
Selamat membaca....
****************
REIJI
“Berarti, ada dia juga?... Shirly?” Malia langsung melontarkan pertanyaan itu selepas aku mengatakan jika aku hendak berkumpul dengan para sahabat solidku itu setelah agak lama juga kami tidak saling bertemu untuk sekedar kongkow santai.
“Iya...”
“Ohh.”
Malia merespons seperti itu, sambil menggeser tubuhnya yang tadi bersandar di dadaku.
“Mau kan, Yang?” Aku memperjelas ajakanku, meski kulihat gurat enggan di wajah Lia.
Dan rasanya aku tahu apa yang akan menjadi jawaban Lia.
“Kamu aja deh ya?... Aku ga ikut...”
Jawaban Lia yang persis seperti dugaanku.
----
“Aku ga akrab sama para sahabat kamu itu, Rei.”
“Ya makanya, ngumpul aku sama mereka kali ini kamu ikut, jadi bisa lebih kenal, Alhamdulillah kalo kamu bisa akrab juga sama para sahabat lamaku itu, Yang...”
Aku masih berusaha untuk membujuk Lia.
“Yang ada aku cengo, Rei. Kalo kalian tau-tau nostalgia.”
Alibinya Lia. Yang membuatku tersenyum tipis.
“Bukannya karena Irly?...”
Aku mengatakan dugaanku.
♦♦♦
“Kamu masih cemburu sama dia?...” tanya Reiji yang menarik Malia agar kembali rapat dengannya, ketika Malia nampak hendak bangkit dari ranjang mereka.
“Mungkin...”
Malia menjawab sedikit enggan.
“Ga tau juga sih.” Malia berucap lagi. “Entah cemburu, entah apa...”
Kemudian Malia menelusupkan tangannya diantara celah tangan Reiji.
“Aku hanya merasa ga nyaman aja asal denger nama dia, karena aku pasti otomatis inget kalo kamu pernah punya perasaan spesial sama dia meski menurut cerita kamu kalian ga pernah ada apa-apa selain pertemanan, dan dia yang ga pernah punya rasa yang lebih dari sekedar sahabat ke kamu.”
Malia mengeratkan pelukannya pada Reiji yang merengkuhnya mesra. Malia menghela nafasnya yang sedikit berat kemudian.
“Mungkin aku egois... dengan sikapku ini pada Shirly, sementara kamu bisa dengan sangat berbesar hati menerima aku yang pernah mencintai laki-laki lain dan masih memiliki rasa itu bahkan setelah kita menikah, lalu aku pernah ga mikirin perasaan kamu dengan menerima setiap ajakannya buat ketemu ...”
Malia masih mendominasi pembicaraan, dan hal itu Reiji biarkan.
“Tapi aku bukan kamu, Rei ... hati aku ga seluas dan sesabar, seikhlas hati kamu ... bukan juga aku ga percaya kalo kamu bener-bener udah ga nyimpen rasa sama dia. It’s just (cuma aja)–“
“Ya udah ... It’s okay, Yang,“ potong Reiji.
“Sorry ya, Rei ...” tutur Malia, sembari ia sedikit melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap pada Reiji yang tersenyum padanya.
“Never mind ( Ga masalah ) Yang, aku ngerti ...”
Reiji berucap lembut.
“Aku tau sikapku ini kekanak-kanakan ...”
“Engga kok, aku ga nganggep gitu-“
“Tapi emang gitu kenyataannya-“
“Udah ya, let’s end this talk? Aku ga akan maksa kamu ikut kumpul sama sahabat – sahabat aku, sampai kamu sendiri yang menawarkan diri ...”
Reiji menjepit dagu Malia dengan dua jarinya, seraya ia tersenyum.
“Okay? ...”
Malia menggerakkan kepalanya tanda ia menyetujui ucapan Reiji.
♦♦♦
“Rei –“
__ADS_1
“Iya sayang?”
Reiji menukas cepat Malia yang menyebut namanya.
“Mau lagi? ... Ayo! –“
“Ish!”
Malia langsung mendesis sambil memukul pelan dada polos Reiji yang orangnya barusan memasang dan bersikap konyol pada Malia, sehubungan mereka yang masih belum sama-sama berbusana.
Reiji terbahak renyah. Sebentar saja, lalu Reiji merengkuh posesif Malia lagi. “Kenapa, hm? –“
“Mau minta sesuatu ...”
“Mobil baru? ...”
“Boleh juga tuh –“
“Asal jangan Ferari, lambo ...”
Malia terkekeh kecil saat Reiji tengah mengabsen beberapa merek mobil mewah yang beredar di Jakarta.
“Kalo Maybach atau bentley? –“
“Kalo kamu mau jaga lilin, boleh ...”
Malia tak lagi terkekeh, namun ia terbahak karena kelakar Reiji barusan. Dan Reiji tersenyum lebar melihat istrinya itu terbahak.
“Jadi mau minta apa, hm? ...” tanya Reiji setelah beberapa saat, sambil ia memandangi Malia yang jelas tidak akan mungkin memang mau meminta mobil baru padanya seperti candaan yang dimulai Reiji tadi.
“Seperti kamu yang ga melarang aku berteman dengan siapapun asal ga merugikan, begitupun aku ke kamu, Rei ...” jawab Malia. “Aku ga akan larang kamu berteman dengan siapapun mau itu laki-laki atau perempuan...”
‘Perasaan gue ga enak...’ batin Reiji saat mendengar ucapan Malia barusan.
“Tapi satu aja aku minta...” ucap Malia sambil memandang serius dengan coba menatap penuh harap pada Reiji.
Reiji mengulas senyumannya pada Malia.
“Apa?” lalu Reiji bertanya dengan tenang, sambil mengusap lembut kepala Malia---walau hati Reiji sedang sedikit was – was.
“Sahabat kamu coret satu... Shirly, jadi teman biasa aja... Jangan terlalu sering berinteraksi dengan dia... Bisa?“
Reiji meringis dalam hatinya, karena yang ia khawatirkan terjadi. Malia sulit menerima Shirly sebagai sahabat baiknya.
Sebagaimana Reiji rasanya sulit juga kalau harus memutuskan tali persahabatannya dengan Shirly yang sudah belasan tahun terjalin.
♦♦♦
“Berat ya?...”
Suara Malia yang bertanya membuat Reiji tertarik dari lamunannya yang memikirkan soal permintaan Malia.
Yang membuat Reiji dengan segera kembali menatap pada Malia dan mengulas seutas senyuman. “Dibilang berat engga, tapi bingung aja sih...”
Reiji berkata apa adanya pada Malia mengenai apa yang sedang ia pikirkan sehubungan dengan permintaan Malia untuk mencoret Shirly sebagai sahabatnya.
♦♦♦
“Ya aku kan sama Irly udah belasan tahun sahabatan. Terlepas dari aku yang pernah punya perasaan sama dia, aku dan Irly bisa dibilang---sorry, lebih dekat satu sama lain ketimbang Irly sama anak-anak lainnya –“
“Oh –“
“Jangan marah, aku cuma berusaha jujur aja sama kamu, Yang...”
“Siapa yang marah coba?” tukas Malia. Reiji lalu tersenyum geli.
“Abis mukanya langsung ditekuk gini?...”
Reiji melontarkan candaan ringan, karena ia sedikit banyak sudah memahami Malia.
Namun Malia hanya tersenyum tipis saja menanggapi candaan Reiji barusan itu.
Dan reaksi Malia itu membuat Reiji menghela frustasi dalam hatinya.
“Kalo rasanya berat memutus persahabatan kamu dengan Irly, ya ga apa, Rei. Aku ngerti.”
Malia bersuara, karena merasa Reiji belum mengiyakan permintaannya, selain nampak berat harus memutuskan tali persahabatannya dengan Shirly.
“Kan aku udah bilang tadi, bukannya aku berat –“
“Tapi bingung,” potong Malia, seraya tersenyum tipis dipaksakan. “Bingung itu ya karena kamu berat untuk ngabulin permintaan aku untuk cuma temenan biasa aja sama dia –“
“Yang –“
“Ga apa-apa.” Malia memotong lagi ucapan Reiji. “Aku juga punya sahabat, dan aku juga ga bakal mau kalo disuruh memutus persahabatan aku sama Avi.”
__ADS_1
'Pasti ada tapinya,' terka Reiji dalam hati.
“Aku mau ke kamar mandi.”
Lalu Malia lanjut lagi bicara. Mengulas senyuman sambil memandang pada Reiji, dengan Malia yang mengangkat tubuhnya.
“Iya...” sahut Reiji yang balas tersenyum pada Malia.
“Ada yang telfon kamu tuh Rei kayaknya.”
Malia yang kebetulan arah matanya selurusan dengan nakas di samping Reiji itu segera berucap kala melihat ponsel Reiji nampak kedap-kedip.
“Mungkin aja si bibit pebinor itu udah aktifin ponselnya dan dia hubungin aku buat ngajak ketemu ya, Yang?” sahut Reiji yang bermaksud mencairkan suasana dengan Malia, karena biasanya kalau membahas dirinya yang ingin menemui Irsyad, wajah Malia langsung panik dan setelahnya Reiji bisa memasukkan candaan yang kiranya bisa membuat Malia yang jadi nampak bad mood itu kembali normal.
“Mungkin...” Namun kali ini tanggapan Malia tak sesuai ekspektasi Reiji, karena sekarang Malia nampak masa bodoh dengan Reiji yang membahas soal Irsyad itu.
Biasanya selain panik, Malia akan melipat bibirnya karena rasa tidak enaknya pada Reiji.
‘Ah elah panjang deh nih urusan.’
Reiji berkesah dalam hatinya, karena menyadari jika sang istri benar-benar menjadi bad mood setelah membahas soal Shirly.
“Angkat dulu tuh telfonnya –“
“Iya –“
“Siapa?” tukas Malia seraya bertanya kala Reiji telah meraih ponselnya yang kedap-kedip di atas nakas di samping suaminya itu, sambil matanya menelisik ke arah Reiji.
‘Duh!...’ Reiji berkesah lagi ketika ia sudah memegang ponselnya yang sedang dihubungi seseorang, ketika ia melihat nama pemanggil di ponselnya.
“Siapa?... ada tugas mendadak?...”
Malia lagi bertanya pada Reiji, setelah ia bangkit dari ranjang setelah memakai pakaiannya yang sempat terserak di ujung tempat tidur.
“Ini ...”
“Bos kamu?”
“Bukan.”
“Bibit pebinor? –“
“Bukan, Yang, ini ...”
“Oh, dia ...“ cetus Malia yang melongo untuk melihat nama pemanggil di layar ponsel Reiji, selain ia penasaran dengan orang yang menghubungi suaminya itu pada saat jam tidur begini.
“Yang –“
“Perempuan kesepian yang ga ada kerjaan, haus belaian, ngarepin perhatian sampe nelfonin suami orang malem – malem –“
“Kok ngomongnya gitu sih, Yang? ...“ tukas Reiji lembut pada Malia setelah mendengar komentar istrinya itu untuk seseorang yang barusan menghubunginya dan sudah mati panggilannya sekarang. “Ir –“
“Eh, salah ya? ... Bukan perempuan kesepian –“
“Yang ...” Reiji menukas ucapan Malia yang nampak terlihat tidak senang itu. ‘Ngambek deh pasti. Disangkain gue belain Irly ...’
Lalu Reiji membatin di detik berikutnya karena melihat gelagat Malia, sambil ia meraih celana pendeknya.
“Jangan mikir aku belain dia. Aku sama Irly memang masih suka komunikasi agak sering karena dia kerja di tempat kenalan aku. Dia kadang cuma minta pendapat aku, juga anak-anak yang lain untuk suatu hal. Kalo masalah dia telfon aku jam segini, biasanya ada yang urgent. Karena Irly bukan tipe orang yang mau nyusahin sahabatnya kalau memang ga bener-bener terdesak –“
“Hmm ...”
Malia nampak acuh, dan Reiji sudah bangkit dari ranjang untuk menghampiri Malia.
Dimana istrinya itu nampak menggumam asik sendirian.
Membuat Reiji menghela nafasnya, karena merasa jika ucapan panjang lebarnya tadi tak dianggap oleh Malia.
Reiji hendak membujuk Malia yang nampak asik menggumam itu.
Yang sesuai dugaannya, jika Malia tak menghiraukan sedikitpun penjelasannya soal Irly yang menghubunginya barusan saat waktu telah hampir larut, karena Malia lagi-lagi menggumamkan cibirannya pada Shirly yang sempat disanggah Reiji.
“Kalau bukan perempuan kesepian kurang kerjaan haus belaian, ngarepin perhatian suami orang sampe nelfonin suami orang malem – malem, terus apa dong? –“
“Udah dong, Yang ...” ucap Reiji dengan nada putus asa, karena Malia terus saja abai padanya---masih menggumam, malah lebih seperti meracau.
Yang ingin Reiji hentikan dengan lembut racauan Malia itu.
“Apa ya? ...” gumam Malia lagi.
“Lia, sayang ...“ Reiji terus berusaha agar Malia fokus padanya.
Namun sepersekian detik berikutnya, Reiji dibuat terperangah setelah mendengar ucapan Malia berikutnya yang istrinya itu seolah sengaja pertegas.
“Oh, Bibit Pe-la-kor –“
__ADS_1
♦♦♦♦♦♦
To be continue ...