WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 257


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Yang?—“


“Jangan mendekat—“


Takk!...


Bersamaan dengan suara yang menyebut seseorang dengan panggilan kesayangannya seraya si pemanggil sudah mendekat dengan orang yang ia panggil, dia yang sedang didekati oleh orang yang berucap sebelumnya itu langsung berseru.


“Akh!” didetik dimana suara aduhan juga langsung terdengar. Setelah sebuah figura foto dilayangkan oleh dia gerangan yang adalah Malia, sampai ke satu bagian tubuh orang yang sudah berada di dekatnya itu. Dimana orang yang mengaduh itu adalah Reiji.


“Rei!”


Malia yang mengenali suara Reiji walau mengaduh itu, langsung terbelalak.


“Sshh ...“


“Rei!” Malia spontan memekik kemudian.


**


REIJI


Di dalam penthouse milik adiknya Tuan Alva, aku merasa aman.


Dua orang anak buah beliau yang menyertaiku dan Ammar saat menyelamatkan Lia dari tawanan si bibit pebinor b*jingan bernama Irsyad pada sebuah villa itu mengatakan jika mereka akan berjaga di luar penthouse.


Selain, ada juga seorang asisten rumah tangga yang ready on duty di dalam penthouse milik adiknya Tuan Alva ini yang akan menyediakan segala kebutuhan yang kiranya aku dan Lia inginkan.


Yang mana ART itu bilang, aku tidak perlu sungkan untuk memberikannya tugas atas titah langsung dari majikannya --- yakni adik Tuan Alva yang bernama Tuan Jonathan dan istrinya, selain juga ia telah dipesankan oleh Ammar untuk melayaniku dan Lia selama kami berada di dalam penthouse ini.


Tapi walau begitu, aku tidak mau aji mumpung bersikap pada ART tersebut walau aku juga sudah di hubungi langsung oleh Jonathan --- si pemilik penthouse yang sedang aku dan Lia gunakan untuk singgah ini, karena Lia sedang tidak sadarkan diri. Yang entah penyebabnya mungkin karena Lia lelah selama dia di tawan oleh si keparat Irsyad, atau mungkin karena Lia syok melihatku ingin menembak laki – laki keparat itu --- atau karena efek obat perangsang yang dikatakan Ammar padaku.


Yang mana beberapa dari jenis obat ilegal itu, dapat membuat korbannya tak sadarkan diri secara penuh, hingga tak menyadari jika dia telah mendapatkan pelecehan seksual.


Untung saja aku datang tempat waktu sebelum si keparat Irsyad itu memperkosa Lia.


--


Usaha penyelamatan Lia memang tidak sampai seperti adegan rencana pembebasan sandera oleh penjahat seperti di film – film. Tidak terlalu menguras tenagaku juga, karena yang lebih banyak bekerja adalah para anak buahnya Tuan Alvarend. Yang jika melihat dari bagaimana mereka bersikap pada Ammar sih, mereka masuk ke dalam kategori bawahannya Ammar—yang setahuku dia adalah orang kepercayaan Tuan Alvarend.


Yah, bicara soal usaha penyelamatan Lia. Meski tidak menguras tenagaku, karena aku hanya berjalan sedikit agar dapat masuk ke dalam villa yang aku ketahui adalah milik keluarga si bibit pebinor b*jingan itu--dari mobil yang aku tumpangi sebelumnya.


Lalu berlari sedikit ketika mendengar teriakan Lia, kemudian menggendongnya hingga mencapai mobil yang tadi mengantar kami ke penthouse milik adik Tuan Alvarend ini.


Tapi walau hanya begitu saja, aku merasakan tubuhku rasanya lengket—walaupun Bogor tidak sepanas Jakarta. Dan merasa aku perlu mandi. Maka hal itu pun aku lakukan. Aku masuk ke kamar mandi untuk sekedar menyegarkan tubuhku, setelah memastikan Lia berbaring dengan nyaman—dan aku bisa tenang saja meninggalkan Lia karena kami berada di tempat yang aman tentunya.


**


Hanya sebentar saja Reiji berada di dalam kamar mandi dalam penthouse milik salah seorang dari keluarga sultan yang mempekerjakannya.


Begitu sekarang Reiji membahasakan satu keluarga yang mempekerjakannya sebagai seorang pilot pribadi itu. Karena keikutan Malia.


“Haiya, gue kan ga bawa baju ganti? ...” gumam Reiji setelah ia selesai membersihkan dirinya. Dengan mandi namun hanya sekenanya saja—yang penting dapat menyegarkan tubuh Reiji yang laki – laki itu rasakan agak lengket.

__ADS_1


Namun kemudian Reiji mengingat ucapan pemilik penthouse tempatnya berada itu yang sudah menghubunginya dan memberikan ijin jika Reiji atau Malia ingin menggunakan pakaiannya dan pakaian milik istri pemilik penthouse tersebut dalam lemari di walk in closet pada kamar yang cukup luas dan mewah itu.


**


REIJI


Aku hanya sekedar membasahi tubuh telanjangku di bawah kucuran shower dalam kamar mandi yang tersedia di kamar tidur utama pada penthouse milik Tuan Jonathan.


Meski ada ragam perlengkapan mandi super lengkap di dalamnya, aku tidak berniat menggunakannya karena aku merasa sungkan menggunakan barang orang lain meski yang punya telah memberi ijin secara langsung.


Tapi berhubung habis mandi, mau tidak mau menggunakan salah satu barang yang tersedia di dalam kamar mandi tersebut, yakni handuk yang sebelumnya telah diberitahukan tempatnya oleh ART yang bertugas di penthouse milik adiknya Tuan Alvarend ini.


Dan aku segera mengambil sebuah handuk dari dalam satu laci pada kabinet di bawah wastafelnya, untuk mengeringkan tubuhku yang sudah keluar dari dalam bilik shower. Dan saat aku sedang mengeringkan tubuhku, aku melihat pakaianku yang tersampir di permukaan wastafel yang kering—yang mana sebelum aku mandi memang pakaianku itu aku letakkan di sana.


Dengan memperhatikan pakaianku itu dan berpikir jika masih ada jejak keringatku di sana walau tak banyak.


Dan aku enggan untuk menggunakan pakaianku itu lagi sehabis mandi begini. Setidaknya aku harus mengangin – anginkan pakaianku itu sebelum bisa dengan nyaman aku pakai kembali.


Tapi masa aku handukan doang wara wiri di dalam penthouse Tuan Jonathan ini?


Bagaimana kalau Lia bangun dan dia merasa lapar? ...


Aku kan harus pergi ke dapur dan melihat apa yang tersedia di sana, atau bertanya pada art di penthouse ini jika dia bisa membuatkan atau memesankan makanan untukku dan Lia.


Dan untuk itu aku harus keluar kamar, yang mana tidak mungkin aku keluar dari kamar ini dengan hanya menggunakan selembar handuk.


--


Tapi kemudian aku ingat ucapan Tuan Jonathan yang mengatakan jika aku silahkan saja bila ingin menggunakan pakaiannya dalam lemari jika memang aku memerlukannya, begitu juga pakaian istrinya yang Lia dipersilahkan untuk juga menggunakannya.


Jadi karena keadaan, aku memilih untuk meminjam salah satu kaos dan celana rumahan milik Tuan Jonathan saja dulu. Yang kebetulan perawakannya kurang lebih sama seperti diriku.


**


Reiji membuka pintu kamar mandi sebuah hunian yang dipersilahkan untuk ia gunakan sementara waktu yang ia inginkan oleh si empunya.


Yang mana posisinya jika sudah berada di luar pintu kamar mandi tersebut, pandangan akan dapat langsung melihat area tempat tidur.


‘Eh? Lia udah sadar?’ Reiji spontan membatin, karena matanya memang menangkap Malia sedang berdiri di dekat nakas ranjang tempat Reiji membaringkan Malia tadi.


Namun Malia nampak tidak memperlihatkan pergerakan, bak sedang membeku di sana. Lalu Reiji segera mengayunkan langkahnya mendekati Malia dengan cepat, karena khawatir mungkin saja Malia masih lemah dan limbung.


**


Reiji sudah mendekat pada Malia, yang sedikit membuatnya mengernyit karena Malia yang nampak membeku di tempatnya itu. Dan Reiji segera bersuara.


“Yang?—“


“Jangan mendekat ...“


Bersamaan dengan Reiji yang mendekat dan memanggil pelan Malia, suara Malia yang panik pun terdengar.


Dengan sebuah figura foto yang diayunkan Malia menggunakan tenaga, walau sembarang arah Malia mengarahkan figura tersebut—namun tetap mengenai Reiji.


Hingga suara aduhan berikut ringisan spontan keluar dari mulut Reiji, saat figura foto besi berukuran sedang itu menghantam cukup lumayan lengannya. Di detik setelah Reiji mengaduh, suara pekikan Malia yang panik pun terdengar.


**

__ADS_1


“Ya ampun Rei ... maaf—“


“Ga apa – apa Yang ...”


Reiji menukas dengan tersenyum pada Malia yang nampak panik itu.


“Aku pikir kamu—“


“Kamu udah aman sekarang Yang ...“


Reiji menukas lagi ucapan Malia yang Reiji tahu kemana maksudnya.


“Jadi tenang ya? ...” Reiji kembali berucap, dengan mengabaikan rasa cenat – cenut di lengannya. Sambil Reiji membelai lembut wajah Malia.


“Reiii ...”


Dan di detik berikutnya, Malia langsung memeluk Reiji dengan eratnya seraya ia terisak.


Reiji pun memeluk istrinya itu posesif, dan memberikan rasa nyaman dan aman untuk Malia.


“Aku pikir kamu yang nyelametin aku, cuma mimpi, Rei ...” ucap Malia dengan sedikit mendongak menatap wajah Reiji yang kemudian melemparkan senyum lembut padanya.


“Bukan, Yang, bukan mimpi. Ini beneran aku—“


Gluk!


Adalah Malia yang spontan meneguk salivanya, ketika Reiji mengurai pelukan mereka, lalu mendudukkan dirinya di sisi ranjang.


Karena mata Malia akhirnya menyadari jika saat ini Reiji hanya menggunakan handuk saja.


‘Apa karena jaket ini gue jadi merasa kepanasan?’


Monolog Malia dalam hatinya.


“Ada yang sakit Yang?” tanya Reiji melihat Malia yang nampak bengong.


“Eng- engga ... aku cuma haus ...” jawab Malia, yang karena mulai merasakan hawa panas di tubuhnya, dia jadi merasa sangat kehausan.


“Sebentar ya? ...”


Reiji berucap, sambil ia berjalan ke arah lemari pendingin berisi minuman yang sebelumnya sudah ia lihat keberadaannya.


Dan mata Malia memperhatikan dengan seksama Reiji yang sedang berjalan ke arah lemari pendingin itu. Lalu sekali lagi Malia meneguk salivanya.


Terasa kian panas tubuhnya saat Reiji telah mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin dan berjalan ke arah Malia dengan dada Reiji yang terekspos pahatan ototnya di bagian tertentu.


Malia merasakan otaknya korslet, karena tangannya terasa gatal ingin menarik lepas handuk yang melilit dari pinggang Reiji ke bawah itu. Lalu membayangkan apa yang tersembunyi di balik handuk yang suaminya gunakan itu, dimana ‘sesuatu’ tersebut seringkali menyiksanya dalam kenikmatan.


Dan Malia benar – benar menginginkannya sekarang.


“Yang? ...”


Malia terkesiap ketika Reiji menyebut panggilan sayangnya.


Lalu di detik berikutnya Reiji yang terkaget sampai botol air mineral yang ia pegang lepas, karena Malia menariknya kuat dan menyambar bibir Reiji dengan begitu cepatnya.


*****

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2