
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca....
***
Setelah mengambil keputusannya dengan bulat soal rencananya esok hari, Malia langsung mencari keberadaan Reiji selepas ia mandi dan berpakaian. Tak melihat Reiji di ruang tamu, jadi Malia langsung mengingat Reiji yang kemungkinan besar ada di ruang baca. “Rei---“ panggil Malia.
Dan ya, memang Reiji masih disana. Duduk di sofa landai dalam ruangan tersebut sambil memegang sebuah buku di tangannya.
“Ya? ..”
Reiji lantas menoleh dan menyahut kala mendengar dan melihat Malia berdiri di ambang pintu ruang baca.
“Pakaian apa aja yang perlu dibawa?”
Malia kemudian buka suara seraya bertanya pada Reiji.
“Pakaian buat?” jawab Reiji namun balik bertanya pada Malia.
“Acara Family Gathering kantor kamu besok.”
“Aku ga ikut.”
“Kalo aku bilang aku mau ikut ke acara Family Gathering kantor kamu itu?” tukas Malia.
“Yakin kamu? –“
“Yakin.”
Malia langsung memotong perkataan Reiji sambil ia memandang pada Reiji yang masih bergeming di tempatnya, yang mana Reiji hanya meletakkan buku yang tadi ia pegang ke atas pangkuannya saja.
“Bukannya kamu besok udah ada acara?..”
Reiji berkata, seraya bertanya pada Malia.
“Udah aku batalin.” Jawab Malia cepat.
“Kenapa?—“
“Ya karena aku udah mutusin buat nemenin kamu..”
“Oh.”
“Jadi pakaian apa aja yang perlu dibawa, trus berapa banyak?-“
“Santai-casual aja.” Jawab Reiji datar. Padahal di dalam hatinya Reiji menyeringai.
“Berapa banyak?”
__ADS_1
“Kita hanya semalam aja disana.”
“Ya udah-“ sahut Malia yang kemudian hengkang dari hadapan Reiji.
‘Sorry Yang, kalau aku menggunakan cara yang sedikit licik untuk menggagalkan janji temu kamu dengan lelaki impianmu itu.’ Reiji membatin selepas kepergian Malia.
**
MALIA
Aku telah mengambil keputusan untuk rencanaku esok hari yang dihadapkan pada dua pilihan. Yakni, yang satu adalah bertemu kembali dengan Irsyad yang sudah sering janjian denganku entah untuk yang keberapa kali, dan yang satu adalah menemani Reiji ke acara yang diadakan oleh Maskapai tempatnya bernaung.
Yang mana, jika aku boleh memilih-meski aku tahu jika itu adalah suatu hal yang egois dan tidak adil bagi Reiji, aku akan memilih untuk menghabiskan waktu saja bersama Irsyad. Toh aku lebih menyukai lukisan ketimbang buku.
Tapi pembicaraan Reiji dengan temannya yang entah siapa di ponselnya, membuatku lemas dan merinding disaat yang bersamaan.
“Mau kasih pelajaran sama seseorang yang mengganggu milik gue ----“
Begitu kalimat yang Reiji katakan pada temannya di seberang ponsel, yang aku tangkap dengan jelas di telingaku.
Dimana makna dari kalimat itu-menurutku, mengarah pada suatu tindak kekerasan yang ingin Reiji lakukan pada Irsyad.
Mungkin.
Tapi ya apa makna selain itu?.
‘Seseorang yang mengganggu milik gue.’ Yang Reiji katakan sudah jelas mengarah pada Irsyad yang Reiji anggap mengganggu ‘miliknya’.
Dan tidak salah memang jika Reiji beranggapan seperti itu, karena aku adalah istrinya.
Dan secara umum, ya istri adalah milik suaminya.
Ragaku, iya.
Tapi hatiku? ..
Rasanya masih berat pada Irsyad.
Tapi aku juga mempertanyakan sendiri perasaanku pada Reiji.
Apa mungkin sebenarnya aku sudah mencintai Reiji?. Dan aku yang tidak menyukai hubungannya dengan Shirly adalah bentuk rasa cemburu, dari cinta yang entah seberapa kadarnya yang sudah ada untuk Reiji?.
Entahlah, aku sendiri bingung dengan perasaanku pada Reiji.
Tapi jika bicara tentang cinta, aku merasa, memang lebih berat pada Irsyad-perasaan cintaku ini.
Dan aku sedang menikmati momen yang bisa aku nikmati bersama seseorang yang lebih berat aku cintai ini, jika memang ada kesempatan untuk itu.
Tapi sekarang, aku tepiskan dulu keinginanku itu, karena ucapan Reiji. Yang membuatku merasa begitu khawatir dan membayangkan jika Reiji dan Irsyad kemudian terlibat perkelahian.
Sungguh aku tak sanggup membayangkan.
__ADS_1
Jadi dengan berat hati, aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku untuk menghabiskan waktu bersama Irsyad, dan memilih untuk menemani Reiji ke acara yang diadakan oleh kantor maskapai tempatnya bernaung itu.
--
Aku membatalkan janji temuku dengan Irsyad besok untuk menemani lelaki dari masa laluku itu ke galeri milik temannya. Setelah aku selesai membereskan beberapa potong pakaianku dan Reiji untuk dibawa ke acara Family Gathering kantor maskapai tempat Reiji bekerja.
Dan selepas aku mengirimkan pesan chat pada Irsyad untuk membatalkan janji temuku dengannya, Irsyad lalu langsung menghubungiku melalui panggilan telepon. Yang mana panggilan telepon dari Irsyad itu langsung aku terima tanpa pikir panjang, saat aku masih berada dalam walk in closet pada kamarku dan Reiji.
Kenapa dan Irsyad menebak apa Reiji yang melarangku untuk bertemu dengannya saat aku menerima panggilan dari Irsyad itu langsung menyapa telingaku.
Aku menjawab jujur, jika aku tidak mendapat larangan apapun dari Reiji dan mau menemani Reiji untuk menghadiri acara yang diadakan oleh kantor tempat Reiji bekerja.
Yah, memang Reiji tidak melarangku, tapi dua ucapannya sempat membuat jantungku kebat-kebit. Yang satu ingin ikut denganku yang berencana bertemu dengan Irsyad, satu lagi kalimat yang bagiku bermakna ancaman, meski tidak Reiji sampaikan padaku.
Namun dua hal itu tidak aku sampaikan pada Irsyad.
Yang mana aku rasa memang tidak perlu untuk aku sampaikan ucapan Reiji yang bagiku adalah sesuatu yang mengancam.
Aku memang tidak pernah mendengar Reiji terlibat yang namanya kekerasan, tapi aku juga tidak mau mencoba untuk menyulut amarah Reiji pada Irsyad, jika aku tetap ngotot untuk menemui Irsyad.
Jadi itu saja, aku putuskan untuk menemani Reiji dan ‘mengorbankan’ Irysad. Dan aku mendengar gurat kekecewaan dari nada suara Irsyad.
“Jadi kapan kira-kira kamu akan ada waktu lagi Lia?” tanya Irsyad kemudian. “Senin bisa?” tanyanya lagi.
“Yang, aku kangen dihangatkan kamu--”
Namun belum sempat aku menjawab ajakan Irsyad, tubuhku dibuat tegang dan meremang disaat yang bersamaan, saat ponselku masih tertempel di telinga dan Irsyad masih tersambung disana.
“Ah ..”
Aku dengan spontan mendesah kala tangan Reiji tahu-tahu melingkar di perutku, dan bibirnya menyentuh leherku lalu menghisapnya lembut setelah ia berbisik mesra di telingaku, namun suara bisikan Reiji tidaklah pelan.
Yang mana didetik dimana aku mendesah itu, sambungan dari Irsyad langsung ia putuskan secara sepihak.
***
Bersambung ..
Note: Ga suka silahkan lewati dan tinggalkan karya otor ini. Komentar silahkan, tapi berbijaklah.
Kritik dan saran diterima jika menggunakan bahasa yang sopan.
Ga terima kritikan dari pembaca asal lewat. (Kalian kelaut aja yg Cuma bisa nyinyir doang tanpa kasih apresiasi).
Oke, thank you!.
Terima kasih banyak-banyak untuk kalian yang masih setia baca.
Loph Loph,
Emaknya Queen.
__ADS_1