
Selamat membaca....
****************
REIJI
“Sorry, Rei. Aku bener – bener lagi ga mood.”
Jawaban Lia yang sungguh tidak aku sangka akan ia katakan padaku setelah aku bahkan sudah membuka hal yang tadinya ingin kujadikan kejutan untuk Lia.
Ini sih bau – bau Lia sedang membalasku sepertinya.
----
Ya bukan aku berpikiran buruk pada Lia. Habis bagaimana aku tidak sampai berpikir seperti itu jika,
“Aku beneran loh ini, udah nyiapin satu set spot buat candle light dinner kita sekarang sekaligus kamar hotelnya. Aku kerjain dari tadi siang sebelum pergi ke kantor kamu. Udah aku bayar lunas loh? Ga sayang uangnya?..”
Bahkan setelah aku katakan hal itu pada Lia, keputusannya tidak berubah. Padahal sudah sengaja aku sematkan kalimat, ‘Ga sayang uangnya?’
Karena Lia yang aku tahu, Lia adalah penganut paham ‘Sayang’.
Yang mana seperti layaknya perempuan pada umumnya, yang akan memilih pergi ke toko yang ada di luar komplek untuk membeli minyak goreng karena harga di toko yang jauh itu berbeda 500 perak dengan toko sebelah rumah.
“Aku hargai itu, Rei.. Tapi aku juga beneran pengen cepet balik ke apartemen aja..”
Tapi nyatanya kalimatku yang menyenggol Lia sebagai penganut paham ‘Sayang’ itu tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Malah Lia bilang akan mengganti uang yang terbuang percuma atas kejutan yang aku rencanakan untuknya malam ini.
Sungguh bukan Lia sekali.
----
“Kamu ga nelfon?”
Hal yang Lia tanyakan padaku setelah beberapa saat hening menyelimuti kami di dalam mobil yang sedang aku kendarai.
Aku yang memang sedang melamun menahan dongkol itu terkesiap, dan menjadi tidak paham ucapan Lia yang berupa pertanyaan tersebut.
“Nelfon, siapa?..” Akupun bertanya balik pada Lia yang langsung menjawab lugas pertanyaanku itu.
“Pihak hotel.. kasih tau mereka kalau kamu membatalkan apa yang udah kamu pesan di sana,” kata Lia. “Kalau aku kemarin, pembatalan di restonya karena aku juga udah bayar full di muka, aku dapet kompensasi diskon untuk kamar, Kalau kamu kan ga pakai kamarnya juga, jadi siapa tahu ada pengembalian berapa persen dari mereka---“
“Ya nanti aku hubungi mereka..” jawabku datar pada jawaban Lia yang cukup mendetail itu. “Kalo udah sampe apartemen..”
Aku menambahkan ucapanku yang menanggapi ucapan panjang lebarnya Lia itu.
Dimana apa yang Lia katakan memang sudah aku pikirkan.
Namun tidak segera aku lakukan, karena jujur saja, aku masih berpikir ---- well, berharap mungkin.
Jika penolakan Lia adalah sebuah prank. Lalu saat mobil yang aku kemudikan hendak keluar dari area hotel, Lia kemudian mengatakan, Aku becanda kok, Rei. Yuk masuk?
__ADS_1
Namun tidak, Lia serius dengan penolakannya. Tak ada prank atau apapun sampai mobil yang aku kemudikan tiba di gedung apartemen kami. Lia bahkan banyak diamnya selama perjalanan pulang.
Dan ya, akupun sama.
Aku ikutan menjadi pendiam seperti Lia selama perjalanan pulang kami hingga sampai area gedung apartemen tempat tinggalku dan Lia.
Sejujurnya, ya aku sedang merasa dongkol juga akibat sikap Lia yang aku anggap sedang membalas ketidakhadiranku kemarin pada serangkaian hal yang sudah ia siapkan kemarin.
****
Kecanggungan sempat tercipta kemudian diantara Reiji dan Malia setelah keduanya sudah masuk ke dalam unit apartemen mereka.
“Abis kamu bebersih, bisa kita bicara?...”
Hingga pada akhirnya, Reiji mengalah.
Berpikir, untuk menyudahi saja kecanggungan diantaranya dan Malia.
Jadi Reiji berinisiatif untuk mengajak bicara Malia lebih dulu, lalu menuntaskan hal yang seharusnya jangan sampai berkembang diantara dirinya dan Malia.
Yakni, mengukuhkan ego.
Dimana dalam hal ini, adalah Reiji yang menekan egonya meskipun sikap Malia dari yang mulai menghindarinya sampai terkesan tidak menghargai usahanya secara terang-terangan, cukup membuat Reiji merasa jengkel pada istrinya itu.
Tapi sudah, Reiji tidak ingin membuat hubungannya dengan Malia yang sudah tergolong mesra itu menjadi dingin lagi seperti sebelum Malia membuka hati.
Makanya Reiji menekan ego yang sudah juga ia hilangkan, untuk kembali meminta maaf pada Malia.
“Sekali lagi aku minta maaf soal aku yang kemarin mengacaukan rencana yang udah kamu buat sedemikian rupa.”
Begitu Reiji mengambil sikap, tanpa mempedulikan egonya sendiri untuk lebih dulu dan sekali lagi berkata maaf pada Malia.
Yang kemudian disambut baik permintaan maaf Reiji pada Malia itu oleh yang bersangkutan.
****
Kemudian hari berlalu, dan Reiji serta Malia sudah tidak lagi kaku dan canggung satu sama lain atas sedikit konflik hati yang mereka alami.
Kalau untuk Reiji sendiri, dari sejak kejutan yang ia persiapkan gagal total sama seperti acara yang Malia persiapkan untuknya---sikapnya sudah melunak pada Malia di malam yang sama.
Meski merasa jika Malia yang menolak mentah-mentah keinginan tulusnya untuk memperbaiki kesalahan adalah sebuah balasan atas dirinya yang ingkar janji, namun Reiji tidak membiarkan dirinya larut dalam emosi.
Reiji sudah bersikap layaknya biasa ia bersikap pada Malia.
****
Sebagaimana Reiji, Malia juga sudah kembali normal.
Setidaknya itu yang Malia tampakkan di hadapan Reiji yang tadinya ia pikir akan membesarkan sikapnya yang kekanak-kanakan, dari mulai ‘menyembunyikan diri’ sampai tidak menghargai usaha Reiji.
Tapi nyatanya Reiji sama sekali tidak membesarkan tingkah kekanakkan Malia itu, hingga sampai Reiji bersimpuh dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh padanya---membuat Malia tidak punya pilihan untuk tidak mengiyakan, jika permasalahannya dan Reiji soal ketidakhadiran Reiji pada acara kecil-kecilan yang Malia persiapkan untuknya telah dianggap selesai.
‘CK! Gimana ya, cara gue bisa ngeliat story chatnya Rei?’
__ADS_1
Namun yang sebenarnya, masih ada yang mengganjal di hati Malia.
‘Kalau Reiji tetep kekeh ga ngaku kalo dia ada bohongnya sama gue tentang alasan dia ga dateng, rasanya percuma kalau gue tanya tentang kebenarannya. Gue ga yakin dia akan ga jujur sama gue soal fakta yang sebenarnya, meskipun gue beberin apa yang gue dapet dari Pak Raka...’
****
MALIA
Sebenarnya masih ada yang mengganjal di hatiku saat ini tentang hari itu, disaat hari ulang tahun Rei yang acaranya gagal total.
Rei memang sudah meminta maaf lagi padaku, namun hanya itu.
Rei tidak meralat alasan kenapa dia sampai sama sekali tidak menyempatkan diri untuk datang, berbohong soal jadwal penerbangannya.
Dan aku mengurungkan niat untuk membahas jika aku sebenarnya mendapat informasi yang berbeda soal jadwal kerjanya hari itu dari Pak Raka.
Aku masih punya pertimbanganku sendiri untuk tidak menanyakan secara frontal pada Rei mengenai hal itu. Naif mungkin, tapi aku masih ingin Rei yang menguak kebohongannya padaku.
Yang masih membuatku penasaran sebenarnya sampai dengan detik ini, mengapa Rei tetap tidak jujur padaku hingga hari ini.
Terpikir, apa aku kelewat paranoid atas kebohongan yang Rei lakukan sementara selama ini Rei selalu jujur dan terbuka padaku.
Meski selama dua hari ini tak ada yang aneh dengan sikap Rei, namun tetap ada ganjalan di hatiku. Tapi dalam masa itu juga, aku berpikir jika aku sudahi saja kecurigaanku pada Rei.
Lebih baik tidak perlu aku ingat –ingat lagi perihal kebohongan Rei itu.
Selain aku juga pada akhirnya teringat pada papaku yang pernah bilang,
“Terkadang suami itu punya rahasia kecil yang mereka simpan dari istrinya. Tapi bukan berarti mereka ada main di luar sana. Disimpan sendiri, dengan banyak pertimbangan. Karena bisa jadi, rahasia kecil yang mereka simpan itu berkenaan dengan sesuatu yang istrinya tidak sukai. Nah, daripada ribut karena masalah kecil, suami kadang menyembunyikan beberapa hal di belakang istrinya begitu.”
Lalu mamaku menimpali,
“Kalo cium bau parfum yang ga biasa suami atau kita pake nempel di baju suami kita, itu harus dicurigai.”
Dimana aku memang tidak pernah mendapati harum parfum selain yang Rei pakai atau yang biasa aku pakai, di pakaian atau di tubuh Rei.
Namun aku menemukan struk pembelian coklat dan sebuket bunga di alas belakang mobil Rei saat aku menunggu Rei yang sedang berada di luar mobil dalam sebuah SPBU.
Hanya struknya saja, tidak aku lihat fisiknya di kursi belakang.
Well, aku tersenyum simpul kemudian.
Berpikir, mungkin Rei ingin bersikap romantis hari ini dengan membelikanku dua benda itu dan menyembunyikannya di bagian belakang mobilnya ini.
Tapi.....
Sampai aku dan Rei telah sampai di apartemen hingga waktu tidur sampai, bunga dan coklat yang aku temukan struknya itu tidak pernah sampai ke tanganku?.....
Bahkan sampai di keesokan harinya, dan sampai Rei pamit untuk berangkat kerja pun---dua benda yang aku tunggu itu, tidak pernah aku terima.
******
Bersambung..
__ADS_1