WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 229


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“I—“


Beep


Nada notifikasi di ponsel Malia tedengar berdenting, ketika ia baru saja hendak akan menanggapi ucapan Riza----yang adalah rekan sekantor Malia yang ia mintakan tolong untuk mengantarnya ke kantor pusat maskapai yang menaungi Reiji sebagai seorang pilot, karena Malia tidak membawa mobilnya.


“Laki lo?” tanya Riza saat Malia nampak sedang melihat layar ponselnya, dan tahu kalau ada pesan masuk ke ponsel Malia tersebut.


“Bukan ..”


Barangkali bisa membantu, kemungkinan suami kamu ada di TMK kalau dia ga ada di tempat kamu cari dia sekarang.


Sebuah pesan yang masuk ke ponselnya dari nomor tidak di kenal itu membuat Malia tertegun di tempatnya, dan membuat perasaan Malia kembali menjadi tambah tidak karuan karena sebelumnya informasi dari Riza yang ia mintai tolong untuk bertanya pada resepsionis tentang Reiji----adalah Reiji tidak ada di kantor pusat maskapai yang menaunginya karena meeting yang Reiji katakan pada Malia batal.


“Ya’? ..” panggil Riza, yang melihat wajah Malia nampak serius menatap layar ponselnya itu.


****


“Ya’? ..” panggil Riza lagi dengan menyertakan sentuhan pada salah satu pundak Malia yang nampak termangu itu.


“Eh, ya, Za? ..” jawab Malia terkesiap.


“Kenapa?” tanya Riza.


“Ga apa-apa,” jawab Malia menampakkan sebuah senyuman baik-baik saja.


“Muka lo kek jadi horor gitu? ..” ucap Riza, sambil memandang pada Malia.


Malia pun mendengus geli.


“Terus gimana?” tanya Riza lagi.


Malia sedikit mendongak, lalu memandang pada Riza, namun otaknya sedang berpikir.


“Lo tau komplek apartemen TMK ga, Za? ..”


Kemudian melontarkan pertanyaan pada Riza.


****


MALIA


“Tau.”


Adalah jawaban yang keluar dari mulut Riza.


“Lo mau ga anter gue ke sana?”


Dan pertanyaan itu sontak keluar dari mulutku, meskipun sebenarnya aku tidak enak hati untuk merepotkan Riza lagi.


Memintanya mengantarku ke kantor pusat maskapai yang menaungi Rei saja sebenarnya aku sudah tidak enak hati karena awalnya Riza yang kebetulan sedang tidak dinas ke luar daerah itu mengajakku pulang bareng adalah karena tempat tinggalnya searah dengan apartemen tempatku dan Rei tinggal.


Tapi aku malah memintanya untuk mengantarkan ke kantor pusat maskapai yang menaungi Reiji dimana letaknya sangat berlawanan dengan arah pulangku dan Riza.


“Ayok! ..” tanggap Riza.


---


Riza tidak nampak keberatan sama sekali mengiyakan permintaanku, meskipun letak tempat yang ingin aku datangi dan menanyakan pada Riza apakah ia berkenan mengantarku ke sana, juga kian jauh dari komplek apartemenku dan tempat tinggal Riza.


“Seriusan nih lo mau anter gue, Za? ..”


Akupun memastikan.


“Tadi gue bilang apa?” ujar Riza.


“Ayok ..”


“Nah ya udah cus!”


“Sorry banget Za, jadi ngerepotin lo banget.”


“Heleh kebanyakan basa-basi lo Neng Malia! ..”


Akupun terkekeh dengan selorohan satu makhluk yang paling woles sedunia menurutku.


Tapi ganjennya itu luar biasa, tukang tebar pesona.


Namun begitu, kalau sudah cukup kenal dengan Riza, sifat ganjennya tidak akan separah pada cewe-cewe yang tidak dekat dengannya.


Contohnya padaku.


Sejak kami cukup dekat sebagai rekan kerja dalam hubungan yang memang pertemanan, Riza hanya lebih sering melontarkan celetukan dan guyonan receh plus garingnya.


Dan lagi, pada kenyataannya, Riza termasuk ke dalam tipe cowok yang peduli pada orang lain.


Seperti padaku sekarang ini.


Sekalipun aku tidak terlalu sering berinteraksi dengannya, namun karena sudah kenal dari sejak aku bekerja di kantorku sekarang----hubungan pertemananku dan Riza cukuplah baik.


Pertemanan ya, bukan sahabatan.


Karena sahabatku itu hanya Avi seorang.

__ADS_1


Dan lagi aku tidak melakukan chat pribadi bersama Riza kalau bukan di grup anak-anak kantor, atau soal kerjaan.


Itupun dulu, saat Riza masih menjadi seniorku sebelum ia pindah divisi.


Tidak seperti Rei dan si bibit pelakor itu, yang sering berbalas chat dan si bibit pelakor berkedok sahabat itu menghubungiku tanpa sadar waktu.


Dasar gatel!


---


“Serius lo ga ada janji sama orang gitu? Cewe lo—“


“Gue single and happy, oke?!—“


“Ya gue ga mau lo sampe batalin janji kalo emang lo udah ada sebelum gue minta tolong sama lo.“


Aku menukas cepat ucapan Riza, karena aku tidak mau dia menjadi macam Rei.


Yang mengorbankan janjinya denganku demi alasan yang sekarang aku curigai berkenaan dengan si bibit pelakor bernama Shirly itu.


Atau mungkin si bibit itu sudah menjadi pelakor yang sesungguhnya?.


Hhh, Tuhaan ..


Foto interaksi Reiji dan si bibit pelakor itu sungguh membuat pikiranku tak karuan.


Ditambah informasi yang dituliskan di chat dari pengirim misterius itu, membuatku kian gusar.


Rei membohongiku lagi, dalam hal ini tidak menginformasikan jika meetingnya batal yang mana seharusnya setelah Rei mendapatkan informasi jika meetingnya batal, bukankah seharusnya dia meneleponku? ..


Tapi hal yang waktu itu terjadi terulang lagi.


Rei tidak membaca, apalagi membalas chatku.


Hanya bedanya, waktu itu ponselnya memang tidak aktif.


Tapi sekarang aktif, namun Rei mengabaikan chat serta juga panggilanku.


Seolah Rei sedang main kucing-kucingan denganku dan menutupi sesuatu.


Dan apakah sesuatu itu, adalah ‘sesuatu’ yang berhubungan dengan interaksi Rei dengan si bibit pelakor dalam foto yang aku terima dan nampak begitu akrab----bahkan menurutku itu sudah mengarah ke satu kata yang disebut mesra.


Ah taulah, yang jelas aku begitu gusar adanya.


****


“Ya gue ga mau lo sampe batalin janji kalo emang lo udah ada sebelum gue minta tolong sama lo.“


Malia berucap pada Riza dengan siratan makna yang Malia pahami sendiri dalam kalimatnya itu.


“Janji sama siapa sih? Cewe aja ga punya—“


Riza sontak terkekeh mendengar celotehan Malia yang kemudian mengulum senyumnya.


“Eh, tapi beli minuman dulu sama itu roti kek apa ya? Buat di jalan, takut arah TMK masih macet ..”


Kemudian Riza berujar, dan Malia mengiyakan tanpa ragu.


***


“Gue tunggu sini aja ya, Za?—“


“Oke!”


Riza mengangkat jempolnya pada Malia.


“Eh, ini Za ..” Malia menyodorkan dua lembar pecahan seratus ribu yang ia keluarkan dari dalam dompetnya.


“Paan si lo, Ya’?” respons Riza setengah ketus. “Simpen ga duit lo tuh?! ..”


“Ya masa lo udah nganter gue gini, masih juga elo yang bayarin kopi sama cemilan?—“


“Bacot lo ah. Lo mau minuman panas apa dingin? ..”


“Dingin aja. Cappucino boleh—“


“Roti biasa apa croissant? ..”


“Bebas aja, Za.”


****


MALIA


Riza yang pergi memesan minuman dan cemilan untuk sangu di perjalanan menuju tempat yang disebutkan oleh pengirim chat misterius yang masuk ke ponselku, membuatku memiliki kesempatan untuk mencoba menghubungi si sosok misterius itu.


Nomor kontak yang mengirimkan chat yang berupa informasi soal keberadaan Rei yang mana chat itu juga sudah bersifat provokasi, karena aku langsung memutuskan untuk menyambangi area yang juga merupakan sebuah komplek apartemen tersebut.


Aku tahu, karena aku sempat ingin membeli satu unit apartemen di tempat tersebut.


Tapi urung, karena orang tuaku tidak mengijinkan aku hengkang dari rumah sebelum menikah.


Dan lagi meskipun lebih murah namun bagus dari beberapa apartemen yang memiliki suasana seperti komplek apartemen dengan nama TMK itu, komplek apartemen tersebut lumayan jauh dari kantorku.


Jadi aku batal membeli satu unit apartemen di sana.


---

__ADS_1


Aku mendesah kesal karena panggilanku tidak dijawab oleh sosok misterius pengirim chat yang memprovokasi suasana hatiku. Sudah beberapa kali aku coba, namun sosok misterius itu benar-benar kekeh tidak mau menjawab panggilanku.


Siapa dia?


Dan kenapa ia tahu aku mencari Rei ke sini?


Itu berarti ..


“Yuks!”


Suara Riza terdengar ketika aku sedang celingukan ke arah parkiran gedung tempatku berada sekarang.


Berdasarkan dari chat yang aku terima dimana chatnya menuliskan,


Kemungkinan suami kamu ada di TMK kalau dia ga ada di tempat kamu cari dia sekarang.


Bukankah itu maknanya, si pengirim chat misterius itu sedang mengikutiku?


Dan yang bersangkutan ada di tempat ini juga.


Aku sungguh-sungguh penasaran sebenarnya.


Tapi aku lebih penasaran dan tidak sabar untuk segera sampai ke komplek apartemen yang bernama TMK itu.


Eh tapi, siapa tahu Rei malah di apartemen, dan aku tidak termakan provokasi chat dari orang misterius itu.


“Dih, malah bengong? Jadi ke TMK ga? ..”


Riza berujar.


“Bentar, Za ..”


Aku mengangkat satu jariku ke arah Riza, karena aku ingin menghubungi resepsionis apartemenku dan minta di sambungkan ke unitku dan Rei.


****


“Lo ke TMK tempat siapa?”


Malia sudah kembali berada di dekat Riza.


Malia dan teman sekantornya itu kini sedang berjalan menuju mobil milik Riza, setelah Malia menghubungi resepsionis apartemennya dan Reiji.


Dimana yang bersangkutan mengatakan jika dirinya belum melihat Reiji datang, lalu sambungan ke interkom yang ada di dalam unit apartemen Malia dan Reiji tidak ada yang menjawab.


Semakin besar keinginan Malia untuk datang ke komplek apartemen yang dituliskan oleh si pengirim chat misterius, namun tetap menggunakan nomor yang sama.


“Sodara gue, Za.”


Malia menjawab pertanyaan Riza sekenanya.


‘Nanti pas sampe gue suruh si Riza langsung balik aja.’


Malia membatin kemudian, setelah Riza manggut-manggut mendengar jawabannya.


‘Karena Riza jangan sampai lihat akan adanya keributan kalo semisal Rei bener-bener ada di TMK dan bener lagi sama si itu bibit pelakor ..’


Malia mengepalkan tangannya.


‘Jangan sampai Rei, jangan sampai aku menemukan fakta jika kamu adalah laki-laki yang menjijikkan!’


Malia membatin gusar.


Namun begitu, selama perjalanan, Malia tidak menampakkan kegusarannya itu pada Riza.


“Makasih banyak ya, Za? Sorry ngerepotin banget.”


Malia berucap pada Riza setelah ia sampai di gerbang tempat tujuannya.


“Iya Ya’ sama-sama.” jawab Riza. "Santai si .."


Riza menanggapi ucapan terima kasih Malia.


“Eh, tapi lo ga apa-apa gue tinggal?”


“Ga apa. Gue juga mungkin nginep di sini ..“


Sekali lagi Malia menjawab sekenanya.


“Lo mau mampir? ..”


Saking sekenanya, Malia sampai malah kelewat basa-basinya pada Riza demi menutupi maksud tujuan Malia yang sebenarnya.


“Engga ah. Gue kan ga kenal sama sodara lo ..”


‘Hhh, sukur deh si Riza nolak,’ lega Malia dalam hatinya. ‘Lagian ini mulut kenapa jadi kelewat longcer sih?! ..’


Kemudian Malia merutuki dirinya sendiri, juga di dalam hati.


‘Duh, tapi bener ga ya Rei ada di sini? ..’


Kemudian Malia merasakan keraguan dalam hatinya ketika mobil Riza sedang mengarah menuju pelataran lobi gedung.


‘Eh? ..’


Mata Malia yang sedang jelalatan itu kemudian memicing.


‘Ga salah. Itu mobil Rei!’

__ADS_1


*******


Bersambung ...


__ADS_2