
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Kalau begitu gue tinggal bentar buat telfon orang tua gue dan istri dulu ya, Am?” Adalah Reiji yang berpamitan pada Ammar setelah pria itu mengingatkan Reiji apakah sudah mengabari keluarganya tentang Malia yang sudah ditemukan keberadaanya dan sudah aman sekarang.
Ammar pun mengangguk mengiyakan.
“Silahkan,” kata Ammar. “Ah by the way, Rei..”
“Ya?..” tanggap Reiji pada Ammar yang membuatnya menjeda langkah karena ucapannya barusan itu.
“Lo cari Ika mau apa?”
“Oh, itu. Gue mau tanya di sini ada bahan makanan ga? Soalnya istri gue kecapean abis merkosa suaminya ini, dan sekarang dia kelaperan.”
Reiji menjawab dengan menambahkan selorohan.
Ammar pun sontak terkekeh kecil mendengarnya. “Lo bicara saja dengan orang tua dan mertua lo dulu, soal makanan sudah disiapkan di meja makan. Lo dapat langsung ajak istri lo turun untuk makan bersama.”
Reiji pun mengangguk lalu berterima kasih pada Ammar, lalu melanjutkan kembali langkahnya untuk menghubungi orang tuanya dan orang tua Malia pergi ke dalam kamar utama penthouse -----yang dipersilahkan oleh si empunya untuk Reiji dan Malia gunakan saat ini.
Lalu saat Reiji sedang melangkah menaiki anak tangga yang tadi sudah ia lewati saat turun ke dapur, Reiji membatin.
‘Mudahan ga ditemuin Lia itu ponsel gue, karena gue takut ada chat aneh-aneh yang bikin Lia salah paham lagi sama gue.’
❇❇
REIJI
Bukan tanpa sebab aku merasa was – was jika Lia menemukan ponselku.
Lia yang kadang menelan bulat – bulat hal yang ia dengar dan lihat dengan kesimpulannya sendiri lah yang membuatku khawatir dia menemukan ponselku sekarang.
Karena saat aku hendak pergi ke kediaman utama Tuan Alva dan keluarganya yang berada di Jakarta, ada beberapa telepon dan chat masuk dari para sahabat lelakiku ----- yang mana aku duga, jika Irly mungkin telah menceritakan aku yang memutuskan persahabatanku dengannya kepada tiga sahabat kami yang lain, dan ketiganya menghubungiku untuk bertanya dan membahasnya.
Yang mana memang tidak memungkinkan aku untuk menanggapi mereka, saat aku panik soal Lia ----- selain aku memang belum mood untuk membahasnya.
Jadi aku abaikan telepon dan chat mereka, dan tidak lagi aku sempat periksa chat yang masuk saat diperjalan untuk menyelamatkan Lia.
Lagipula memang tidak kepikiran juga untuk mengecek ponsel, karena fokusku ingin segera menemukan Lia dan menyelamatkannya dari penculikan yang disertai pembiusan oleh si bibit pelakor b*jingan itu.
Dan tadi setelah Ammar mengingatkan tentang memberitahukan orang tua dan mertuaku mengenai Lia yang sudah ditemukan, aku jadi teringat beberapa panggilan telepon dan chat yang masuk ke ponselku ---- dari tiga sahabat lelakiku.
Yang mana aku khawatirkan, ada bahasa – bahasa yang membuat Lia merasa tersinggung ---- yah, namanya sahabat kan, biasanya akan membela sahabatnya, terlebih jika Irly juga cerita perilaku kasar Lia yang sedikit mencederai Argan pada tiga sahabat kami yang lain.
Dan aku khawatir mereka membahasnya dalam chat mereka itu, meskipun tidak juga mereka akan mengata – ngatai Lia dengan buruk. Hanya saja aku takut ada bahasa mereka dalam chat yang Lia anggap memojokkannya, meskipun memang aku sesalkan kekasaran Lia pada Irly.
Namun aku tidak menyalahkan Lia dalam hal ini.
Karena sedikit banyak, salahnya memang ada di aku yang sudah tidak jujur pada Lia ---- terhitung juga mengingkari janjiku padanya untuk amat menjaga jarak dengan Irly.
Habis mau bagaimana?..
Posisiku, katakanlah sedang terjepit kala itu.
Jika ada hal buruk yang menimpa Argan, aku sulit untuk tidak peduli ---- makanya aku langsung spontan mendatangi rumah sakit ketika aku dengar Argan dilarikan ke sana, karena terkena serangan jantung --- namun sayangnya, aku tidak langsung jujur dan membahas soal aku yang ingin membantu Argan.
Dan seperti inilah yang aku dapat.
Kebohongan yang aku anggap sebagai kebohongan untuk kebaikan, justru tidak membawa kebaikan.
Lia jadi mengira yang bukan – bukan. Lalu merajuk parah sampai tidak pulang ke apartemen, sampai akhirnya diculik Irsyad.
Dan membuatku merasa bersalah pada Lia juga karena hal itu, hal tentang si bibit pelakor b*jingan bernama Irsyad telah lakukan pada Lia.
Karena ketelodoranku pada keadaan di sekitarku dan Lia, yang mana laki – laki dari masa lalu Lia itu ---- nyatanya sangat terobsesi pada Lia, hingga ia ternyata telah mengawasi gerak – gerikku dan Lia selama belakangan ini.
Begitu sih, persepsiku saat ini.
Irsyad begitu terobsesi pada Lia yang telah menikah, serta juga sudah mencintaiku.
Namun nanti aku akan bertukar cerita dengan Lia, bagaimana dia bisa bertemu dengan Irsyad di sebuah restoran dan bar tempat Lia dibius oleh si keparat itu.
Termasuk bagaimana Lia tahu unit apartemen Irly.
Lalu pas sekali Lia tiba saat aku sedang berada di sana.
Tapi aku yakin semua kesialanku sehubungan dengan semua yang telah membuat Lia salah paham sampai dengan apa yang telah terjadi, adalah kerjaan si bibit pelakor b*jingan itu.
Nanti juga akan aku tanya pada Ammar soal si keparat Irsyad itu. Kemana Ammar membawanya --- yang mana aku berharap, agar aku dapat kesempatan untuk menghajar si Irsyad keparat!
Tapi untuk sekarang, aku harus cepat – cepat dulu mengamankan ponselku.
Yang aku ingat aku letakkan di atas wastafel kamar mandi di kamarnya Tuan Jo, sebelum aku mengguyur tubuhku di bawah kucuran air shower.
Semoga Lia masih mengurung dirinya di dalam selimut, dan aku akan mengamankan ponselku cepat – cepat --- kalau perlu akan aku hapus semua chat yang ada di dalamnya.
--
Aku tidak melihat Lia di atas ranjang dalam kamar penthouse milik Tuan Jonathan ketika aku sudah masuk ke dalamnya.
Dan seingatku, pakaian Lia masih tercecer di atas lantai kamar ketika aku beringsut dari ranjang lalu mengenakan pakaian.
Kemudian aku mendekati Lia saat dia membahas kejadian yang telah terjadi dan bertanya soal si bibit pelakor bajingan itu.
Dan setelahnya aku keluar kamar untuk menyiapkan makanan karena Lia yang lapar. Jadi aku lupa untuk membereskan pakaian Lia yang tercecer di lantai.
Lalu ketika aku melihat Lia yang sudah tidak lagi bergelung selimut di atas ranjang, seketika aku was – was.
Kemudian segera melangkahkan kakiku ke dalam kamar mandi kamar penthouse milik Tuan Jonathan ini.
Berharapnya sih Lia tidak ada di dalamnya, karena aku ingin segera mengamankan ponselku. Namun begitu, tetap saja aku seolah latah memanggil Lia saat aku membuka pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Yang? .....” sebutku sambil aku membuka pintu kamar mandi yang tertutup.
Dan meski aku juga tidak tahu apakah Lia ada di dalamnya, atau sedang berpakaian di dalam walk in closet.
Dan andai pun Lia ada di kamar mandi, mudahan saja dia tidak menemukan ponselku itu. Agar Lia tidak berpikir aneh – aneh andai ada pesan chat yang membuatnya bingung, apalagi tersinggung.
❇❇
Reiji sontak berdiri memaku ketika pintu kamar mandi kamar penthouse milik salah satu bosnya itu, ia buka.
Dimana disaat yang sama Reiji langsung membatin was-was, karena apa yang ia harapkan tidak terjadi. Malia yang diharapkan Reiji ada di dalam walk in closet, nyatanya sedang berada di kamar mandi.
Dengan Malia yang ternyata sudah menemukan ponsel Reiji dan sedang memegangnya. Membuat Reiji dengan spontan melirik ke arah ponselnya yang dipegang Malia itu.
Dan Reiji menyembunyikan sikap was – was nya dengan melemparkan satu senyuman kepada Malia. “Ka—“
“Kamu cari ini?”
Namun baru saja Reiji hendak berkata, Malia keburu menyambar seraya bertanya dengan menggerakkan tangannya yang sedang memegang ponsel Reiji itu.
“Iya,” jujur Reiji.
❇❇
REIJI
Yah, aku menjawab Lia dengan jujur, bahwasanya aku ke kamar mandi itu memang hendak mengambil ponselku.
Karena memang aku bertujuan untuk mengabari orang tua kami, bahwa aku sudah menemukan istriku yang kadang besar ambek itu.
Meskipun juga, sekalian memeriksa ponselku dan memastikan Lia tidak melihat – lihat isinya.
Isi chat para sahabatku selain Irly yang masuk ke ponselku itu, yang aku khawatirkan ada diantaranya yang membuat Lia kembali merasa kesal padaku.
Walau juga tadi kami sudah bercinta.
Dan Lia tidak mulai membahas apa – apa tentang kejadian dia memergokiku berada di apartemen Irly plus aku berbohong padanya --- tapi aku yakin bukan berarti Lia tidak akan membahas hal itu padaku.
Mencecarku sih lebih tepatnya. Aku yakini itu, Lia tidak hanya akan membahas --- tapi akan mencecarku.
Lalu mengabsen setiap kesalahanku padanya terkait Irly. Haiyyah ..... membayangkannya saja aku sudah merasa migrain.
Karena membujuk Lia yang ngambek itu lebih sulit dari saat pertama kali aku belajar navigasi pesawat terbang. Membuatku harus melapangkan dada, jika Lia sudah merajuk parah.
Yang mana, Lia ---- kalo ngambek, ada aja kelakuannya yang membuat hatiku campur aduk.
Ya kesal, marah, gemas dan terkadang was – was kalau Lia yang sedang super kesal akan mencetuskan pisah secara spontan.
--
Keras hati --- selain keras kepalanya Lia membuatku jadi mau tidak mau berbohong padanya saat aku meluangkan waktu yang amat berlebih setelah Argan terkena serangan jantung.
Aku peduli dan sayang sekali pada anak itu, namun aku juga tidak ingin ribut dengan Lia yang aku bayangkan akan tetap memberikanku larangan untuk dekat dengan Argan. Walau aku yang sudah menceritakan alasannya.
Jadi ya aku membuat suatu kesimpulan ‘berbohong untuk kebaikan’, terkait Argan. Dimana secara otomatis aku sering menghabiskan waktu bersama Irly juga selama beberapa hari belakangan, seperti layaknya dulu. Tapi ya hanya seperti itu saja.
Namun setelah kejadian Lia yang katakanlah ‘ngamuk’ di apartemen Irly, aku mau tidak mau membuat keputusan untuk tidak lagi mengurusi Argan. Karena aku yakin itu akan menjadi permintaan Lia padaku setelah kami membahasnya nanti, atau bahkan persyaratan untukku jika ingin kami tetap bersama sebagai suami istri.
Dan nanti meskipun sudah ada kesepakatan antara aku dan Lia, aku yakin selama beberapa waktu setelahnya, Lia akan tetap saja memandangiku dengan penuh selidik setiap kali aku habis dari luar apartemen. Dimana pandangan penuh selidik itu, aku dapati dari Lia sekarang --- sebelum ada pembahasan soal dirinya yang memergokiku di apartemen Irly.
“Ada sesuatu yang urgent?”
Lia yang lanjut bertanya dengan cepat setelah bertanya apa aku sedang mencari ponselku.
Dan aku yakin, pertanyaan Lia itu berhubungan dengan isi dalam ponselku yang sudah Lia lihat.
Entah apa, yang jelas ada sesuatu yang mengganggu Lia --- yang aku dapat baca dari ekspresi wajah Lia yang datar saja.
Dan aku, harus pasang ‘kuda – kuda’ --- persiapan jawaban atas adanya kemungkinan pertanyaan yang nyeleneh, atau perkataan tidak enak dari Lia --- yang aku yakin telah membaca isi chat dari tiga sahabat laki – lakiku.
Nulis apa mereka?
❇❇
“Engga, aku ----“
Menanggapi pertanyaan Malia dengan ekspresi datarnya itu, Reiji pun hendak menjawabnya.
“Kalo yang kamu rasa urgent itu adalah pesan chat dari sahabat perempuan kamu .....” namun sebelum Reiji selesai mengatakan alasan utamanya ingin mengambil ponselnya itu, Malia keburu menukas ucapan Reiji. “Kebetulan, orangnya kirimin kamu banyak chat plus banyak panggilan tak terjawab .....” sambung Malia.
Dengan tangan Malia yang menggantung di udara sambil menyodorkan ponsel Reiji pada si empunya. Dimana disaat yang sama, Reiji mengernyit dalam.
‘Maksud Lia orangnya kirimin gue banyak pesan chat tuh maksudnya Irly yang kirim itu chat? ..... Nomor Irly kan udah gue blok?’ sambil Reiji bermonolog heran dalam hatinya.
Dan dalam keheranannya itu, Reiji kemudian menerima ponselnya dari tangan Malia. Lalu Reiji langsung saja membaca isi pesan chat dalam sebuah kamar obrolan yang memang telah terpampang saat Malia memberikan ponselnya Reiji pada si empunya.
‘Sial!’
Reiji langsung merutuk dalam hati saat dia telah membaca keseluruhan isi pesan chat yang merupakan dari Shirly itu.
Yang mana Reiji yakini memang Shirly yang mengirimi beberapa rentet chat itu. Karena Reiji mengenali gaya tulisan Shirly.
‘Kenapa dia bahas janji gue soal Argan itu di chat begini sih?!’ seru Reiji dalam hatinya. Dengan sedikit rasa kesal pada Shirly yang kemudian hinggap di hati Reiji.
Lalu Reiji sedikit menggerutu dalam hatinya.
‘Itu janji kan saat gue pikir kalo gue bakal jadi ayah sambungnya Argan! Dan itu jauh sebelum gue nikah!’
❇❇
‘Sial banget! Pasti Lia bakal nanya aneh – aneh karena ini chat!’ seru Reiji dalam hatinya lagi. Dimana setelahnya ia kembali memandang pada Malia, yang tak putus memandangi Reiji saat suaminya itu sedang membaca pesan dari Shirly.
Reiji pun seketika ingin angkat suara.
__ADS_1
Namun sekali lagi ia tak sempat melakukannya, karena lagi – lagi, sudah keduluan oleh Malia.
“Jadi, kalau boleh aku tau, kamu ada janji apa sama sahabat kamu yang kayaknya dia tekankan banget di chatnya itu.”
❇❇
“Jangan – jangan kamu janji buat nikahin dia?”
Dilanjutkan dengan kalimat Malia yang bertanya.
Dimana Reiji sontak menjadi sedikit terperangah.
‘Gue bilang juga apa?. Pasti ada pertanyaan nyeleneh dari Lia kalau dia mendapati sesuatu yang bikin dia terganggu—‘
“Diem berarti bener?”
Malia kembali bersuara, saat Reiji sedang bermonolog lagi dalam hatinya.
❇❇
MALIA
Aku was – was menunggu jawaban Rei atas pertanyaanku yang penuh selidik, termasuk juga pandanganku padanya.
“Kamu berpikir terlalu jauh, Yang. Ga ada hal macam itu,” jawaban Rei yang kemudian keluar dari mulutnya sambil ia menatapku dengan sungguh – sungguh, bahkan sudah mendekatiku.
Aku merasa lega mendengarnya, namun bukan berarti aku percaya begitu saja.
Jadi aku perhatikan betul – betul mata Rei saat ia tengah menjawab pertanyaanku itu.
Dan aku tidak menemukan kegugupan, yang tak kutemukan juga gelagat Rei yang berbohong padaku.
“Aku memang pernah menjanjikan Irly sesuatu. Tapi bukan suatu pernikahan. Termasuk, jika kamu ingin tahu apakah Argan itu anakku atau bukan. Dan jawabannya bukan .....”
Rei berkata lagi sambil satu tangannya menyentuh daguku, dan dia berkata dengan dalam menatapku.
“Aku ga senista itu sampai menyembunyikan anakku sendiri selama bertahun – tahun tanpa memberikannya status yang jelas. Kalau masih sulit percaya, aku bisa meminta untuk melakukan tes DNA antara aku dan Argan .....” kata Rei lagi.
Nama anak itu Argan toh?.
“Serius kamu mau ngelakuin itu tes DNA kalau aku bener – bener minta kamu melakukannya? .....” cetusku kemudian.
“Sangat serius. Meski mungkin akan sulit mendapatkan ijin dari Irly untuk itu. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mewudkan keinginan kamu itu untuk melakukan tes DNA antara aku dan Argan—“
--
“Denger, aku akan semua jawab pertanyaan kamu tanpa terkecuali, dengan sejujur – jujurnya. Tapi nanti aja saat kita udah balik ke apartemen kita.” Rei lanjut bicara. “Sekarang kamu lapar kan?” tanyanya kemudian.
“Iya.”
Aku menjawab seraya mengangguk polos.
Reiji pun tersenyum sambil mengusap satu sisi pipiku.
“Makanannya udah siap di bawah. Ga bisa aku bawain kesini, karena ada Ammar yang kayaknya mau makan bareng kita.”
“Siapa Ammar?”
Akupun spontan bertanya.
“Orang kepercayaannya Tuan Alva .....”
“Oh .....” tanggapku.
Lalu Rei mengajakku untuk segera turun ke lantai bawah, yang langsung aku iyakan.
Namun sebelumnya, Rei mengajakku ke walk in closet dalam kamar penthouse tempatku dan Rei berada sekarang ini, untuk memilih pakaian yang ada di salah satu lemarinya.
❇❇
Reiji telah menggandeng Malia untuk turun ke lantai bawah dan mengarah ke meja makan dimana Ammar telah duduk di salah satu kursinya.
Dimana Ammar yang telinganya menangkap suara langkah itu, sontak menoleh dan tersenyum ke arah Reiji dan Malia yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Dan sebelum sampai untuk dekat kepada Ammar, Malia yang sedang memperhatikan pria itu, sempat berbisik kepada Reiji.
“Seinget aku, orang kepercayaannya bos kamu yang namanya Alva itu bukan dia deh. Yang aku sempet ketemu di kantor maskapai kamu waktu kamu ajak aku ke sana karena disuruh mereka? .....”
Reiji terdiam sejenak.
“Oh. Yang itu waktu itu ketemu kamu orang kepercayaannya Tuan Alva juga. Kafeel namanya kalo yang itu. Yang ini Ammar.”
Malia pun manggut –manggut kecil setelah mendengar ucapan Reiji.
Namun kemudian Malia terdengar berucap spontan.
Dimana Reiji sontak saja tercengang sambil langsung menoleh tajam kepada Malia.
“Ganteng – ganteng banget ya orang kepercayaannya bos kamu itu, Rei—“
“Heu? .....”
Reiji yang tercengang sekaligus tidak percaya mendengar Malia memuji laki – laki lain di depannya dengan tanpa beban.
Yang mana membuat Reiji jadi geregetan sendiri.
Hingga,
“Am, ini istri gue Malia. Yang ini Ammar. Oke sekarang kita makan, abis itu siap – siap pulang.”
Tanpa Reiji memberikan kesempatan pada Malia dan Ammar untuk berjabat tangan.Membuat Malia dan Ammar jadi terheran - heran dengan sikap Reiji itu.
Yang bahkan duduk -- dan mendudukkan Malia dengan tergesa di salah satu kursi meja makan, dengan Reiji yang mengambil tempat di antara Malia dan Ammar.
__ADS_1
❇❇❇❇
Bersambung........