WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 239


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Astagfirullah!”


Adalah Reiji yang terkesiap hebat di atas sofa dalam unit apartemen tempat tinggalnya dan Malia.


Reiji langsung mengusap wajahnya dengan kasar, lalu langsung meraih ponselnya yang ada di meja dekatnya itu.


“Lia!” gumam Reiji yang terkaget bangun karena sempat jatuh tertidur itu. “Belum aktif juga lagi...” gumamnya lagi. “Eh tapi?...”


Reiji celingukan kemudian. Lalu memandang ke arah kamarnya dan Lia, sambil Reiji membatin.


‘Siapa tau Lia udah pulang, tapi dia ngendik-ngendik supaya gue ga kebangun?...’


Reiji pun dengan cepat bangkit dari tempatnya.


“Yang?”


Reiji memanggil Malia dengan sebutan sayangnya kemudian.


Walaupun Reiji ingat jika dia memang membiarkan pintu kamar terbuka sebelum ia duduk di sofa unit apartemennya dan Lia, dan keadaan pintu kamarnya masih sama---Reiji tetap berharap jika Malia sudah ada di dalam kamar mereka itu.


Tapi sayangnya, keadaan kamar masih sama seperti saat semalam Reiji masuki. Tidak ada Malia di dalamnya.


Membuat Reiji menghembuskan nafasnya dengan berat.


Reiji melirik jam di atas nakas tempat tidurnya dan Malia. ‘Gue tungguin Lia di kantornya aja deh kalo gini.’


Reiji membatin lagi.


“Gue hubungin Andra kalo gitu, biar dapet akses masuk ke dalam kantornya dia jadi gue ga usah nunggu di lobi gedung.”


****


‘Eh, tapi... ini kan hari sabtu?’ kata Reiji dalam hatinya.


Yang kemudian urung untuk menghubungi temannya yang merupakan bos besarnya Malia di kantor istrinya itu.


Setelahnya, Reiji mengusap kasar lagi wajahnya. *‘S*t!’ mengumpat dalam hatinya kemudian.


Lalu Reiji menjambak sedikit kasar rambutnya sendiri.


“Pas banget kaburnya saat weekend.”


Reiji menggumam dengan sedikit menggerutu kemudian, menutupi kegelisahan hatinya.


“Ah, tapi siapa tau si Andra nyuruh Lia lembur ini sabtu...”


****


“Assalamu’alaikum, Dra.”


Reiji yang penasaran dan frustasi itu tetap menghubungi bosnya Malia yang adalah teman lama Reiji itu.


Lalu menanyakan pada teman lamanya itu perihal dugaannya yang siapa tahu Malia ada jadwal lembur kerja di hari sabtu.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, Ji.” Jawaban dari orang yang Reiji hubungi terdengar.


“Sorry ganggu lo pagi-pagi gini, Dra,” kata Reiji kemudian. Dan Andra mengatakan tidak masalah untuk itu.


Setelahnya Reiji to the point menanyakan apakah Malia ada jadwal lembur di kantor hari ini. “Ga ada surat pemberitahuan kalo divisi bini lo mau lembur hari ini...” jawab Andra.


Dimana setelahnya Andra bertanya.


“Kenapa emangnya?”


“Ga apa-apa. Bini gue lagi ngambek. Gue ajak jalan, dia bilang ada lembur katanya hari ini,” jawab Reiji dengan berdusta pada Andra. ‘Maaf, Yang. Ga ada maksud fitnah kamu.’


Reiji meringis dalam hatinya kemudian.


****


“Kemana lagi gue harus cari Lia? Ck!”


Reiji menggerutu serta berdecak setelah ia selesai berbicara dengan Andra.


“Duh! Liaa! Nyalain dong hpnyaa...”


Menggeram tertahan setelahnya, ketika selepas menghubungi Andra, Reiji mencoba lagi menghubungi ponsel Malia yang sebelumnya Reiji cek status pesannya pada Malia dengan tanda yang masih sama seperti semalam.


‘Kalo gue ke rumah orang tua gue dan mertua gue, mereka pasti kepikiran. Ga masalah sih kalo gue harus jujur sama mereka tentang masalah gue dan Lia sekarang terus mereka mau marahin atau maki-maki gue abis itu.’


Reiji bermonolog dalam hatinya, disaat ia sudah merasa buntu sekarang. Reiji memijat agak kuat pelipisnya, sambil berpikir apa yang harus dia lakukan, kemana dia harus mencari Malia, sambil ia menimbang – nimbang hal yang terbersit di otaknya.


“Mentok – mentok gue masukin Lia ke laporan orang hilang juga nih ya???”


***


“Vi, Lia ada telfon lo?...”


Pada akhirnya aku menghubungi Avi.


“Dalam satu kali dua puluh empat jam ke belakang?...”


Karena dalam masa yang aku katakan pada Avi itu, yakni sampai dengan saat ini, ponsel Lia belum aktif juga.


“Kemaren doang gue telfonan sama dia... kenapa emang?...” Jawaban Avi padaku. Lalu kuceritakan pada Avi jika aku dan Lia sedang bertengkar.


Tanpa aku menceritakan yang sebenarnya terjadi secara detail.


Hingga pada akhirnya cerita yang sebenarnya aku katakan, tidak hanya pada Avi---tapi pada kedua orang tuaku dan kedua mertuaku.


Karena aku merasa sudah ada yang salah yang terjadi.


Sudah lebih dari 1 x 24 jam Lia tidak dapat dihubungi, dan Lia bukan tipe anak yang membiarkan orang tuanya khawatir karena keegoisannya.


Tak ada kabar sama sekali dari Lia, dan dua pasang orang tua itu memiliki gurat kekhawatiran di wajah mereka, sama sepertiku.


Yang mana artinya, baik orang tua dan mertuaku---benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Lia. Dan kami semua berpikir sama, jika ada sesuatu yang terjadi telah menimpa Lia di luar sana.


Ya Allah, lindungilah istriku.


****

__ADS_1


MALIA


Ada pepatah yang mengatakan,


‘Mulutmu adalah harimaumu.’


Atau,


‘Berhati – hatilah pada setiap keinginanmu.’


Dan hal itu yang aku alami sekarang.


---


“Lia.”


Suara seseorang yang sering aku dengar dari kemarin aku dengar lagi di telingaku.


Dan aku enggan bersusah payah menolehkan kepalaku untuk melihat orang yang menyebut namaku barusan.


“Kenapa belum kamu makan makanannya, Li?...” orang yang memanggilku itu kini sudah berdiri di sampingku. “Aku suapi mau?---“


“Aku bukan anak kecil. Dan tolong, tinggalkan aku sendiri,” ucapku dingin pada orang itu.


“Lia.”


Orang itu kemudian menyebut lagi namaku.


“Makan atau aku paksa?”


Kali ini suaranya sudah tidak selembut kali pertama ia menyebut namaku tadi.


“Cepat atau lambat suamiku akan menemukanku, Irsyad...”


Iya, Irsyad.


Seseorang yang sedang bersamaku itu.


Dan saat ini, aku tidak tahu dimana aku.


Selain hamparan pepohonan yang terlihat dari jendela sebuah kamar di tempat di mana aku bangun setelah tak sadarkan diri.


Makanya aku ingat pepatah tentang ‘mulutmu harimaumu’ dan dalam hal ini yang lebih cocok untukku adalah ‘berhati-hatilah dengan setiap keinginanmu’.


Karena aku yang kesal sekali pada Rei, sempat berharap untuk dapat menjauh darinya dalam jangka waktu yang lama. Dan semesta mengabulkannya.


Sudah dua hari aku berada di kamar yang sama sekarang. Yang jika aku lihat keadaan sekeliling dari jendela kamar tempat aku berada sekarang, rumah dimana aku sedang berada di dalamnya ini, bukanlah di daerah Jakarta.


Tak tahu dimana tepatnya, karena sejak dua hari lalu aku dikunci di dalam kamar ini oleh si bibit pebinor yang nekat. Bahkan mungkin gila.


“Haha...”


Karena dia tertawa lepas setelah aku memperingatkannya tentang Rei, selain Irsyad bilang,


“Kita ditakdirkan untuk bersama Lia. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi kamu takut pada suami kamu kan?...”


******

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2