WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 74


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Room chat Reiji dan Malia


‘Yang, aku pulang telat. Kamu makan duluan aja, jangan nungguin aku, takutnya lama.’ – Reiji.


‘Ada masalah di Bandara?’ – Malia.


‘Aku nemenin Shirly. Dia kebetulan lagi ada di Jakarta, dan mau nengokin saudaranya tapi dia udah agak asing sama Jakarta, jadi aku temenin dia dulu.’ – Reiji.


‘Oh.’ – Malia.


‘Sorry ya, Yang, aku ga pulang tepat waktu jadinya. Tadi mendadak Irly telpon aku. Kasian soalnya kalo sendirian muter-muter cari alamat.’ – Reiji.


‘Iya.’ – Malia.


‘Kalo udah ngantuk tidur aja, ga usah nungguin aku.’ – Reiji.


‘Iya.’ – Malia.


‘Love you.’ – Reiji.


Jempol Malia tak lagi bergerak pada layar ponselnya setelah chat terakhir dari Reiji, Malia terima. Hanya Malia baca, kemudian Malia melemparkan sembarang ponselnya ke atas ranjang.


Kemudian Malia meraih tas kerjanya, lalu mengeluarkan plastik berisikan beberapa alat uji kehamilan yang tadi sempat ia beli di apotik.


Malia mengeluarkan dua alat uji berbeda merek dari kantong plastik apotik, lalu berjalan keluar dari kamar untuk pergi ke kamar mandi.


Namun saat Malia sudah berada di depan pintu kamarnya, Malia merasakan lapar di perutnya memberikan sinyal agar ia segera mengisi perutnya.


Setelah sejenak menimbang, akhirnya Malia memutuskan untuk menunda dulu memeriksa dirinya menggunakan testpack, dan pergi ke meja makan untuk mengisi perutnya.


“Tapi gue kan ga mungkin ngabisin ini semua? ..” gumam Malia saat ia telah berdiri di dekat meja makan dalam apartemennya dan Reiji, dengan dua testpack yang masih Malia pegang.


Malia menarik satu kursi meja makan, lalu mendudukkan dirinya dan meraih piring yang ada dihadapannya untuk Malia balik dan isi dengan nasi beserta dua jenis masakan yang tadi ia buat setelah ia meletakkan testpack yang tadi ia pegang disisi kanannya, di atas meja makan tersebut.


***


“Masa gue buang sih ini makanan? ...”


Malia berbicara sendiri setelah ia selesai mengisi perutnya.


“Ah, gue taro kulkas aja deh. Bisa dipanasin buat sarapan juga kan ini makanan.....”


Malia berdiri dari duduknya, lalu pergi ke pantri dan membuka satu kabinet disana dan mengambil kotak plastik pembungkus makanan.


****


“Oh iya gue belom Isya....”


Malia langsung meraih testpack yang tadi ia letakkan di atas meja makan.


“Nanti aja deh ngeceknya!” ucap Malia seraya menggumam, sembari ia menyelipkan testpack di saku celana rumahan yang sedang ia kenakan saat ini.


Kemudian Malia bergegas masuk ke kamar mandi untuk wudhu dan lanjut menjalankan kewajibannya sebagai umat atas agama yang dianutnya.


****


Malia keluar lagi dari dalam kamar setelah ia menjalankan kewajibannya.


Lalu melangkahkan kakinya melangkah ke pantri untuk membuat minuman hangat, sebagai peneman diri sebelum matanya mengantuk.


Hal yang menjadi salah satu kebiasaan Malia.


****


“Nih orang kayaknya ga punya genre favorit buat bacaannya ya?” Malia menggumam di depan rak buku dalam ruangan serbaguna tempat dimana buku-buku serta action figure Reiji mendominasi ruangan serbaguna tersebut.


Malia sengaja masuk ke ruangan tersebut, karena sepertinya ia ingin membaca satu buku dari koleksi Reiji untuk membunuh waktu yang ia punya, sebelum rasa kantuknya datang.


Biasanya sih Malia akan menonton sebuah seri drama dalam ponselnya, atau menonton salah satu program di saluran berbayar pada televisi yang ada di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang santai.


Tapi Malia rasanya malam ini sedang malas untuk menonton, dan berpikir untuk membaca sesuatu saja, sekalian iseng, ingin tahu buku-buku macam apa yang suka dibaca oleh Reiji.


Malia telah meletakkan cangkir berisikan minuman hangat yang telah ia buat pada sebuah ruang kosong dalam rak buku yang terbuka itu, dimana Malia sedang melihat satu-satu buku koleksi Reiji, pada rak yang ada di hadapannya saat ini.


“Hm ...”


Malia berdehem pendek, sembari ia menarik sebuah buku yang batangnya berwarna merah muda.


“Kayaknya bagus ...”


Malia kembali bergumam, karena selain buku tersebut sudah nampak menarik jika dilihat dari sampulnya yang berwarna merah muda dengan corak yang juga berwarna, blurb tentang isi buku juga menarik minat Malia untuk membacanya, setelah blurb buku yang menurut Malia adalah sebuah novel itu telah ia baca.


“Eh? ....” Malia spontan merundukkan kepalanya, kala ada sesuatu yang sepertinya lolos dari selipan novel yang telah ia selempit-kan di bawah ketiaknya, saat ia ingin meraih cangkir yang tadi ia letakkan di salah satu bagian rak buku-buku Reiji. Namun Malia urung mengambil cangkir, dan ia kemudian berjongkok untuk mengambil dan melihat sesuatu yang tadi jatuh dari selipan novel dan kini telah berada di lantai.


***


‘Rei, sorry aku kayaknya ga bisa nunggu kamu pulang. Ngantuk.’


Malia kini telah berada dalam kamarnya dan Reiji, dan sedang mengetik serta mengirimkan pesan pada Reiji.


‘Ada makanan mateng di kulkas. Kalo mau makan tinggal di panasin aja.’


Malia mengetikkan langsung pesan kedua tanpa menunggu dulu pesan yang pertama sampai atau terbaca dalam sebuah aplikasi chat pada nomor kontak Reiji.

__ADS_1


Setelahnya, Malia me-non-aktifkan ponselnya, tanpa lagi melihat apakah pesan chatnya telah terkirim atau terbaca oleh Reiji.


Pun, Malia tidak perduli balasan apa yang akan Reiji berikan dalam chat balasannya nanti. Yang jelas Malia ingin segera tidur saja saat ini, untuk menghilangkan ganjalan dalam hatinya tentang apa yang ia temukan di ruang serbaguna tadi.


Malia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, setelah ponselnya yang telah ia matikan itu ia simpan di atas nakas. Kemudian mematikan lampu tidur yang juga berada di atas nakas samping tempat tidur pada sisi tempat Malia merebahkan diri.


Malia berbaring miring, dan segera memejamkan matanya. Ada rasa enggan yang menyeruak untuk berbicara dengan Reiji jika Malia belum tertidur dan Reiji sudah keburu sampai di apartemen, setelah Malia menemukan sesuatu dari selipan sebuah novel yang tadinya hendak Malia pinjam dan baca tadi.


“Hhh.....”


Malia menghela berat nafasnya, seperti ada beban yang ingin juga ia lepaskan dari helaan nafasnya yang terdengar berat itu.


Lalu Malia memejamkan matanya.


***


Di tempat yang berbeda....


“Ngomong-ngomong, kalian ga nikah aja, biar Argan punya keluarga lengkap?”


Seorang wanita yang hitungannya adalah Tante dari Shirly itu berucap pada Reiji, sambil memandangi Reiji yang sedang menggendong anak lelakinya Shirly, serta juga memandangi keponakannya yang berdiri bersisian bersama Reiji saat mereka masuk ke dalam rumah Om dan Tante nya Shirly itu.


Sontak, Reiji dan Shirly pun saling tatap.


“Aku sama Reiji ini Cuma temenan aja. Sahabatan dari SMA.” Shirly yang menyahut untuk menanggapi dugaan sang Tante yang mungkin mengira dirinya dan Reiji punya hubungan spesial.


“Ya ndak apa-apa kan kalau dari temenan atau sahabatan malah jadi?....”


Pria yang merupakan Om dari Shirly menimpali ucapan ponakannya yang memberitahukan hubungannya dengan Reiji.


“Malah lebih bagus toh?. Jadi udah saling mengerti sifat masing-masing,” sambung Omnya Shirly.


“Nah tuh bener kata Om kamu Shir....”


Tantenya Shirly pun menyambar.


“Jadi lebih enak ngejalanin rumah tangga .... kan kalo sahabatan udah lama bukannya udah saling ngerti satu sama lain? ... iya kan?. Apalagi Argan---“


“Maaf, Tante, Om, saya sudah menikah.”


Reiji pun menyela ucapan Tantenya Shirly.


***


REIJI


“Sorry soal omongan tante sama om yang tadi ya Rei? ...”


Ucapan Shirly saat aku berpamitan untuk pulang dari rumah Tante dan Omnya itu.


“It’s okay, Ir. Santai aja ....” 


Ya karena memang itu yang aku rasa saat om dan tantenya Shirly mengira jika aku dan Shirly memiliki hubungan spesial, hanya karena aku mengantar Shirly ke rumah mereka, dan Argan terlihat begitu dekat denganku.


Tidak aku masukkan ke dalam hati.


Awam.


Rata-rata pemikiran orang jika melihat lawan ada sepasang lawan jenis yang dekat.


Tapi kenapa selalu mengaitkan dengan hubungan spesial yang berupa ‘hubungan asmara’ jika ada laki-laki dan perempuan yang dekat?.


Ah sudahlah aku tidak mau ambil hati ucapan om dan tantenya Shirly tadi.


Bahkan tanpa tedeng aling- aling bilang kenapa aku dan Shirly ga nikah aja, supaya Argan punya keluarga lengkap.


Orang tuh nanya dulu kek, aku ada hubungan apa sama Shirly. Ini maen nembak nyuruh nikah aja.


Ah sudahlah.


Biarkan saja mereka mau berpikir bagaimana.


Yang jelas aku sudah menegaskan jika aku telah menikah pada om dan tantenya Shirly yang sempat salah paham atas hubunganku dan Shirly.


Dan akhirnya pembicaraan beralih ke pembicaraan santai saja saat aku dijamu saat makan malam tadi. Lalu berpamitan pulang tak lama setelah makan malam selesai.


Bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku kepikiran Lia di apartemen.


Mau menghubungi Lia, rasanya tidak tega untuk menepis Argan yang selalu ingin dekat denganku selama di rumah om tan tantenya Shirly tadi.


Untung saja saat aku hendak berpamitan pulang, Argan sudah nampak mengantuk, dan tak lama tertidur dalam pangkuanku. Yang kemudian langsung dibawa Shirly ke kamar yang telah disediakan untuk Shirly dan Argan oleh om dan tantenya Shirly itu.


Karena jika Argan masuh terjaga, bocah menggemaskan itu pasti akan merengek bahkan mungkin menangis jika dia aku tinggal.


Aku terenyuh sih, pada Argan yang nampak masih mengingatku, bahkan masih saja manja dan dekat denganku seperti dulu, bahkan setelah cukup lama kami tidak bertemu.


Yah, biar bagaimanapun dulu aku yang sering berada disisi ibunya, termasuk disisi Argan, saat Shirly sedang berada di dalam kesulitannya kala itu.


Dan mungkin itu yang membuat Argan tetap menjadi manja padaku.


Yah untung dia sudah tertidur saat aku berpamitan pulang tadi.


Karena kalau tidak, Argan yang merengek bahkan mungkin menangis itu, akan membuatku rasa tidak tega untuk meninggalkannya.


Yang mana, aku akan bisa lebih malam dari ini untuk sampai ke apartemen.


Dan pasti akan membuat aku gelisah karena memikirkan Lia. Karena Lia kadang suka abai dengan rasa laparnya, jika ia sedang malas.

__ADS_1


“Gue balik ya Ir.”


Akupun berpamitan pada Shirly.


Ngomong-ngomong soal memikirkan apa Lia sudah makan atau belum, mungkin sebaiknya saat telah dekat-dekat dengan gedung apartemen tempat kami tinggal, aku belikan saja apa ya makanan untuk Lia.


Aku berpikir untuk menghubungi Lia saat sudah masuk ke dalam mobil. Namun saat hendak meraih ponselku setelah menyalakan mesin mobil, nada notifikasi ponselku pun berbunyi.


Tapi aku tidak segera meraih ponselku yang aku simpan di dalam saku celana, karena Irly masih berdiri tak jauh dari mobilku yang berada di pekarangan rumah om dan tantenya itu.


Jadi kupikir aku keluar saja dulu dari  rumah tersebut agar Shirly segera masuk rumah om dan tantenya tersebut, dimana sang tante sudah nampak keluar dari dalam rumah.


Mau nutup pager mungkin.


Jadi aku segera melajukan mobilku untuk keluar dari pekarangan rumah tersebut.


Dan setelahnya, aku menyetir lambat mobilku karena aku ingin mengecek ponselku dimana tadi nada notifikasinya berbunyi.


Mungkin saja dari Lia yang ternyata belum tidur dan menungguku, karena waktu memang sudah hampir larut. Kebetulan sih kalau Lia memang belum tidur.


Karena aku bisa langsung menanyakan apakah dia sudah makan atau belum, dan mungkin Lia ingin dibelikan sesuatu.


Sudut bibirku tertarik, saat layar apung menampakkan memang ada chat masuk dari Lia.


Meskipun dichat tersebut Lia hanya bilang kalau dia tidak bisa menungguku pulang karena sudah mengantuk.


Hendak aku balas, dan memberitahukan jika aku sudah di jalan pulang. Tapi kulihat pada layar di bawah nama Malia, tertera jika ia sedang mengetik.


Dan tak lama pesan kedua pun muncul. Yang memberitahukan jika ada makanan mateng di kulkas dan menulis jika aku bisa memanaskannya bila aku ingin makan.


Ada makanan mateng?.


Lia beli makanan?.


Atau Lia masak?.


Aku langsung saja menekan ikon panggilan telepon untuk menghubungi Lia, selepas aku baca pesannya.


Tapi beberapa kali aku coba menghubungi Lia melalui sambungan aplikasi chat yang sedang kami gunakan, Lia tidak menerima panggilanku.


Ku ketikkan chat ke nomor kontak Lia.


‘Yang.’


Yang mana aku hanya ingin tahu, kenapa Lia tidak menerima panggilanku.


Dan chat itu hanya centang satu, sampai beberapa menit aku menunggu, dan tetap centang satu.


Padahal waktunya belum lama dari waktu dimana aku menerima chat dari Malia.


Itu artinya ponsel Malia sedang dalam keadaan tidak aktif.


Tapi kenapa Lia me-non-aktifkan ponselnya?.


Mungkin low-bat.


***


“Morning, Yang.....”


Suara sapaan yang sudah dua bulan ini sering didengar Malia saat pagi terdengar, saat Malia terbangun kala suara alarm berbunyi.


Yang jelas bukan dari ponselnya Malia, karena seingat Malia dia tidak memasang alarm pada ponselnya. Tapi entah juga, Malia lupa.


Pokoknya suara alarm itu mengusik tidur Malia, yang akhirnya membuka mata.


“Morning ....” sahut Malia.


Malia menyahut datar, lalu langsung bangkit dari posisinya dan beranjak dari ranjang tanpa menoleh pada Reiji yang sedang mematikan alarm dari ponselnya.


“Kamu pulang jam berapa semalem? .....”


“Kayaknya hampir jam satu-an,” jawab Reiji pada Malia yang hanya menanggapi dengan ‘oh’ saja setelah Reiji menjawab pertanyaannya.


“Nanti tugas? ....”


“Iya......”


Reiji pun menyahut pada Malia, seraya ia bangkit juga dari posisinya.


“Kenapa?....”


“Ga kenapa-kenapa. Nanya aja.”


“Hum ...”


“Jam berapa?” tanya Malia lagi.


“Setengah tiga kurang lebih berangkat dari Cengkareng .....”


“Oh...”


“Tapi tetep aku anter kamu ke kantor kok, Yang ...”


“Ga usah,” sahut Malia dan langsung berjalan keluar dari kamarnya dan Reiji.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2