
Selamat membaca....
*************************
Reiji begitu panik setelah tidak menemukan keberadaan Malia di apartemen mereka, termasuk juga mencari tahu ke tempat-tempat dimana kemungkinan Malia berada di sana. Namun nihil, Malia tidak ada di tempat-tempat yang sudah Reiji hubungi untuk mencari tahu.
“Masa gara-gara gue ga dateng ke acara candle light dinner kami, terus Lia segala minggat???... Ga mungkin, kan???...”
Reiji menggumam.
‘Lagian tadi gue liat baju Lia masih banyak di lemari.’
Reiji membatin kemudian.
“Tapi kalau Lia ijin ga kerja, apa ada kemungkinan dia melipir ke Jogja???...”
Kembali Reiji menggumam dan bertanya – tanya sendiri. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
***
“Apa kabar lo?...”
Ragu sebenarnya Reiji, jika Malia pergi ke Jogja.
Ke tempat Avi, adiknya -- yang juga sahabat Malia itu kini sedang berada.
Tapi Reiji tak dapat menahan dirinya untuk mencari tahu juga keberadaan Malia melalui adik perempuannya itu.
Karena seketika Reiji mengingat, jika Malia itu pernah labil ---- walau sudah lama tidak nampak sisi kelabilan Malia di beberapa waktu belakangan ini.
Namun mungkin saja sekarang sedang muncul lagi kelabilannya Malia, atas dasar istrinya itu sedang ngambek padanya. Pikir Reiji.
Toh segala kemungkinan rasanya Reiji perlu pikirkan.
***
Beberapa menit bicara dengan Avi untuk menggali informasi yang barangkali Avi tahu soal Malia, sambungan telepon Reiji dan Avi berakhir.
‘Ga ada tanda – tanda Lia bakal ke Jogja juga...’
Reiji membatin setelah ia meletakkan sembarang ponselnya ke samping setelah selesai mengobrol dengan Avi di sambungan telepon.
‘‘Lia juga kayaknya belum curhat ke dia soal gue yang ga dateng ke acara yang udah Lia atur buat kami berdua... Dan gue pasti tau kalo si Avi nyembunyiin sesuatu dari gue...’’
***
REIJI
Iya, aku pasti tahu kalau Avi menyembunyikan sesuatu dariku. Dalam hal ini, Lia. Karena Avi tidak berbakat menjadi pembohong.
Hanya mendengar dari cara Avi berbicara saja aku sudah bisa menangkap jika dia memang tidak tahu jika Lia kemungkinan besar sedang ngambek padaku.
Jadi, aku yakin jika Lia tidak ada niatan pergi ke Jogja untuk menyambangi Avi dalam rangka menghindariku. Bahkan Avi malah menanyakan Lia dan kepo soal,
“Lia kasih kado lo apaan, Bang?...”
Yang aku jawab dengan,
“Ada deh.”
Dan Avi terkekeh.
“Pasti lo minta kado yang mesum – mesum secara Lia udah cinta sama lo?”
-
Aku mendengus geli saja saat si Avi bertanya soal itu.
Boro – boro mau mesumin Lia. Nah ini aja aku kelimpungan mencari keberadaan istriku itu.
Yah walaupun di jam 12 malam lewat kemarin, aku sudah meminta jatah ‘kado’ dari Lia dengan menikmati setiap inci tubuhnya.
Bahkan sampai waktu subuh hampir tiba.
Gila!
Memang aku sudah gila kalau sudah berhubungan dengan Lia dan semua yang ada di tubuhnya yang membuatku tercandu – candu ---- kalau kata si Dilan KW.
Tapi sekarang aku juga hampir gila juga rasanya, karena belum mendapat titik terang tentang keberadaan Lia yang ponselnya terus saja tidak aktif.
Yang bahkan sampai waktu sudah siang begini.
__ADS_1
Ah ya Tuhaaaan.
Mana belum sempat makan dari sejak sampai ke apartemen tadi.
Aku tahu Lia sedang kesal padaku.
Tapi dengan sikapnya yang seperti ini aku pun sekarang aku sudah mulai kesal.
Kekanakkan banget sikap Lia ini.
Damned.
Kemana aku harus mencari Lia?
-
Aku masih belum menyerah mencari tahu keberadaan Lia, dengan sesering mungkin aku cek room chat pribadiku dengan istriku itu yang status pesannya masih sama sampai sekarang, centang satu. Lia belum mengaktifkan ponselnya.
Sedikit banyak ada kesal di hatiku atas sikap Lia yang membuatku khawatir setengah mati ini. Ponsel Lia yang belum aktif ---- Sementara Lia itu katakanlah manusia jaman now yang akan panik setengah mati kalau ponselnya mati atau dia lupa membawanya jika pergi ke suatu tempat, membuatku jadi membuatku menduga – duga ----Lia kenapa – napa.
Mudahan tidak. Yang aku rapalkan doa, agar Lia baik – baik saja. Aku berpikir positif saja, Lia sedang ngambek padaku jadi menonaktifkan ponselnya untuk menghindariku. Tapi atas namanya suami, laki – laki yang mencintainya, tetap saja kekhawatiran dan kegelisahanku tidak sepenuhnya hilang walau aku mensugesti hati dan otakku dengan hal yang positif.
-
Waktu sudah sampai ke waktu jam makan siang, namun Lia masih sulit aku hubungi.
Aku lihat lagi room chatku dan Lia, namun pemandangannya tetap sama.
Status chat – ku ke nomor kontak Lia masih saja centang satu.
Meski begitu, aku tetap saja mencoba menghubungi Lia via panggilan telepon.
Baik panggilan lewat aplikasi, juga panggilan pada sambungan telepon biasa. Dan ya, sama.
Ponsel Lia memang belum aktif.
Dan aku, lumayan kesal. Selain, lapar.
Malas untuk makan sebenarnya.
Tapi perutku sudah keroncongan.
Aku sedang tidak berselera memilih makanan, dan mi instan yang jadi pilihan untuk mengganjal perut.
Mi instan yang dimasak terlalu lama, karena aku tinggal melamun. Walhasil, mi instan yang hendak aku makan itu menjadi terlalu matang.
Ah, sudahlah. Tidak mungkin juga aku buang makanan hanya karena terlalu matang. Kecuali gosong parah.
-
Aku menikmati mi instan kematengan sambil lagi melihat – lihat ponselku. Sekalian mengecek akun sosmed Lia, yang belum ada postingan apa – apa sejak kemarin.
Buntu lagi pikiranku, menerka dimana Lia berada. Yang setelah kulirik lagi room chat pribadiku dengannya, status pesanku masih saja sama.
Lalu satu chat notifikasi dari salah seorang sahabatku membuatku lega. Yang aku balas dengan chat juga, menginformasikan kalau aku tidak bisa bergabung hari ini.
Namun sedikit berbohong juga, karena aku tak mau mengumbar masalahku yang ini dengan Lia. Sedikit sensitif soalnya.
Lalu setelah acara kirim chat dengan satu sahabatku, iseng ---- aku melihat – lihat status beberapa orang di nomor kontakku.
Siapa tahu juga, kalau Lia ternyata menyetting aplikasinya sedemikian rupa hingga aku melihatnya tidak aktif saja padahal nomor Lia sebenarnya aktif. Lalu Lia pasang status, dan lupa menyembunyikan status di aplikasinya dari nomor kontakku. Yah walaupun sih, aku rasa Lia tak sampai punya ilmu IT secanggih itu.
***
Mantap
Kukomentari status si Andra yang dia posting tadi pagi, yang memajang sebuah moge keluaran terbaru setahuku. Yang kebetulan di rak buku jet pribadi keluarga sultan yang mempekerjakanku, banyak sekali majalah otomotif yang selalu update setiap kali aku bertugas. Jadi aku setidaknya up to date tentang berita otomotif terbaru, karena aku memiliki hobi pada bidang tersebut juga.
Meski sudah cukup lama hobi yang aku sukai itu tidak aku lakukan.
Dulu setelah mencar dengan para sahabatku, aku disibukkan dengan diriku yang ingin menjadi pilot profesional selepas lulus kuliah.
Lalu setelah tercapai keinginanku menjadi pilot profesional, aku disibukkan dengan jam terbang. Lalu menikah dengan Lia, dan disibukkan untuk memenangkan hatinya.
Ah iya, Lia... Aku seharusnya buru – buru menghabiskan mi instanku ini, lalu fokus lagi mencari Lia.
Eh ngomong – ngomong soal Lia, dia pasti ijin sama si Andra kan kalau ijin ga ngantor hari ini?...
***
“Oke, Dra. Thanks ya,” ucap Reiji pada laki – laki yang ia hubungi itu dalam sambungan telepon.
__ADS_1
“Iya, sama – sama, Ji...” Andra, karena Reiji sontak langsung menghubungi teman lamanya itu yang merupakan bosnya Malia, saat Reiji ngeh untuk menanyakan istrinya itu sehabis melihat status Andra.
“Eh iya, Dra –“
“Oy! –“
“Gue minta tolong ya?”
“Apa?... Mau mintain ijin lagi buat nyulik bini lo?...”
Reiji spontan terkekeh kecil mendengar celetukan Andra. “Su’udzon aja lo!... Bukan itu –“
“Trus?”
“Jangan bilang Lia kalo gue nanyain dia ke elo.”
***
Dan di sinilah Reiji sekarang, di gedung perkantoran tempat Malia bekerja.
“Bau – bau gue cium ada pertengkaran suami istri kayaknya –“
“Paham banget senior –“
“Terus gue kudu ngapain? –“
“Ya kalo bisa sih bikin dia sibuk aja sampe jam pulang... Kalo Lia ijin pulang cepet minta tolong lo tanyain detailnya, terutama mau kemana –“
“Oke...”
Percakapan Reiji dan Andra, yang dilanjut dengan saling chat sesekali mengenai Malia.
Masih aman. Lagian bini lo lumayan banyak kerjaan hari ini. Jadi kayaknya ga bakal dia minta ijin pulang cepet.
Isi chat Andra yang menjadi modal Reiji untuk lalu datang pada dua jam kemudian di gedung perkantoran tempat Malia bekerja.
***
‘Aih...’
Satu kata itu tercetus dengan spontan ketika mata Malia menangkap sosok Reiji yang berdiri di dekat meja resepsionis yang ada di lobi utama gedung tempatnya bekerja.
‘Ck!’
Kemudian Malia berdecak dalam hatinya ketika Reiji telah juga melihat dirinya.
‘Kenapa Rei bisa ada di sini sih????... Kan si Cantik udah bilang gue ijin sama dia????...’
Malia membatin kemudian.
‘Apa si Cantik bohong sama gue?...’
Lalu Malia bertanya dalam hatinya.
‘Ah, ga mungkin kayaknya... Mungkin si Rei aja kali yang nekat plus gambling dateng ke sini?...’
Malia bermonolog lagi dalam hatinya.
‘Ck! Males banget ketemu si Rei sekarang!’
‘Ga seneng banget kayaknya ngeliat gue?...’
Sementara Malia membatin, Reiji pun sama membatin seperti halnya Malia dengan dirinya yang kemudian mengayunkan langkah untuk mendekati istrinya itu.
Malia mau tidak mau mengayunkan langkahnya juga dengan malas ke arah Reiji. ‘Mana gue belum nyiapin alasan lagi, nanti kalo Rei tanya kenapa gue nyuruh si Cantik bohong.’
***
“Hai...”
Alih – alih memasang wajah ketus seperti yang Malia duga sebelumnya pada Reiji yang kemungkinan marah karena sikap Malia yang bahkan sampai menyuruh resepsionis kantornya untuk berbohong perihal keberadaannya di kantor, Reiji malah memasang wajah hangatnya seperti biasa dan menegur Malia dengan lembut.
“Hai,” sahut Malia dengan tersenyum tipis. ‘Ga marah dia? Atau cuma kamuflase?...’ kemudian Malia menduga – duga dalam hatinya. ‘Karena di sini banyak orang jadi dia bisa bersikap begitu? Tau-tau nanti di mobil meledak.’
“Pulang sekarang? –“
‘Coba aja dia dikte gue, kasih diktean yang lebih panjang buat dia nanti!...’
******
Bersambung....
__ADS_1