
Selamat membaca....
***
REIJI
“Aku coba ..”
Jawaban Lia membuatku menarik sudut bibirku.
Sedikit tidak puas memang, tapi aku rasa itu jauh lebih baik.
Daripada Lia mengatakan tidak atas permintaanku yang tadi mengatakan,
“Bisa kamu menempatkan kepercayaan kamu sama aku, tanpa lagi ada sindiran-sindiran soal aku dan Irly dikemudian hari?....”
Setelah aku mengatakan Lia bebas saja untuk memeriksa ponselku kapan saja dia mau. Padahal selama ini, aku akan membiarkan ponselku begitu saja tanpa terkunci jika aku berada di apartemen dan ada Lia bersamaku.
Tapi tetap aku bahas soal mengecek ponsel, jika memang Lia rasa perlu untuk membuktikan kejujuranku.
Dan Lia mengatakan jika dia tidak berkeinginan untuk memeriksa ponselku. Dan karena itulah, aku meminta Lia untuk berjanji agar dapat menaruh kepercayaan padaku, tanpa lagi harus mengeluarkan sindirian-sindiran padaku atau pada Shirly tentang masa lalu kami.
“Aku pegang kata-kata kamu ya, Yang?”
Aku meminta kepastian.
“Iya.” Jawab Lia seraya mengangguk.
“Makasih ya ...”
“Iya.” Sahut Lia.
Akupun tersenyum lega, sambil mengacak rambut Lia. Lalu aku dekatkan wajahku hendak mencium bibirnya.
Kesampaian!.
Lia tidak menolak.
Namun saat ingin ku perdalam ciumanku, Lia menarik diri dengan halus.
“Aku mau bawa pakaian kotor ke laundry, Rei ...”
“Nanti biar aku aja yang bawa,” sahutku.
“Ya udah kalo gitu ...” tukas Lia. “Pakaian kotor kamu dari tugas ke Paris udah kamu keluarin?”
“Belum.”
Lia mendengus.
“Kebiasaan deh....”
Lalu Lia segera bangkit dari tempatnya duduk.
“Kenapa sih ga langsung dikeluarin?. Bau kan nanti jadinya kalo baju kotor ga langsung kamu keluarin?! ...”
“Iya sorry.”
“Ya udah kalo sarapan kamu udah selesai, langsung keluarin itu baju kotor kamu ....”
“Oke Bos!”
“Ya udah aku rapiin kamar dulu.”
Aku pun mengangguk mengiyakan.
Lalu memandang punggung Lia yang sedang berjalan ke arah kamar kami dengan tersenyum sambil mengunyah donat yang barusan aku gigit.
Setidaknya, sedikit banyak, Lia sudah agak mencair.
--
Aku merasa penjelasanku soal Irly sudah cukup adanya, dan aku sangat berharap jika Lia yang katanya mau ‘mencoba’ untuk menerima penjelasanku itu tidak hanya pada bibirnya saja.
Agar jangan lagi Lia mengungkit soal masa laluku – perasaan yang pernah aku punya pada Irly, agar pikiran Lia soal dia yang aku jadikan pelarian soal cintaku pada Irly yang tidak berbalas itu hilang sepenuhnya.
Karena sesungguhnya, dugaan Lia itu amat sangat salah.
“Yang ...” panggilku pada Lia saat aku menyusulnya ke kamar kami yang sudah nampak rapih itu.
Well, sebenarnya kamarku dan Lia juga tidak pernah berantakan-berantakan amat. Toh kami memang mempergunakannya untuk tidur, atau saat sibuk dengan laptop kami. Karena televisi hanya ada di ruang santai saja.
Aku pikir, aku tidak perlu menempatkan televisi di kamarku dan Lia agar kamar tidur memang tetap pada fungsinya.
Yah, walau di kamarku yang berada di rumah orang tuaku, ada televisi yang diletakkan disana. Orang tuaku yang menyediakannya juga, jadi ya terima aja.
Tapi di apartemen, tempat tinggalku dengan Lia setelah kami menikah ini aku sekedar ingin memfungsikan saja kamar tidur sebagai tempat beristirahat, dan melakukan pillow talk sebelum tidur tanpa mata terfokus pada acara televisi.
Pillow talk yang mana fokus pada pasangan saat berada di kamar tidur, adalah hal yang disarankan sebagai kunci keharmonisan rumah tangga – katanya begitu.
Entah kata siapa?.
__ADS_1
Tapi mungkin benar juga kata-kata itu.
Aku dan Lia jarang ber-pillow talk ria, meskipun kami sedang berada di waktu yang sama kala waktu tidur dimalam hari tiba.
Jadi hubunganku dengan Lia menjadi kurang harmonis?.
Entahlah?.
Mungkin saja ...
Sepertinya nanti jika hubunganku dan Lia telah normal kembali-seperti sebelum persoalan masa laluku ini membuatnya gusar, aku akan mencoba untuk mempraktekkan pillow talk dengannya sesering mungkin.
Yang jelas sekarang, aku fokus dulu untuk benar-benar memperbaiki hubunganku dan Lia yang terasa hambar selama beberapa hari belakangan ini.
“Yang ...”
Aku menyusul Lia ke kamar kami, karena aku tersadar bahwa pembicaraan dari hati ke hatiku dengan Lia seyogyanya belum selesai.
Karena Lia yang tahu-tahu membahas soal pakaian kotor yang mau dibawa ke Laundry dan Lia pun tiba-tiba berdiri dari duduknya, aku jadi sedikit teralihkan.
Jadi saat aku tersadar akan hal itu, aku langsung menyusul Lia ke kamar kami.
Ingin meneruskan kembali pembicaraan dari hati ke hatiku dengan Lia. Karena tadi, hanya baru soal isi hatiku saja yang baru aku sampaikan pada Lia.
Aku belum mendengar soal isi hati Lia, yang aku ingin ia sampaikan padaku.
“Ya? ....”
Lia yang sedang duduk di lantai kamar kami dan merapihkan pakaian kotor dari keranjang ke dalam kantung Laundry itu pun menyahut.
“Udah selesai sarapannya?”
“Udah.”
Aku menjawab seraya mendekat pada Lia.
“Kalo gitu kamu bongkar deh tuh koper kamu, biar sekalian kerja nih aku.” kata Lia sambil menunjuk koper ku dengan dagunya.
“Kan deket kamu juga ini koper sama kamu, Yang ....”
Aku meraih koper ku, sebelum aku duduk bersila disamping Lia.
Dan meletakkan koper ku itu didepan kakiku yang terlipat.
“Kamu tinggal tarik dan buka, abis itu bisa langsung kamu ambil pakaian kotor aku ....”
Aku membuka resleting koper ku, yang kemudian aku buka lebar-lebar, lalu ku keluarkan satu per satu isinya, dan pakaian kotor aku oper ke Lia.
“Ngapain segala diendus?”
Lia melirik padaku dengan tatapan anehnya.
Aku pun mendengus geli.
“Ya biasanya kan istri suka ngendusin pakaian suaminya kalo punya suami yang punya tugas luar kayak aku? ....”
“Kurang kerjaan ....” gumam Lia, yang membuatku kembali mendengus geli.
Lalu aku kembali fokus membongkar koper ku, lalu menjajarkan satu-satu isinya selain pakaian kotor.
Sengaja, agar Lia bisa menilai sendiri bahwasanya tak ada yang ingin aku sembunyikan darinya. Lalu bilang, ‘berhenti curiga sama aku, Yang.’
Tapi kalimat itu tidak aku suarakan. Takut membuat Lia bad-mood lagi, dan semakin acuh padaku dari sebelumnya. Semakin jauh dari yang namanya keharmonisan rumah tangga.
“Next time, kalau mau bongkar koper setelah aku tugas seperti kemarin, ga usah nunggu aku .... Langsung aja bongkar, termasuk Navy bag aku .... Aku ga masalah soal itu.”
Lagi, aku sengaja berucap seperti itu, dengan selipan makna lain dalam ucapanku. Aku harap sih Lia paham.
Lia tak menyahut.
“Jangan khawatir, aku ga akan ganggu privasi kamu kalo kamu ga ijinin, Yang.”
“Thanks ...”
“Seperti kamu, aku juga ga ada niatan untuk masuk ranah pribadi kamu ...”
Aku menoleh dan tersenyum pada Lia. Lia melakukan hal yang sama, namun tipis saja senyumnya.
“Ya udah sini, kalo udah selesai kamu rapihkan aku langsung bawa ke Laundry. Sekalian aku mau jogging juga –“ ucapku.
“Oh kamu mau jogging?..”
“Iya kenapa?..”
“Ga apa-apa ..” jawab Lia.
Akupun bangkit dari tempatku.
--
Aku sudah mengganti pakaianku dengan pakaian yang pas untuk jogging, berikut sepatunya.
__ADS_1
“Kamu ga mau ikut jogging, Yang?” tanyaku pada Lia.
“Engga deh, Rei ..”
“Ya udah kalo gitu ..”
Aku mengacak pelan rambut Lia.
“Ada yang mau dititip ga? ..” tanyaku sambil meraih tas Laundry berisikan pakaian kotorku dan Lia.
Lia menggeleng saja.
“Buryam belakang? ..”
Aku menawarkan Lia untuk membelikan bubur ayam favoritnya dan ia tetap menggeleng.
“Enakan makan di tempat ..” kata Lia.
“Ayo kalo mau makan kesana ..”
“Engga deh kalo sekarang, Rei--” jawab Lia. “Abis makan donat tiga biji sama teh secangkir gede udah berasa kenyang perut aku.”
“Ya udah ..” sahutku. “Aku tinggal dulu ya kalo gitu.” Ucapku kemudian, sambil menjinjing tas laundry berisikan pakaian kotorku dan Lia. Dan Lia pun mengangguk seraya menyahut.
“Ya ..”
Lalu aku berlalu dari hadapan Lia.
--
Aku baru saja menyerahkan tas laundry berisikan pakaian kotorku dan Lia pada gerai laundry 24 jam yang ada di bagian luar bawah komplek gedung apartemen kami.
Namun saat petugas gerai laundry tersebut menyerahkan bukti tanda terima padaku, aku menyadari jika aku tidak membawa dompetku. Untung saja urusan laundry ini nanti pembayarannya saat pakaian kotorku dan Lia telah selesai mereka bersihkan.
Jadi aman-aman aja sih. Namun begitu, rasanya aku harus kembali ke unit apartemenku dan Lia guna mengambil dompetku.
Bukan karena takut ada ‘apa-apa’ di dalamnya, melainkan aku tidak biasa kemana-mana tidak membawa dompet, atau setidaknya uang tunai di dalam sakuku.
Terlebih sejak menikah bersama Lia.
Jika kami kebetulan sedang jogging bersama, istriku yang labil itu pastinya minta jajan.
Jadi semakin menjadi kebiasaan, aku selalu membawa dompet atau uang cash kemanapun aku pergi.
Walau ke tempat yang dekat sekalipun, atau saat hendak akan jogging begini. Mungkin nanti saat jogging aku menemukan makanan yang bisa aku beli dan aku bawa pulang ke apartemen.
Selain dompet, rasanya aku juga akan mengambil ponselku serta. Sekali lagi, bukan karena ada ‘apa-apa’. Melainkan rasanya iseng aja jogging sendirian, dan ponselku akan aku pergunakan untuk mendengarkan musik nantinya.
Jadi aku melangkahkan kakiku untuk kembali ke unit apartemenku dan Lia.
--
“Yang? ...”
Aku memanggil Lia saat aku telah berada di dalam unit apartemen kami, dimana aku langsung masuk ke dalam kamar.
Karena dompet dan ponselku berada di atas nakas samping tempat tidurku dan Lia kalau seingatku. Jadi aku langsung saja melangkahkan kakiku kesana.
Aku tidak melihat Lia di area ruang santai, pantri atau balkon saat aku masuk. Jadi kupikir Lia berada di kamar kami. Tapi nyatanya area kamar kosong saat aku masuk.
Jadi aku mencari Lia ke dalam walk in closet sambil memanggilnya.
Tapi tidak ada juga.
Namun rasanya aku tau Lia dimana. Dan aku rasa dia sedang mandi.
Duh andainya hubungan kami sedang tidak se-canggung sekarang, aku pasti akan menyusul Lia ke kamar mandi saat ini juga.
Ah sudahlah, lebih baik aku segera meraih dompet dan ponselku untuk segera melanjutkan jogging-ku yang tertunda untuk meredamkan keinginan untuk 'menerkam' Lia saat ini.
Disaat aku telah mengambil dompet dan ponsel berikut headset-ku dari laci nakas, perhatianku teralih ke nakas yang satunya. Aku menangkap suara ponsel yang sepertinya di setel ke mode getar.
Ponselnya Lia, yang ada di atas nakas pada sisi tempatnya biasa tidur.
Tadinya ingin aku abaikan saja, karena aku pikir hanya sebuah pesan masuk.
Namun ponsel Lia itu terus-terusan mengeluarkan suara samar getaran yang bergesekan dengan permukaan nakas.
Toh aku juga mengingat janjiku pada Lia untuk tidak masuk atau bahkan menyentuh ranah pribadinya tanpa ijin dari yang bersangkutan, sekalipun dia istri sah-ku.
Tapi getar yang terus menerus dari ponsel Lia itu akhirnya membuatku mengayunkan langkah ke tempat ponsel Lia berada.
Karena getaran yang terus menerus itu adalah pertanda jika ada panggilan masuk. Mungkin Avi atau mertuaku yang menghubungi ponsel Lia saat ini.
Jadi aku mendekati tempat dimana ponsel Lia berada, untuk mengambilnya dan memberikan pada Lia yang kemungkinan besar sedang berada di dalam kamar mandi.
Tapi dahiku segera mengernyit saat melihat nama pemanggil yang sedang mencoba menghubungi ponsel Lia itu. Nama yang asing bagiku.
Kak Irsyad?.
***
__ADS_1
To be continue ..