WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 35


__ADS_3

Selamat membaca..


***


MALIA


“Aku cemburu, Lia.”


Cemburu?.


Reiji cemburu sama Riza?.


Mungkin ga fokus ke Riza, tapi kata cem-bu-ru itu loh.


Reiji sudah mulai bisa ngerasain cemburu sekarang kalau aku deket sama cowok lain?.


Ya ampuuun. Ga percaya rasanya aku. Sama seperti tidak percayanya kalau Rei sudah mengecup pipiku.


Dua kali!.


Dan itu didepan teman-teman kantornya, diwaktu lobi gedung kantor lagi rame-ramenya.


Demi apa, aku kaget banget sumpah!.


Di cemburuin Reiji.


Ya ampun .....


Kaget sih, tapi kok hati kenapa kayaknya girang gini?.


***


“Lia ..”


Reiji memanggil Malia kala ia sudah menghentikan mobilnya di parkiran basement sebuah gedung Hotel.


Reiji mengulas senyuman kala tidak mendapat respon dari Malia.


“Lia ..”


Reiji memanggil Malia sekali lagi.


“Eh, iy-iya Rei? ..” Malia terkesiap.


Saat sebuah usapan Malia rasakan di atas kepalanya.


Berikut senyuman yang terlihat di wajah Reiji saat Malia menoleh.


“Bengong?”


Sembari Reiji masih mengusap kepala Malia.


Malia cengengesan.


Membuat Reiji menambah tarikan disudut bibirnya.


“Masih mau bengong apa mau turun?”


“Eh, udah sampe ya?..”


Malia celingukan ke arah kiri dan depannya.


Reiji mendengus geli. “Udah dari tadi ...” jawab Reiji.


“Sorry...”


“Makanya jangan suka bengong ..”


Reiji mengacak pelan rambut Malia.


“Yuk, mau turun ga?”


“Ya turun lah, udah sampe sini juga.”


**


Reiji dan Malia berjalan berdampingan saat keduanya telah keluar dari mobil menuju lift yang ada di basement parkiran Hotel yang Reiji dan Malia datangi saat ini untuk testfood ragam makanan dari katering yang akan mereka gunakan saat acara pernikahan mereka nanti, baik saat acara akad juga resepsi.


“Oh iya Rei, itu testfoodnya di Ballroom ini Hotel?..” tanya Malia.


“Iya”


“Berarti kita ke lantai satu dulu, tanya sama resepsionis di lantai berapa Ballroomnya?. Soalnya gue baru pertama kali masuk ke ini Hotel...”


“Ga usah.” Sahut Reiji.


“Lo udah tau?”


“Udah.”


“Btw, kamu udah pernah kesini sebelumnya Rei? ..”


“Udah beberapa kali.”


Sepertinya jawaban Reiji barusan membuat ada sedikit rasa ambigu di otak Malia.

__ADS_1


“Ngapain hayo?..” selidik Malia dengan memicingkan matanya dengan satu telunjuk yang mengarah ke Reiji.


Reiji spontan terkekeh kecil.


“Kalo kantor maskapai lagi mengadakan meeting di luar, mereka mengadakan itu meeting di Hotel ini... lagian juga di bawah ada Lounge yang biasa dipake buat acara Drink Societynya pilot-pilot...” ucap Reiji sembari menoleh pada Malia yang tadi memicingkan matanya itu.


“Ah yang bener?? ...”


Malia meledek Reiji sembari mengulas senyuman menggoda pada Reiji yang langsung terkekeh lagi.


Keduanya bisa mengobrol dengan santai, karena Malia dan Reiji saja yang berada dalam ruang kaca tempat menunggu lift hotel pada basement tersebut berada.


“Tenang aja ...”


Reiji hendak menjawab ledekan Malia barusan.


Namun terjeda karena pintu lift di depan Malia dan Reiji terbuka.


“Aku kan udah bilang aku ini cowo baik-baik, dan masih perjaka...”


Dimana ucapan Reiji yang sebenarnya adalah candaan plus sedikit menggoda Malia yang Reiji tahu, meski Malia sudah dapat dikatakan sebagai wanita dewasa tapi selalunya hal-hal seperti itu Reiji perhatikan masih dianggap sedikit tabu oleh Malia.


Dan seperti prediksi Reiji, candaannya yang sedikit menjurus ke sesuatu yang bersifat dewasa itu, membuat Malia nampak kikuk.


Dan jika diperhatikan, wajah Malia sedikit bersemu karena kalimat candaan Reiji itu.


Membuat Malia kemudian bungkam dengan dan mencoba untuk tidak bersitatap dengan Reiji yang sedang mengulum senyumnya melihat ekspresi dan tingkah Malia sekarang ini.


****


MALIA


Aku dan Reiji berada kurang lebih satu jam dalam sebuah Hotel yang berada di salah satu bagian kota yang selalunya ramai disetiap hari


Terlebih mungkin karena besok adalah tanggal merah, jadi jalanan Ibukota lumayan ramai malam ini. Jadilah, selepas aku dan Reiji menghadiri undangan testfood dari pihak katering yang akan kami pakai jasanya saat pernikahanku dan Reiji nanti baik saat akad dan resepsi, aku dan Reiji memutuskan untuk sekedar duduk-duduk santai di dalam Restoran santai dalam Hotel yang kami sedang sambangi saat ini.


Sikapku sudah biasa lagi pada Reiji, sejak kami sudah sampai di sebuah ballroom dan diantar ke sebuah ruangan yang dijadikan sarana untuk testfood pihak katering. Dimana ada cukup banyak orang yang hadir dalam undangan testfood tersebut yang diselenggarakan selepas acara pernikahan yang diselenggarakan di Hotel tempatku dan Reiji sedang berada sekarang ini.


Beberapa dari para undangan untuk testfood adalah pasangan seperti halnya aku dan Reiji.


Pasangan calon pengantin lah ya. Itu kan yang paling tepat untuk disematkan dalam hubunganku bersama Reiji sekarang?.


Membuat otakku yang suka mikir ngada-ngadi ini bertanya-tanya, kira-kira ada ga ya diantara pasangan-pasangan yang datang untuk testfood ini, kisah mereka yang akan menikah sama seperti kisahku dan Reiji?.


Entahlah. Dan ngapain juga ya aku sampe mikir sampe kesana?. Dasar Malia.


Well singkat kata, aku dan Reiji sudah selesai nyobain ragam makanan yang disediakan pihak katering dalam testfood tadi.


Dan beberapa diantaranya kebetulan sudah menjadi menu pilihanku yang sudah aku pilih saat mama dan mama Alice memberikan brosur berikut katalog dari pihak katering yang menjadi pilihan kedua mama itu untuk pernikahanku dan Reiji.


So urusan katering kayaknya dah oke, paling tinggal saling mengkonfirmasi jika sudah mendekati hari – H – ku dan Reiji.


“Kira-kira ada yang mau diubah ga soal menu kateringnya, Rei? ...”


Aku yang mengawali pembicaraan, setelah aku dan Reiji duduk bersama di Restoran dalam Hotel.


Setelah tadi sempat dibuat tak berkutik saat masuk ke dalam lift, karena seketika aku kikuk kala si Reiji yang kadang-kadang suka asal ngomong itu membahas soal dia yang masih perjaka.


Nyebelin!.


Tapi aku seketika jadi terdiam, plus salting.


Aku yakin, Reiji menyadari rona merah di wajahku tadi.


Karena meskipun ya ga aneh aku denger soal hal-hal berbau dewasa, yang mana teman-teman satu divisiku itu kalo ngomong soal hal begituan suka ga ada saringan, namun untukku secara pribadi terasa jengah.


Nah tambah lagi yang ngebahas calon suami sendiri, walau aku tahu kalau si Reiji emang Cuma ngisengin aku aja.


Tapi tetep aja bikin aku salah tingkah sendiri.


Dan bikin aku jadi inget sama yang namanya ‘malam pertama’, ‘malam pengantin’.


Aigooo!!


****


“Mama tanya pendapat kita soal katering.”


Malia berbicara pada Reiji saat mereka sudah selesai dari Restoran, dan kini sudah kembali ke mobil untuk segera pulang.


Malia baru saja selesai berkomunikasi dengan mamanya via aplikasi chat dalam ponselnya. Dan ia langsung berbicara pada Reiji yang sudah menyalakan mesin mobilnya.


“Lalu kamu bilang apa?”


“Aku bilang kita udah oke sama katering yang ini aja. Terus biar kita berdua nanti aja yang komunikasi sama orang katering soal menu dan segala macem.”


Reiji lantas mengacungkan jempolnya ke arah Malia sembari mengulas senyuman. Sejujurnya Reiji merasa senang, karena Malia yang sebelum-sebelumnya nampak enggan mengurusi soal pernikahan mereka, kini sudah mau ikut repot dengan mengambil bagian untuk mengurusi katering.


Dan karenanya, Reiji semakin bersemangat saja. Ia berjanji akan mendampingi Malia untuk ikut mengurusi apa-apa yang bersangkutan dengan urusan katering untuk acara pernikahan dirinya dan Malia nanti. Tidak hanya soal katering sih, soal persiapan lainnya juga.


Jika Malia mau ikut andil bersama dua mama cantik dan Avi untuk mengurusi persiapan acara yang sebenarnya tidak terlalu akan membuat repot karena sudah ada WO dan EO yang ditunjuk, yang mana katering yang jadi pilihan Malia dan Reiji adalah salah satu dari rekanan WO dan EO yang akan Malia dan Reiji pakai jasanya untuk acara pernikahan Malia.


Maka Reiji akan dengan senang hati itu ikut andil juga dalam mengurusi persiapan acara pernikahannya dan Malia jika memang diperlukan. Dengan catatan, jika ia sedang off dari jadwal kerjanya sebagai pilot. Karena Reiji tidak mau jatah cuti panjangnya yang akan Reiji gunakan untuk keperluan pernikahan, dan ..


Ehem,

__ADS_1


Bulan madunya dengan Malia berkurang, jika Reiji tidak tertib dengan jadwal kerjanya.


Hal yang rasanya tidak bisa Reiji abaikan untuk menikmati momen mesra suami istri bersama wanita yang kini sudah Reiji tetapkan sebagai kekasih hatinya.


Dan kurang dari tiga bulan lagi, sang kekasih hati akan menjadi milik Reiji seutuhnya.


Dimana Reiji sudah menaruh harap, jika saat ia dan Malia menikah nanti, Malia juga sudah memiliki perasaan yang sama seperti Reiji rasa dan punya untuk Malia.


****


Kecanggungan perlahan menguar diantara Reiji dan Malia. Selepas dari Hotel tempat Reiji dan Malia memenuhi undangan untuk testfood dari pihak katering, lalu duduk-duduk sebentar untuk menikmati minuman hangat di Restoran Hotel tersebut, Reiji dan Malia langsung mengarah pulang.


Toh memang keduanya tidak memiliki rencana lain untuk pergi ke suatu tempat lain lagi untuk hang out.


Dan berhubung Malia juga tidak mengajak untuk pergi ke suatu tempat, dimana Reiji juga sedang tidak memiliki ide untuk mengajak kencan Malia, jadi Reiji dan Malia memutuskan untuk langsung pulang saja.


Namun disepanjang jalan, Reiji dan Malia sudah berinteraksi lebih intens dari yang sebelum-sebelumnya.


Bahkan senda gurau juga mewarnai obrolan Reiji dan Malia di dalam mobil sepanjang perjalanan.


Hingga setelah melewati jalanan Ibukota yang cukup padat, mobil yang dikemudikan Reiji sudah berada di komplek tempat tinggal Malia.


“Lo mampir kan? ...”


Malia bertanya pada Reiji.


“Kayaknya Papa sama Mama belum tidur deh ini jam segini kalo malem libur...”


“Iya boleh ...” sahut Reiji. “Lagian ini aku juga mau kasih oleh-oleh buat mereka ...”


“Wuih. Oleh-oleh buat gue?”


Malia bertanya antusias, dan Reiji tersenyum geli.


“Katanya kamu bilang kalo kamu ga usah dibawain oleh-oleh? ...”


“Iya sih,” ucap Malia, namun nampak sedikit lesu. “Tapi beneran gitu, lo ga beliin gue oleh-oleh barang satu doang?”


Reiji pun terkekeh melihat Malia yang nampak kecewa, namun ekspresinya wajahnya yang sedikit merungut itu terlihat lucu bagi Reiji, makanya Reiji terkekeh sekaligus merasa gemas pada Malia saat ini.


Tangan Reiji pun terulur ke kepala Malia dan mengacak gemas rambut Malia. “Tenang aja, aku juga bawain oleh-oleh buat kamu. Masa calon istri ga aku pikirin?”


“Duh baiknya calon suami...” celoteh Malia yang kini sudah lebih santai sikapnya pada Reij.


Sikap yang sudah mengalir begitu saja, karena Reiji ternyata dapat membuat suasana menjadi terasa nyaman untuk Malia.


“Baru sadar kalo calon suaminya baik?”


Malia dan Reiji kemudian terkekeh bersama setelah Reiji menimpali celotehan Malia tadi.


“Udah biar gue aja yang bukain pagernya” ucap Malia saat Reiji hendak melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil setelah mobil yang dikendarainya sudah berada di depan pagar rumah orang tua Malia.


“Dah kamu duduk cantik aja. Masa cewe cakep disuruh dorong pager?” guyon Reiji. Ia pun membuka sabuk pengamannya.


Malia tersenyum geli.


Namun saat Reiji hendak turun dari mobilnya, pagar rumah orang tua Malia telsh dibukakan oleh asisten rumah tangga di rumah orang tua Malia itu.


Si asisten rumah tangga itu langsung masuk ke dalam rumah setelah menutup pagar selepas Malia menanyakan kedua orang tuanya dan menyuruh asisten rumah tangga paruh baya itu untuk segera beristirahat.


“Aku titip aja oleh-oleh buat Papa sama Mama ya?”


“Iya,” tanggap Malia. “Tapi tetep aja lo mampir dulu.”


“Ya udah deh,” sahut Reiji. “Sekalian numpang selonjoran bentar.”


Reiji nampak menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan.


“Rei...” panggil Malia saat memperhatikan Reiji yang sedang mengendurkan otot-otot lehernya itu.


“Ya?” sahut Reiji.


“Soal yang lo liat tadi di kantor... waktu Riza...”


“Sstt...” Reiji dengan cepat memotong ucapan Malia.


Telunjuknya kini sudah berada di bibir Malia dengan wajah Reiji yang juga sudah cukup dekat dengan wajah Malia.


“Ga perlu dibahas lagi,” kata Reiji. “Aku ga menganggap itu masalah besar.” Sambungnya. “Walau aku sempat cemburu, tapi aku udah ga mempermasalahkannya lagi. Jadi ga perlu dibahas lagi. Oke?”


Malia pun mengangguk kikuk, karena posisi wajah Reiji kini sudah dekat dengannya.


Kemudian Reiji mengulas senyuman.


Cup!.


****


Bersambung....


Emak harap kalian tetap enjoooy!.


Makasih udah mau baca karya-karya Emaknya Queen.


Loph Loph

__ADS_1


__ADS_2