
Selamat membaca....
****************
“Ka-kamu?—“
“Hai, Lia...” sapa seorang laki-laki yang sedang berdiri tersenyum pada Malia, dimana istri Reiji itu nampak sekali terkejut dengan keberadaan laki-laki tersebut.
Laki-laki itu tersenyum ramah, tapi Malia menahan nafasnya.
Karena laki-laki itu bukanlah seorang pelayan yang mengantar pesanannya---seperti yang Malia duga sebelumnya.
“Apa kabar?...”
“Kenapa, kamu bisa ada di sini... Irsyad?...”
“Takdir,” jawab dia gerangan, dan Malia sesaat terdiam.
“Kamu, bukannya... udah pergi dari Jakarta?” ucap Malia kemudian, seraya bertanya dengan sedikit gugup.
Pria yang adalah Irsyad itu tidak langsung menjawab, melainkan ia tersenyum pada Malia. “Boleh aku duduk?—“
“A—“
“Aku lihat kamu masuk tadi—“
“Aku ga persilahkan kamu untuk mengambil tempat disini, Irsyad...” tukas Malia pada Irsyad yang sudah mendudukkan dirinya di samping Malia itu.
“Aku mempersilahkan diri aku sendiri...”
“Tapi ini meja aku, dan aku berhak untuk tidak memberi ijin pada kamu bergabung dengan aku—“
“Kenapa sih, kamu kok sekarang jadi sentimen banget sama aku, Li?”
Irsyad menukas ucapan Malia.
Berbeda dengan Malia yang terlihat tidak nyaman, Irsyad terlihat santai saja.
“Ka—“
“Permisi, Kak...”
Ucapan Malia yang tadinya hendak menanggapi pertanyaan Irsyad sebelumnya, terjeda dengan kedatangan seorang pelayan restoran yang membawakan pesanan Malia.
“Sekalian saya minta bill ya, mba?” ucap Malia saat si pelayan meletakkan minuman pesanan Malia.
Dimana pelayan restoran tersebut langsung mengangguk mengiyakan permintaan Malia barusan itu.
“Sekalian bill saya juga ya?” lalu Irsyad ikut berbicara. “Tadi saya udah info kalau pindah meja.”
“Oh iya, Kak...”
“Dan Bill teman saya ini, satukan saja dengan punya saya.”
__ADS_1
“Eh ga—“
“Saya tunggu ya?”
Malia yang hendak memberi penolakannya pada ucapan Irsyad itu tak sampai lagi meneruskan kalimatnya, karena Irsyad sedikit mengangkat tangannya ke hadapan Malia, seolah menghadang Malia untuk bicara.
***
REIJI
“Mungkin Lia udah di apartemen, jadi kamu langsung aja ke sana. Udah tidur kali, makanya telepon kamu ga kejawab.”
Kalimat yang dikatakan oleh orang tua dan mertuaku, yang mana ucapan mereka kurang lebih sama. Dan itu yang menjadi alasanku memutuskan untuk kembali ke apartemenku dan Lia meski saat aku menghubungi mereka, aku sudah lebih dulu memastikan keberadaan Lia di apartemen kami dan dia tidak ada di tempat tinggal kami itu.
Dan aku memang tidak punya pilihan untuk kembali saja dulu ke apartemenku dan Lia, karena ia tidak kutemukan di hotel yang aku pikir jika Lia ada di sana.
“Yang?”
Aku coba memanggil lagi Lia ketika aku sampai.
Berharap, jika Lia sudah ada di unit apartemen kami.
Tapi belum.
Bahkan tanda-tanda bila saja Lia mungkin singgah sebentar lalu pergi lagi pun tidak ada.
Dan aku menghembuskan sekali lagi nafasku dengan berat, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.
***
Namun begitu Reiji mensugesti dirinya untuk tetap sabar dan tenang, kenyataannya hati Reiji tidak bisa setenang itu, dengan dirinya yang mulai sulit menghubungi Malia---karena setelah beberapa jam kemudian setelah sudah sempat Reiji kembali mengirimkan chat serta mencoba menghubungi Malia, ponsel sang istri sudah tidak aktif lagi.
‘Duh, Liaa... kamu niat banget bikin aku khawatir gini sih???...’
Monolog hati Reiji yang sudah meyakini kalau Malia sengaja menonaktifkan ponselnya.
‘Kemana coba gue harus cari dia ini?!...’ Reiji membatin lagi. ‘Gue hubungi Avi aja apa ya??...’
***
‘Kalo Avi belum juga menghubungi gue sampe sekarang, Lia berarti belum cerita sama dia soal kejadian tadi. Dan kalo gue hubungi Avi nanyain apa Lia hubungi dia, tuh anak pasti kepo bukan kepalang!... atau gue cerita aja sama Avi?... mungkin dia bisa kasih solusi, atau tau kira-kira kemana Lia bersembunyi... eeuumm...’
Reiji menimbang-nimbang. Namun kemudian Reiji menggeleng pelan.
‘*Tapi kalo gue cerita, y*ang ada gue disemprot abis-abisan sama si Avi!...’
Reiji bermonolog lagi dalam hatinya.
Kemudian Reiji meraih lagi ponselnya, dan mengecek lagi keaktifan ponsel Malia.
Yang, please pulang. Kita perlu bicara.
Argan bukan anak aku dan Shirly. Bukan juga anak aku dari perempuan manapun.
__ADS_1
Sekali lagi aku minta maaf kalo udah bentak kamu tadi. Kalau kamu mau bentak aku balik silahkan. Aku di apartemen. Kamu mau tampar akupun silahkan. But please, pulang.
“CK!” decak Reiji, karena semua chat yang ia kirimkan masih sama saja statusnya. Centang satu. “Masa besok gue mesti nyamperin lagi Lia ke kantornya???...” gumam Reiji.
Yang kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu unit apartemennya dan Lia, lalu Reiji beranjak untuk membersihkan dirinya yang masih mengenakan seragam pilotnya itu.
***
Di lain tempat...
“Dan Bill teman saya ini, satukan saja dengan punya saya.”
“Eh ga—“
“Saya tunggu ya?”
“Baik, Kak—“
“Eh—“
“Ga usah diperbesarkan Lia,” tukas Irsyad.
“Oke, aku terima traktiran kamu. Tapi sekarang kamu bisa tinggalin aku sendiri?”
“Bisa. Tapi aku ingin tetap disini...” ucap Irsyad.
***
Malia dibuat was-was oleh Irsyad, yang terdengar memaksa untuk berada di sisinya. ‘Kalo gini, gue berharap Rei bisa nemuin gue di sini daripada gue harus nanggepin si Irsyad, yang kayaknya makin nyeremin gini?—“
“Sorry, kalau aku terdengar maksa. Tapi kayaknya kamu lagi butuh teman ngobrol buat berbagi kekecewaan kamu, Lia—“
‘Eh?...’
Malia baru saja terkesiap, setelah ia mendengar Irsyad berbicara.
Lalu Malia menangkap ada kalimat Irsyad yang terdengar ambigu di telinganya.
Namun belum lengkap Malia menelaah, Irsyad sudah bicara lagi.
“Bukankah saat ini kamu sedang kecewa berat, Lia?...“
“Maksud kamu?—“
“Kamu baru saja menemukan fakta kalau suami kamu selingkuh, bukan begitu?—“
“Kamu—“
“Seharusnya kamu pilih aku, Lia—“
“Jadi kamu, orang misterius yang mengirimkan foto-foto itu???...”
“Iya.”
__ADS_1
*****
Bersambung......