini.


“Keluarin aja apa yang ada!” jawab Reiji sambil tetap fokus ke layar televisi.


“Bir?” tanya Abbas.


"Serah!"


**


“Cih!” Reiji berdecih sinis saat melirik pada jam dinding yang berada di dalam apartemennya dan Malia.


“Betah banget yang pergi sama lelaki impiannya!” Reiji nyinyir. Pasalnya saat Reiji kembali ke apartemennya setelah dari bertemu Avi lalu muter-muter ga jelas, kemudian menghadiri temu janjinya dengan para sahabatnya, Malia ternyata belum juga pulang.


Sudah pukul delapan malam, tapi belum ada tanda-tanda Malia pulang. Bahkan pesan chat pun tak ada. Dan itu membuat Reiji kesal.


‘Tau gini tadi gue lama-lama aja ngumpul bareng anak-anak!’ gerutu Reiji dalam hatinya yang kesal. “Sial!”


Reiji mengumpat tajam kemudian. Bukan tanpa sebab, tapi karena beberapa sebab hingga Reiji menjadi kesal.


Malia yang tidak koperatif untuk ia dekatkan dengan para sahabatnya guna membuat Malia akrab dengan mereka, dan tentunya untuk mematahkan tudingan Malia yang mengatakan jika Reiji masih menyimpan rasa pada Shirly.


Sudah membuat Reiji sedikit kesal.


Lalu, fakta yang Reiji ketahui tentang seseorang yang bernama Irsyad, yang mana pernah Reiji saksikan sendiri menghubungi istrinya dengan intens, lalu mengirim chat untuk bertemu, menambah kesalnya Reiji.


Brakk!.


Reiji melempar kasar Novel yang tadi sedang ia baca, guna mengalihkan emosinya.


Lalu Reiji meremas kepalanya dalam duduknya di ruang baca apartemennya dan Malia.


Nyatanya novel yang ia harap-harap dapat mengalihkan gusarnya, ternyata tidak berhasil.


“Dan mungkin karena sikap lo itu, Lia lebih nyaman pergi sama Irsyad ---“


Namun kemudian Reiji mengingat sebaris ucapan Avi. Lalu Reiji termenung dalam duduknya.


‘Kamu sadar ga kalau kamu itu udah nikah, Lia?...’


Reiji larut dalam pikirannya.


**


Reiji telah berpindah tempat dari ruang bacanya.

__ADS_1


Kini Reiji tengah terduduk dengan landai di balkon apartemennya dan Malia.


Mengasihani dirinya sendiri, setelah tadi Reiji begitu gusar hingga geram. ‘Suami yang menyedihkan..’


Reiji membatin miris sambil menatap pada langit yang ada di atasnya. Langit Jakarta yang menjadi saksi kesendiriannya di malam minggu, padahal dia bukan jomblo.


Sudah menikah bahkan, tapi sang istri entah ada dimana. Dan tak ada kabarnya juga, sampai Reiji memejamkan matanya di balkon apartemennya dan Malia itu.


‘Mau kamu apa sih Yang?..’ bisik hati Reiji sebelum ia terlelap dengan posisi duduk di kursi balkon.


**


Entah sudah berapa lama Reiji tertidur di balkon apartemennya dan Lia. Yang jelas, saat samar-samar suara pintu apartemen di buka, mata Reiji yang terpejam itu perlahan terbuka. Dan Reiji yakin jika itu adalah Malia yang baru pulang.


“Ya ampun, kenapa kaleng minuman tercecer gini sih???” dan memang benar dugaan Reiji yang yakin jika Malialah yang baru saja masuk, karena Reiji mendengar Malia yang menggerutu dalam gumaman.


Seketika Reiji ingat kaleng minuman ringan yang tadi ia lempar juga ke sembarang arah dengan kuat kala ia merasa kesal, gusar dan geram setelah dari ruang baca, Reiji mengambil satu kaleng minuman bersoda dari dalam kulkas.


Dan karena kesal akan sesuatu yang ia lihat setelah dari apartemen Abbas tadi, maka kaleng minuman yang isinya ia tenggak habis dengan tergesa, Reiji lemparkan begitu saja tanpa perduli tercecer kemana.


“Ya ampun, pintu balkon juga kebuka gini?!..” Malia terdengar menggumam lagi, namun Reiji tak beringsut dari tempatnya.


Dan didetik berikutnya, pintu balkon nampak bergeser, dan Reiji segera menahan dengan tangannya.


Yang mana membuat Malia sangat terkejut dibuatnya.


“Rei?..”


“Kamu darimana?..”


Reiji langsung melontarkan pertanyaan pada Malia.


“Aku kan udah bilang tadi, ketemu temen!”


Malia menjawab sedikit ketus.


“Heh, temen..”


Reiji menyahut dalam gumaman.


Sinis, namun pelan.


Entah Malia dengar atau tidak. Reiji sedang tidak perduli.


“Temen yang mana?”


“Aku kasih tau juga kamu ga kenal..”


Malia menjawab sambil lalu.


“Lia, aku nih lagi ngomong sama kamu!”


Reiji bangkit dari posisinya, namun tidak bergerak untuk melangkah.


“Ya kan aku udah jawab pertanyaan kamu tadi.” ucap Malia dengan malas-malasan.


“Kamu pergi sama temen yang mana? ..” cecar Reiji.


“Udah aku bilang, kalau aku kasih tau juga kamu ga kenal.”


“Temen yang kamu maksud itu, Irsyad namanya?—“


Ucapan Reiji membuat Malia langsung berbalik badan, dan menatap pada Reiji.


“Si Lelaki Im-pi-an-nya Malia?!”


**


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2