WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 288


__ADS_3

Selamat membaca....


*********************


“Gue bilang jauhin anak lo dari gue!” adalah seruan Reiji yang ia tujukan pada Shirly, dimana perempuan itu tahu-tahu muncul bersama anak dan dua orang lain yang Reiji kenal kehadapannya yang sedang bersama Malia, kala sepasang suami istri itu sedang berjalan di luar gedung untuk pergi ke sebuah gerai minuman yang ada di area gedung apartemen tempat tinggal mereka tersebut.


Dan seruan Reiji itu, cukup menciptakan keterkejutan pada mereka yang sedang berada cukup dekat dengan Reiji sekarang ini.


Termasuk Malia sendiri.


“Rei..”dimana Malia kemudian pelan bersuara untuk menyadarkan Reiji, bahwa seruannya tadi cukuplah kencang.


“Sorry bikin kamu ga nyaman lagi, Yang..” Reiji langsung menoleh kepada Malia setelah ia mendengar suara Malia yang seolah sedang mengingatkannya itu, dan menanggapi ucapan Malia dengan suara yang datar namun Reiji mengeratkan genggamannya pada Malia.


Sedikit senyum juga Reiji ulas untuk Malia.


Kemudian Reiji kembali beralih pada Shirly dan Reiji langsung bicara lagi.


Tidak meninggi suara Reiji, namun tatapan tajamnya kepada perempuan itu sudah cukup menjelaskan jika Reiji serius dengan ucapannya.


“Gue udah pernah bilang, persahabatan kita udah selesai. Yang mana artinya gue udah ga ada urusan lagi sama lo, termasuk sama anak lo..” Normal nada suara Reiji memang, namun penegasan tertangkap dari raut wajah serta dari cara Reiji bicara pada Shirly. Dan hal itu tertangkap oleh mata Malia, pun dapat ia rasakan.


“Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah coba temuin gue lagi dan itu berlaku buat anak lo,“ putus Reiji dengan sekali lagi nampak tegas bicara pada Shirly, selain ada gurat geram juga di wajah Reiji saat ini—namun tidak terlalu.


****


“Papii—“


“Ji—“


“Sebentar ya, Yang? Kamu jangan kemana-mana.”


Reiji berbicara pada Malia saat rengekan dan suara Shirly serta satu sahabat lelaki Reiji terdengar.


****


Reiji melepaskan genggaman tangannya pada Malia, selepas Malia menganggukkan kepalanya.


Didetik berikutnya, Reiji sudah agak merundukkan tubuhnya dan wajahnya langsung bertatapan dengan wajah anak lelaki Shirly.


Dimana memang sudah sedari tadi anak itu mendongak menatap Reiji dengan harapan agar Reiji menggendongnya, namun hal itu tidak Reiji lakukan.


Reiji hanya memegangi bahu anak itu. Kemudian Reiji bicara padanya.


“Argan.. Argan ke Mami, ya?” ucap Reiji pada anak lelaki Shirly itu dengan senyuman tipis yang Reiji ulas kala bicara pada bocah itu.


“Ndak mauu.. Algan maunya sama Papi sekalang!” sahut bocah tersebut dengan merengek, dan Reiji nampak menghela nafasnya kemudian bicara lagi pada anak lelaki Shirly itu.


“Argan, mulai sekarang, ini bukan papinya Argan—“


“Ji!” dimana dua suara kemudian menukas dengan cepat ucapan Reiji barusan.


“Ini papinya Algaan,” Argan yang merengek dan mulai menangis.


“Bukan lagi—“


“Ji lo apaan sih??!!”


Seruan yang berupa sergahan bernada tidak senang langsung terdengar dari salah seorang sahabat lelaki Reiji dan Shirly yang datang bersama dengan perempuan itu dan anaknya.


“Lo jangan ikut campur, Fan.”

__ADS_1


Reiji langsung merespons salah seorang sahabat lelakinya yang bernama Irfan itu, dengan Reiji yang telah menegakkan kembali dirinya.


Datar, namun agak tajam tatapan Reij pada Irfan.


****


“Gue bilang lo kelewatan—“


“Gue bilang jangan ikut campur—“


“Rei.” Malia menyentuh lengan Reiji yang sekarang sedang berhadapan dengan salah seorang sahabat lelakinya itu, dan mulai nampak ada ketegangan diantara mereka.


“Papii..” rengekan Argan terdengar lagi. Dan Reiji kemudian membuang wajahnya yang sedang berhadapan dengan Irfan, lalu menatap pada Argan yang menggoyangkan celananya.


Dimana Shirly sudah mendekap bahu anak lelakinya itu.


Sepintas saja Reiji menatap Argan. Bahkan bisa dikatakan Reiji hanya melirik saja.


****


Reiji yang kini sedang memandang pada Shirly itu kemudian bicara padanya. “Bawa anak lo. Jauhin dari gue mulai sekarang—“


“Tega banget lo, Rei.”


Dimana ucapan Reiji ditukas dengan cepat oleh Shirly yang sudah membawa anak lelakinya itu dalam gendongannya.


“Papii.. Algan angen sama Papii..”


Lalu rengekan Argan terdengar lagi, sambil anak itu yang sudah menangis merentangkan tangannya ke arah Reiji dengan penuh harap. Membuat rasa tak tega jadi muncul di hati Malia karena sikap Argan sekarang.


****


MALIA


Namun aku memilih untuk tidak masuk campur dalam urusan Rei dengan si Shirly itu—anaknya dan satu orang yang aku kenali sebagai salah satu dari tiga sahabat lelaki Rei.


Aku bersuara dan bergerak, hanya pada saat Rei berseru agak keras saat awal-awal tadi dan saat ia nampak geram ketika sahabat lelakinya itu maju dan nampak juga kegeraman di wajahnya.


“Rei.”


Begitu saja ucapku.


Tapi nyatanya berhasil membuat Rei jadi nampak tenang.


Walau datar dan dingin ekspresinya memandangi Shirly dan anak lelakinya itu yang kini sudah berada dalam gendongan ibunya.


Dan perempuan yang aku sebut sebagai bibit pelakor itu juga bersuara sambil memandang dengan tatapan memelas pada Reiji.


“Tega banget lo, Rei.”


Begitu ucap Shirly. Nampak betul dia mencoba mendapatkan simpati Rei dalam pandanganku.


Dan dengan si Shirly yang seperti itu, rasanya tidak salah kalau aku memberikannya julukan ‘Bibit Pelakor’.


Karena sikapnya sekarang menggambarkan itu.


Memelas pada suami orang dengan menggunakan anaknya untuk meluluhkan, tanpa dia peduli ada istri dari suami yang sedang ia coba dapatkan perhatiannya.


----


“Lo sendiri yang ngejanjiin gue terkait Argan waktu gue putus asa waktu itu—“

__ADS_1


“Hhh.” Rei menghela nafasnya setelah Shirly berucap seperti itu. Aku langsung didera was-was, apakah terkait janji Rei pada perempuan itu yang pernah aku baca di salah satu chatnya, Rei akan melunak?


“Lo janji bakal jagain gue, jagain Argan. Selain lo akan bertanggung jawab sama masa depan Argan. Itu lo sendiri yang ngucapin janji itu tanpa gue minta..” ucap Shirly lagi, dimana Rei sedang agak sedikit mendongak.


Dan si Shirly itu melirikku, seolah mengejekku karena Reiji yang menghela nafasnya itu seperti teringat akan janjinya pada Shirly. Lalu perempuan itu bicara lagi, dimana salah seorang sahabat Rei itu tidak menginterupsinya.


“Diantara Irfan, Aldo sama Babas, lo yang paling deket sama Argan sampai Argan mengira lo beneran ayahnya—lo liat ga nih gimana dia yang mendapat penolakan dari lo?.. lo yang bangun hubungan lo sampe Argan seperti ini sama lo—tega, lo sama Argan, Ji?..”


Shirly melirikku lagi dimana aku memang memperhatikannya.


“Jangan karena istri lo yang cemburu buta sama gue—“


Aku membelalakkan mataku secara spontan kala kalimat itu kemudian keluar dari mulut si Shirly.


Sudah hendak menjawab ucapannya si Shirly yang aku nilai mengejekku itu. “Jaga mulut lo.” Namun Rei yang keburu bicara.


“Ya abis—“


“Jangan sangkut-pautkan istri gue dengan keputusan gue soal anak lo.”


Rei dengan cepat menukas perempuan itu yang hendak membela diri sepertinya.


“Janji gue sama lo terkait Argan itu, waktu gue belum nikah. Jadi udah ga berlaku sekarang, karena dengan ngurusin anak lo, gue udah menggores perasaan istri gue dan itu salah. Terlebih dia bukan Cuma istri. Tapi perempuan yang gue cinta. Yang harusnya anak dari dia yang punya hak atas gue. Ngerti lo?—“


“Tapi, Ji—“


“Sekarang seperti yang gue bilang, lo maupun anak lo jauh-jauh dari hidup gue dan jangan pernah muncul lagi di hadapan gue..”


Aku yang tidak jadi membalas ucapan si Shirly yang seolah mengejekku itu, kini diam membisu memperhatikan Rei yang sedang serius bicara padanya.


Dan kalimat Rei, cukup membuatku jumawa—selain melambung. Gantian aku yang melemparkan tatapan mengejek pada si Shirly itu yang memang langsung melirik padaku ketika Rei menunjukku dengan satu tangannya yang bebas, dimana satu tangannya lagi sudah lagi dengan erat menggenggam tanganku sejak si Shirly itu mengejekku dengan mengatakan aku yang cemburu buta padanya.


“Asli lo udah bener-bener kelewatan Ji!” suara sahabat Rei—Irfan—membuatku yang sedang mengejek Shirly dengan tatapan sembari aku tersenyum dengan makna yang sama namun samar, menarikku dari keasyikanku mengejek Shirly tanpa suara, dan Shirly yang memang sesekali melirikku saat Rei sedang meninggikanku itu--pasti menangkap ejekan tanpa suaraku itu padanya.


Dan pasti dia sedang dongkol sekali sekarang, lalu hatinya pasti sedang menggerutu.


Haha!


----


Tak lama setelah menyergah ucapan Rei dengan mengatai suamiku itu kelewatan sikapnya,  Irfan lalu berkata lagi,


“Dan seperti kata Irly, kalo emang istri lo cemburu sama dia—“


“Lo Jangan Ikut Campur Gue Bilang!” Tapi kalimat terakhir Irfan itu tak sampai selesai, karena dengan cepat Reiji memotongnya dengan seruan yang menggelegar—berikut tangan Rei yang tadinya menggenggamku, terangkat dan menunjuk tajam ke arah Irfan dengan ekspresi Rei yang nampak begitu geram.


Ekspresi dari Rei yang selama ini tidak pernah aku lihat.


----


“Gue Harus Ikut Campur!” Irfan sama berseru kencang dengan tatapannya yang tajam pada Rei. “Karena Ini Soal Persahabatan Kita Termasuk Soal Kejamnya Lo Sama Argan Yang Rusak Gara-Gara Lo Bucin Mampus Sama Istri Lo Yang Cemburuan—“


Kalimat Irfan terdengar menyalahkan—selain mengejek Rei dan terdengar juga mengejekku—merendahkanku bahkan.


Didetik dimana aku mendengar Rei mengumpat dengan kasar. “Anjng!*“


Dan didetik berikutnya,


BUGH!


Rei sudah menghantam wajah Irfan dengan tinjunya.

__ADS_1


******


Bersambung.....


__ADS_2