WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 137


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


REIJI


“I love you ...”


Kalimat yang aku ucapkan pada Lia setelah aku mengecup keningnya saat aku telah habis-habisan menggodanya di dalam kamar mandi kami-di dalam bathtub.


Aku sudah on memang, tapi aku rasa Lia sudah terlalu lama berendam, dan lagi aku juga tidak mau memaksakan kehendakku yang sudah on ini padanya. Jadi aku melepaskan Lia, agar dia bisa segera membilas dirinya.


Dan aku akan mengecek makanan kami saat Lia membilas dirinya.


Akupun bergegas untuk keluar dari dalam bathtub, lalu dari kamar mandi.


“Rei,” panggil Malia saat aku hendak bangkit dari posisiku. “I think I already love you ( Aku rasa aku sudah mencintai kamu ) –“


Dan aku?


Membeku!.


“So, I love you too ...”


Aku pun masih membeku kala kalimat itu Lia ucapkan padaku sambil ia mengusap lembut pipiku dengan tersenyum.


Sungguh aku makin membeku, bahkan lidahku terasa seolah kelu. Berpikir, jika aku sedang berhalusinasi.


Karena aku rasanya tidak mempercayai pendengaranku.


“Ih malah bengong! ... ucapin makasih kek apa ---“


Malia mencebik dan nampak sebal. Aku baru terkesiap.


“Ulangi, Yang? ... ulangi yang kamu bilang tadi ... Takutnya aku cuma halusinasi.”


Dan aku langsung saja berkata seperti itu sambil memegang kedua lengan Lia, bahkan tanpa sadar sedikit mengguncangnya saking aku tidak percaya dengan ucapan Lia yang aku dengar barusan itu.


“Kamu, udah ada disini, Reiji Shakeel ---“


Lia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu berucap dengan menunjuk dada kirinya dengan satu tangannya yang tadi sempat menangkup wajahku.


“Bukan lagi sekedar sayang.. tapi cinta ---“ kata Lia selanjutnya


Yang membuatku tak bisa menahan diri untuk langsung memeluk Lia dengan eratnya.


Bahagiaku begitu membuncah, serta haru disaat yang bersamaan.


“Sorry jadi melow deh.” Ucapku sambil menolehkan kepalaku ke samping, karena sudut mataku agak basah. “Lebay ya? ---“ ucapku lagi pada Lia sambil menatapnya dengan tersenyum seraya aku terkekeh kecil lagi. “Abis... Aku terlalu bahagia, Yang ---“ kataku, sesuai dengan perasaan yang sedang aku rasakan saat ini.


Lia tidak berkata apa-apa setelah aku mengungkapkan perasaanku setelah Lia bilang jika ia telah mencintaiku, setelah juga ia sejenak memelukku kemudian mengurai pelukanku itu.


Namun apa yang Lia lakukan setelahnya, sungguh tidak aku duga, namun kian membuat hatiku berbunga-bunga.


“I love you, Rei...”


Lia mengatakan sebaris kata cinta yang terdengar manis paripurna, setelah ia mengecup lembut bibirku.


Aku sungguh terpana. Tapi tak lama kemudian akupun membalas kalimat cinta dari Lia itu dengan kalimat cinta yang sama mesranya.


Hingga aku rasakan ‘Si Bona’ mulai menyadari keberadaan sebuah ‘kandang’ yang posisinya begitu dekat dengannya.


Dan yah, itu membawaku untuk mencumbui Lia pada akhirnya. Namun tidak sampai ‘Si Bona’ milikku masuk ‘kandang’, suara dan ucapan Lia pada akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk ‘mengkandangkan Bona’.


Tak apa, aku rela. Karena aku sedang bahagia dan berbunga-bunga.


Jadi walaupun aku agak sedikit ‘tersiksa’, aku sungguh rela. Karena kemenangan atas hati dan cinta Lia telah aku dapatkan.


Yang mana hal itu aku yakini, setelah aku dan Lia telah beringsut dari bathtub kala Lia kubiarkan untuk membilas tubuhnya-dan aku menunda mandiku.


Lalu Lia mengatakan kalimat panjang yang begitu indah terngiang di telingaku, dengan pandangannya yang begitu lembut dan teduh padaku dengan tanpa aku temukan kepalsuan di sana.


“Kamu, Rei.” Kata Lia setelah ia berkata panjang lebar kalimat yang begitu manis aku dengar-hingga membuat hatiku bagai taman bunga yang isinya sedang merekah begitu indahnya, dan setelah Lia mengecup singkat bibirku dengan lembut dan penuh perasaan. “Kamu, penguasa hati aku yang sesungguhnya ternyata –“


Duh, meleleh hati Abang, Dek!.


*****


“Percaya ga?”


Malia langsung melontarkan pertanyaan pada Reiji yang nampak terkesima setelah ia menjabarkan perasaannya pada Reiji.


Reiji berdehem panjang, dengan mengernyitkan dahinya.


Memasang tampang seolah Reiji ragu pada ucapan yang merupakan ungkapan hati serta perasaan cinta yang Malia jabarkan padanya barusan.


“Ih! Ngeselin banget mukanya!”


Reiji terkekeh kemudian, setelah Malia mencebik dan meraup wajahnya lalu mendorong pelan ke belakang.


“Aku kayak mimpi tau?...” ucap Reiji setelah menyelesaikan kekehannya yang tak lama. “Makasih ya Yang?. Aku ga pernah sebahagia saat ini.”

__ADS_1


***


“Aku seneng kalo kamu percaya, Rei.”


Malia berucap seraya tersenyum, dan tangannya ia lingkarkan di leher Reiji yang juga tersenyum pada Malia.


Bahkan senyum Reiji lebih lebar dari senyum Malia. Karena bahagia di hati Reiji terlalu membuncah, jadi senyumnya pun mengembang dengan begitu merekahnya.


***


MALIA


“Gimana aku ga percaya, kalo kata-kata yang kamu ucapin itu manisnya bukan main Yang? ----“


Sahutan Reiji atas ucapanku yang mengatakan jika aku senang mendengar jika ia percaya atas kata-kataku yang mana adalah ungkapan perasaanku saat ini, dan memang tulus dari dasar hatiku.


“Apalagi ditambah sama sikap kamu yang begini sama aku .... kayaknya aku harus cek gula darah besok nih.” Lanjut Reiji dengan kelakar. “Takut diabetes, gara-gara kamu yang kelewat bates manisnya---“


Kelakar yang berujung gombalan receh dari Reiji, tapi hatiku senang mendengarnya.


“Mister gombal receh dasar!”


Tanggapanku atas gombalan receh Reiji itu.


Reiji tersenyum tampan.


“Ini..” lalu Reiji bersuara. “Kode?..” sambil ia menggerakkan matanya sedikit ke bawah.


Alamaaakkk!.


Kenapa kakiku ini kegatelan banget sampe otomatis melingkar dengan lancangnya di pinggang Reiji-bahkan seolah mengunci tubuh Reiji, karena kedua kakiku itu saling bertaut di pinggang belakang Reiji.


Akupun dengan kikuk mencoba melonggarkan ‘kuncian’ kakiku itu, namun ...


“Emh, Rei ----“ kakiku di tahan Reiji, dan tangannya sudah memberikan sentuhan sensual di pahaku, dan kurang ajarnya, pita suaraku langsung bereaksi mengeluarkan lenguhan tertahan akibat sentuhan Reiji yang bahaya itu.


“Boleh diterusin?----“


Reiji bereaksi-mungkin karena melihat responku, seraya ia meminta ijin padaku.


Aku menggigit bibir bawahku, dengan aku dan Reiji yang saling menatap syahdu, dengan mata kami yang sama-sama mulai sayu.


“Kamu ... ga laper? ...”


“Kamu?-“ Reiji balik bertanya atas pertanyaan basa-basiku.


Dan aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Reiji.


Ga fokus lebih tepatnya, karena tangan terampil Reiji masih menari-nari di pahaku, semakin lama semakin membuatku resah dan gelisah.


Gelisah dalam arti yang nyeleneh.


Kenapa Reiji seolah tahu bagaimana membuatku resah dan gelisah untuk segera dijamah?.


Aish! Sejak kapan aku jadi kegatelan begini?!.


“Tapi kalau kamu ga ingin, jangan memaksakan diri untuk mengiyakan keinginan aku yang ingin ‘makan’ kamu sekarang, Yang.”


“........”


“Tapi kayaknya kamu laper beneran ya? ....”


Reiji menghentikan ‘tarian’ tangannya di pahaku.


Wah, ngajak berantem nih orang, membuatku kentang!.


Ga bisa dibiarkan, ini udah ada yang nyut-nyutan.


Ah ya ampun! Aku macam perempuan ‘jab-lay’ yang haus sentuhan.


Sabodo!.


Suami sendiri ini!.


“Aku ga terlalu laper ---“


Aku merespon ucapan Reiji.


“Takutnya malah kamu yang laper Rei ---“


“Iya aku emang laper, tapi laper untuk hal lain.”


Reiji menyambar ucapanku.


“Tapi kalau kamu beneran laper atau cape ---“


Ah kelamaan basa – basi Bapak Reiji.


Cup!.


Istri gatal ini langsung menyambar saja bibir suaminya.


Masa bodo dengan image malu – malu empus.


Aku sudah kadung mendamba untuk disentuh lebih jauh oleh Bapak Pilot yang menawan ini.

__ADS_1


Jadi sekali – sekali aku deh yang memulai duluan.


Dan dengan jantung yang berdegup-degup tak karuan, aku mulai menjajah bibir Reiji, yang tak lama menyambut jajahan bibirku pada bibirnya itu.


Aku sekilas menangkap Reiji yang tersenyum atas keagresifanku sekarang ini. Dan sekali lagi aku katakan masa bodoh, karena aku benar – benar sedang menginginkan Reiji saat ini.


Perlahan tapi pasti, tubuhku dan Reiji kian rapat.


Bibir kami saling mencecap. Dan kali ini aku benar – benar menikmati sesi ciumanku dan Reiji.


Mungkin bercumbu dengan rasa cinta yang penuh seperti ini rasanya, ya?.


Ciuman kami tidak memburu sama sekali, namun sukses menaikkan kadar gairahku.


Reiji pun aku rasakan sama sepertiku, saat ia mengurai ciuman kami sepersekian detik, lalu menatapku dengan matanya yang sudah aku lihat penuh minat untuk meneruskan ciuman kami, dan berlanjut ke tahap berikutnya.


“Sekali aja ya, Rei?” pintaku. "Abis itu kita makan."


“Iya ----“ sahut Reiji atas permintaanku setelah ciuman kami terurai lagi. “Tapi abis makan beneran sekali lagi ya? ...”


Reiji kembali memagut bibirku, dan aku terbuai lagi hingga memejamkan mata.


“Tapi jangan disini ...”


Aku berucap setelah mengurai ciuman Reiji yang kesekian.


“Dimana?-“ sahut Reiji. “Di balkon?-“ selorohnya sambil mendengus geli.


“Ish!” Aku pun mencebik dan Reiji terkekeh kecil.


“Kamar atau ruang tamu? Belum pernah loh kita main disana ----“ ucapnya kemudian.


Aih, masa di ruang tamu?.


Belum terbayang untuk melakukan di tempat selain kamar tertutup, meskipun ruang tamu unit apartemenku dan Reiji hitungannya tertutup juga.


Paling banter selain kamar, ya aku dan Reiji sudah pernah melakukannya di kamar mandi.


Ya kamar mandi di unit apartemen kami ini, atau di kamarku dan Reiji yang ada di rumah orang tua kami masing-masing, jika kami sedang menginap disana.


Selain kamar mandi resort tempatku dan Reiji berbulan madu.


Aku dan Reiji belum pernah mencoba sudut-sudut lain selain tempat-tempat itu, terutama di unit apartemen kami ini.


“Kamar aja.”


Aku memotong ucapan Reiji.


Reiji pun tersenyum.


“As your wish my queen---“ Reiji pun langsung menggendongku keluar dari dalam kamar mandi.


Dan akupun spontan melingkarkan tangan dan kakiku lebih erat di leher dan pinggang Reiji, hingga ia merebahkanku di atas ranjang dalam kamar pribadi kami.


---


Aku rasanya belum imun dengan otot-otot sesuai porsi yang tercetak di tubuh Reiji, hingga tanganku yang gatal ini, merayap tanpa akhlak di dada dan perut Reiji kala ia telah menjatuhkan tubuhku di atas ranjang.


Geraman tertahan Reiji itu membuatku gemas ingin segera menarik handuk yang masih membalut pinggang ke bawah Reiji.


Ah ya ampun, otakku kenapa menjadi binal seperti ini?!.


Tapi kegemasanku tidak berlangsung lama, karena Reiji telah menarik ikatan bathrobe ku dan membuat tubuhku terekspose di hadapannya-walaupun bathrobe ku tidak sepenuhnya Reiji lepas dari tubuhku.


Dan setelahnya tak butuh waktu lama bagi Reiji untuk membuat nafasku mulai memburu, seiring banyaknya ******* yang keluar dari mulutku akibat tangan dan mulut Reiji yang terampil, hingga momen itu sempat terhenti sesaat, karena Reiji menanggalkan balutan handuk yang ia pakai.


Namun setelahnya Reiji tak langsung lagi menghampiriku, melainkan ia menatapku dengan intens dan hal itu membuatku merasa canggung ditatap seperti itu oleh Reiji, meski sudah sering ia melihat tubuh polosku. Tapi memperhatikanku yang dalam keadaan tubuh bagian depanku terekspose seluruhnya ini dengan tatapan yang seperti itu, baru ini Reiji lakukan.


Sampai aku meraih lagi sisi ujung bathrobeku yang sudah terbuka lebar untuk kurapatkan kembali saking aku malu diperhatikan Reiji seintens itu. Namun pergerakanku di tahan oleh Reiji yang dengan cepat mengukung tubuhku, lalu mulai kembali mencumbuiku.


Membuatku kembali tak karuan, macam cacing yang agak – agak kepanasan.


Semakin tak karuan, kala Reiji mulai merayap turun hingga tubuhnya merendah sampai di depan ...


Ah ya ampuunnn ...


Kenapa Reiji menempatkan wajahnya tepat di hadapan ‘cawan’ pribadiku sih???? ...


“R-ei ...” lirihku.


“Kamu nikmatin aja, Yang ...”


Setelahnya ...


Apa yang Reiji sedang lakukan kemudian - rasa bak tersetrum namun terasa nikmat, mulai menjalar di sekujur tubuhku.


Dan kepalaku rasa pening, seiring mulutku yang susah aku katupkan – macam ikan yang tak dapat air.


Oh damned!.


Suamiku, tolong hentikan!.


Aku mengejang.


Reiji Shakeeeellll kenapa kamu se – pro itu siiihhh?????!!!...

__ADS_1


---


To be continue.....


__ADS_2