WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 251


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


REIJI


Aku spontan membatin takjub setelah pintu lift dalam sebuah gedung perkantoran yang aku rasa adalah salah satu perusahaan milik Tuan Alva dan keluarganya, dan aku melihat satu unit helikopter yang aku ketahui jenisnya pun kisaran harga dari helikopter tersebut.


“Mari Pak Rei.” Pak Ammar mempersilahkanku keluar duluan dari dalam lift.


“Terima kasih, Pak,” ucapku sopan.


“Ammar saja, Pak Rei. Tidak perlu terlalu formal pada saya.”


“Kalo gitu, panggil saya dengan nama saya juga aja,” balasku pada ucapan laki-laki bernama Ammar itu, yang umurnya kurang lebih sama dengan Tuan Alva.


Namun begitu, aku tetap menyisipkan ‘Pak’ setiap aku bicara dengannya, walau jarang sekali. Terkecuali hari ini, karena ia ditunjuk langsung oleh Tuan Alva untuk menemaniku menyelamatkan Lia---yang mana aku akan sangat sering bicara dengan Pak Ammar, yang kini sudah mulai aku sebut dengan namanya.


Ammar lalu mengangguk seraya tersenyum tipis.


***


Reiji langsung diajak oleh Ammar untuk masuk ke dalam sebuah helikopter jenis airbus yang merupakan helikopter transport penumpang, dimana helikopter tersebut telah terparkir satu di atap gedung perkantoran yang Reiji masuki bersama laki-laki bernama Ammar, serta beberapa orang yang merupakan anak buah dari keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi.


Dan tanpa membuang waktu, Reiji langsung naik dan masuk ke bagian penumpang dalam sebuah helikopter yang Reiji yakini adalah aset pribadi dari bos mudanya ataupun keluarga dari pria muda itu. Bukan helikopter sewaan.


“Pria bernama Irsyad itu beraksi tunggal—“


***


“Anak buah kami yang sudah bergerak lebih dulu telah sampai di villa tempat dimana pria bernama Irsyad itu menempatkan istri anda setelah membawanya dari SRT... drone yang mereka gunakan untuk mengecek kondisi villa tersebut tidak menangkap adanya penjaga di villa tersebut, walaupun di gerbang depan ada pos penjagaan...” Ammar melanjutkan ucapannya, setelah ia menyusul Reiji masuk ke helikopter.


“Lalu istri saya?...” Reiji langsung melontarkan pertanyaan pada Ammar.


“Drone kami hanya baru menyisir daerah sekitar villa pada bagian luarnya.”


“Begitu ya?”


Tanggapan Reiji.


“Apa kita sudah siap berangkat, Tuan Ammar?”


Suara pilot helikopter yang bertanya pada Ammar menginterupsi percakapan kecil Ammar dan Reiji di kursi penumpang helikopter.


“Ya Jer, berangkat sekarang,” jawab Ammar pada si pilot helikopter.


Dan Reiji memperhatikan pilot dan co pilot yang akan menerbangkan helikopter milik satu keluarga yang mempekerjakannya itu ketika sang pilot bertanya pada Ammar yang kemudian menyebut panggilan si pilot itu tanpa Reiji memperhatikan ucapan Ammar pada pilot tersebut.


Karena barangkali Reiji mengenali dua orang itu sebagai salah satu dari 3 pilot pribadi lainnya keluarga The Adjieran Smith, selain dirinya.  Tapi setelah memperhatikan pilot dan co pilot helikopter tersebut, Reiji tidak pernah merasa pernah dipertemukan dengan keduanya.


Jadi Reiji urung untuk menyapa karena tidak ingin dianggap sok akrab.


***


REIJI


“Pak Ammar—“


“Saya pikir kita sudah sepakat untuk memanggil hanya dengan nama saja?”


Ammar langsung menyambar ketika aku memanggilnya, setelah aku tidak jadi hendak menyapa pilot dan co pilot yang aku pikir aku mungkin saja mengenal keduanya-----tapi ternyata, setelah aku perhatikan wajah pilot dan co pilot helikopter yang aku tumpangi ini-----aku belum pernah bertemu dengan mereka berdua sebelumnya.


Jadi aku kembali ke Ammar, karena ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padanya.


“Oh iya, Ammar maksud saya...” sahutku, menanggapi komentar Ammar tadi.


“Ada yang ingin kau tanyakan lagi padaku, Rei?...”


“Mohon maaf sekali lagi. Tapi saya penasaran,” jawabku.


“Katakan saja. Mau tanya soal apa?...”


Ammar lalu menanggapi jawabanku.


Sebenarnya aku merasa tidak enak untuk mempertanyakan hal yang ingin aku tanyakan ini, karena aku takut dianggap banyak tingkah padahal sudah ditolong sampai sebegitunya.


“Tentang keberadaan istri saya di villa yang telah kalian pastikan jika dia berada di sana...”


Habis bagaimana? Aku memang sangat penasaran soalnya.


“Bagaimana kalian dapat meyakini jika istri saya memang berada di sana?...”


Lalu kulihat Ammar menarik sudut bibirnya sebelum ia menjawab pertanyaanku.


“Saat pria bernama Irsyad itu tertangkap berada di dekat istrimu dalam CCTV, kami langsung mendeteksi wajahnya dengan teknologi yang kami punya... dan dari teknologi itu kami dapat mengetahui semua informasi tentangnya, termasuk keluarganya. Jadi setelah kami tahu siapa orang tuanya, tak sulit bagi kami menekan seseorang untuk bicara banyak tentang hal yang ingin kami ketahui.”


Ammar memberikan penjelasan dengan lugas padaku, dan akupun manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Ammar tersebut. Sedikit banyak aku paham, tambah sedikit tahu juga, seperti apa keluarga yang mempekerjakanku itu. Mereka bukanlah sekedar Crazy Rich Family biasa, dan mungkin juga mereka seperti yang aku pikirkan.


Keluarga Mafia?...


Ya bisa saja sih, kalau menelaah ucapan Ammar tentang katanya tak sulit bagi mereka menekan seseorang untuk bicara banyak tentang hal yang ingin mereka ketahui.


Karena setahuku, kalau berdasarkan film atau buku genre action yang pernah aku baca-----cara yang menggunakan ‘penekanan’ dalam mengorek informasi dari seseorang, ya biasanya dipakai oleh para mafia.

__ADS_1


Lalu, setiap anak buah keluarga Tuan Alva-----beberapa diantaranya tadi, aku lihat ada senjata api yang terselip di balik jas kerja mereka.


Persis seperti para anak buah para mafia atau gangster di film-film action.


Ngeri juga ya?


Tapi mereka sudah sangat membantuku sekarang ini.


“Apa penjelasanku tadi sudah bisa menjawab rasa penasaranmu, Rei?” tanya Ammar padaku setelah dia menjawab lugas pertanyaanku.


“Sudah, Ammar. Makasih, dan sekali lagi saya minta maaf kalau saya terkesan cerewet sekali—“


“Itu bukan masalah, Rei.”


Ammar menukas ucapanku


“Saya paham jika banyak pertanyaan di kepalamu soal Tuan Alva dan keluarganya.”


“Iya, sih, emang... karena saya cukup takjub dengan kecepatan kalian mendapatkan informasi soal istri saya.“


Ammar mengulas senyuman setelah aku mengatakan hal itu.


“Tapi tolong dicamkan baik-baik, Tuan Alva dan keluarganya bukanlah mafia.”


Aku terkekeh.


“Satu lagi ketakjuban saya.”


Aku berkata setelah selesai terkekeh.


“Apa itu?”


Ammar lantas bertanya padaku.


“Anda dan Tuan Alva sepertinya bisa membaca pikiran orang?”


Aku pun lekas menjawabnya.


“Karena seperti tadi di kediaman keluarga Tuan Alva, beliau langsung mengatakan pada saya agar tidak berpikiran buruk dulu pada istri saya ketika saya melihat dia seperti berangkulan dengan laki-laki dari masa lalunya itu. Dan memang saat itu saya sudah mikir yang bukan-bukan. Dan ucapan Tuan Alva seolah dia bisa membaca pikiran saya.”


Aku meneruskan ucapanku.


“Dan sekarang anda, Ammar—“


“Yang menerka kalau kau berpikir jika Tuan Alva dan keluarganya adalah keluarga mafia?”


Ammar menukas lagi ucapanku.


“Haha. Begitu kira-kira...”


“Kalau begitu, sepertinya ini saya kembalikan saja.”


Aku lalu berucap lagi sambil memberikan pistol yang Ammar sempat berikan padaku.


“Karena tadi anda bilang kan, si Irsyad itu beraksi tunggal...” ucapku lagi. “Jadi saya rasa pistol ini tidak saya perlukan.”


Ammar pun mengangguk dan tersenyum tipis seraya menerima pistol dari tanganku.


***


“Bicaralah, Na!” Ammar berbicara di ponselnya tepat setelah ia dan Reiji turun dari helikopter, saat helikopter tersebut sampai di sebuah kota di Jawa Barat tempat dimana sebuah villa, dimana Malia diduga kuat ada di dalam villa tersebut setelah Irsyad membius dan menculiknya.


Sementara Reiji mengekori Ammar di belakang pria itu, menjauh dari helikopter.


“Aku sudah sampai. Sebentar.”


Ammar masih Reiji dengar berbicara di ponselnya, namun pria itu kemudian berbicara pada satu orang yang menyambut kedatangan Ammar bersama Reiji di sebuah lahan luas.


“Berapa lama perjalanan dari sini ke villa tempat istri Tuan Reiji disekap?” Ammar bertanya lebih tepatnya.


“Tidak sampai sepuluh menit dengan mobil, Tuan Ammar.”


***


“Kurang dari sepuluh menit aku akan sampai di sana.” Ammar lalu kembali berbicara di ponselnya setelah mendapat jawaban dari salah satu anak buah yang menjawab pertanyaannya tadi. “Apa kalian sudah berada di dalam villa itu?”


“...”


“Kalau begitu masuk dan lihat keadaan di dalam. Jika memang istri Tuan Reiji dalam bahaya, kalian bertindak saja walau kami belum tiba.”


“...”


“Dan ingat, berhati-hatilah. Jangan sampai istri Tuan Reiji sampai terluka, jika memang keadaannya terancam saat kalian hendak menyelamatkannya.” ucap Ammar lagi di ponselnya, sebelum pria itu memutuskan pembicaraannya. “Ayo, Rei.”


Setelahnya Ammar beralih kepada Reiji, mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam mobil yang sudah standby tak jauh dari titik perhentian helikopter.


“Maaf Ammar, saya tidak bermaksud menguping. Tapi saya dengar anda menyebut istri saya waktu bicara di telefon tadi. Apa orang-orang anda sudah melihat keberadaan istri saya di villa itu?—“


***


Reiji tak bisa menahan dirinya untuk bertanya pada Ammar, karena saat Ammar berbicara di ponselnya tadi, Reiji memang tepat berada di belakang Ammar.


Dan Reiji mendengar apa yang terakhir Ammar ucapkan di ponselnya sebelum pria itu meminta Reiji untuk masuk ke dalam mobil yang sudah mereka tumpangi saat ini.

__ADS_1


“Belum, Rei,” jawab Ammar. “Mereka hanya baru menyisir bagian luar villa saja untuk memastikan apa yang tertangkap dari kamera pada drone jika pria bernama Irsyad itu tidak menempatkan satupun penjaga di sana.”


Reiji lalu mengangguk setelah mendengar jawaban Ammar atas pertanyaannya. Ammar kemudian menepuk dua kali pundak Reiji dengan pelan seraya Ammar tersenyum tipis.


“Tenang saja, aku sudah menyuruh orang kami yang berada di villa untuk menyisir masuk dan melihat keadaan lebih detail di villa itu. Dan jika memang mereka mendapati istri anda terancam, mereka akan langsung bertindak.”


***


REIJI


Aku sedikit merasa tenang ketika aku telah berada di Bogor, karena berdasarkan informasi dari Tuan Alva dan orang-orangnya, Lia di bawa Irsyad ke sebuah villa yang ada di kota tempatku berada sekarang ini.


Beruntunglah aku memiliki bos yang super kaya karena waktu tempuh dengan mobil untuk sampai ke Bogor dari Jakarta yang kurang lebihnya akan menghabiskan satu jam lebih-----itu kalau tidak macet-----waktu tempuh itu dapat sangat dipersingkat menjadi hanya sekitar 15 menit saja menggunakan helikopter milik keluarga Tuan Alva.


Dan sekarang aku sudah berada di dalam mobil menuju ke villa tempat Lia diyakini ada di sana, bersama Ammar yang baru saja mengatakan bahwa dia sudah menyuruh orangnya yang ada di villa tersebut untuk lebih memastikan keberadaan Lia di tempat itu. Serta juga Ammar bilang kalau dia telah meminta orangnya untuk mengambil tindakan andai mereka melihat Lia terancam.


Aku cukup merasa lega, setelah mendengar ucapan Ammar itu. Tapi tentu tidak bisa merasa lega sepenuhnya, sebelum aku bertemu dengan Lia. Ya Tuhan, semoga Lia benar ada di villa itu dan dia dalam keadaan baik-baik saja. Jangan sampai ada hal buruk menimpanya dari si bajingan Irsyad itu.


***


“Kalian menemukan istri saya?!” Reiji langsung menghampiri dua orang yang berdiri di dekat sebuah mobil tak jauh dari sebuah villa yang berdiri di satu area yang cukup sepi.


Bangunan yang juga sebuah villa cukup jauh jaraknya dari villa yang diduga jika Malia ada di dalamnya.


“Bicaralah Na.”


Ammar berujar ketika dua pria yang ditanya Reiji itu meliriknya setelah Reiji bertanya.


“Kami belum melihat istri Tuan ini, Tuan Ammar. Karena tidak ada suara yang kami dengar dari dalam villa. Semua jendela tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Sulit mencari celah untuk menengok kondisi di dalam karena semua jendela sepertinya ditutupi gorden. Dan kami tidak ingin mengambil resiko menimbulkan suara yang mencurigakan jika kami mencongkel jendela atau bahkan mendobrak pintu, selain kami tidak berani bertindak gegabah sebelum melihat istri Tuan ini dalam pandangan kami dan memastikan jika posisinya aman.”


Pria yang diminta Ammar untuk bicara selanjutnya memberi penjelasan panjang lebar.


“Kalian yakin istri saya ada di dalam sana?”


Reiji lalu bertanya lagi.


Dan dua anak buah Ammar itu mengangguk serempak.


“Ada jejak ban mobil di dekat gerbang yang mengarah ke garasi dalam.”


Salah satunya kemudian menjawab Reiji.


“Ya sudah, ayo bergerak masuk. Ken, Wil, kalian ke lantai dua.”


Ammar yang nampak sangat berpengalaman menghadapi situasi yang baru dihadapi Reiji itu langsung terdengar membagi tugas.


“Baik, Tuan Ammar.” Dua orang yang barusan diberi tugas oleh Ammar itu menyahut sigap.


“Kalian masuk lewat gerbang atau panjat pagar?” tanya Ammar pada dua orang yang sudah ada sebelumnya.


“Ada rongga di tembok bagian belakang. Kami masuk dari sana,” jawab salah satu bodyguard yang ditanya Ammar yang kemudian mengangguk.


“Oke, kita masuk dari sana,” cetus Ammar.


Kemudian laki-laki itu bergerak bersama empat bodyguard dan juga Reiji menuju akses masuk yang dikatakan satu orang anak buah Ammar tadi.


***


Dua orang yang ditugaskan Ammar untuk mengecek lantai dua villa, sudah melesat lebih dulu.


Reiji bersama dua orang lainnya baru mencapai akses masuk ketika dua orang anak buah yang ditugaskan Ammar telah meringsek ke lantai dua.


“Dia suamiku!”


Dua orang anak buah Ammar itu spontan saling tatap ketika mereka mendengar suara seorang perempuan dari dalam villa.


“Kenapa, Ken?...”


Ammar menjawab panggilan dari alat komunikasi yang tertempel di telinganya dan saling terhubung dengan orang-orang yang menyertainya itu terkecuali Reiji.


“Tuan, kami mendengar suara wa—“


“KAMU YANG BAJINGAN!”


Namun sebelum selesai satu anak buahnya memberi laporan, sayup-sayup Ammar mendengar suara teriakan di belakang suara satu anak buahnya itu.


“Kalian masuk sekarang!” seru Ammar kemudian. Dan jawaban iya dengan sigap langsung terdengar. Ammar lalu mempercepat langkahnya.


“Ada apa?!”


Reiji yang melihat gelagat Ammar itu sontak bertanya.


“Buka!” seru Ammar lagi setelah mencapai area halaman belakang villa dan mengarahkan kakinya untuk pergi ke area belakang yang Ammar tebak pasti villa itu ada pintu belakangnya.


“Tuan—“


“ENGGAA... JANGAANN!!!!...”


Satu anak buah yang diminta mengecek lantai dua sudah terlihat di dalam villa dan langsung membukakan pintunya sebelum anak buah yang bersama Ammar dan Reiji dari arah luar hendak membuka paksa pintu, dan seketika perhatian semua yang baru memasuki villa itu langsung tertuju kepada suara teriakan panjang dari dalam sebuah kamar.


*****


Bersambung...

__ADS_1


Kurang lebih 2000 kata, setara dengan dua episode, untuk membayar update yang slow. Hehe.


__ADS_2