WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 287


__ADS_3

Selamat membaca....


....................................


“Kami pulang dulu ya, Pa, Ma?” ucapan yang keluar dari mulut Reiji dengan mewakili Malia pada orang tua mereka untuk berpamitan. “Insya Allah minggu depan aku sama Lia nginep di sini..” ucap Reiji lagi, lalu menoleh pada Malia yang ia sudah gandeng tangannya. “Ya, Yang?..”


Kemudian Reiji menanyakan persetujuan Malia. “Iya.” Dimana Malia langsung mengiyakan ucapan Reiji.


Reiji langsung tersenyum pada Malia, lalu beralih lagi kepada orang tua keduanya yang mengantar keduanya yang hendak kembali ke tempat tinggal mereka sendiri---termasuk juga pada Avi dan pacarnya.


“Tapi kalo Rei ga tugas itu juga, ya?..”


“Ya kalo aku tugas dan ga pulang, justru aku pengennya kamu nginep di sini atau di rumah papa Tino dan Mama Alice—“


“Nah betul tuh..” sambar Avi pada Reiji yang menimpali ucapan Malia.


Dimana celetukan Avi itu kemudian diaminkan oleh para orang tua.


***


“Pokoknya pas beneran senggang, langsung ya kalian cus nginep di sini sama di rumah Papa Tino dan Mama Alice?”


Mamanya Malia kemudian bersuara.


“Atau bisa juga kami yang nginep di apartemen kalian kalo nanti Reiji emang ada tugas dan ga pulang selama beberapa hari.”


“Iya, Pa..” jawab Malia menanggapi ucapan papa kandungnya barusan.


Yang kemudian langsung juga ditimpali oleh Reiji. “Iya bisa juga begitu.”


***


Malia dan Reiji sudah hendak berlalu dari hadapan mereka yang sudah mengantar keduanya sampai ke teras rumah orang tua Malia. Namun saat hendak berpamitan ulang, sebuah pertanyaan yang membuat Malia dan Reiji sama tertegun—tercetus dari mulut mama kandungnya Reiji tentang promil yang setahu mereka sedang Malia dan Reiji jalani.


Dimana sontak membuat Malia dan Reiji bingung menjawabnya. Apalagi Malia.


“Dipause dulu. Kan Lia juga abis kena musibah gini?” Reiji yang kemudian mengambil alih untuk menjawab, setelah ia dan Malia sempat saling lirik. Karena Reiji menangkap gelagat Malia yang nampak kebingungan dan agak cemas.


Lalu setelah menjawab pertanyaan mama kandungnya itu dengan santai, Reiji kembali melirik Malia yang juga melempar pandangan padanya yang tersenyum tipis pada Reiji.


Dan senyuman tipis Malia itu langsung dibalas juga oleh Reiji dengan senyuman singkat namun hangat—sebelum Reiji kembali beralih memandang pada mama kandungnya dan lima orang lainnya.


“Oh iya, ya?... Maaf ya Lia?... saking pengen buru-buru ini nini-nini sama aki-aki pengen cepet nimang cucu, jadi lupa kalo menantu mama yang cantik ini belom lama abis dijahatin orang,“ ucap mama kandung Reiji kemudian setelah mendengar jawaban Reiji.


Malia menampakkan senyumnya selepas mendengar ucapan mama mertuanya itu.


Senyuman yang nampak biasa, namun ada rasa bersalah yang langsung hinggap di hati Malia.


‘Lia yang harusnya minta maaf Ma.’ Monolog Malia dalam hatinya kemudian. “Ngapain coba minta maaf sih, Ma?” setelahnya Malia membalas ucapan mama mertuanya, kemudian ia dan Reiji benar-benar berpamitan pada orang tua mereka berikut Avi dan pacarnya.


“Inget Ji, pelajaran tuh kejadian kemaren yang bikin mantu kesayangan Mama jadi kena musibah!” Mama kandung Reiji menyempatkan bicara pada Reiji yang sudah hendak masuk ke dalam mobilnya.


“Iya Ma—“


“Dah! Cari aman!..”


Mama kandung Reiji langsung menukas ucapan Reiji dengan dirinya yang kemudian sedikit merepet sebal.


“Ga usah terusin tuh persahabatan kamu sama cewek itu.. kamu kan udah nikah! Ada batesan! Katanya cinta mati sama Lia?! Tapi masih ngurusin cewek lain!—“


“Ya bukan ngurusin juga Ma—“


“Udah..” tukas Mama kandung Reiji lagi, dengan memotong ucapan Reiji. “Judulnya—demi keharmonisan rumah tangga kamu sama Lia, mending ga usah deh kamu peduli lagi sama dia—bukan Mama ngajarin yang ga bener. Tapi kalo udah menyangkut perasaan mantu Mama termasuk juga termasuk juga mengancam keharmonisan rumah tangga kalian, mending kamu udahin tuh persahabatan kamu sama dia—“


“Iya Ma, iyaa—“


“Mama ga rela ya, kalo kamu sama Lia ribut gara-gara dia lagi?! Awas aja! Nanti kalo Lia ngadu sama Mama yang ternyata kamu masih urusin itu cewek termasuk anaknya, Mama labrak itu perempuan. Inget baik-baik tuh ya omongan Mama?—“


“Iya, Astagfirullah Ma.. iyaa—“


***


“Soal tadi makasih ya?”


Malia yang bersuara duluan, ketika ia dan Reiji telah masuk ke dalam mobil Reiji yang telah melaju meninggalkan rumah orang tua Malia.


“Soal yang mana?”


Reiji yang langsung menanggapi ucapan Malia itu, mencetuskan pertanyaan.


“Soal promil..” jawab Malia.


“Oh,” sahut Reiji. “Aku liat kamu agak bingung mau jawab mama Alice tadi dan aku tebak kamu masih sungkan buat ngasih tau keputusan yang udah kamu ambil dan lakukan terkait promil kamu,” Reiji menambahkan.


Malia pun mengangguk samar, seraya ia berucap.


“Iya, bener.“


Lalu Malia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.


Membuat Reiji yang tadinya ingin langsung mengajak Malia bicara mengenai satu hal, mengurungkan dulu niatnya.


***


MALIA


Perasaanku masih kurasa sedikit tidak nyaman karena omongan mama mertuaku soal promil yang aku jalani sebelumnya. Dan bukan karena aku merasa kesal apalagi marah pada mertuaku yang menyinggung soal promil yang pada kenyataanya telah aku batalkan itu. Melainkan aku justru merasa tidak enak padanya.


Bahkan pada papa mertua dan kedua orang tuaku juga. Yang nampak sangat berharap pada promil yang sebelumnya aku dan Rei sempat gadang-gadangkan pada mereka. Dan setiap informasi tentang proses promilku itu, selalu aku dan Rei bagi pada orang tua dan mertuaku bahkan juga pada Avi.


Jadi wajar saja jika mereka terlihat begitu antusias soal aku dan Rei yang menjalankan program untuk cepat mendapatkan momongan.


Dan karena itu, aku jadi merasa tidak nyaman. Membayangkan ekspresi kecewa mereka jika nanti tahu aku telah membatalkan promil tersebut.


Dimana keputusanku masih sama, walau aku dan Rei sudah berbaikan sekarang—tapi terkait permasalahan kami itu, masih ada rasa tak terima dan ketidaksenangan dalam hatiku.


Jadi setelah aku mengiyakan dugaan Rei, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela mobil Rei.


Ingin merenungkan sejenak keputusanku tentang promil itu, sendiri saja tanpa aku melibatkan Rei dulu.


Dan kemudian hanya ada keheningan dalam mobil Rei yang sedang kami tumpangi.


---


Keheningan diantara aku dan Rei yang masih dalam perjalanan menuju apartemen kami tak berlangsung lama.


Karena kemudian Rei memanggilku. Dan aku segera menoleh padanya seraya menyahut.


“Soal promil, gimana?”


Lalu Rei bertanya.

__ADS_1


***


“Gimana.. maksudnya?..”


Malia balik bertanya pada Reiji.


“Ya karena kita udah oke sekarang, kita bisa hubungi Dokter Dewi dan bilang kalo kita mau lanjutin itu promil kamu—“


“Nanti lah Rei..” tukas Malia.


“Ya baiknya sih hubungin Dokter Dewi sesegera mungkin, supaya kita ga usah mulai lagi dari awal itu promil. Baru lewat sehari, pasti masih bisa buat diterusin..”


Reiji pun segera bicara lagi dan Malia langsung menghela nafasnya yang terdengar agak berat.


“Tadi liat sendiri kan para calon kakek dan nenek udah ga sabar buat nimang cucu?..” hanya Reiji tidak menyadari Malia yang menghela agak berat nafasnya itu, dan Reiji kembali berbicara dengan nampak antusias. “Apalagi aku yang ga sabar buat punya anak dari kamu—“


“Aku belum siap.”


Malia menyambar bicara.


“Iya maksud aku, kasih tau Dokter Dewi aja dulu kalo promil kamu mau dilanjutin. Kalo mengenai jadwal temu—“


“Aku belum siap buat melanjutkan.” Malia memotong lagi ucapan Reiji sambil menatap suaminya itu dengan tatapan yang biasa, namun terbaca jika Malia nampak serius.


Reiji pun langsung menanggapi ucapan Malia. “Kenapa?.. kita kan udah oke sekarang, Yang?.. masalah yang kemaren udah sepakat kita anggap clear—“


“Hati aku yang belum oke..” potong Malia. “Jujur masih belum clear semua perasaan kesel dan kecewa aku ke kamu—“


“Tapi Yang..” gantian Reiji yang memotong ucapan Malia.


“Bisa biarin aku selesain omongan aku dulu?..” tukas Malia.


“Sorry.” Reiji menyahut. “Ya udah kamu selesain dulu omongan kamu.”


Reiji mempersilahkan Malia kemudian.


“Soal perhatian kamu ke si Shirly emang udah ga mau aku pikirin lagi.”


Malia pun lanjut bicara.


“Tapi hubungan anaknya ke kamu, itu yang masih bikin hati aku ga nyaman.”


“Apa hubungannya Argan dengan promil kamu?”


“Karena buat aku dia udah ngelangkahin calon anak kita yang bahkan belum ada..”


“Ngelangkahin gimana sih, Yaang?—“


“Ya dia anggap kamu bapaknya?” tukas Malia.


“Ya ke—“


“Aku ga rela.”


“....”


“Masih belum rela, hak anak aku yang seharusnya lebih dulu menyematkan panggilan ‘Papi’ ke kamu diduluin sama anak perempuan lain..”


“Ya ampun, Yang—“


“So no ( Jadi engga ) aku belum ingin meneruskan promil.”


Malia menukas cepat ucapan Reiji dan menampakkan gelagat jika dia sudah bulat dengan keputusannya.


“Dan pembicaraan soal promil, aku minta selesai sekarang. And please jangan dibahas dulu sampai aku rasanya siap..” Malia kembali bicara.


“Hhh..”


Reiji menghela berat nafasnya.


“Terserah kamu lah, Yang,” ucap Reiji kemudian, yang berucap dengan malas-malasan dan mata serta wajahnya tetap lurus ke depan.


Dan keheningan, kembali tercipta diantara Malia dan Reiji selama perjalanan mereka ke apartemen.


***


"Oh iya, Ji.. bukannya kepo sama urusan pribadi kamu sama Lia nih ya.. tapi atas namanya orang tua, Papa.. mewakili Papa Bram, Mama Ralisa sama Mama Alice.. kami cuma ingin pernikahan kalian baik-baik aja sampai seterusnya."


"Iya Pa. Rei paham. Kalo yang Papa maksud masalah yang jadi penyebab awal Lia dapet musibah kemaren, udah clear kok. Aku sama Lia, dibantu Avi.. udah menyelesaikan itu kemaren. Ya Alhamdulillah sekarang kami baik-baik aja.."


"Syukur deh kalo gitu."


"Iya Pa. Sedikit banyak aku paham, kalo aku banyak salahnya dalam hal ini. Meskipun niat Rei baik sebenarnya..”


“......”


“Rei ga pernah Pa, berpikir untuk ngelakuin hal yang rendahan. Dan aku minta maaf ya Pabram, kalo karena aku, Lia jadi mengalami hal yang buruk.”


“Papa percaya kalo kamu suami yang setia dan kamu akan berusaha memberikan yang terbaik pada anak Papa.”


“Makasih ya Pa?”


“Papa juga makasih kalo kamu udah ngertiin Lia.”


“Tapi ya.. Lia juga kayaknya masih ada keselnya sama aku.”


“Ya namanya perempuan Rei. Kadang dimulutnya—kalo kita bikin salah, iya—udah dimaafin. Tapi nanti kalo kita bikin salah lagi, keluar tuh kesalahan kita yang katanya udah dimaafin—“


“Haha! Ternyata aku punya temen senasib sepenanggungan!”


“Pokoknya, sabar-sabar aja lah. Sebelom keselnya ilang dan sikapnya balik seperti biasa, diikutin aja maunya sampe lempeng itu para perempuan tercinta kita.”


‘Dosa apa gue bisa jadi bucin begini??’


Reiji yang membatin setelah ia mengingat percakapannya saat tadi ia menghabiskan waktu selama beberapa jam dengan papa kandung dan mertuanya, berikut dengan pacarnya Avi—setelah mobil yang ia kendarai telah sampai di area parkir komplek apartemennya dan Malia.


“Yang,” panggil Reiji pada Malia selepas ia dan istrinya itu telah keluar dari dalam mobil.


Malia pun segera menyahut, dengan Malia yang menahan langkahnya. “Ya?”


***


Reiji tersenyum dalam ia menghampiri Malia, sambil Reiji raih tangan Malia dan langsung ia genggam.


Malia tak memberi penolakan.


“Maaf kalo udah bikin kamu ga enak hati lagi.”


Reiji berucap kemudian, dengan dirinya yang sebenarnya menahan ketidakpuasannya atas keputusan Malia yang kekeh untuk menghentikan promil yang sudah setengah jalan dilakukan.


Namun Reiji ingat ucapan papa mertuanya, untuk menyabarkan dirinya saja dulu dengan mengikuti keinginan Malia sampai suasana hati istrinya itu kembali benar-benar baik. Dan Reiji menjalankan nasehat itu sekarang—menyabarkan dirinya menghadapi Malia yang masih ada kesal pada dirinya, walau Reiji sedang ada kesalnya juga.

__ADS_1


Namun batu dihantam batu akan pecah. Dan Reiji mengambil sisi positifnya saja pada Malia yang kekeh menghentikan promil, dengan merencanakan membuat situasi hubungannya dan Malia kembali mesra seperti sebelumnya saja terlebih dahulu, karena seyogyanya jika kemesraan diantara dirinya dan Malia telah kembali, proses ‘pembuahan’akan menjadi lancar jaya.


Yang mana artinya, promil akan berlanjut secara otomatis kalau ada ‘bibit’ dari ‘pembuahan’ yang ia lakukan, ada yang nyangkut dan bersemayam di rahim Malia. Jadi Reiji menyabarkan dirinya saja terlebih dahulu sekarang ini.


“Maaf ya?..” sambung Reiji.


“Iya..” jawab Malia dengan tersenyum kecil. “Maafin sikap aku juga tadi. Tapi itu yang sebenernya aku rasa.”


Reiji mengangguk sambil melipat bibirnya, lalu mengangguk dan tersenyum kecil seperti Malia kemudian. “Ya udah, yuk?”


Reiji mengajak Malia melanjutkan langkah. Dan meski masih ada ganjalan di hatinya, Reiji tak menunjukkan hal itu pada Malia saat ini.


“Aku pengen nal shot sama pancake deh. Mau mampir dulu ke KN ga?” ucap Reiji lagi seraya bertanya pada Malia.


“Iya deh, boleh.”


Malia langsung mengiyakan tawaran Reiji.


***


Malia dan Reiji sudah dalam mode hampir mendekati kemesraan sebenarnya, karena saat berjalan menuju ke sebuah gerai minuman kekinian yang ada di komplek apartemen mereka, Malia dan Reiji berjalan bergandengan dengan rapat—sesekali saling melempar senyum.


Hanya saja mode mendekati kemesraan antara Malia dan Reiji itu kemudian terhenti oleh kehadiran seorang bocah laki-laki yang berlari riang dan bersemangat ke arah Reiji sambil menyebut, “PAPII!!..”


Lalu menerjang kaki Reiji dan langsung mencengkeram kaki Reiji itu dengan erat, seraya bocah lelaki itu mendongak dan menunjukkan senyuman sumringahnya nan lebar memandang Reiji yang langsung terpaku di tempatnya.


Dan Malia pun melepaskan genggamannya tangannya dan Reiji dengan agak kasar, karena kekesalan—dengan cepat menyeruak di hati Malia dengan kehadiran bocah lelaki tersebut. Ditambah adanya seorang perempuan yang mengekori bocah lelaki itu—perempuan yang amat Malia tidak sukai.


***


“Hai Ji.. Malia..”


Sapaan terdengar dari perempuan yang mengekori bocah lelaki yang masih mencengkeram kaki Reiji seraya mendongak menatap Reiji dengan harapan penuh harap agar Reiji segera mengangkat tubuhnya.


Namun Reiji hanya melirik bocah itu, dengan Reiji yang terpaku di tempatnya.


Sementara Malia yang sudah merasa kesal, sudah hendak berbalik badan untuk pergi dari tempatnya sekarang.


Tanpa juga Malia mengindahkan sapaan yang keluar dari mulut perempuan yang baru saja ada di hadapannya dan Reiji—yang adalah Shirly, berikut dua orang lain yang ada bersama perempuan itu dan anaknya.


Salah satu dari dua orang yang bersama Shirly dan anaknya itu adalah salah seorang sahabat Reiji yang juga menegur Malia dan Reiji selepas Shirly menyapa sepasang suami istri itu. Namun Malia tidak membalas sapaan tersebut.


Reiji pun sama halnya dengan Malia.


Tidak menjawab serta membalas sapaan dari dua orang yang menyapanya dan Malia itu.


***


“Sorry, tapi gue kesini karena Argan—“


“Jauhkan anak lo dari gue.”


Reiji segera menyambar untuk bicara, saat Shirly membuka mulutnya.


Lalu tangan Reiji dengan cepat meraih tangan Malia yang sudah berbalik dan hendak pergi dari sampingnya, dan Reiji genggam dengan sangat erat kemudian.


***


“Papii.. Algan kangen..”


Rengekan terdengar dari bocah lelaki yang masih memeluk kaki Reiji itu.


Namun Reiji tidak lagi meliriknya, melainkan Reiji melayangkan tatapan tajamnya pada Shirly.


Lalu Reiji langsung berkata dengan datar sambil menatap Shirly.


“Gue bilang jauhkan anak lo dari gue—“


“Lo apaan sih, Ji?..“


Dimana ucapan datar Reiji itu langsung disambar oleh salah seorang dari dua orang yang datang bersama Shirly dan anaknya.


Seorang laki-laki yang merupakan satu dari sahabat lelaki Reiji. Lalu ucapannya yang menyergah dengan nada sebal yang tergambar dari suaranya, langsung disergah cepat oleh Reiji.


“Gue ga lagi ngomong sama lo.” Reiji berkata datar.


Namun ada penegasan dalam kalimat Reiji itu, yang menatap agak tajam pada salah seorang sahabatnya tersebut.


***


Komentar sinis pun langsung keluar dari mulut salah seorang sahabat lelaki Reiji itu.


“Lo kelewatan Ji.“


“Diem lo, Fan.”


Dan Reiji langsung memberikan penekanannya lagi, dengan lebih sinis pada salah seorang sahabat lelakinya itu.


“Ji, please, jangan setega itu sama Argan..“ Didetik dimana, Shirly menginterupsi.


***


Reiji tidak membiarkan Shirly meneruskan ucapannya. Memotong ucapan Shirly dengan kesinisan.


“Lo terlalu lancang dengan datang ke sini—“


“Ya abis elonya..“ potong Shirly atas ucapan sinis Reiji padanya.


Dan Reji dengan cepat juga memotong ucapan Shirly. “Jauhkan anak lo dari gue—“


***


Hanya saja Shirly tidak mengindahkan kesinisan Reiji padanya. “Gue kesini, ya karena Argan, Ji.. lo ga liat kayak apa ini dia? Lo tega sama Argan?..  dia kangen sama lo.. kangen sama papinya—“


“Gue bilang jauhin anak lo dari gue!”


Selanjutnya, suara Reiji yang meninggi membahana di luar lobi gedung apartemen tempat tinggalnya dan Malia.


Membuat mereka yang sedang bersama Reiji begitu terkejut, termasuk Malia.


Yang bahkan sampai mengendikkan bahunya, saking Malia kaget mendengar suara hardikan Reiji pada Shirly yang cukup kencang itu.


“Rei..” bisik Malia yang membuat Reiji mengalihkan pandangan pada istrinya itu.


“Sorry bikin kamu ga nyaman lagi, Yang..”


Reiji berucap pelan pada Malia.


Lalu Reiji beralih lagi pada Shirly.


“Gue udah pernah bilang, persahabatan kita udah selesai. Yang mana artinya gue udah ga ada urusan lagi sama lo, termasuk sama anak lo..” putus Reiji kemudian dengan ketegasan yang diselimuti dengan gurat kegeraman di wajahnya. “Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah coba temuin gue lagi dan itu berlaku buat anak lo—“

__ADS_1


******


Bersambung.....


__ADS_2