WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 22


__ADS_3

Selamat membaca..


***


REIJI


Aku tak berlama-lama singgah di rumah orang tua Malia setelah kami berdua telah sampai di Jakarta, dimana aku


langsung mengantarkan Malia kembali ke rumah yang ia tinggali selama ini.


Keluar tol, aku langsung memacu mobil ke arah rumah Malia, karena aku tahu dia pasti lelah.


Dan jujur, aku mungkin lebih lelah dari Malia.


Selama dua hari ini aku kurang beristirahat.


Kemarin, selepas terbang dan selesai urusan soal kerjaan, aku langsung menyambangi Malia ke rumahnya. Tanpa


rencana, dan aku masih heran juga kenapa kaki dan tanganku pada kemudi tau-tau sudah mengarah ke rumah orang tua Malia.


Padahal kondisinya aku baru saja menyelesaikan jam terbangku hampir tanpa jeda selama lima hari belakangan, sengaja aku selesaikan jam terbang yang biasanya aku selesaikan selama tujuh hari baru setelah itu aku


mengambil libur , minggu ini aku selesaikan dalam lima hari.


Demi menghabiskan waktu bersama Malia kah?. Entahlah.


Yang jelas aku berpikir jika aku dan Malia membutuhkan diri untuk saling mengenal lebih jauh lagi dari selama


ini, karena kami akan hidup sebagai suami istri dalam tiga bulan kedepan dan seterusnya.


Jadi, yah begitulah. Pada akhirnya aku mengajak Malia hang out ke Bandung hari ini.


Biasanya aku dan Malia hanya pergi liburan bersama, jika orang tua kami yang punya rencana.


Lalu aku, jika memang senggang, atau menyenggangkan jam kerjaku yang aku babat dari waktu yang biasanya,


seperti minggu ini demi untuk ikut liburan yang bisa dibilang liburan keluarga itu karena Malia dan orang tuanya sudah seperti keluarga bagi keluargaku.


Dan aku selalunya akan mengusahakan untuk ikut jika memang memungkinkan.


Aku, Avi dan Malia tak pernah absen jika orang tua kami sudah merencanakan sebuah liburan.


Karena hal itu juga jarang-jarang dilakukan. Jadi jika sudah direncanakan, biasanya formasi keluargaku dan


keluarga Malia yang hanya tiga orang itu akan lengkap pergi bersama.


Terakhir, liburan singkat di Villa keluargaku melahirkan sebuah perjodohan antara aku dan Malia.


Yang aku iyakan tanpa berpikir panjang.


Akupun tak tahu kenapa mulutku ini iya-iya aja saat orang tuaku dan Malia menanyakan kesediaanku soal perjodohan dengan Malia.


Mungkin memang aku sudah memiliki ketertarikan pada Malia sebagai lawan jenis.


Makanya mudah sekali aku menerima perjodohanku dengan Malia. Sementara Malia nampak berat menerima, meski pada akhirnya ia mengiyakan juga untuk dijodohkan denganku.


Jadi hari ini perdana mengajak Malia menghabiskan waktu sebagai ‘kekasihku’.


Ah jangan ‘kekasih’, terdengar berlebihan, karena kami bersama bukan atas dasar cinta yang natural.


Calon istri lebih tepat kayaknya.


So, hari ini aku perdana PDKT dengan Malia sebagai calon suaminya.


Senang sih. Bisa menghabiskan waktu dengan Malia berdua seharian ini.


Walau belum ada kemajuan berarti sebagai calon suami istri.


Belom ada manis-manisnya gitu.


But so far, not bad for today. Meski kadang Malia masih nampak canggung didepanku. Tapi lumayan lah, ada sedikit kemajuan.


Bisa pegang tangan Malia, terus jalan gandengan kek dua sejoli beneran. Tapi ya gitu, banyak dilepasnya.


It’s okay lah. Toh ini yang pertama kali bagi Malia menghabiskan waktu denganku berdua saja.


Malia, yang aku yakin tak memiliki rasa padaku, meskipun sekedar rasa suka apalagi cinta, pasti sedang


berusaha keras menekan egonya demi membahagiakan kedua orang tuanya walaupun jauh di lubuk hatinya, Malia tidak mau dijodohkan.


Kurang lebih sama denganku.


Yang mana tujuannya. Demi kebahagiaan orang tua.


Meski Malia menekan egonya atas rasa keberatan akan perjodohan ini.


Sedang aku, tidak merasa tak menekan egoku.


Aku tak ada rasa berat dalam perjodohanku dengan Malia. Sama sekali.

__ADS_1


Ada rasa peduli, sayang, dan baru-baru ini ya aku menyadari rasa suka yang sering kali kutepis itu, adalah


rasa ketertarikan dari seorang laki-laki pada seorang wanita.


Jadi mungkin tak sulit untuk menumbuhkan rasa cintaku pada Malia mulai dari sekarang.


Memang aku harus mulai mencintai Malia bukan?.


Karena Malia akan menjadi istriku dalam tiga bulan kedepan.


**


Reiji terbangun saat suara alarm dari ponselnya terdengar.


Meski baru tidur beberapa jam saja, namun mata Reiji tidak berat untuk terbuka.


Reiji segera bangun dan mematikan alarm yang berbunyi di ponselnya, lalu beranjak dari tempat tidur untuk menuju


kamar mandi dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang umat, meskipun Reiji bukan umat yang taat-taat amat.


Tapi sebisa mungkin segala yang wajib Reiji laksanakan, walau kadang ada bolongnya juga.


**


Di rumah Malia ..


“Terus itu gimana maksudnya si Reiji sekeluarga mau kesini pagi-pagi??”


“Mau ngelamar kamu secara resmi!”


“HAH?!” Malia sontak saja terkejut setelah mendengar ucapan sang mama.


Mamanya Malia mendengus geli.


“Biasa aja dong mukanya..”


Mamanya Malia berujar sambil terkekeh kecil karena melihat ekspresi putrinya itu.


“Gimana mau biasa sih Ma????”


“Ya memang harus biasa aja ..”


“Ya mau ada acara lamaran tanpa Lia tau loh ini?!..”


“Woles aja woles ..”


“Ya memang harus woles. Orang acara lamaran kecil-kecilan juga, sarat doang biar resmi hubungan kamu sama Reiji. Nanti tinggal acara tunangan aja dibicarain kalau emang mau diramaikan ..”


“Ya tetep aja Lia ga punya persiapan ini!..”


“Persiapan apa sih? Cuma tinggal cari baju yang ada di lemari kamu yang pas buat menyambut calon suami dan


keluarganya”


“Ish, justru itu!.. Lia bingung nih mau pake baju apa?..”


“Cieee takut ga keliatan cakep pas dilamar si Reiji nih yeee????? ..”


“Mamaaa!! ..” Pekik Malia pada sang mama yang sudah berlalu dari hadapannya sambil cekikikan.


“Udah cepetan mandi terus dandan yang cakep! .. Jangan terlalu cakep tapi! Nanti si Reiji malah minta dinikahin


hari ini juga sama kamu!..”


Mamanya Malia lanjut menggoda putri semata wayangnya itu sambil lalu dengan masih cekikikan.


“Ish si Reiji niihh!! ..”


**


Malia yang sedikit gusar, langsung kembali ke kamarnya dan mencari ponselnya yang Malia lupa letakkan dimana setelah semalam dia bergosip dengan Avi dalam sebuah aplikasi chat.


Tadinya mau tanya Avi soal Shirly. Kali aja Avi tau atau bahkan kenal.


Tapi yang ada malah ngomongin Abbas Ramdan, sama beberapa obrolan unfaedah lainnya.


Alhasil, rasa penasaran Malia soal Shirly masih hinggap di hatinya sampai ia jatuh terlelap setelah iseng liat-liat laman sosmednya Reiji, sebelum Malia menemukan jejak tentang sosok yang bernama Shirly itu.


“Duh, dimana lagi itu handphone?”


Malia lupa jika semalam saat ia terlelap, ponselnya itu masih ia genggam.


Tapi tak lama bisa Malia temukan karena mengingat hal tersebut.


Dan ponselnya itu langsung Malia sambar untuk segera menghubungi Reiji.


Kemudian Malia berdecak, karena Reiji tak bisa dihubungi.


“Ish pantes aja! Ga aktif!”

__ADS_1


Malia mendengus sebal, karena gagal menghubungi Reiji via aplikasi, dan langsung mencoba menghubungi Reiji


lewat jalur panggilan biasa.


Lalu Malia menjeda, dan memilih untuk bergegas mandi sebelum nanti menghubungi Reiji lagi.


**


Hingga selepas mandi, Malia yang tak sabaran itu, bahkan yang tadinya Malia biasa lama menghabiskan waktu di


kamar mandi, Malia pangkas.


Karena Malia ingin segera menghubungi Reiji dan melampiaskan kekesalannya pada Reiji yang ga bilang soal


rencana calon suaminya itu yang mau datang bersama keluarganya untuk melamar dirinya secara resmi, dan tidak memberikannya info sedikitpun, termasuk juga si Avi semalam.


“Ha, nyambung nih kayaknya...”


Malia menggumam. Dengan handuk yang masih melilit di kepala dan tubuhnya, Malia duduk di tepi ranjang dan


sudah menyambar lagi ponselnya.


Terdengar sahutan suara Reiji dari sebrang telpon saat Malia dengan sedikit panik menghubungi Reiji di ponselnya.


Malia berdecak kecil saat mendengar ucapan Reiji yang seolah sedang meledeknya karena langsung berseru


memanggil nama Reiji, tanpa memberi salam terlebih dahulu.


“Iya, Assalamu’alaikum!” Cetus Malia.


“Nah gitu dong” Celetuk Reiji.


“Nah gitu dong, nah gitu dong!”


Malia berbicara sedikit ketus.


“Rei!”


“Hm?”


“Kok lo ga bilang mau kesini sekeluarga?! Jam sembilan pagi lagi!”


“Hehehe, lupa ....”


“Ish Reijiiii!!”


Malia menggeram gemas.


“Bisa-bisanya lo lupa sih ngasih tau gue hal penting begini?!”


“Ya namanya orang lupa, Li”


Rasanya Malia geregetan mendengar sahutan Reiji yang santai aja kedengeran nya itu di telinga Malia.


“Lagian aku Cuma dateng ber empat aja kok. Cuma buat sarat aja kalo kata papa sama mama buat minta kamu secara resmi ....”


“Iya tapi tetep aja gue jadi gelagapan gini, tau ga?!” Sambar Malia, padahal sepertinya Reiji masih mau nyerocos.


“Santai aja sih, Lia” Suara Reiji masih terdengar nyantai di seberang telpon.


“Santai! Santai!... Gue ga tau nih harus pake baju apa! Bingung sendiri kan gue jadinya?!”


“Masih cukup waktu buat dandan. Ini baru jam tujuh. Aku kesana juga jam sembilan. Lagian juga kamu pake apa aja tetep cantik, Lia ...”


“Pagi-pagi ga usah nge gombal!”


“Ye, siapa juga yang nge gombal? Emang kenyataannya begitu.... kamu cantik apa adanya, Lia” Sahut Reiji yang kedengarannya tulus.


“Ck!..”


Malia berdecak kecil.


“Ya udah sih, santai aja santai. Aku kan udah tau kamu dari bayi. Ga usah ribet sama baju en dandanan mau ketemu aku doang sih...”


“Ya tapi kan..”


“Tapi segini hebohnya mau aku datengin secara resmi, jangan-jangan kamu nervous ya? Nervous saking pengen membuat aku terkesan? ...”


“Yee kepedean!”


“Iya sih kayaknya begitu, yakin aku. Kamu pengennya keliatan cakep ya didepan calon suami?..”


“Liat aja entar gue unyeng-unyeng loh ya ngeledekin gue gini!”


“Boleh aja... Unyeng-unyeng pake bibir tapi ya? ...”


**


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2