WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 119


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca....


***


MALIA


Tak ingin memikirkan Reiji saat aku sedang bersama Irsyad. Tapi dilalahnya, setelah mendapat pesan chat dari Reiji, aku malah terus kepikiran padanya.


Selama lima hari belakangan aku dan Reiji bak sepasang orang asing yang tinggal bersama.


Apakah hubunganku dan Reiji akan terus seperti ini?....


Membuat Reiji menanggung kisruh dalam rumah tangga kami.


Mungkin aku egois dengan memikirkan kebahagiaanku sendiri, tapi aku benar – benar ingin menikmati kebahagiaan untukku yang kini sedang aku rasa.


Aku tidak ingin berada dalam keadaan ini.


Tapi lagi – lagi takdir seolah sedang mempermainkanku.


Sebelumnya aku harus mengubur dalam impianku bersama lelaki yang aku cintai dalam diam dan menikah dengan Reiji.


Lalu, setelah pernikahan itu terjadi, takdir membawa Irsyad datang kembali.


Bukan hanya kembali, tapi Irsyad membawa juga hal yang aku ingin dapat darinya sejak bertahun lalu.


Pengakuan atas cintanya padaku.


Yang tentu, sudah jauh terlambat.


Namun tetap membuatku gamang.


Aku tidak ingin menyakiti Reiji, tapi aku juga tidak ingin jauh dari Irsyad sekarang.


Dan karena kedua hal itu kedua mataku menggenang.


“What’s wrong Lia (Ada apa Lia)?....”


Irsyad mengulurkan tangannya padaku.


“I’m okay (Aku ga pa – pa) ---“


Aku menyahut kala tangan Irsyad yang terulur itu mengusap mataku yang basah.


Dan dia menatapku dengan prihatin. “Kamu benar – benar tidak bahagia dengan pernikahan kamu. Iya kan Lia?....”


“Well.... I’m trying ( aku sedang mencoba )....”


Aku menjawab pertanyaan Irsyad dengan memaksakan senyumku.


“Aku rasa akan sulit jika kamu hidup dengan orang yang tidak kamu cintai, Li.”


Dan ucapan Irsyad itu membuat anganku kembali lagi pada Reiji.


Ucapan yang membuatku rasa ambigu, apakah aku sudah mencintai Reiji atau tidak.


“Aku menyayanginya, Kak....” ucapku, karena itu yang jelas aku rasakan pada Reiji.


“Li....”


“Kak,” aku berucap disaat yang sama kala Irsyad hendak bicara.


“Ya?....”


“Kayaknya rencana nonton kita hari ini dibatalin aja ya?”


Irsyad tidak langsung menjawab.


Dan sepertinya hendak bertanya.


“Aku mau pulang....” kataku.


“Biar aku antar kamu ya?....”


Irsyad menawarkan.


Aku menggeleng seraya tersenyum.

__ADS_1


“Aku kan bawa mobil Kak....”


Irsyad juga tersenyum.


“Iya aku tahu....” Ucap Irsyad kemudian. “Biar aku yang bawa mobil kamu, nanti aku bisa kembali lagi kesini untuk ngambil mobil aku.”


Tawaran Irsyad membuatku sedikit tercengang, berpikir kenapa ia mau sampai repot begitu?.... Apakah Irsyad ingin menebus rasa bersalah dan penyesalannya karena terlambat datang untukku?.


Aku menggeleng lagi.


“No need, Kak .... aku bisa sendiri.”


Aku memberikan penolakanku lagisecara halus pada Irsyad.


“Please .....” akan tetapi Irsyad kukuh dengan keinginannya untuk mengantarku dan melayangkan tatapan memohon padaku, selain ia nampak prihatin.


Lalu, kepalaku mengangguk dan Irsyad tersenyum sembari mengusap lembut disana.


Aku dan Irsyad terdiam selama perjalanan menuju apartemenku. Akupun menatap pada jalan dari balik kaca mobil di sisi kiriku.


Aku gamang memikirkan bagaimana mengambil sikap dengan pernikahanku bersama Reiji. Irsyad tetap tenang menyetir disebelah, tak sedikitpun bicara.


Seolah Irsyad memahami jika hatiku sedang gusar dan gamang, dan aku butuh ruang untuk berpikir. Dan dijeda waktu selama perjalanan itu, aku teringat akan Reiji.


Tiba-tiba, aku ingin segera pulang dan bertemu Reiji.


Ingin bicara dari hati ke hati, tanpa emosi, dan mengatakan semua isi hatiku padanya.


Mungkin, aku akan mendapat solusi darinya. Dari Reiji, suamiku.


Aku rasakan usapan lembut di kepalaku. Dan disaat itu, dengan cepat aku menepis keinginan untuk bicara dari hati ke hati dengan Reiji.


Lalu keinginan yang cepat lagi datang....


Aku, tiba-tiba saja, ingin hanya Irsyad di sampingku.


----


“Yang .....” panggil Reiji disela aku sedang menyantap spaghetti buatannya di meja makan dalam apartemen kami.


Spaghetti yang dibuat Reiji sebenarnya cukup menggugah selera, karena aku melihat banyaknya daging giling yang bercampur dengan sausnya.


Dan memang rasanya pun aku akui setara dengan rasa spaghetti di sebuah restoran Italia well recommended yang berada di daerah Kemang.


Seharusnya aku merasa seperti itu.


Ya, seharusnya.


Jika aku mencintainya.


Tapi sayangnya aku tidak mencintai Reiji-Belum.


Entahlah.


Bagaimana perasaanku pada Reiji sebenarnya pun aku tak tahu.


Aku telah berusaha untuk mencintai Reiji dengan pernikahan ini, namun mungkin karena hatiku yang masih terbelenggu oleh masa lalu, jadi hal itu aku rasa sulit.


Dan aku tidak menyalahkan Reiji, jika ia belum dapat memenangkan hatiku.


Aku sungguh menghargai usahanya untuk itu.


Tapi hatiku, aku tidak bisa mengontrolnya, tidak bisa kupaksa untuk mencintai dengan cepat laki-laki yang aku kasihi sebagai saudara dan kini telah menjadi suamiku.


Aku telah mencoba, namun aku merasa pada akhirnya itu sia-sia. Mungkin cinta tidak bisa untuk dicoba-coba-selain tidak bisa dipaksakan.


Mungkin tidak seharusnya pernikahanku dan Reiji terjadi, sebelum aku benar-benar mengubur masa laluku dengan Irsyad.


----


“Ya? ....” Aku segera menyahut, saat mendengar Reiji memanggilku disela kami makan, dengan posisi duduk yang bersebrangan.


“Kamu ada mampir kemana dulu sebelum pulang? ....” tanya Reiji, dimana pertanyaannya tersebut membuat aku menjadi gugup seketika.


Apa Reiji tahu jika aku pergi bersama Irsyad? ....


Atau, apakah tadi Reiji melihat Irsyad mengantarku sampai ke apartemen?


Meski Irsyad mengantar hanya sampai di batas masuk gerbang apartemen saja, kemudian ia keluar dari mobilku, setelah menyuruhku masuk tanpa perlu menunggunya mendapatkan transportasi untuk mengambil mobilnya yang ia tinggal di parkiran Mal tempat kami janjian tadi.


“Kenapa emangnya? ....”

__ADS_1


Aku balik bertanya pada Reiji, sambil menutupi kegugupanku.


“Ga apa-apa. Nanya aja.”


Dan seketika aku merasa lega, selepas mendengar jawaban Reiji. Dan aku tak tahu kenapa hatiku melega saat Reiji tak membahas lebih jauh tentang waktu kepulanganku ke apartemen kami ini.


“Oh...”


Aku menyahut datar.


“Yang ---“ Reiji memanggilku lagi.


Akupun kembali menyahut, sambil mengarahkan pandanganku ke Reiji.


“Ya?”


“Besok ikut aku menghadiri acara yang diadakan oleh maskapai ---“


Reiji lalu bicara dan aku spontan mengernyit.


“Semacam family gathering gitu ...” lanjutnya. “Tapi untuk kru penerbangan aja ---“


“Besok? ...”


Aku spontan bertanya untuk memastikan.


“Iya ---“ Reiji langsung mengiyakan. “Di Puncak acaranya ... semalem aja kok.”


Reiji kembali melanjutkan omongannya sambil ia lebih fokus memandang padaku.


“Pulang dari sana kita langsung mampir ke rumah orang tua kita, karena minggunya aku off juga ---“


“Aku harus ikut, ya? ...”


Aku bertanya pelan.


“Family gathering?” Reiji balik bertanya.


“Iya.”


“Ya harus ga harus ----“


“Tapi aku males, Rei ----“


“Malesnya?”


“Ya males aja ----“ aku menyahut acuh kemudian.


“Yang, meskipun untuk ikut ini acara yang diadakan per tiga bulan sekali bukan suatu keharusan untuk dihadiri oleh para kru penerbangan, tapi seengganya aku harus hadir untuk menghormati Maskapai tempat aku bernaung ...”


Reiji memaparkan.


Aku menghela nafasku pelanku. “Liat besok deh Rei.” ucapku kemudian.


“Acaranya udah besok Yang---“ Reiji langsung menyambar. “Pagi kita berangkat. Karena meski pakai kendaraan masing-masing, berangkatnya konvoi ...”


Lalu ia bicara panjang sambil bangkit dari duduknya, karena spaghetti dalam piring Reiji sudah tandas.


Aku menggigit bibirku.


“Aku udah ada acara sebenarnya besok Rei ...”


Dan berbicara dengan ragu pada Reiji, sambil melihat ke arahnya yang baru saja meletakkan bekas makannya ke dalam wastafel.


“Acara apa?”


Reiji yang tadinya aku rasa hendak mencuci langsung piring bekas makannya, langsung berbalik ke arahku dan menatapku tajam.


“Acara dengan Irsyad? ...” tembak Reiji.


“Iya.” Jawabku tanpa aku tutup-tutupi karena aku memang sudah mengiyakan ajakan Irsyad tadi untuk pergi ke sebuah Galleri Lukisan esok hari, karena pelukisnya merupakan teman Irsyad dan pelukis itu mengundang Irsyad untuk datang, lalu Irsyad mengajakku-yang tanpa pikir panjang aku iyakan.


“Ya sudah kalau begitu ----“ Reiji berucap datar berikut ekspresinya, lalu didetik berikutnya ia berbalik badan dan mulai menyibukkan dirinya di wastafel.


“Aku ----“ aku hendak memberi tahukan untuk keperluan apa aku pergi besok dengan Irsyad. Tapi kemudian ...


“Aku akan pergi denganmu besok, di acaramu dengan Irsyad...”


Dan lututku rasanya lemas, mendengar Reiji berkata ingin pergi denganku besok.


****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2