WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 81


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Aku sumringah saat Avi mengatakan dia akan menemaniku menginap selama Reiji belum kembali dari tugasnya di Monaco.


Setidaknya aku tidak akan gabut selama Reiji ga ada, dan mungkin keberadaan Avi dapat mengalihkan rasa curigaku yang belum sepenuhnya hilang pada abangnya itu, sekaligus juga mengalihkan pikiranku yang sedang dilingkupi soal Irsyad.


Untuk curhat pada Avi soal kedua hal itu, masih sedang aku pikirkan.


Karena kedua hal tersebut adalah masalah rumah tanggaku yang seharusnya aku simpan tanpa harus aku beberkan pada siapapun.


Tapi aku dan Avi biasanya saling berbagi tentang beragam hal sedari dulu.


Namun mengingat hal yang ingin aku bagi ini adalah masalah rumah tanggaku, dimana Avi kini bukan hanya sahabat, tetapi juga adik iparku-yang mana menyangkut hubunganku dengan abangnya itu, maka aku harus berpikir panjang untuk curhat pada Avi.


Terlebih soal Irsyad.


“Kalo sekarang gue ga bisa nemenin lo, Jeng ...”


Jawaban Avi setelah aku mengajaknya ketemuan saat ini.


“Yaaaahhhhh.” Aku mengeluh panjang. “Kenapa emangnya? .....”


“Ada deeehhhhhh.” Kudengar kekehan Avi setelahnya.


Jika aku tangkap dari nada suara Avi, sepertinya sahabatku itu sedang bahagia?....


“Udah punya pacar lo ya????...”


Aku bertanya sekaligus menebak.


“Hahahahahaha.”


Avi tergelak.


“Nanti gue kenalin sama dia.....”


Ternyata benar dugaanku.


“Seriusan Vi?!”


Aku bertanya dengan antusias, dan kudengar Avi yang sepertinya sedang cengengesan di sebrang telepon.


“Begitulah ......”


“Kok waktu terakhir kita ketemu lo ga cerita?...” ucapku. “Gitu ya sekarang, ga mau terbuka sama gue?!”


Aku mencebik. Kemudian aku tersadar sendiri.


Aku seolah merajuk ketika mengetahui jika Avi sudah memiliki kekasih saat ini, dan dia tidak terbuka padaku.


Padahal aku sendiri? ... Bukankah aku sudah tak lagi terbuka pada Avi seperti dulu?.


Sudah seolah sedikit menutup diri pada Avi, sejak ia menjadi adik iparku.


Yah, meskipun saat aku menginap di rumah orang tuaku, lalu menyambangi kedua mertuaku, aku menampakkan sikap bahwa hubungan pernikahanku dan Reiji baik-baik saja.


Dan yah lagi, sudah baik-baik saja memang saat aku datang berkunjung kesana bersama Reiji yang kemudian pergi bertugas dan kembali di esok paginya dan langsung pulang ke rumah orang tuaku, guna menyusulku yang menginap disana.


“Baru jadian kemaren eike, Jeng ...” kata Avi.


Tak berapa lama sambungan telepon dan Avi berakhir.


Setelah Avi mengatakan dia akan datang sedikit agak malam ke apartemenku dan Reiji untuk menemaniku yang akan tinggal sendirian karena Reiji sedang bertugas ke Monaco dan baru akan kembali lusa pagi.


Juga sedikit pembahasan mengenai pacar Avi yang aku tebak siapa orangnya.


Kebetulan juga Avi sedang berada di Jakarta sampai beberapa hari ke depan, sebelum ia kembali ke Jogja.


Sejak lulus kuliah, dan setelah pernikahanku dengan Reiji, Avi berdomisili di Kota Gudeg tersebut, untuk mengurusi bisnis keluarganya yang berpusat disana, karena Reiji memilih untuk menjadi seorang pilot.


Dan memang selama beberapa hari ini, aku dan Avi sudah punya beberapa rencana untuk menghabiskan waktu bersama selama ia ada di Jakarta.


Tadinya dari pagi aku ingin menanyakan pada Avi mengenai jadwalnya di Jakarta yang engga senggang-senggang amat itu, tapi lupa saat sudah berkutat dengan pekerjaanku di kantor.


Tadinya juga, aku berencana untuk menginap lagi di rumah orang tuaku selama Reiji belum kembali dari Monaco, tapi aku urungkan niatku itu, mengingat jika aku berencana untuk bebenah kamarku dan Reiji di apartemen.


Aku membuka aplikasi taksi online dalam ponselku untuk memesan satu unit yang akan mengantarku sepulang kerja.


Karena saat pergi ke kantor tadi, aku diantar oleh Reiji yang mengemudikan mobilnya sendiri, yang aku suruh ia bawa ke bandara.


Padahal Reiji sudah mengatakan jika ia akan pergi bertugas ke Monaco.


Yang mana jika mobilnya ia bawa, mobil akan diinapkan di bandara.


Tapi aku katakan pada Reiji, ya tak apa.


Toh masih ada mobilku sendiri yang terparkir di parkiran apartemen, jika aku ingin pergi kemana-mana saat Reiji tidak ada.


***


Aku sudah melakukan pesanan pada sebuah aplikasi jasa, setelah memesan satu unit taksi online.


Namun tidak untuk langsung pulang ke apartemen, melainkan aku sedang ingin menikmati sushi di restoran sushi favoritku. Sayang sekali Avi tidak bisa menemaniku saat ini.


Padahal kalau sedang  bersama, kami akan melupakan segala ke-jaim-an untuk memesan banyak porsi untuk kami sambat tanpa perduli pada orang-orang di kanan dan kiri kami yang mungkin saja akan terperangah melihat porsi makanku dan Avi.


Sushi, adalah salah satu makanan favoritku, juga Avi. Juga makanan favorit, Irsyad!.


Oh Tuhan, mengapa hanya dengan melihat sosok yang mirip dengannya, membuatku seolah ingin bernostalgia ke tempat yang seringnya aku dan Irsyad datangi?.


Bagaimana jika yang kulihat itu adalah benar Irsyad? .... Dan bagaimana jika dia datang menemuiku?. Apa kami akan mengulang kenangan?.


Demi Tuhan Lia, lo sudah menikah!.


Aku ingin makan sushi.

__ADS_1


Makanan favoritku.


Tidak ada hubungannya dengan Irsyad!.


*****


Pada akhirnya aku memesan satu unit taksi online yang telah mengantarku ke sebuah kawasan gedung yang banyak memiliki restoran, yang juga memiliki bioskop, gym, serta memiliki area perkantoran dalam satu kawasan gedung tersebut.


Karena di dalam area gedung tersebut, ada sebuah restoran sushi yang menjadi langgananku untuk menikmati satu kuliner itu, dengan beragam menu yang sesuai dengan tema restoran itu sendiri.


Restoran yang sering aku datangi bersama Avi, yang juga mem-favorit-kan restoran sushi tersebut.


Restoran yang juga aku perkenalkan pada, Irsyad.


Haish, kenapa lah aku harus juga memperkenalkan restoran ini pada Irsyad, hingga aku memiliki banyak kenangan makan berdua bersamanya disana.


Yah, hanya makan memang.


Namun ‘hanya makan’ itu, sempat membuat hatiku berbunga-bunga, bisa jalan berdua bersama Irsyad.


Dan saat itu..


Kami nampak seperti pasangan.


Aku tak tahu bagaimana perasaan Irsyad padaku.


Dia pun tak pernah mengungkapkannya.


Tapi setiap kali kami jalan berdua, Irsyad sering menggenggam tanganku.


Hal yang membuat rasaku kian besar padanya disetiap waktu, berikut harapku.


Harapan semu, yang tak pernah berujung pada satu kisah cinta yang aku harapkan bersama Irsyad.


Sudahlah, lebih baik aku segera masuk ke restoran sushi favoritku, yang sudah agak ramai ini. Memanjakan lidahku, sekaligus mengisi perutku.


Lalu memesan beberapa item varian sushi yang aku Avi suka, untuk kubawa ke apartemen, dan menyantapnya bersama Avi nanti.


Aku mengambil tempat duduk di non-smoking area pada restoran sushi favoritku ini, setelah salah seorang waitress restoran menghampiriku dan bertanya mau tempat untuk berapa orang, sekaligus tempat duduk di area mana yang aku inginkan.


Aku sedang melihat buku menu, dengan sesekali melempar pandanganku ke arah pintu masuk.


Juga kadang melihat ke beberapa tamu restoran yang ada disekelilingku, yah, mungkin saja ada yang aku kenal, agar aku tidak duduk makan sendirian.


Aku sudah menentukan pilihan sushi yang ingin kupesan berikut segelas ocha dingin.


Dan aku baru saja hendak mendongakkan kepalaku untuk memanggil waitress restoran.


“Lia?”


Aku dengar seseorang memanggil namaku dengan pelan.


*****


“Lia?”


Suara seorang lelaki yang lebih terdengar seperti gumaman memastikan, membuat Malia mendongakkan sedikit kepalanya.


Lalu dengan cepat Malia bangkit dari duduknya, bahkan ia sampai terlonjak dari duduknya.


Melihat siapa pria dengan kemeja berwarna coklat tua dengan tangan kemeja yang tergulung sampai siku, yang Malia dengar memanggil namanya.


‘Oh Tuhan!’ Malia berseru tak percaya dalam hatinya.


Dimana pria berkemeja coklat tua yang tangan kemejanya tergulung sampai siku, yang memperlihatkan kedua lengannya yang putih bersih itu, tersenyum pada Malia.


“Hai, Lia?....”


“Ir-Irsyad?!..”


*****


MALIA


Aku rasanya tidak percaya dengan penglihatanku.


Tapi nyatanya sosok yang selama beberapa hari ini kembali mengusik ketenanganku walau lewat dugaanku saja, kini benar-benar ada di hadapanku.


Rambut berpotongan side-part-short, serta hidung betetnya, berikut senyuman yang sama seperti senyumannya dulu, setiap kali ia tersenyum padaku, membuat jantungku berdegup kencang, setelah aku terlonjak dari tempat dudukku.


“Hai, Lia?....”


Aku sungguh tidak percaya, tapi itu sungguh memang dia.


“Ir-Irsyad?!..”


Aku tergagap.


Berarti benar, jika sosok yang hari itu aku lihat bertabrakan pelan dengan Reiji di toko roti itu adalah Irsyad.


Irsyad yang sama, yang aku kenal dulu.


Hanya saja, tidak aku lihat kacamata minus yang biasa bertengger di atas hidungnya.


Tik!.


Aku terkesiap kala ada jentikan jari tepat di depan wajahku.


Aku tersadar.


Masih menatap pada Irsyad yang kudengar berdecak kecil dengan masih tersenyum dan geleng-geleng, dimana ia juga sedang menatapku.


“Kak-Kak Irsyad? ... Kakak ada di Jakarta?...” tanyaku yang sedikit tergagap, saking aku terkejut dengan pertemuanku dengan Irsyad saat ini.


“Iya ....” jawab Irsyad dengan masih tersenyum menatapku. “Kamu apa kabar, Lia?”


“Ba-Baik, Kak. Kak Irsyad sendiri apa kabar?”


Entah Irsyad menyadari kegugupanku ini atau tidak.

__ADS_1


“Duduk, Kak?”


Aku menawarkan Irsyad untuk duduk, seraya aku juga bergerak untuk duduk di tempatku lagi.


Menjaga diriku agar tidak tersungkur ke arah Irsyad, karena aku merasakan kakiku sedikit gemetar.


Kulihat Irsyad mengangguk, dan ia lantas mengambil tempat duduk kosong yang berada bersebrangan dengan tempat dudukku.


“Kamu sendirian, Lia?..... Atau sedang menunggu teman?....”


“Aku sendirian, Kak”


Irsyad manggut-manggut pelan.


“Kakak sendiri?”


“Well, kebetulan, aku juga sendirian.”


Irsyad menjawab dengan antusias.


“Jadi, Kak Irsyad apa kabar?...” Ku ulang pertanyaanku.


Karena otakku mendadak kosong, untuk merangkai pembahasan apa yang harusnya aku katakan pada Irsyad sekarang ini.


“Seperti yang kamu lihat, Lia, aku baik.”


Irsyad tersenyum lembut kepadaku, dengan tatapan yang juga sama lembut dengan senyumannya.


“Dan menjadi sangat baik, karena bisa ketemu kamu lagi ...”


Aku bergeming.


Apa maksudnya itu, Irsyad?.


“Kamu sudah menjadi wanita karir sekarang .... Jadi salah satu direktur di Future Insurance? ...”


Aku terkekeh kecil.


“Maunya sih begitu, tapi sayangnya aku masih jadi karyawan remahan.”


Aku menimpali ucapan Irsyad itu, dengan rasa heran dalam hatiku.


Bagaimana Irsyad tahu jika aku bekerja di Perusahaan tempatku bekerja itu?.


Irsyad terkekeh mendengar timpalanku barusan.


Dan setelahnya, aku dan Irsyad sama-sama terdiam sejenak.


“Kamu udah pesen sesuatu?” tanya Irsyad yang memecah kesunyian kami.


Aku menggeleng.


“Ya udah, aku panggilin waitress ya?.....”


Aku mengangguk saja.


Lalu Irsyad berinisiatif untuk memanggil seorang waitress dengan mengangkat tangannya.


“Kak Irsyad ga ikutan order? ...”


Aku sontak bertanya, setelah seorang waitress yang tadi dipanggil Irsyad datang dan mencatat pesananku, lalu pergi kemudian.


“Aku sudah selesai makan, saat aku memperhatikan kamu yang baru duduk disini tadi...”


Dan aku ber-oh ria saja.


Lalu sejenak aku dan Irsyad terdiam lagi.


“Bentar ya?” pamitku pada Irsyad untuk mengecek ponselku yang nada notifikasinya berbunyi.


Irsyad mengangguk.


Aku ambil ponsel dari dalam tasku dengan tangan kiriku, karena memang tasku masih berada di atas meja.


Belum sempat aku pindahkan, karena keburu syok melihat kemunculan Irsyad tadi. Aku mengangkat tasku dari meja, dan memindahkannya ke atas pangkuanku.


Lalu mengangkat ponselku dan membuka ponselku dengan kedua tangan yang setengahnya aku topangkan di pinggir meja, dengan ponsel yang kupegang berjarak dari piring yang berada di hadapanku.


Pesan chat dari Avi yang masuk.


Yang menginformasikan jam berapa dia akan datang ke apartemenku dan Reiji.


Aku membalas chat Avi, sebelum aku meletakkan ponselku diatas meja, samping sumpit yang ada di sebelah piringku.


Aku kemudian menolehkan lagi wajahku pada Irsyad, dimana dia sedang menatapku dengan tatapan yang ku tangkap ada tanda tanya di sana.


Dan memang iya, jika tatapan Irsyad padaku saat ini adalah sebuah tatapan tanda tanya, sekaligus sorot rasa penasaran.


Karena tak lama Irsyad menggumam,


“Lia ....”


Pandangan Irsyad tertuju ke arah tangan kiriku.


“Cincin di jari manis kamu itu? ...”


Irsyad menggantung kalimatnya.


“Kamu...... Sudah menikah? .....”


Lalu Irsyad bertanya dengan sorot mata, yang...


Ah, entahlah...


*****


Bersambung....


Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca karya ini.

__ADS_1


Loph Loph,


Emaknya Queen


__ADS_2