WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 192


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Kamu pulangnya kapan Rei?..”


Malia sedang duduk bersantai bersama Reiji di ruang tamu unit apartemen mereka setelah Reiji yang niat banget memasang CCTV demi kepercayaan sang istri padanya itu telah selesai memasang perangkat tersebut di beberapa titik unit apartemen mereka, yang kesemuanya adalah tergolong dalam CCTV candid karena bentuknya yang kecil dan dapat disimpan di tempat tersembunyi.


“Dini hari lusa paling aku udah sampai Jakarta, Yang,” jawab Reiji dan Malia manggut – manggut.


“Terus besok jam berapa kamu berangkat?” tanya Malia lagi kemudian.


Sambil Malia bersandar manja pada Reiji. “Bareng aja nanti sama kamu berangkat ke kantor.”


Malia manggut – manggut lagi. “Ini sisa tugas kamu di Maskapai, atau bawa terbang itu keluarga sultan?”


“Sisa tugas Maskapai,” jawab Reiji.


“Kemana sih? .....”


“Medan.”


“Oh.”


“Mau dibawain apa dari sana?” tanya Reiji.


Malia menjawab dengan gelengan pertanyaan Reiji yang berupa penawaran itu.


“Bolu Meranti? –“ tanya Reiji lagi. “Atau Kacang Sihobuk? .....”


“Boleh tuh kalau Sihobuk,” tukas Malia.


“Oke –“ sambar Reiji. “Tapi sebelum aku bawain Kacang Sihobuk, aku rasain ‘kacang’ yang lain dulu ya? –“


Reiji bertutur penuh arti, sambil memasang wajah konyolnya pada Malia.


💖


“Yang –“


Reiji berucap setelah tutur kata penuh artinya soal ‘kacang’ Malia ia realisasikan dengan segera, dan sekarang dia dan Lia baru saja menyelesaikan kegiatan yang amat sangat Reiji gemari jika sudah urusan dengan namanya mengeksplor tubuh sang istri.


“Boleh nanya ga?”


“Nanya aja Rei, segala minta ijin ....”


“Tapi jangan tersinggung apalagi marah ya?”


“Asal jangan bilang mau nikah lagi,” seloroh Malia.


Reiji mendengus geli. “Ish nih mulutnya minta di kuncir! –“ Sambil Reiji menjepit gemas bibir Malia tanpa tenaga dengan dua jarinya hingga membuat Malia terkekeh kecil.


“Ya udah mau nanya apa?” tanya Malia kemudian.


“Engga, aku cuma mau nanya soal apa kamu udah siap kalo kita misalkan mulai program soal anak.”


“Hm –“


“Pengen tau kamu saat ini menggunakan alat kontrasepsi apa engga?”


Reiji bertanya hati-hati.


“Maaf aku nanya begini,” tutur Reiji.


Malia tersenyum. “Engga apa-apa ....” ucap Malia. “Aku ga masalah kamu nanyain itu, kok. Tapi aku ga ada pake alat kontrasepsi apa-apa, Rei –“


“Alhamdulillah kalo gitu.”


“Perasaan kamu udah pernah nanya soal itu waktu awal-awal keputusan aku untuk memilih kamu?”

__ADS_1


“Aku lupa, Yang,” tutur Reiji.


“Kamu udah pengen punya anak cepet-cepet ya, Rei? –“


“Pengen banget sih engga, justru aku mau nanyain kesediaan kamu dulu soal itu.”


Reiji mengusap lembut surai Malia, seraya ia tersenyum dan mengecup bibir Malia sekilas.


“Aku memang ingin sih ada anak sebagai pelengkap pernikahan kita ini. Tapi tetep, aku  nunggu kesiapan kamu untuk kita punya momongan. Ga usah terlalu dipikirin, karena aku engga sedang menuntut kamu buat buru-buru hamil.”


Malia tersenyum.


“Aku siap Rei, kalau memang kamu mau kita program untuk punya anak sekarang.”


Reiji pun tersenyum bahagia.


💖


REIJI


Aku sungguh bahagia, dengan apa yang Lia katakan soal program untuk memiliki momongan dengan segera.


Dan aku serta Lia sudah merencanakan untuk mengatur jadwal konsultasi Dokter untuk itu semalam.


Meski tetap, aku tidak mengajak Lia berbicara terlalu serius tentang hal itu---mengingat Lia juga gampang kepikiran orangnya. Kepikiran yang kurang menyehatkan otaknya dengan spekulasinya sendiri yang mengarah pada hal yang negatif, dan aku tidak ingin itu terjadi gara-gara aku yang membahas soal rencana untuk memiliki anak.


Yang meski ingin, aku tidak ingin Lia terbebani akan keinginanku itu. Jadi aku membawa pembicaraan soal rencana memiliki anak itu dengan santai, agar Lia pun juga santai.


Karena tetap semua atas ijin Yang Maha Kuasa, tentang momongan untukku dan Lia. Yang penting Lia sudah mengiyakan untuk berusaha memilikinya segera, dan kami tinggal berdoa dan berusaha.


--


Aku dan Lia telah sama-sama rapih berpakaian pagi ini untuk bekerja.


Jika mengikuti tugasku sebagai hanya pilot pribadi dari satu keluarga yang Lia sebut keluarga Sultan itu, seharusnya aku masih libur sampai besok.


Dan untungnya, ini adalah tugas terakhir dari sisa jadwal terbangku sebagai pilot reguler.


--


Aku dan Lia telah siap untuk keluar dari unit apartemen kami bersama, untuk berangkat ke tempat kerja kami masing-masing.


Namun sayangnya, aku tidak dapat menyertai Lia untuk pergi bersama dalam satu mobil – karena aku harus menghadiri acara farewell kecil-kecilan yang diadakan oleh beberapa rekan dan kru yang biasa menyertaiku saat bertugas sebagai pilot reguler sebelum aku terbang ke Medan.


Meski sebenarnya aku tidak juga hengkang dari maskapai tempatku bernaung hitungannya.


Hanya pindah tugas saja sebenarnya sih. Namun ya itu, aku tidak akan beredar di Bandara yang selama ini menjadi tempatku wara-wiri dalam bertugas karena aku akan seringnya wara-wiri di sebuah bandara – dimana kebanyakan jet-jet pribadi milik para kaum jetset berada.


--


Aku menggandeng tangan Lia, yang sedang berjalan berdampingan denganku menuju ke parkiran tempat mobilnya berada.


Aku akan menemani Lia hanya sampai lobi gedung apartemen tempat kami tinggal saja, karena mobil jemputan maskapai akan menjemputku disana.


“Sorry ya Yang, aku jadi ga bisa anter kamu ke kantor ...” ucapku pada Lia saat kami telah masuk ke dalam mobilnya dengan Lia yang langsung duduk di kursi kemudi, karena aku yang hanya akan ikut serta dalam mobilnya sampai lobi gedung saja.


“Ga masalah Rei,” sahut Lia.


“Seperti biasa, kalo udah sampe di kantor kabarin aku.”


Aku mengecup bibir Malia singkat setelah berpesan padanya.


Malia mengangguk dan mengiyakan pesanku seperti biasa. “Iya.”


“Ya udah ... aku juga saat udah sampai di bandara akan kabarin kamu.”


“Iya-“


“Hati-hati-“

__ADS_1


“Kamu juga ... hati-hati saat tugas nanti,” ucap Lia saat aku mobil yang ia kemudikan telah sampai di depan lobi gedung apartemen tempat tinggal kami. “Sama hati-hati sama itu tuh.” Lia melengos ke arah kirinya.


Dan aku pun spontan melengos ke arah yang Lia tunjuk dengan kepalanya. Setelahnya aku terkekeh.


Tahu maksud peringatan hati-hatinya Lia selain untuk aku yang akan menerbangkan pesawat nanti. “Hati-hati tuh sama itu perempuan gatel.”


Sambil Malia memasang tampang cemberutnya setelah melihat perempuan yang selalu mencoba menarik perhatianku itu, yang tidak pernah aku gubris sama sekali.


Baik di depan ataupun di belakang Lia. Ogah amat ditanggepin. Masih jauh cakep Lia kemana-mana juga dari itu perempuan sok imut. “Dia sekarat di depan aku juga aku cuekin Yang.”


“Ah yang bener?” tanggap Lia remeh.


“Ya bener lah. Kalo ga dipenjara udah aku karungin terus aku buang dia di sungai. Karena itu perempuan kamu jadi curigaan sama aku,” sewotku.


Lia tersenyum lebar setelah aku berucap demikian.


“Heran masih curiga aja suaminya yang setia pake banget ini bakal tergoda sama pasir matrial kek begitu?”


Lia tergelak geli setelahnya.


Dan aku tersenyum lebar melihat Lia tergelak geli seperti itu.


“Love you, Yang ...” ucapku sebelum aku keluar dari mobil Lia.


“Love you too Rei ...” balas Lia lembut, yang menerima sekali lagi kecupan singkat dariku di bibirnya.


💖


Seperti itu saja yang Malia inginkan untuk kehidupan rumah tangganya dengan Reiji. Dengan Reiji yang selalu bersikap mesra padanya, selain selalu berusaha meyakinkan Malia atas kesetiaan Reiji padanya dengan ragam hal.


Cemburu – cemburu serta perdebatan – perdebatan kecil saja yang tak apa jika cemburu dan perdebatan kecil itu hadir untuk sekedar mewarnai kehidupan rumah tangganya dan Reiji.


Cukup saling percaya, selain saling menjaga hati masing – masing saja berikut kesetiaan. Dan yah, Malia sudah cukup mempercayai Reiji untuk hati dan kesetiaan suaminya itu padanya.


Begitupun Malia yang bersikap seperti itu pada Reiji, yang kini sedang bertugas untuk menyelesaikan tugas terakhirnya sebagai pilot komersil dan setelahnya akan fokus menjadi seorang pilot pribadi untuk keluarga dari Bos Maskapai Reiji sendiri.


💖


MALIA


Hari – hariku berlalu dengan rasa senang dan bahagia di setiap detiknya.


Dan pembicaraan soal program untuk memiliki momongan sudah aku dan Rei juga sepakati, tanpa memaksakan diri juga.


Tidak ada tuntutan untukku cepat hamil dari Rei, dengan bijaksana ucapannya.


Tapi aku ingin membahagiakan Rei, setelah semua yang dia lakukan untukku sebagai pembuktian atas cintanya padaku.


Jadi aku dan Rei akan mengatur jadwal untuk menemui Dokter Kandungan dan berkonsultasi sebagai tahap awal rencanaku dan Rei untuk memiliki omongan, yang Insya Allah akan kami realisasikan dengan segera.


--


Sudah tenang hidupku rasanya dalam satu bulan ini, terutama dari bayang-bayang pria masa laluku. Irsyad. Yang sungguh tidak ingin lagi aku berurusan dengannya.


Ancamanku agar dia jangan pernah lagi muncul di hadapanku aku pikir sudah menyadarkan kesalahannya padaku, atas sikap kurang ajar yang Irsyad atas namakan sebagai cintanya padaku.


Dan selama satu bulan ini memang tidak aku lihat atau rasa lagi tanda-tanda gangguan dari Irsyad, selain aku sudah memblokir nomor kontaknya dari ponsel dan juga memblokir akun Irsyad dari sosmedku.


Namun hari ini, aku yang sudah merasa tenang tadinya bahkan sudah tak pernah lagi memikirkan soal Irsyad—dikejutkan oleh suara dari belakangku, saat aku baru saja selesai berbelanja sedikit isi kulkas di sebuah swalayan yang menyediakan ragam kebutuhan pokok sehari-hari.


“Lia ... Apa kabarnya kamu?”


Suara yang membuatku langsung merinding seketika.


“Ka-kamu –“ guguku dengan was-was. “Kenapa kamu muncul lagi di depanku, Irsyad? –“


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2