WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 208


__ADS_3

Selamat membaca....


*************************


REIJI


Wajah Lia sudah mulai nampak tak enak, ketika aku menjawab pertanyaannya soal Irly yang juga akan ada saat nanti aku akan kongkow bersama para sahabat solidku sejak SMA. Sepertinya Lia itu cemburu pada sahabat perempuanku itu.


Namun ketika aku secara gamblang menanyakan hal itu pada Lia, jawaban Lia adalah, “Mungkin, entah cemburu entah apa.”


Hingga kemudian Lia mengeluarkan unek-uneknya soal Irly padaku. Dan aku membiarkan saja dulu Lia bicara sampai ia selesai mengeluarkan semua unek-uneknya soal Irly itu, agar aku tahu bagaimana nanti menyikapinya.


“Udah ya, let’s end this talk? Aku ga akan maksa kamu ikut kumpul sama sahabat – sahabat aku, sampai kamu sendiri yang menawarkan diri ...”


Hingga pada akhirnya aku mengatakan hal itu, setelah Lia memang nampak sangat enggan ikut pergi bersamaku nanti saat tiba waktunya aku kongkow bareng para sahabatku yang sudah ditentukan waktunya itu.


----


Lia mengiyakan ucapanku yang berjanji tidak akan pernah memaksanya untuk ikut denganku saat aku hendak berkumpul dengan para sahabat kentalku itu. Yang aku pikir pembicaraan tentang para sahabatku cukup sampai disitu, karena aku takut malah Lia melarangku untuk berkumpul dengan para sahabatku itu.


“Rei ....“


Namun tak berselang lama, Lia memanggilku pelan.


“Iya sayang?”


Dan aku lekas saja menyahut selepas Lia memanggilku itu.


“Mau lagi? ... Ayo! ...“


Sekaligus ‘usaha’.


“Ish!” dimana Lia langsung mendesis sebal sembari ia memukul pelan dadaku.


----


“Jadi mau minta apa, hm? ...” tanyaku setelah beberapa saat kemudian, setelah aku dan Lia saling menikmati pelukan kami.


Aku bertanya sambil juga memandangi Lia yang jelas tidak akan mungkin memang mau meminta mobil baru padaku seperti candaanku tadi. Karena jika melihat ekspresi serta cara Lia memanggilku itu, aku merasa jika ada yang ingin Lia sampaikan atau mungkin tanyakan padaku.


“Seperti kamu yang ga melarang aku berteman dengan siapapun asal ga merugikan, begitupun aku ke kamu, Rei ...”

__ADS_1


Dan Lia pun mulai bicara untuk menjawab pertanyaanku perihal apa yang ingin ia minta dariku.


Setelahnya, aku menelaah ucapan Lia yang kemudian menyenggol bahasan soal pertemanan.


“Aku ga akan larang kamu berteman dengan siapapun mau itu laki-laki atau perempuan...”


Dan perasaanku mulai merasa tak enak ketika Lia menyenggol tentang hal itu. Yang kiranya aku bisa menebak, kemana ujungnya nanti hal yang sedang Lia bahas denganku ini.


Perkiraanku pun benar adanya. Karena selanjutnya Lia bilang, “Tapi satu aja aku minta... Sahabat kamu coret satu... Shirly, jadi teman biasa aja... Jangan terlalu sering berinteraksi dengan dia... Bisa?“


Duh Gusti, gimana ini?


Aku paham jika Lia mungkin cemburu dengan persahabatanku dengan Irly.


Tapi bagaimanapun juga aku sudah bersahabat begitu lama dengan Irly. Dan kalau harus memutuskan persahabatanku dengan Irly ya ga enak juga.


“Berat ya?...”


Ucapan Lia yang membuatku kembali teralih padanya.


Bingung lebih tepatnya.


----


Aku berkata seperti pada Lia, sebagai tanggapanku atas terkaannya yang mengatakan jika aku berat untuk menjauhi Irly.


Yah kalo boleh jujur, ya memang ada beratnya juga kalau harus memutus persahabatan dengan Irly. Banyak pertimbangannya juga untukku.


Bukan apa.


Jika aku berkumpul dengan para sahabat kentalku lalu aku memberikan note pada mereka. ‘Jangan ajak Irly.’


Rasanya aneh banget kalau begitu.


Opsi kedua, agar juga para sahabat kentalku tidak berpikir jika Lia adalah istri yang suka mengekang----meski aku yakin mereka tidak akan berbicara atau beranggapan buruk pada Lia, namun tetap aku harus menjaga kesan Lia dihadapan orang lain. Sekalipun para sahabatku.


Jika aku mengiyakan permintaan Lia untuk menjauhi Irly, karena Lia memintaku sekedar berteman biasa saja dengan Irly, aku hanya punya dua opsi.


Menjauhi Irly dengan jarang dateng kalau cetusan kongkow digrup terjadwalkan, atau bisa juga aku menjapri para sahabat kentalku selain Irly dengan cara pertama yang aku sebutkan tadi.


‘Ga usah kasih tau Irly.’ Atau ‘Kalo ada Irly, gue skip ya.’

__ADS_1


Yah semacam itulah, yang mana pastinya para sahabat kentalku yang berjenis kelamin laki-laki itu akan sangat keheranan.


Opsi kedua, dengan mencoret tindakan pada opsi pertama, yakni sama rata.


Menjaga jarak dengan semua sahabat kentalku tanpa terkecuali. Tidak hanya Irly, tapi juga Abbas, Aldo dan Irfan.


Mau itu ngelak dateng dengan alasan yang harus aku urutkan dari sekarang, plus ga usah ikut komen kalau mereka sedang membuka obrolan di grup.


Itu yang menjadi pertimbangan aku kenapa aku merasa sedikit berat untuk mengiyakan permintaan Lia untuk sekedar berteman saja dengan Irly.


Yang membuat aku bingung, karena setelah Irly balik lagi ke circle setelah sempat menghilang atas dasar dia tidak ingin menyusahkan aku, Abbas, Aldo dan Irfan dengan mencoba struggle sendiri di negeri orang selain Australia----Aku bertemu lagi dengan Argan, yang masih mengingatku walau lama kami tidak bertemu.


Bocah kecil itu pun lumayan sering menghubungiku. Nampak senang dan bahagia setiap ramai aku dan tiga sahabat lelakiku yang lain mengunjunginya di apartemen yang Argan tinggali bersama Irly sejak sahabat perempuanku itu memutuskan untuk kembali tinggal di Jakarta saat merasa kehidupannya jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu, ketika aku masih intens menemaninya di Canberra.


Jika aku harus menjauhi Irly, otomatis Arganpun kena imbasnya.


Padahal sekarang Argan sudah mulai kembali dekat denganku seperti dulu.


Yang ingin sekali aku kenalkan pada Lia. Mungkin saja bisa menjadi ‘pancingan’ anak untukku dan Lia.


Tapi Lia begini. Cemburunya pada Irly karena aku pernah punya rasa pada sahabat perempuanku itu membuat Lia menjadi insecure pada Irly.


Dan aku tidak mungkin menyinggung lagi soal ‘insecure’ pada Lia jika menyangkut Irly. Mengingat Lia pernah menjadi sangat bad mood karena itu.


Dilema. Sumpah!


Aku ingin selalu mengabulkan keinginan Lia.


Tapi jika keinginannya menyangkut persahabatanku dengan Irly yang juga berjasa memberikan dukungan moril padaku saat aku gamang untuk memilih pekerjaan yang cocok untukku, lalu jasanya saat sekolah dan kuliah membuatku, Abbas, Aldo, Irfan dan almarhum Agus menjadi anak – anak bandel yang berprestasi --- Dan lagi, aku yang paling sering bersama Irly ketika ia luntang – lantung sehabis melahirkan Argan.


Lalu Argan tumbuh di bawah pengawasanku, sampai - sampai anak itu berpikir aku ini adalah ayahnya. Dan karena itu juga Irly kemudian menjauh, atas dasar rasa tak enaknya padaku --- takut Argan menyusahkan dan membebaniku, kata Irly. Padahal aku tidak terbebani sama sekali, karena aku menyayangi Argan dengan tulus dan tak masalah jika dia memang menganggapku sebagai ayahnya.


Toh nanti seiring waktu pun bocah itu akan tumbuh dan bisa diberi pengertian tentang hubunganku dengannya. Kan bisa juga aku berperan sebagai ayah angkatnya? ...


Kalau dijauhi lagi dengan tiba - tiba setelah Argan merasakan banyak kasih sayang yang ia terima dari para sahabat mamanya terutama dariku, apa tidak akan mengganggu psikis bocah itu nantinya? ...


Makanya itu ... aku dilema.


***


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2