
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca....
***
MALIA
Aku jadi memikirkan Reiji, saat aku telah selesai berbalas pesan dengannya setelah selama lima hari belakangan ini, aku seolah putus komunikasi lewat ponsel dengan Reiji.
Ya, seperti itu. Setelah pertengkaranku dengan Reiji lima hari yang lalu, aura dingin mendominasi diantara aku dan Reiji.
Bahkan Reiji menjadi lebih pendiam.
Aku dan diapun hanya bicara seperlunya saja.
Tapi entah kenapa, jika aku pikirkan, seperti ada yang aku rasa hilang saat Reiji menjadi lebih pendiam, dan ponselku sepi dari pesan chatnya, atau seharian aku tidak mendengar suaranya-apalagi mengobrol, padahal kami bertemu dan berada di atap yang sama, walau hanya sebentar saja bertatap muka.
Waktu bekerja kami yang membuat sesi tatap mukaku dan Reiji menjadi begitu sebentar dalam minggu ini. Yang seolah mendukung ‘perang dingin’ ku dengan Reiji, karena jadwal kerja Reiji-yang mana sudah tidak aku perhatikan lagi, sepertinya selalu ‘berlawanan’ dengan keberadaanku di rumah.
Reiji sampai di apartemen selalu disaat aku tidur dari sejak pertengkaran kami itu.
Atau pulang saat aku telah berangkat kerja. Dan bila kebetulan bertemu pada saat sarapan, kami sama-sama bungkam.
Dan bicara, ketika aku atau Reiji yang terlebih dulu berangkat kerja.
Hanya untuk sekedar berpamitan.
---
Rasanya, separuh hatiku menginginkan Reiji berada disisiku saat ini.
Tapi aku juga tak kuasa menampik keinginan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Irsyad.
Namun setelah mendapat pesan chat dari Reiji setelah lima hari kami tak saling berkomunikasi, sedikit banyak membuatku jadi memikirkan Reiji.
Lalu pada akhirnya, aku memutuskan untuk membatalkan rencana nonton dengan Irsyad selepas kami makan bersama di sebuah restoran jepang yang berada dalam satu Mal di bilangan Jakarta Selatan.
Dan ya, jika aku pikir-pikir masalah sebenarnya bukan pada rumah tanggaku dan Reiji, melainkan aku sendirilah yang bermasalah, lalu berimbas pada Reiji. Yah, meski diawal pemicunya adalah soal Reiji yang sampai sekarang masih aku anggap membawa jejak masa lalunya bersama Shirly dalam hidup kami, yang seharusnya dimulai dari nol.
Sejak itu, aku rasa, hubunganku dan Reiji mulai bermasalah, lalu ditambah lagi dengan kehadiran Irsyad. Semakin membuat hatiku bermasalah. Namun seolah masalah itu menguap saat aku bersama dengan Irsyad.
Aku lebih banyak tertawa bersamanya.
__ADS_1
Well, setidaknya aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja di depan Irsyad. Menutupi kegelisahanku di depannya.
Walau sedikit banyak, Irsyad lah yang sebenarnya menjadi sumber kegelisahan hatiku ini.
Namun begitu, aku selalunya tak pernah mampu menolak jika Irsyad mengajak untuk bertemu-atau mungkin memang aku yang enggan untuk menolak setiap undangannya untuk bertemu.
Dan itulah yang terjadi selama beberapa hari ini.
Semakin intens pertemuanku dan Irsyad, tanpa memikirkan masalahku dan Reiji.
***
Malia tiba di apartemennya dan Reiji di jam delapan malam kurang lebihnya.
Sedikit terkejut, karena Malia mendapati jika Reiji telah ada di dalam apartemen mereka.
“Malem, Yang.”
Reiji yang sedang berkutat di pantri apartemen itu langsung menyapa Malia, kala ia menyadari istrinya itu sudah sampai di apartemen.
“Malem, Rei.” Malia membalas sapaan Reiji.
“Kamu udah makan?”
“Eenngg-----“
Reiji langsung berucap lagi, menjawab sendiri pertanyaannya, saat Malia terlihat ragu untuk menjawab.
“Pas banget kamu sampenya.” ucap Reiji sambil berbalik badan dan kembali nampak berkutat di dapur pantri. “Aku bikin spaghetti-----“
Malia pun mengucap oh saja dengan samar.
“Yuk makan bareng-----“
Ajak Reiji sambil ia mengangkat dua wadah berisikan spaghetti yang ia buat.
“Mumpung baru mateng ..”
Reiji melanjutkan ucapannya.
“Mm,” Malia menggumam. “Iya ..”
Namun kemudian Malia mengiyakan ajakan Reiji pada akhirnya, meskipun ia rasa jika perutnya sudah kenyang karena belum lama memang ia makan bersama Irsyad.
“Tapi aku mandi dulu ..”
__ADS_1
“Kalau kamu mandi dulu, nanti keburu dingin ini spaghettinya, Yang ..”
Reiji yang nampak sedang mengambil air minum, itu langsung menyahut kala Malia sedang mencoba mengulur waktu demi membuat ruang dalam perutnya untuk spaghetti yang telah dimasak oleh Reiji.
Malia menghela nafasnya dengan samar.
“Tapi kalau memang kamu ga mau makan, ya ----“
“Aku ikut makan.”
Akhirnya tanpa lagi berusaha menolak, Malia menyusul Reiji untuk duduk di meja makan setelah meletakkan tasnya di sofa ruang tamu dengan sembarang.
‘Ini yang namanya senjata makan tuan.....’
Malia membatin pasrah.
Sadar diri karena tadi telah terlanjur berbohong pada Reiji tentang keberadaannya.
Yang entah kenapa Malia merasa-jika ia pikir lagi, berbohong pada Reiji jika dia sedang bersama Irsyad saat ini.
Toh ia dan Irsyad juga hanya makan saja.
Pasti Reiji juga suka makan bareng sama Shirly kan?.
Tapi ya sudah-Malia pikir. Ia sudah kadung berbohong pada Reiji jika tadi dia sudah berada di jalan saat Reiji menanyakan keberadaannya.
Pastilah Reiji berpikir jika dirinya belum makan.
Dan Reiji sudah sampai masak begitu.
Selain jika Reiji mungkin saja akan merasa tersinggung jika Malia menolak-lalu jujur bahwa sebenarnya dia telah makan bersama Irsyad sebelum pulang, Malia rasa tak tega memberikan penolakan pada Reiji yang telah repot memasak, walau hanya spaghetti saja.
Dan lagi, rasanya Malia sudah merasa cukup bersalah pada Reiji biar bagaimanapun juga. Habis mau bagaimana? Malia juga ingin merasakan bahagia menghabiskan waktu bersama orang yang ia cintai. Walaupun hanya sekedar melakukan hal yang biasa saja, seperti makan bersama, atau pergi nonton sesekali.
Yah, walaupun sebagai seorang wanita yang sudah menikah, hal itu tidak dibenarkan sama sekali-menghabiskan waktu bersama laki-laki lain yang statusnya bukan suami. Dan Malia tahu itu.
Tahu bahwa dirinya begitu egois pada Reiji.
“Yang .....” panggil Reiji disela dirinya dan Malia sedang menyantap spaghetti buatannya.
“Ya? ....” jawab Malia.
“Kamu ada mampir kemana dulu sebelum pulang? ....”
***
__ADS_1
Bersambung...