WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 147


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


Kalau tahu jika sosok yang sedang berada di hadapanku saat ini datang untuk menemuiku secara tiba-tiba di tempat kerjaku ini, aku akan memilih untuk makan mi instan cup yang tersedia di pantri kantor, atau tetap berada di mejaku dan titip beliin makan sama OB. Lalu titip pesan pada resepsionis cantik jelita di lantai kerjaku, untuk mengatakan jika aku tidak di tempat pada siapapun yang mencariku-terutama orang luar.


“Hai Li ----“


Orang luar yang sedang aku hindari dulu untuk bertemu sementara waktu.


“Kak Irsyad? ----“


Yap, orang yang sedang aku hindari itu kini sudah ada dihadapanku. Dan aku sungguh terkejut.


“Apa kabarnya kamu Lia?”


“Em... Ba,ik Kak...” jawabku sedikit tergugu, namun aku tetap mencoba untuk bersikap biasa dengan mengulas senyuman-walau tipis.


“Li... Mau bareng atau?...”


Salah seorang rekan kerjaku yang sudah siap keluar dari lobi-memanggil dan sepertinya ia ingin menanyakan apa aku jadi ikut makan bareng dengan beberapa rekan kerja satu divisiku itu, karena ia melihat aku yang berbicara dengan Irsyad, yang mana mereka tidak kenal.


“Kalian duluan aja.”


Segan tak segan itu yang aku katakan pada rekan kerjaku yang barusan bertanya padaku itu, sambil aku juga melemparkan senyuman dan tatapan ‘gih sana makan tanpa gue’.


“Ada temen gue.”


Aku tersenyum pada beberapa rekan satu divisiku sambil menunjuk pada Irsyad.


“Hai—“ Irsyad mengangkat satu tangannya untuk menyapa beberapa rekan kerjaku seraya ia tersenyum.


Lalu beberapa rekan kerja divisiku itupun melakukan hal yang sama macam Irsyad untuk membalas sapaan laki-laki dari masa laluku itu sebelum mereka keluar dari lobi. Meninggalkan aku yang kini merasa serba salah sendiri.


Andai saja Irsyad keburu datang saat aku masih di lantai kerjaku sebelum aku pergi maksi, aku kan bisa beralasan jika aku sedang banyak kerjaan jika Irsyad datang untuk mengajakku pergi bersama dengannnya. Dan aku juga bisa mengatakan pekerjaanku sungguh tidak bisa ditinggal sampai aku harus titip dibeliin makan siang sama OB.


Tapi yang ada, aku malah bertemu Irsyad di lobi gedung perkantoran tempatku bekerja disaat aku terlihat sekali santai berjalan bersama beberapa rekan kerjaku, selain memang aku menanggalkan blazerku dan hanya membawa dompet berukuran sedang yang bisa muat ponsel di dalamnya.


“Sepertinya aku dateng disaat yang tepat ya, Li? –“ kata Irsyad. “Kayaknya sekarang kamu dan team udah nyelesain deadline kalian.” sambungnya dan aku paham maksud ucapan Irsyad tersebut.


Yang mana aku tidak lagi memiliki alasan untuk menolak undangannya-yang mana untuk makan siang bersama dengan Irsyad.


*


Malia merasa tidak nyaman sebenarnya dengan keberadaan Irsyad yang muncul dengan tiba – tiba dan datang di gedung perkantoran tempatnya bekerja.


“Jadi .. Kamu bisa kan makan siang bareng aku?” ucap Irsyad.


Aku menghela nafas dengan samar.


Lalu aku mengangguk, dan bersuara untuk mengiyakan. Karena aku tak punya pilihan.


Dan otakku seketika blank.


Dan aku tak terpikirkan lagi alasan apa yang mau aku buat karena Irsyad dengan telak muncul di hadapanku.


Aku lihat sekilas mata Irsyad berbinar setelah aku mengiyakan ajakannya untuk makan siang bersama. Lalu mempersilahkanku untuk mulai berjalan.


“Mau makan dimana?-“ ucap Irsyad seraya bertanya.


“Restoran Manado mau?-“


Aku mengusulkan sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari gedung tempatku bekerja, dan juga amat sangat jarang ada karyawan yang bekerja satu lantai denganku makan disana saat maksi. Aku juga tidak tau apakah Irsyad mau aku ajak kesana, karena selama aku mengenalnya kami tidak pernah makan di tempat khusus yang hanya menyediakan makanan khas Sulawesi Utara.


“Jangan khawatir, halal kok ..”


Aku berucap lagi, sebelum Irsyad bertanya tentang kehalalan itu restoran.


Mengingat jika penduduk kota Manado kebanyakan non muslim.

__ADS_1


Dan siapa tahu saja itu yang membuat Irsyad tidak langsung mengiyakan. Semoga saja Isryad mau lah.


Karena tidak ada lagi pilihan tempat yang sepi dari karyawan – karyawan yang mengenalku di dekat tempatku bekerja ini.


“Atau kalo Kak Irsyad ga begitu laper ya kita ke CC. Ada di gedung sebelah---“


Aku menawarkan Irsyad untuk pergi ke kedai kopi kekinian jika memang ia tidak mau makan di restoran yang sebelumnya aku gagaskan.


Dua tempat itu yang sekiranya ‘aman’ bagiku dari kasak – kusuk atau pertanyaan frontal dari mereka yang mengenalku tentang keberadaan Irsyad, karena mereka tahu jika aku telah bersuami – plus tau bagaimana tampang suamiku.


“Dua tempat itu sih yang bebas panas—“ sambungku, namun Irsyad kemudian memotong ucapanku.


“Restoran Manado aja. Kebetulan aku lumayan lapar.”


“Ya udah.” Sahutku.


“Yuk?-“


Aku mengangguk pada ajakan Irsyad yang memintaku untuk menunjukkan jalan, sambil ia berjalan di sampingku.


“Aku kangen Li ..”


Gumaman Irsyad tak aku pedulikan.


Berlagak seolah aku tak mendengar.


***


Malia dan Irsyad sudah memasuki sebuah restoran-yang masakannya memiliki citarasa autentik khas Manado.


Tidak terlalu besar, namun cukup bersih dan higienis serta rasa masakannya pun tidak mengecewakan-selain harganya yang terjangkau untuk kelas karyawan.


“Aku seneng kita bisa ketemu lagi, Li.” Irsyad membuka obrolan saat seorang pelayan restoran telah selesai menerima pesanannya dan Malia. Dimana Malia hanya tersenyum tipis menanggapinya. “Gimana project teamnya?”


“Lancar ..”


“Syukur deh ..”


“Kok Kak Irsyad tau-tau dateng ke kantor aku tanpa ngasih tau dulu sebelumnya? ..”


‘Ya right,’


Malia membatin tak semangat.


Namun begitu, Malia mengulas senyuman tipis menanggapi ucapan Irsyad yang tersenyum lebar setelah laki-laki itu berbicara soal alasannya yang datang tiba-tiba untuk menemui Malia.


“Trus kamu kenapa?” Irsyad melontarkan pertanyaan, setelah seorang pelayan mengantarkan lebih dulu minuman pesanan Irsyad dan Malia yang mengernyit atas pertanyaan Irsyad.


“Kenapa apanya? –“


“Kenapa menghindari aku?”


***


“Perasaan Kakak aja kali.” tanggap Malia atas pertanyaan Irsyad sebelumnya.


Setelah sempat terkejut sesaat mendengar pertanyaan Irsyad, yang terasa mengena.


Malia mencoba menjaga sikapnya untuk tidak terlihat gugup didepan Irsyad, yang to the point bertanya padanya.


Meski benar Malia sedang menghindari Irsyad demi keharmonisan hubungannya dan Reiji, tapi saat ini Malia sungkan untuk mengakuinya pada laki-laki dari masa lalunya itu.


Bukan apa, biar bagaimanapun, hubungannya dengan Irsyad terbilang baik. Dan jika Malia terang-terangan mengakui jika ia memang sedang menghindari laki-laki itu, pasti Irsyad akan merasa tersinggung.


Dan Malia tidak mau menyakiti hati Irsyad, lalu memutuskan hubungan pertemanan mereka dengan cara yang tidak baik. Bukan juga Malia ingin memutuskan hubungan pertemanannya dengan Irsyad, tapi Malia ingin menegaskan pertemanan itu sendiri antara dirinya dan Irsyad.


Hanya saja, tadinya, seperti rencananya yang ia ambil dari saran Aniel, Malia akan berbicara terlebih dahulu dengan Reiji sebelum menemui Irsyad dan menegaskan pertemanan yang Malia maksud.


Tapi pada kenyataannya, Irsyad muncul tiba-tiba disaat Malia belum memiliki kata-kata yang tepat untuk Malia katakan pada Irsyad.


“Iya, mudah-mudahan itu hanya perasaanku saja, Li ...” tanggapan Irsyad atas jawaban Malia dari pertanyaannya atas dugaan Irsyad, jika Malia menghindarinya.

__ADS_1


Irsyad mengulas senyuman sambil memandang pada Malia yang membalas senyuman Irsyad tersebut dengan sebuah senyuman juga, namun senyuman yang wajar.


“Karena aku rasanya ga rela kalo kamu sampai jauhin aku.” kata Irsyad dengan tersenyum kecil, sambil menatap Malia dengan tatapan yang menyiratkan sebuah rasa.


‘Ah ya Tuhaannn!! ----‘


**


MALIA


Ketika Irsyad datang lagi kedalam hidupku setelah aku menikah, aku memang merasa jika aku masih mencintainya.


Kedatangan Irsyad seolah sebuah kelegaan yang diriku yang merasa sesak atas pernikahanku dan Reiji yang merupakan sebuah perjodohan.


Setiap pertemuan dengan Irsyad aku rasa sebagai penyembuhan dan setiap perpisahan dengannya selepas pertemuan kami akan berujung pada rindu yang hinggap di hatiku.


Hingga saat Irsyad datang, apa yang tadinya aku kubur seolah bangkit kembali.


Rasa bahagia seolah memenuhi ruang dalam hatiku setiap kali bersama Irsyad, hingga gelak tawa sering hadir diantara kami.


Dan aku menunggu pertemuan yang berikutnya lagi dengan Irsyad di setiap harinya, sampai Reiji terasa memudar, dan aku melupakan pernikahanku, komitmenku, janjiku pada Reiji.


Dengan naif juga aku pernah berpikir, untuk berpisah dengan Reiji.


Bercerai darinya, setelah cintaku yang sempat tak sampai kemudian bersambut saat Irsyad mengutarakan perasaannya padaku.


Tapi itu beberapa waktu lalu. Dan sekarang tidak lagi. Karena rinduku telah berpindah tempat. Yang mungkin sebenarnya Reiji adalah pusat rindu sebenarnya yang selama beberapa waktu aku tampik, karena aku terobsesi pada cinta masa laluku yang tidak kesampaian.


Yang ingin segera aku luruskan, karena rasa pada Irsyad telah aku lepaskan. Ah tidak, rasa itu telah lepas dengan sendirinya.


Entah bagaimana rasa pada Irsyad itu terbang dan hilang dari hatiku.


“Aku merasa bodoh, Li ...”


Baru saja aku hendak berbicara, untuk memecah kebisuan antara aku dan Irsyad saat kami sedang menyantap makanan pesanan kami masing-masing.


Makanan yang sebenarnya enak, namun saat ini aku sedang tidak berselera, jadi aku sudahi walaupun masih tersisa lebih dari setengah makanan pesananku itu.


Aku jadi mengurungkan niat untuk bicara, ketika Irsyad keburu bicara duluan sebelum aku sempat bersuara.


Aku tersenyum kecil setelah Irsyad berbicara, sambil meletakkan sendok dan garpunya lalu menatapku.


“Lulusan Oxford bisa gitu merasa bodoh?” tanggapku sambil tersenyum geli.


“Ya begitulah ... karena aku udah menyiakan kesempatan.” Tukas Irsyad yang tersenyum kecil, namun wajahnya berubah serius tak lama kemudian.


“Kesempatan apa? –“


Aku tak lagi tersenyum.


“Kesempatan buat milikin kamu –“


Aku menggigit kecil bibir bawahku.


“Dan aku udah memutuskan, kalau kali ini aku ga akan menyiakan kesempatan itu –“


“Mak – sud, Kakak? ...”


Aku tergugu.


“Kamu menikah karena dijodohkan Lia, dan aku yakin kamu terpaksa melakukannya?—“


Irsyad memajukan sedikit tubuhnya, hingga kini kami cukup dekat berhadapan.


“Kamu ga bahagia dengan pernikahanmu, maka berbahagialah denganku.”


Sungguh aku dibuat kelu dan membeku, sampai – sampai aku tak sadar jika Irsyad telah menggenggam satu tanganku dengan erat.


“Aku cinta kamu, Li. Dan aku tahu kamu juga mencintai aku. Jadi lepaskan pernikahan kamu yang ga sehat ini, kalau perlu aku yang bicara dengan suami kamu dan mengatakan padanya kalau kita saling mencintai –“


Aku tercekat mendengarnya.

__ADS_1


**


Bersambung ...


__ADS_2