WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 89


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Rei!”


Malia berseru memanggil Reiji yang sedang asik di dalam ruang serbaguna dalam apartemen mereka saat Malia memanggil dirinya.


“Rei! Ish!” Karena tak mendapat sahutan, Malia yang tadinya sedang berada di pantri pun menghampiri Reiji ke ruangan tersebut.


“Hm?....”


Reiji hanya berdehem saja menanggapi panggilan Malia padanya.


“Orang tuh kalo dipanggil nyaut dong!”


Malia berkata dengan sedikit ketus.


Baru Reiji yang nampak asik dengan sebuah buku di tangannya, menurunkan buku yang terangkat di depan wajahnya yang sedang berleha-leha di dalam ruangan serbaguna apartemennya dan Malia itu.


“Tadi aku kan udah nyaut, Yang....” jawab Reiji santai.


“Nyaut tuh ada suara, bukan Cuma berdehem doang.”


Malia ber-ketus ria.


“Lagian, apa kamu ga bosen apa dari tadi baca buku melulu?.... Aku yang liat aja bosen!”


“Ya udah, ada apa kamu manggil aku jadinya, Yang?....” ucap Reiji seraya bertanya.


Memotong ucapan-ucapan Malia yang bernada ketus padanya. Karena seyogyanya memang Malia yang memendam kesalnya pada Reiji itu, alhasil jadi ketus aja bawaannya pada Reiji.


“Abis beli buku baru kamu emangnya?....” tanya Malia pada Reiji, karena Reiji memang tampak asik sekali membaca di ruang serbaguna mereka sedari tadi.


Pada saat keduanya sedang sama-sama libur dari pekerjaan mereka masing-masing.


Reiji menggeleng. “Engga, aku lagi baca ulang buku yang ada.”


“Hah?”


Malia tercengang.


Lalu Malia mendekati Reiji dan duduk disamping suaminya itu.


Meski rasanya masih kesal pada Reiji-yang entah Malia kesal pada Reiji yang pernah ketus dan tak peka padanya dalam pandangan Malia, atau karena kehadiran Irsyad kembali dalam hidupnya, untuk sekarang Malia sedang berusaha fokus saja pada kehidupannya saat ini.


***


MALIA


Aku sedang mencoba fokus pada kehidupanku saat ini. Meski hatiku rasanya sedang merasa kesal entah pada Reiji atau pada kehadiran Irsyad yang tahu-tahu muncul lagi dalam hidupku.


Yang jelas, sekarang ini aku sedang duduk disamping Reiji-yang semenjak sarapan di weekend kami dimana Reiji juga ternyata tidak ada jadwal terbang, asik berleha-leha di ruang serbaguna kami sambil membaca sebuah buku.


Nampak tidak ‘peka’ jika kesal yang aku pendam dalam hatiku ini, mengakibatkan sebuah kebosanan.


Bukannya mumpung sama-sama libur mengajakku bicara untuk mengatur rencana pergi kemana kek gitu, eh dia malah asik sendiri.


Tapi aku cukup tercengang saat Reiji bilang dia sedang membaca ulang aja salah satu buku koleksinya yang ada di rak buku.


Karena buku yang sedang dibaca ulang oleh Reiji itu, setahu aku adalah buku yang paling tebal diantara semua koleksi buku yang Reiji punya.


“Buku setebel ini kamu baca ulang, Rei???....” aku sampai tercengang. “Ck ck ck.” Dan berdecak sambil geleng-geleng. Aku rasanya udah keburu migrain kalo baca buku setebal itu.


“Ini buku bagus, kamu harus baca, Yang.... ten---“


“Ogah banget!” potongku, kala Reiji ingin merekomendasikan sekaligus mempromosikan padaku buku super tebal yang tadi sedang ia baca itu.


Dan Reiji tidak melanjutkan lagi untuk merekomendasikan buku tersebut padaku.

__ADS_1


“Ya udah deh, silahkan lanjut....”


Aku bangkit saja dari tempatku yang tadi duduk disamping Reiji.


Berharap dia akan sedikit ‘peka’ untuk berbasa-basi menanyakan hal apa yang ingin aku lakukan di weekend ini saat kami sedang sama-sama libur seperti ini.


Yah meskipun memang aku juga tidak punya rencana apa-apa saat ini.


Tapi ya sudah, aku biarkan saja Reiji menikmati waktunya.


Toh dia juga berhak memiliki ‘me time’ nya.


Walaupun aku berharap Reiji meluangkan waktunya yang sempit itu untukku juga.


“Nan-----“


Ponsel Reiji bergetar tepat saat aku hendak menanyakan pada Reiji mau makan apa nanti siang.


Sedikit menyenggol Reiji, siapa tahu dia mengajakku makan diluar saat libur ini, lalu pergi ke suatu tempat yang menyenangkan.


Aku melirik pada ponsel Reiji yang bergetar di atas meja landai dekat sofa yang sama landai-nya dengan meja tersebut.


Nama seseorang yang aku tahu siapa dia-yang muncul pada layar ponsel Reiji yang sedang bergetar itu. Namun Reiji tak menggubris saat aku mengatakan padanya jika ada panggilan masuk ke ponselnya.


Hingga pada akhirnya aku meraih ponsel Reiji yang tak berhenti bergetar hingga membuat suara gesekan pada meja yang mengganggu telingaku.


“Irly’s calling nih!” Aku berkata ketus sambil menyebut nama pemanggil di ponsel Reiji.


Namun Reiji hanya berdehem saja, dengan mata yang masih fokus pada halaman buku yang sedang dibacanya.


Membuatku geregetan, ditambah ini panggilan dari perempuan bernama Irly seolah tidak berhenti masuk ke ponsel Reiji.


“Kalo karena aku kamu ga mau angkat panggilan dia, ga usah sok-sok cuek nyebelin begini!”


Aku meletakkan dengan sedikit kasar ponsel Reiji di atas halaman buku yang sedang Reiji baca itu.


Reiji sedikit mendongak menatapku dengan pandangan datar.


“Biasa aja ngomongnya bisa???....”


Aku seperti dejavu dengan kalimat Reiji barusan.


“Ga apa-apa emang kalo aku terima teleponnya Irly?....”


“Kamu masih berhubungan sama dia emangnya?....” aku balik bertanya.


Reiji tak langsung menjawabku.


Nampak menghela nafasnya, baru kemudian ia bicara.


“Aku masih temenan sama dia, jelas aku masih berhubunganlah.”


“Teman tapi mesra?” sindiran keluar dari mulutku. Karena seketika aku jadi kesal karena si Irly itu kenapa iseng banget ‘mengganggu’ waktu berdua-ku dan Reiji.


Meskipun kami sedang tidak mesra-mesraan. Efek bersitegang ku dan Reiji saat aku terlambat pulang masih ada sisa-sisanya, karena sejak itu, ‘genit’ nya Reiji belum aku lihat lagi.


Mungkinkah karena Reiji yang terkesan enggan padaku membuatku jadi berpikir macam-macam lagi tentang Reiji dan Shirly?. Habis, itu perempuan kenapa terkesan ‘gatal’ menghubungi suami orang diwaktu weekend begini?.


Reiji mengangkat satu alisnya. “Please deh Yang, aku udah jelasin ke kamu tentang aku dan Irly. Udah jelas ju-gaaa kan aku bilang ke kamu siapa perempuan yang aku cintai sekarang?.... aku harus nge-buktiin lagi ke kamu?....” ucap Reiji kemudian. “Udah deh, please, tolong, jangan mikir macem-macem lagi.”


“Gimana ga mikir macem-macem, kalo saat weekend aja dia nelponin kamu?.... Mau minta dianter kemana lagi?”


Sindiran-pun keluar dari mulutku, sambil aku berlalu dari hadapan Reiji.


“Astagaaa....”


Kudengar Reiji mend*sah sebal dibelakangku.


“Nih, Irly kirim pesan.... Aku bacain biar kamu ga curiga.”

__ADS_1


Reiji mengikutiku, keluar dari dalam ruang serbaguna kami.


Aku abaikan Reiji dengan tetap berjalan menuju ruang tamu.


“Ji, nanti sore gue ada rencana ngadain kumpul sama anak-anak yang lain di apartemen gue. Mendadak sih, cuma sekedar acara santai di apartemen gue yang baru. Anak-anak yang lain dah oke buat dateng, lo juga ya?. Ajak juga istri lo.”


Reiji benar-benar membacakan isi pesan dari Shirly, dan setelah itu matanya langsung menyorot padaku yang telah mendudukkan diri di sofa ruang tamu sambil melengos padanya.


“Ada yang mencurigakan dengan bunyi pesan dari Irly ini?. hanya karena pesan seperti ini, tetep dianggap salah juga pertemanan aku sama Irly?”


Aku bergeming.


Tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Reiji barusan.


Dimana didetik berikutnya, nada notifikasi dari ponsel yang berada di atas meja ruang tamu berbunyi.


Dan tanganku reflek meraih ponselku itu.


Sebuah pesan chat masuk ke dalam ponselku.


“Pesan dari siapa?.”


Reiji langsung melontarkan pertanyaan dengan nada suara yang sinis padaku.


“Temen.” Jawabku singkat.


“Oke, aku percaya.” Tukas Reiji. “Aku ga akan tanya siapa temen kamu yang nge-chat kamu itu, dan apa isi chatnya.”


Ucapan Reiji terdengar nyelekit di telingaku. Aku melirik ke arah Reiji. Tapi dia telah berbalik pergi dan kembali ke dalam ruang serbaguna.


Lalu aku kemudian asyik menggerakkan kedua jempol tanganku pada keypad di layar ponsel. Saling berbalas pesan dengan orang yang barusan mengirimiku pesan singkat pada akhirnya.


****


Reiji dan Malia sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Dimana Reiji melanjutkan untuk membaca, dan Malia sibuk berkirim pesan chat dengan orang yang lebih dulu mengirimkan pesan chat padanya, selain ia juga saling berkirim pesan chat dengan Avi yang sedang berada di Jogja bersama kekasihnya.


Sampai setelah beberapa saat kemudian, Reiji tampak keluar dari ruang serbaguna dalam apartemennya dan Malia.


“Yang, hari ini kita makan siang di luar aja yuk?!”


Reiji berucap sambil menghampiri Malia yang sedang menonton televisi sambil menikmati pisang goreng yang tadi sempat ia buat, sebelum sedikit bersitegang dengan Reiji karena panggilan telepon dari Shirly yang masuk ke ponsel Reiji.


“Pulangnya kita mampir ke tempat Irly....” Reiji berucap tanpa beban dan langsung mendudukkan dirinya disamping Malia. “Mau kan?. Ya?” tanya Reiji yang terdengar seperti sebuah permintaan pada Malia.


‘Ga salah nih orang ngajak gue ke tempat itu perempuan?.... ngajak gue ke tempat perempuan yang pernah dia cintai?’


Malia membatin.


“Aku udah keburu janjian sama temen aku barusan. Bete. Kamu juga kan katanya tadi ga mau kemana-mana hari ini....” tukas Malia.


“Ya udah ajak aja temen kamu gabung buat maksi bareng kita.... Abis itu hangout bareng sebentar sama dia kan bisa? sebelum aku ajak kamu ke apartemennya Shirly....”


“Temen aku ga akan nyaman kalo ada kamu dan dia sendirian....”


Malia menukas ucapan Reiji.


“Terserahlah, kalo gitu.”


Reiji nampak kesal, lalu ia bangkit dari duduknya yang tadi berada disamping Malia.


Malia memperhatikan sikap Reiji itu dengan sedikit meliriknya. Merasa maklum dengan sikap Reiji yang sepertinya kesal lagi padanya.


‘Sorry Rei, mikirin kamu masih berhubungan dekat sama Shirly meskipun hanya pertemanan sebagai sahabat, dan mikirin kalau kamu akan terima undangan dia, aku jadi terima ajakan Irsyad buat ketemuan.’


Malia menghela nafasnya kemudian.


****

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2