WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 179


__ADS_3

Baca dulu sebelum Like/Comment, yah?


Thank you.


***


Selamat membaca...


***


MALIA


“Jadi hentikan sikap Kakak ini, karena aku tidak suka.“


Kalimat itu meluncur dari mulutku, setelah Irysad bicara melantur soal perasaannya dan perasaanku dalam penilaian sok taunya itu.


Kata ‘tidak suka’ yang keluar itu memang sungguhlah keluar dari dalam hatiku, yang mana memang aku sungguh tidak suka dengan sikap Irsyad sekarang, yang sungguh jauh berbeda dengan Irsyad yang aku kenal.


Irsyad yang sedang bersamaku saat ini, bukanlah Irsyad yang kalem dan santun yang selama ini aku lihat, melainkan Irsyad yang keras kepala, mendominasi, dan sedikit hilang akal jika melihat dari sikapnya. Dia bahkan mengataiku Munafik.


Karena aku menyergah dan mematahkan setiap dugaan yang terlontar dari mulut Irsyad, dimana ia yakini jika aku mencintainya.


Lalu membawa-bawa orang tuaku, serta menuduh Rei. Yang mana kedua hal itu tentu saja tidak bisa aku terima. Makanya aku berkata tegas dan penuh penekanan beberapa kali pada Irsyad.


Tapi Irsyad seolah masa bodoh dengan sergahanku padanya, dan sempat menatapku tajam setelah aku setengah menghardiknya. Lalu hatiku was-was, ketika aku menyadari Irsyad membelokkan mobilnya ke jalan yang berbeda yang mengarah ke apartemenku, walau tidak terlalu jauh jaraknya dari gedung apartemen tempat tinggalku dan Rei.


Namun tetap saja aku was-was, karena jalanan itu tergolong sepi, ditambah Irsyad membelokkannya dengan sikap yang nampak kesal, sekaligus memberhentikan mobilnya di salah satu sisi jalan yang sepi dan agak gelap itu.


-


Selain aku merasa was-was, tak seberapa lama kemudian aku dibuat takut padanya, karena Irsyad semakin ‘menjadi’-katakanlah begitu.


Setelah aku menyadari jika Irsyad mengarahkan mobilnya itu ke arah yang bukan seharusnya, aku sudah hendak melayangkan protesku pada Irsyad.


Namun ya itu, sebelum aku sempat bersuara, Irsyad tau-tau bilang, “Munafik kamu, Lia.”


Yang mana langsung saja aku membalas dengan ucapan, “Terserah Kakak mau bilang apa, aku ga peduli.. Aku hanya men-cin-tai suamiku.. Camkan itu baik-baik!”


Betapa geramnya aku sekarang pada Irsyad sambil aku menambahkan lagi kalimatku setelah tadi berkata cukup keras padanya.


Dimana aku meminta Irsyad menghentikan sikap menyebalkan dan mengesalkannya ini, dengan aku mengatakan juga bahwa aku sungguh tidak suka.


Namun baru setengah aku bicara, Irsyad sudah menyambar lagi, dan hal itu yang membuatku mulai merasa takut pada Irsyad.


Irsyad bukan hanya sekedar memotong ucapanku, tapi juga menghardikku, berikut tatapan dingin dan tajam nya padaku. Dan aku semakin dibuat takut, karena dengan cepat kedua tangan Irsyad mencengkram bahuku.


“Berhenti mencoba membodohi aku dengan menyembunyikan perasaan kamu hanya karena rasa tanggung jawab kamu pada orang tua kamu yang memaksakan kehendaknya pada kamu. Akui, jika kamu itu mencintaiku, Lia.”


Ucapan Irsyad, berikut tatapannya tajam menuntut. Membuatku bergidik, walau tadinya aku sudah sempat ingin menyergah ucapannya yang menuding kedua orang tuaku. Tapi Irsyad yang menatapku dengan tajam itu dan sepertinya wajahnya semakin ia dekatkan padaku itu, membuatku kembali fokus padanya, sembari juga berusaha melepaskan cengkramannya di kedua bahuku.

__ADS_1


Tapi aku tak berhasil melepaskan diri,karena tangan Irsyad yang mencengkram kedua bahuku terasa semakin kuat cengkramannya.


“Dan aku akan membuat kamu mengakuinya sekarang-“


Bersamaan dengan kalimat itu yang keluar dari mulut Irsyad.


Namun yang terjadi berikutnya, benar-benar membuatku syok setengah mati selain hatiku rasa terkoyak atas perlakuan Irsyad.


Aku yang hendak menyergah ucapan Irsyad sebelumnya, kemudian bungkam membeku tak berkutik, karena Irsyad dengan cepat dan kasarnya memaksakan ciumannya di bibirku.


Dimana bersamaan dengan itu juga, daguku dicengkram dengan kuat oleh satu tangan Irsyad.


Kejadian dimana Irsyad menciumku dengan paksa itu terjadi begitu cepat hingga aku tidak sempat menghindar.


Aku tidak diam begitu saja mendapat perlakuan seperti itu dari Irsyad. Aku meronta dengan kuat, namun aku tetap kalah tenaga dari Irsyad yang seperti orang kesetanan ini.


Aku hanya bisa menjerit dalam hati, dan berdoa agar aku segera lepas dari Irsyad yang nampak seperti sedang kesetanan ini. Dimana semakin aku meronta, semakin kuat juga cengkraman Irsyad padaku.


Aku marah. Sangat!. Selain aku merasa terhina.


Namun kemarahan itu hanya bisa aku rasakan bergemuruh di dalam dadaku, tanpa aku bisa berkutik.


Irsyad ***** kasar bibirku, serta juga menggigit bagian bawahnya tanpa mempedulikan aku yang meronta.


Irsyad benar-benar sudah kesetanan. Dan aku katakan, aku sungguh membencinya sekarang!.


*


Ada kalanya cinta itu buta dan egois, hingga segala hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya sanggup dilakukan, hingga cinta yang buta dan egois itu samar dengan apa yang namanya obsesi.


Lalu obsesi itu sendiri, akan membuat mereka yang memilikinya dan menyamarkan obsesi tersebut dengan mengatasnamakan cinta akan sanggup melakukan apa saja demi tercapai keinginannya.


Itu yang Irsyad lakukan pada Malia yang ia cium dengan paksa, tanpa mempedulikan jika air mata Malia sudah mulai mengalir turun ke pipi wanita itu.


Air mata yang keluar dan turun dari pelupuk mata Malia ke pipinya itu, adalah akibat rasa marah, pedih dan juga sedih karena merasa jika Irsyad telah melecehkannya.


Tidak seharusnya pria itu mengatasnamakan cinta gilanya untuk mencium Malia dengan sangat memaksa dan cenderung kasar, demi egonya yang merasa jika Malia itu mencintainya.


Ego yang bahkan adalah atas penilaian pribadi Irsyad sendiri.


Namun Malia tidak mau mengaku, karena terperangkap pada rasa tanggung jawab Malia pada kedua orang tuanya, dan pikiran Irsyad yang menduga dengan sok tahunya, jika Malia bersikeras menolak diri dan cintanya, karena tekanan yang Malia dapatkan dari suaminya.


Yang mana kebenarannya tentu tidak seperti itu.


Rasa keterpaksaan dan tekanan yang Malia rasa dari pernikahan perjodohannya dan Reiji telah menguap ke udara.


Dan kini hanya ada bahagia serta cinta di hati Malia untuk Reiji.


Irsyad tidak seharusnya bersikap seperti ini padanya.

__ADS_1


Karena sungguh Malia merasa sangat terhina dengan perlakuan Irsyad yang menciumnya dengan penuh pemaksaan itu.


***


Hingga setelah beberapa saat, air mata Malia yang terasa menyentuh wajah dan tangannya yang mencengkram dagu Malia itu, membuat Irsyad menghentikan aksi cium paksanya pada Malia.


Setelahnya Irsyad menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah Malia, serta juga melepaskan dagu Malia dari cengkraman kuatnya. Lalu Irsyad menatap Malia yang gurat wajahnya nampak terluka sambil menatap pada dirinya.


Irsyad hendak menyentuh wajah Malia, namun dengan cepat Malia menepis tangan Irsyad itu dengan kasar, sambil Malia menggerakkan bahunya agar tangan Irsyad menjauh dari sana. Ia sungguh tidak sudi disentuh oleh Irsyad.


Melihat sikap dan tatapan Malia padanya-berikut wajah Malia yang sudah basah oleh air mata wanita itu dengan Malia yang juga sedikit terisak, membuat raut wajah Irsyad yang dingin dan tajam tadi berubah menjadi gurat wajah yang penuh rasa bersalah dan penyesalan.


“Maafkan aku, Lia-“


“Kamu Manusia Rendah!”


PLAK!


Suara telapak tangan Malia yang mendarat dengan kencangnya di pipi Irsyad menggema di dalam mobil pria itu, berikut juga dengan suara hardikan Malia.


Tak mau mempedulikan Irsyad yang nampak bersalah dan menyesal, serta suara Irsyad yang bergetar saat meminta maaf padanya, Malia yang sudah diliputi amarah itu langsung lagi menunjuk pada Irsyad.


“Menjauh Dari Aku Mulai Sekarang!”


Malia kembali berkata keras dan tajam pada Irsyad yang nampak sekali terperanjat saking ia begitu terkejut pada sikap Malia padanya sekarang ini.


“Aku hanya benci mengetahui kamu terperangkap oleh rasa tanggung jawab kamu pada orang tua kamu yang memaksakan kehendaknya pada kamu, padahal kamu –“


PLAK!


Satu lagi tamparan Malia berikan ke pipi Irsyad.


“Jangan pernah kamu berkomentar buruk tentang orang tua aku!”


Malia yang sudah benar-benar marah pada Irsyad itu, sudah tidak lagi mau menjaga sikapnya pada Irsyad.


“Lia!”


Dimana Irsyad yang panik itu langsung memanggil Malia, ketika setelah menamparnya sekali lagi sekaligus menghardiknya, Malia dengan cepat membuka pintu mobil disampingnya itu lalu melesat keluar dari mobil Irsyad.


Lalu Irsyad yang panik itu, dengan segera juga keluar dari mobilnya untuk mengejar Malia. Namun Irsyad menghentikan langkahnya dengan terpaksa, ketika saat ia mengejar Malia yang sudah berjalan menjauh dari mobilnya itu mengeluarkan kalimat ancaman padanya.


“Aku bilang menjauh dariku, atau aku teriak sekencang mungkin agar banyak orang yang datang kesini dan menghajar kamu habis-habisan karena aku akan bilang kalau kamu sudah melecehkanku!”


“Lia, dengerin aku dulu-“


“Aku ga main-main dengan kata-kataku!” ancam Malia. “Aku rasa banyak tukang ojek disana yang bisa denger teriakan aku. Mau coba?!”


****

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2