WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 168


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Eh tapi Bos Besar kamu kayaknya masih muda ya Rei? ...” ucap Malia setelah ia dan Reiji hendak pergi ke kantor pusat sebuah maskapai yang menaungi Reiji sebagai seorang pilot selama ini.


“Tau dari mana?---“


Reiji langsung menyambar omongan.


“Yang waktu itu mampir sama istri dan anaknya ke Villa itu kan? ...”


Malia dengan cepat menyahut dengan dugaannya.


“Itu anaknya Big Boss ... itungannya Bos aku juga sih---“


Reiji sedikit meralat.


“Soalnya dia juga kadang ada saat aku meeting di kantor pusat.”


“Ya mungkin persiapan untuk nanti dia yang mimpin secara total kalo ayahnya udah pensiun?”


Malia menimpali ucapan Reiji.


“Maybe,” sahut Reiji.


Kemudian untuk sesaat Malia dan Reiji tidak saling bicara.


Reiji fokus menyetir saja, karena melihat Malia sedang sibuk dengan ponselnya.


***


REIJI


Mendapatkan tawaran menjadi pilot pribadi, memang aku akui cukup menggiurkan.


Terlebih gaji yang ditawarkan cukup mencengangkan juga bagiku. Dan jujur saja, aku sungguh tergiur.


Namun begitu, aku tetap merasa harus mendiskusikannya dengan Lia soal tawaran menggiurkan tersebut.


Dan Lia menyarankan aku untuk menerimanya, karena jangan menyia – nyiakan kesempatan, katanya – supaya dia bisa luluran pakai emas, macam seleb – seleb tajir. Yang mana aku tau jika itu hanya guyonan Lia saja, karena Lia bukanlah perempuan matrealistis tingkat dewa.


Matrealistisnya Lia masih dalam tahap normal.


Tahap wajar.


Perempuan kan? ...


---


Sesampainya di Kantor Pusat Maskapai yang menaungiku selama ini, aku langsung menghampiri meja resepsionis, dimana satu perempuan dan satu laki – laki yang ada di baliknya sudah cukup mengenalku.


“Selamat pagi menjelang siang Pak Reiji –“


Kedua resepsionis itu menyapaku dengan ramah dan sopan tentunya.


Dan aku pun tentunya membalas sapaan mereka dengan cara yang sama.


“Disuruh langsung aja ke ruangan utamanya Big Boss Pak Reiji,” ucap salah seorang resepsionis setelah aku mengatakan kepentinganku. “Diajak juga itu istrinya...”


Resepsionis yang sudah cukup aku kenal lama itu lanjut berkata.


“Eh bener kan itu istrinya? –“ tanyanya lagi dengan tersenyum lebar.


“Ya masa istri tetangga????...”


Aku pun membalas kelakar resepsionis Kantor Pusat Maskapai tempatku bernaung itu, kemudian ikut juga tersenyum lebar, kala keduanya terkekeh geli.


Kami berinteraksi santai, namun tetap dalam batas wajar.


Si resepsionis perempuan pun bersikap tetap profesional, meski kami sudah mengenal lama.


Tidak ada unsur keganjenan atau sekedar ganjen darinya, atau dari para karyawan perempuan lain.


Dan yang aku acungi jempol di Maskapai tempatku bernaung ini, ownernya memiliki ketegasan luar biasa dalam mengurusi ‘kecentilan’ di lingkungan kerja.


Hingga rasanya, di kantor ini, hanya ada perempuan baik – baik non ganjen apalagi murahan yang bekerja di dalamnya.


Yang mana aturan itu ditetapkan oleh para pemegang saham yang masih hitungan keluarganya owner. Dan yang perlu dicatat, para pembuat peraturan itu kesemuanya adalah laki – laki.


Jangankan soal perselingkuhan di dalam area kerja, ketahuan ada aroma – aroma goda menggoda aja akan langsung ditindak tegas dengan pemecatan tidak hormat.


Luar biasa bukan? ....


Yakin bucin tingkat dewa sama bini – bininya – macam aku, itu owner dan para pemegang saham yang terlibat dalam membuat peraturan macam itu.


Tapi sungguh aku sangat – sangat salut pada mereka yang seperti itu, yang menjunjung tinggi arti pasangan resmi dan pernikahan tentunya, yang katakanlah super langka di jaman sekarang ini.


Aku pun segera mengangguk dan berterima kasih pada kedua resepsionis tersebut, setelah aku dipersilahkan untuk langsung menyambangi ruang kerja utamanya Big Boss Maskapai.


Namun sebelumnya, aku lebih dulu menghampiri Lia yang sedang duduk menungguku di sofa ruang tunggu.


“Ayo, Yang?” ajakku pada Lia, sambil mengulurkan tanganku agar ia genggam.


“Beneran aku disuruh ikut sama Big Boss kamu itu?”


Lia memastikan, jika keberadaannya memang diperlukan.


“Bukan kamu yang minta ijin bawa aku ikut nemuin Big Boss kamu itu, karena ga tega ninggalin aku sendirian disini kan?”

__ADS_1


“Kan tadi di apartemen aku udah cerita? ....”


Aku menjawab pertanyaan Lia yang wajahnya nampak ragu – ragu itu.


“Iya sih—“ tukas Lia. “Aku cuma takut aja kalo kamu yang minta ijin ke Big Boss kamu buat ajak aku. Ga enak aku jadinya nanti.”


Aku mengulas senyuman pada Lia. “Engga kok.”


Lalu aku menyegerakan Lia agar menggandeng tanganku dan pergi menuju lift, dimana salah satu resepsionis telah keluar dari tempatnya, tampak hendak ingin mengarahkan jalanku ke ruang kerja utama dan pribadi Big Boss, yang mana selama ini belum pernah aku sambangi.


Meski waktu temu janjiku masih tiga puluh menit lagi sebenarnya, dan aku tidak terlambat sama sekali dengan janji temuku dengan si Big Boss, tetap saja aku merasa tidak enak karena nyatanya Big Boss Maskapai tempatku bernaung itu telah sampai lebih dulu. Jadi aku mempercepat gerakku.


Dan Lia memahami hal itu, jadi dia mengimbangi langkahku yang sedikit lebar. Selain karena si Big Boss telah memintaku untuk datang saja ke ruangan pribadinya itu, meskipun waktu temu kami belum sampai pada saatnya.


****


“Takjub banget aku, sumpah Rei.”


Malia menyuarakan pendapatnya, setelah ia dan Reiji telah selesai bertemu muka, lalu bicara dengan Big Boss dari Maskapai yang selama ini menaungi Reiji.


Reiji menoleh dengan mengernyit pada Malia, sesaat setelah Malia menyuarakan pendapatnya itu.


Malia yang menyadari kernyitan Reiji yang menampakkan sebuah rasa ambigu di raut wajahnya suaminya itu, kemudian terkekeh kecil.


“Aku takjub sama pemikiran Big Boss kamu, bukan sama orangnya. Juga bukan sama anak cowoknya! ....”


“Alhamdulillahhhh ....”


Reiji lalu menimpali penegasan Malia atas ekspresi kecurigaan isengnya atas ucapan Malia yang mengatakan jika ia takjub – dengan lagak seolah ia begitu lega atas Malia yang tidak terpesona pada dua pria yang dapat dikatakan memang begitu tampan parasnya.


“Paan sih? –“


Malia terkekeh kecil.


“Ya aku lega lah, kalo kamu ternyata ga takjub sama dua laki – laki yang mempesonah tadi. Secara, aku aja yang cowok terkesima waktu pertama kali ketemu sama Big Boss, yang biarpun udah seumur papa kita, tapi masih kayak awet muda gitu? ....”


Reiji bercerocos ria.


“Terus tadi anaknya cowoknya juga, yang pernah aku ketemu sekali sebelum di Villa, sama takjubnya pas ngeliat dia waktu pertama kali. Belom lagi abangnya.”


Reiji masih lanjut nyerocos.


“Yang kamu kira Big Boss aku itu waktu di Villa?”


“Hmmm ....”


Malia berdehem seraya manggut – manggut.


“Ganteng tingkat dewa kan tuh dia? –“ tukas Reiji.


“Tapi tetep aku pilihnya kamu kok Rei –“


“Cius!”


Reiji dan Malia saling lempar canda.


“Soalnya kalo aku ngarep juga percuma, nah istri – istrinya itu aja ngalahin si Barbie cakepnya? –“


Lalu Malia berceloteh.


“Dibandingin sama aku, aku cuma remahan rengginang kali sama istri – istri atasan kamu dan keluarganya yang pernah aku liat itu?”


“Ish! Mana ada remahan rengginang cakep gini? ...”


Reiji menyergah, sambil memencet gemas hidung Malia.


“Gombal!”


“Cius!”


Lalu sepasang suami istri itu sama – sama terkekeh dan bersenda gurau hingga lift yang mereka tumpangi itu telah kembali sampai ke lobi gedung Maskapai tempat Reiji bernaung.


“Ngomong – ngomong, kita mau kemana habis dari sini?”


Malia bertanya pada Reiji, setelah mereka keluar dari dalam lift.


“Kalo itu aku serahin ke kamu, Yang ... Kalo serahin ke aku, ya kita mendingan balik ke apartemen, lalu melakukan sesuatu yang berfaedah ... Bikin anak misalnya? ...”


Reiji dengan celotehan serta tampang mesumnya, yang mana membuat Malia dengan cepat mencebik.


“Oke? Okeee –“ sambung Reiji yang mengedepankan jawabannya.


“Apaan engga! –“ sergah Malia. “Ini aja aku rasanya masih encok gara – gara kemesuman kamu yang kelewat batas!” sambung Malia seraya mendelik namun merendahkan nada suaranya, karena mereka berada di tempat umum.


Reiji pun terkekeh geli.


****


MALIA


Aku dan Rei sepakat untuk berkencan - katakanlahbegitu, setelah kami selesai di kantor Maskapai yang menaungi Rei sebagai Pilot selama ini.


Rei menerima tawaran sebagai Pilot Pribadi dari keluarga Bos Besarnya di Maskapai, dengan gaji yang luar biasa - begitu amazing menurutku.


Rasanya, jika aku mengundurkan diri dari pekerjaanku pun, aku masih bisa hidup senang – sangat senang bahkan, ongkang – ongkang kaki, keluar masuk salon, sama Mal buat shopping dengan penghasilan yang ditawarkan oleh Bos Besarnya Rei itu.


Hm, sepertinya hal itu akan aku pertimbangkan.


Hehehe...

__ADS_1


Lihat nanti lah.


Mungkin, jika aku hamil, dan Rei minta aku untuk berhenti bekerja, aku akan menuruti saja apa katanya.


Toh, aku sudah merasa cukup dengan pemberian Rei sekarang ini yang masih kadang bersisa setiap ia memberikan uang padaku.


Memang sudah sepatutnya sih, aku merasa cukup dengan Rei.


Rei adalah sosok lelaki yang sempurna di mataku, secara fisik maupun kepribadiannya.


Suami yang bertanggung jawab, ga pelit, selain tampan.


Hanya sebagai Pilot biasa pun, aku sudah merasa sangat cukup dengan penghasilan Rei.


Apalagi, Rei itu pengertian dan sabar.


Dan diatas itu, ia selalu mengedepankan keinginanku.


Lelaki, dan suami yang lebih dari cukup kesempurnaannya di mataku. Diluar kesempurnaan Sang Pemilik semesta.


Jadi mungkin jika suatu hari aku dan Rei diberikan kepercayaan atas seorang anak yang hadir di rahimku, lalu Rei membahas soal pekerjaanku, kemudian saran untuk berhenti bekerja dia cetuskan, aku akan mengikuti apa katanya.


Meski aku sudah bisa menebak, Rei akan kembali menyerahkan keputusan padaku.


Tapi aku sudah bertekad sebaliknya. Aku yang akan menyerahkan segala keputusan atas diriku pada Rei.


Well, dilihat juga dari situasi dan kondisinya nanti.


Pokoknya, yang jelas, aku akan menitikberatkan pengambil keputusan pada Rei.


Dimulai dari saat ini nih, aku yang mencetuskan ide untuk nonton ke bioskop, membuat Rei teringat akan lingerie profokatif yang aku pakai semalam.


Hingga dia bersikeras agar kami pergi saja ke Mal yang tokonya menjual lingerie yang aku pakai semalam itu, yang jadi simalakama untukku.


Bagaimana tidak jadi simalakama?...


Kalau niatku membeli lalu memakainya semalam, untuk membuat atmosfir baru dan  menyenangkan Rei.


Jadinya malah benar – benar membuat Rei kelewat senang, sampai aku dibuat gelagapan hingga terkulai lemah tak berdaya, saking Rei ‘menggempur’ ku habis – habisan.


Hah, ga kebayang, kalau aku – jika tidak sedang kedatangan tamu bulanan, harus memakai itu lingerie profokatif yang disuruh beli lagi sama Rei – setiap Rei ada di apartemen.


Tapi sudahlah, aku sudah bertekad untuk membalas sikap Rei yang kelewat baik padaku itu dengan membuatnya senang dan bahagia.


Karena Rei pantas untuk itu.


---


“Ke ATM dulu bentar, Yang –“


Rei berucap setelah kami sudah berada di area tengah lobi, selepas Rei berpamitan pada dua resepsionis kantor Maskapai tempat kami berada sekarang ini.


“Ga enak banget megang cash pas – pas – an ...”


Rei lanjut berbicara, dan aku mengangguk saja.


“Ada ATM emang disini?”


“Ada ...”


Rei menyahut.


“Tuh disana –“ tunjuk Rei ke satu sudut yang masih berada di area lobi kantor maskapai tempat kami berada.


“Ya udah ...” ucapku. “Aku tunggu disini ya? ...” lalu aku menunjuk sofa tempatku duduk saat datang tadi, dan Rei pun mengangguk.


“Bentar ya?”


Aku mengangguk, dan Rei melangkahkan kakinya menuju mesin ATM yang tadi dia tunjuk.


---


Aku mengecek ponselku sambil menunggu Rei selesai di mesin ATM. Ada beberapa chat yang masuk ke dalam ponselku.


Namun satu, yang membuatku sedikit merasa tidak nyaman.


Chat dari teman kantorku – rekan kerja satu divisi denganku tepatnya, yang juga sering makan siang bersama denganku.


Yang mana dalam chatnya ia menuliskan,


Eh Jeng, tadi waktu maksi, gue ngeliat cowo yang kemaren dateng. Dia kayaknya ngenalin gue, trus nyamperin gue dan nanyain lo.


Dan aku tahu siapa cowok yang rekan kerjaku maksud.


Irsyad.


Tapi untuk apa dia mencariku lagi? ...


Dan kenapa seperti kemarin juga? ...


Datang tiba – tiba dan juga tidak ada chat apapun darinya sedari semalam.


Dan kenapa, seketika aku jadi merasa khawatir atas sikap Irsyad ya? ...


****


Bersambung ....


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2