WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 285


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


Permintaan Malia yang ia sebutkan sebagai syarat untuk Reiji menebus kesalahannya yang perempuan itu anggap bila suaminya telah menafkahi wanita lain, Malia batalkan kemudian karena suatu alasan dan karena Malia sudah dapat membaca kesungguhan Reiji untuk melakukan syarat yang dia minta. Terutama setelah Malia mendengar kata – kata Reiji yang sempat bicara dengan salah satu sahabatnya via sambungan telepon.


Dan dalam percakapan Reiji dengan sahabatnya via sambungan telepon itu, Malia memperhatikan dengan seksama beberapa kalimat serius Reiji yang memberikan penegasan kepada sahabat Reiji yang menghubunginya itu, untuk mempertanyakan apa yang sudah ia dengar terkait masalah Reiji dengan salah satu sahabat perempuan mereka hingga Reiji memutuskan secara sepihak jalinan persahabatan dengan sahabat perempuan mereka satu – satunya itu.


Lalu apa yang Malia dengar serta lihat dari kalimat dan keseriusan Reiji pada sahabat lelaki suaminya yang menghubunginya itu, hati Malia rasanya sudah cukup puas melihat kesungguhan Reiji yang dari sekian banyak kalimatnya – terkesan melindungi dan membela Malia.


Dan Malia juga dibuat agak melambung dari beberapa kalimat yang Reiji cetuskan pada sahabat lelaki Reiji yang sedang menghubungi suaminya itu. Dimana Reiji yang sebelumnya Malia anggap telah menggores harga dirinya sebagai seorang istri -- selain sebagai perempuan, tidak rela jika laki – laki yang ia cintai dan berstatus suaminya, begitu memperhatikan perempuan lain walau berpredikat sahabat.


Tapi dikala Reiji sedang bicara pada salah seorang sahabatnya yang ingin memutuskan kabar yang ia dengar tentang Reiji yang memutuskan persahabatan dengan salah seorang diantara mereka, Malia lihat keseriusan pun kesungguhan Reiji untuk benar – benar memprioritaskan dirinya.


“Kamu ga perlu hubungin dia buat minta balik duit yang udah kamu kasih ke dia. Lagian aku juga udah males denger suara itu perempuan. Kebayang juga kalo dia pasti sok-sok melas sama kamu kalo aku ingat tulisannya di chatnya itu.” Begitu ucapan Malia pada Reiji yang sempat ingin melakukan syarat seperti yang Malia cetuskan padanya, untuk meminta kembali semua uang yang pernah Reiji berikan pada Shirly.


Sahabat perempuan Reiji yang kini sudah Reiji anggap eks – sahabat, tanpa pria itu pedulikan bagaimana tanggapan para sahabatnya tentang dirinya yang terkesan kelewat bucin pada istri, atau bahkan dicap sebagai anggota ISTI.


Karena yang Reiji pedulikan adalah pernikahannya, termasuk tidak mau kehilangan wanita yang dicintainya dengan teramat sangat. Jadi apapun akan Reiji lakukan untuk itu.


🍁


MALIA


“Aku percaya sama kesungguhan kamu, dan aku anggap memang kamu hanya sekedar ga peka sama perasaan aku terkait kamu yang nafkahin itu bibit pelakor bertopeng sahabat. This is the first and the last ya, Rei. Meskipun kamu udah sempet ingkar janji sama aku yang katanya mau ngejauhin dia, tapi kamu malah bela-belain anaknya dengan mengabaikan aku yang udah bikin persiapan buat nyenengin kamu waktu ulang tahun kamu...”


Yang aku katakan pada Rei setelah aku mencegahnya untuk menghubungi si bibit pelakor bertopeng sahabat. Dimana Rei sempat mempertanyakan tentang aku yang terkesan berubah pikiran dengan ekspresi Rei yang terlihat ingin memastikan betul ucapanku agar dirinya tidak perlu menghubungi janda menyebalkan itu.


“Iya, Yang... aku minta maaaf banget soal itu...” Dimana Rei langsung mengatakan maafnya padaku tentang hal yang aku katakan pada Rei sebelumnya.


Penjelasanku mengapa pada akhirnya aku menyuruh Rei untuk tidak melakukan syarat yang aku cetuskan padanya sebagai pembuktian. Dan Rei pun kembali menyampaikan maafnya, yang aku iyakan kemudian.


“Tapi sekali lagi aku minta, dan kayaknya aku udah beberapa kali ngomong gini sama kamu... buat selalu terbuka sama aku soal perasaan kamu kalau emang ada sikap aku yang dirasa ga bikin kamu nyaman. Kasih tau aku, kamu maunya apa, maunya aku gimana... biar ke depannya aku ga melakukan sesuatu yang salah di mata kamu.”


Lalu Rei sempat mencetuskan permintaannya padaku selain sebuah maaf, yang kemudian aku iyakan tapi tidak aku bicarakan secara detail – karena aku merasa agak lapar, soalnya makanan yang disiapkan Avi tadi hanya sedikit saja yang baru masuk ke perutku.


Dan aku meminta Rei yang mengeluarkan uang untuk membelikan makananan yang sedang aku dan Avi inginkan.


Yang sayangnya karena waktu yang sudah cukup malam, aku jadi tidak bisa morotin Rei untuk membelikan makanan mahal atau pergi ke restoran yang ada di dalam hotel bintang lima atau restoran kelas eksklusif yang ada di Jakarta ini.


Mungkin besok?


---


Rei tersenyum saja ketika aku menunjukkan gelagat untuk tidak membahas lagi permasalahan kami yang terkait si bibit pelakor bertopeng sahabat itu.


Anggap saja, aku menganggap masalah kami tentang hal tersebut telah selesai – aku dan Rei berbaikan. Tepatnya aku sih yang sudah memaafkannya.


Karena Rei amat sangat memohon padaku untuk menarik ucapanku soal perceraian.


Lalu memintaku berjanji untuk tidak pernah menyebut atau menyinggung soal itu lagi.


Yang aku jawab, “Tergantung—“


“This is the last, Yang....”


Dan Rei langsung menanggapinya seperti itu.


“Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengulang kesalahan yang sama.”


“Aku butuh bukti Rei, bukan janji—“


---


“Kalau ada hal-hal semacam ini lagi terkait itu bibit pelakor najis, aku ga segan buat bikin dia dapet sangsi sosial karena udah ganggu rumah tangga orang. Dan aku ga akan pikir panjang buat gugat cerai kamu, Rei. Kalo perlu aku fitnah dia sekalian biar dihujat netizen abis-abisan. Aku punya kok SS bukti kamu yang kasih uang ke dia. Tinggal aku upload di medsos. Selesai dia. Selesai juga bisa-bisa karir kamu sebagai pilot. Aku aduin kamu ke bos kamu, tambahin bumbu. Finish. Karir kamu, plus pernikahan kita...”


Kemudian aku berujar panjang lebar dengan menyelipkan ancaman di dalamnya.


Dan aku menahan tawaku kemudian, ketika aku melihat ekspresi Reiji yang melongo selepas aku berujar panjang lebar dengan menyelipkan ancaman dalam repetanku itu.


Terserah saja jika aku dianggap memanfaatkan situasi setelah melihat sikap Reiji yang memohon – mohon padaku.


Menggambarkan betapa Bapak Pilot yang rupawan itu sudah menjadi bucin akut atas cintanya padaku, hingga aku bisa menebak jika Rei tidak mungkin mempermasalahkan ancamanku padanya tadi.


“Iya, Yang, iya...”


Benar kan, dugaanku?


“Bukan karena aku takut kamu permalukan ya?”

__ADS_1


Lalu Rei meneruskan ucapannya.


“Tapi lebih kepada aku ga mau kehilangan kamu.”


“Gombal!...”


Bukan aku yang menyahut, tapi Avi.


“Lo! gembel!”


Rei merespons sarkas Avi sambil menoyor kepala adiknya itu.


Dan Avi langsung saja cekikikan setelahnya. Sementara aku terkekeh.


Kemudian Rei beralih padaku dan melemparkan seutas senyuman sambil bilang,


“I love you, Yang.” Dengan satu tangan Rei yang mengelus kepalaku, dan satu tangannya menggenggam satu tanganku yang kemudian ia kecup ringan.


---


“Iya, love you too,” balasku pada ucapan romantis Rei. “Sedikit berkurang tapi.”


Aku lalu menambahkan ucapanku, dan Rei tersenyum geli, “Ga apa – apa yang penting cintanya kamu buat aku masih ada,” ucap Rei kemudian. “Cuma berkurang sedikit doang ini, kan?...”


Rei berkata lagi, dengan mengulum senyumnya sambil menatapku. Sementara Avi sedang sibuk memilih makanan yang ingin aku dan dirinya pesan, dalam ponsel Rei yang saldo e-walletnya cukup banyak itu.


Dan Avi tak lagi memperhatikan interaksiku dan Rei, termasuk saat Rei bilang, “Kita oke sekarang ya? Kalo Avi udah balik, ga nyuekin aku lagi, ya?—“


“Iya,” tukasku. Rei melemparkan seutas senyuman teduhnya lagi padaku. Tapi kemudian dia bilang,


“Kiss?...”


Yeuu!


🍁


“Besok ga usah masuk kerja ya, Yang?...”


Reiji yang berkata pada Malia, saat mereka berdua dan Avi sedang menunggu pesanan mereka datang yang dipesan secara online via sebuah aplikasi.


“Bener tuh.”


“Mumpung gue lagi di Jakarta...”


Reiji lalu mengangguk sambil ia memandangi Malia.


“Kan kamu sebenarnya juga masih dapet cuti dari Andra, Yang? Soalnya aku udah cerita tentang yang udah menimpa kamu sedikit banyaknya. Dia malah sempet ngegerutu pas aku bilang kamu ngantor hari ini—“


“Ya aku ga enak aja sama yang lain kalo aku sering ga masuk, kan mereka ga tau apa yang belum lama aku alamin. Cuma cerita sama Nanda aja sih, pas tadi aku jalan buat beli hp dan ngurus beberapa hal—“


“Eh iya...”


Reiji menukas ucapan Malia.


Namun Reiji sebatas menggumam.


“Apa?”


Malia yang menyadari gumaman Reiji itu langsung bertanya pada suaminya tersebut.


Reiji menoleh dan tersenyum kecil pada Malia.


“Ga pa-pa,” jawab Reiji kemudian. “Cuma inget sesuatu—“


“Shirly?...” sambar Malia.


🍁


“Baru sebentar, udah diingkari janjinya?”


Reiji segera berkomentar setelah ucapan Malia yang hanya satu kata itu dirasa sebagai sebuah cibiran untuknya.


Namun komentarnya pada ucapan Malia yang menyebut nama Shirly itu, tidak Reiji sampaikan dengan sinis—namun Reiji bertutur lembut seraya ia tersenyum dan mengusap penuh perasaan pucuk kepala Malia.


Dan Malia segera mengatupkan bibirnya. Lalu berujar setelahnya. “Cuma asal nebak aja kok...”


Reiji pun tersenyum geli menanggapinya, “Kan katanya ga mau bahas tentang dia lagi?” ucap Reiji kemudian.


“Iya iya.”

__ADS_1


Malia pun mengiyakan.


“Aku ga akan nyindir kamu lagi dengan menghubung-hubungkan itu si bibit pelakor sama kamu.”


🍁


Mengikuti permintaan Reiji dan desakan Avi agar dirinya tidak usah masuk kantor di keesokan hari setelah pertengkaran serius antara Malia dan Reiji hingga akhirnya mereka berbaikan, Malia menghabiskan waktu hampir seharian bersama Reiji, Avi dan kekasih Avi yang kebetulan sedang ada di Jakarta untuk merasakan yang namanya double–date.


Namun sebelum acara double-date itu terlaksana--Malia dan Reiji berikut juga Avi dan pacarnya, menyambangi rumah orang tua Malia untuk memperlihatkan pada mereka, jika Malia tidak apa-apa setelah sebuah tragedi buruk yang menimpanya.


Orang tua Reiji dan Avi juga sudah dihubungi sebelumnya, agar kiranya mereka bisa datang dan berkumpul di rumah orang tua Malia, lalu menghabiskan waktu disana. Jadi double-datenya Malia-Reiji serta Avi dan pacarnya, berlangsung di rumah orang tua Malia—dan malah berkesan jadi quartet date, jika orang tua Reiji dan Malia dihitung.


Quartet date yang ujungnya malah ngumpul antar kubu, yakni kubu laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki pergi bermain badminton di lapangan komplek orang tua Malia yang kebetulan indoor, sementara yang perempuan berkutat di dapur untuk membuat kudapan—lalu nobar drakor setelahnya, hingga sampai para laki-laki yang selesai bermain badminton itu kembali ke rumah orang tua Malia dan ikut nobar drakor pada akhirnya.


“Lo lama kan di sini, Vi?” Malia yang bertanya pada Avi.


“Lusa gue balik ke Jogja,” jawab Avi, dan Malia langsung berkesah.


“Cepet amat?—“


“Gue nih udah ninggalin tender furniture hotel demi elo. Saking gue kalang kabut pas denger lo ga ada kabar udah dua hari dan gue emang susah hubungin lo—“


“Trus maksudnya lo ga ikhlas gitu?—“


“Yeu, kalo gue ga ikhlas, pas gue dateng trus denger lo oke aja yang ada gue langsung terbang ke bali ngejar itu tender!...”


“Ga usah ngegas sama bini gue...” sambar Reiji sambil menoyor kepala Avi.


“Bucin segitunya...” ledek Avi pada Reiji kemudian.


“Sabodo!” balas Reiji.


Dan yang melihatnya, mengulum senyum mereka. Si korban toyoran Reiji pun cekikikan.


🍁


REIJI


Lepas maghrib, aku dan Lia berpamitan dari rumah orang tua Malia.


Aku pikir Lia ingin menginap.


Tapi katanya ada laporan yang harus dia buat, dan draftnya ada dalam sebuah flashdisk yang mana benda itu ada di apartemen kami.


Selain aku juga berencana untuk datang menemui bosku, atas dasar menanyakan perihal aku kiranya sudah siap untuk kembali bekerja dalam waktu dekat.


Karena Malia yang sudah memutuskan untuk kembali beraktifitas di kantornya, dan mempersilahkanku untuk melakukan pekerjaanku kembali.


Jadi orang tua Lia memaklumi dan mempersilahkan aku dan Lia kembali pulang ke apartemen kami, dan mungkin dalam waktu dekat menginap di sana serta di rumah orang tuaku juga—biar adil.


---


Singkat kata, aku dan Lia sudah berada di komplek apartemen kami.


Karena malas menuju area parkir yang dekat dengan unit apartemenku dan Lia dan berada di lantai atas—selain kebetulan ada space kosong di area parkir outdoor komplek apartemen kami itu, aku memarkirkan mobilku di sana.


Lalu akan menggunakan lift dari lobi utama untuk sampai ke unit kami.


---


Aku dan Lia memang sudah berbaikan dan sepakat untuk menganggap hal yang telah aku lakukan terkait Irly dimana Lia menganggap itu sebagai sebuah kesalahan besar—selesai.


Namun begitu, Lia masih aku rasa belum sepenuhnya kembali bersikap seperti biasa padaku. Dia masih banyak diam selama perjalanan, lalu sempat juga ada bahasan diantara kami yang membuatku jadi sedikit tidak merasa nyaman.


Jadi aku pun ikutan menjadi pendiam.


Tapi setelah sampai di komplek apartemen, aku coba untuk menghilangkan aura agak dingin diantara aku dan Lia dengan kemudian berbasa-basi menawarkan jika ia ingin membeli minuman di salah satu gerai yang ada di bagian luar lobi gedung apartemen kami, sambil aku meraih tangan Lia yang kemudian aku genggam.


Dan Lia tidak memberikan penolakan pada genggamanku itu.


“Iya deh, boleh.”


Jawaban Lia atas tawaranku, dan aku pun berjalan bergandengan dengannya menuju salah satu gerai minuman kekinian yang ada di komplek apartemen kami itu.


Namun sebentar saja, Lia melepaskan kasar genggaman tanganku, sambil ia melihat dengan pandangan begitu kesal ke satu arah, bersamaan dengan pekikan antusias seorang bocah laki-laki.


“PAPII!!...”


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2