
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Makanya, atas dasar lo sudah dianggap keluarga oleh The Adjieran Smith family, sebaiknya lo jaga kepercayaan mereka andai ada rahasia yang mereka bagi ke elo. Selain jangan membuat mereka tidak senang hati. Karena taruhannya bukan hanya karir lo sebagai pilot, tapi menjalani hidup dimana lo berharap cepat mati ...” adalah Ammar --- orang kepercayaan salah satu bos Reiji yang paling sering berinteraksi dengannya --- yang berkata ini.
‘Gluk!’ yang mana perkatan Ammar barusan itu, membuat Reiji dan Malia kompak menelan saliva mereka.
‘Apa gue resign aja ya jadi pilot pribadi itu keluarga sultan?’ Reiji berbisik dalam hatinya kemudian. ‘Kalau bener omongannya si Ammar, berarti Tuan Alva dan keluarganya kan bukan sekedar keluarga crazy rich biasa? Ada aja kan pasti musuhnya? Terus tau – tau salah satu musuhnya masang bom di salah satu jet mereka yang pas kebetulan gue pilotnya? Nah Lia jadi janda kembang, dan kemungkinan si Ammar yang setau gue jones ini masuk gantiin posisi gue dalam hidup Lia ... Ga! Ga! Gue ga rela dunia akhirat!'
“Kenapa? ...”
Ammar lalu bertanya, ketika ia perhatikan jika Reiji sedang melamun.
“Ga, ga ada apa – apa ...” Reiji yang cepat tertarik dari lamunannya yang menerawang jauh, menjawab Ammar kemudian. “Cuma tau – tau mikirin nanti langsung balik ke apartemen kami, atau mau ke rumah orang tua istri gue aja dulu setelah dari sini –“
“Heem,” tukas Ammar dengan deheman. “Kalau lo berpikir untuk resign sebagai pilot pribadi The Adjieran Smith family, lebih baik lo buang jauh – jauh pikiran itu ...”
Ammar kemudian kembali bicara, dimana ucapannya itu membuat Reiji sedikit tercengang.
‘Lah, bisa baca pikiran orang dia?! ...’
Lalu Reiji membatin agak tercengang sedetik kemudian.
Karena Ammar bisa dengan tepat menebak apa yang beberapa detik lalu ia pikirkan.
“Meski ada lembaran kertas perjanjian kontrak kerja, tapi gue kasih tahu sama lo kalau itu hanya sekedar formalitas. Karena yang berlaku adalah, kontrak kerja lo dengan mereka itu kontrak mati. Membuat mereka tak senang, maka lo akan dianggap pengkhianat. Lalu, pilihan lo hanya 2. Hidup merana, atau dikirim balik langsung ke Sang Pencipta ...”
‘Gluk!’
Reiji menelan dengan kasar lagi salivanya.
Begitu juga dengan Malia.
Sementara Ammar nampak santai saja.
“Istri lo yang cantik itu akan jadi janda muda. Kalau selesai masa iddah ditinggal mati suaminya nanti, gue berencana untuk masuk ...”
‘****** lo Am!’
Reiji pun spontan merutuki Ammar dalam hatinya.
***
MALIA
Aku sedikit bergidik setelah mendengar ucapan laki – laki bernama Ammar tentang keluarga yang mempekerjakan Rei sebagai pilot pribadi mereka.
Jika berdasar dari penuturan Ammar, keluarga sultan yang mempekerjakan Rei sebagai pilot pribadi mereka itu, bukanlah sekedar crazy rich family biasa. Malah gambarannya, seperti keluarga mafia.
Tapi benarkah seperti itu?
Ah, sudahlah.
Meski sedikit penasaran, namun ucapan Ammar yang agak membuat merinding itu aku anggap angin lalu saja.
__ADS_1
Lagipun, aku tidak dapat melihat bagaimana ekspresinya saat mengucapkan kalimat yang sedikit membuatku khawatir dan merinding itu.
Jadi aku tidak dapat menilai apakah si Ammar itu serius dengan ucapannya atau tidak.
Dan daripada aku kepikiran soal keluarga sultan yang kiranya tidak biasa itu, lebih baik aku anggap ucapan Ammar yang terdengar seperti sebuah peringatan untuk Rei --- sebagai angin lalu.
Lagipula, rasanya Rei tidak ada alasan untuk bermasalah dengan keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi itu --- terlebih dengan gaji yang fantastis. Dan jika aku menangkap ucapan Rei saat kami berdua makan bersama Ammar, keluarga itu lah yang juga telah membantu Rei agar bisa menemukanku dengan cepat --- serta menyelamatkanku dari Irsyad yang sudah gila selain biadab itu.
Jadi aku rasa, Rei akan baik – baik saja untuk terus bekerja pada satu keluarga super sultan itu ke depannya.
Bagaimanapun latar belakang keluarga super sultan itu, selama ini toh Rei diperlakukan dengan baik selama ia bekerja sebagai pilot pribadi mereka.
Tak pernah aku mendengar Rei mengeluh bekerja dengan mereka --- yah, memang Rei bukanlah seorang pengeluh.
“Jadi bagaimana Rei ...”
Suara Ammar menarikku dari lamunan, dan aku spontan menoleh ke arah laki – laki itu.
Meskipun pandanganku secara keseluruhan untuk melihat Ammar, agak terhalang tubuh Rei.
Jadi hanya suara datar laki – laki itu yang lebih jelas terdengar di telingaku. Dan aku kembali pasang kuping lagi mendengar Ammar yang sedang mengajak Rei bicara untuk yang kesekian kalinya.
---
“Lo dan istri mau**staysemalam atau lebih di sini? Atau ingin kembali ke Jakarta hari ini juga? Kalau saran gue sih,better stayaja dulu di sini ... Dan kalau ingin besok pulang, ada yang udahstandbyuntuk mengantar kalian kembali ke Jakarta. Tinggal pilih, mau jalan darat atau udara ...**”
Jalan udara?
Iya kali timbang dari Bogor ke Jakarta naik pesawat?
Eh, tapi bisa aja sih. Kan keluarga super sultan itu punya jet pribadi?
---
“Kamu mau stay dulu semalam di sini, atau mau balik ke Jakarta hari ini juga, Yang?”
Reiji kemudian menoleh seraya bertanya padaku, selepas Ammar bicara dan memberikan opsi.
Kalau boleh jujur sih, aku inginnya menginap satu malam lagi di penthouse mewah milik salah satu bosnya Rei ini.
Selain memang rasanya nyaman sekali tempat ini dengan pemandangan dari dinding mengarah ke luar yang sempat aku lirik saat menuruni tangganya yang mana kesemua dinding itu sepanjang batas ujung yang merupakan ruang tamu adalah kaca semua, membuat kota Bogor terlihat indah dari penthouse ini.
Membuatku ingin melihat suasana itu di saat malam hari. Dan juga, kota Bogor ini jauh lebih sejuk udaranya ketimbang kota Jakarta.
Ingin juga berjalan – jalan di kota Bogor ini, mumpung sedang ada di sini. Untuk sedikit refreshing dari kejadian buruk yang belum lama aku alami.
Tapi keputusan mau menginap dulu di sini atau mau langsung kembali ke Jakarta hari ini juga aku serahkan pada Rei.
“Terserah kamu aja, Rei,” jawabku pada Rei.
“Kalo gitu, kita langsung balik hari ini juga aja ya, Yang?”
***
“Ga apa – apa, kan? ...” Reiji kembali berujar pada Malia.
__ADS_1
“Iya, Rei ...” jawab Malia lagi.
“Tapi kamunya masih cape ga?” ujar Reiji lagi pada Malia. “Karena biar gimana juga, kamu kan 2 hari disekap sama si bibit pebinor bajingan itu. Dan aku ga tau bagaimana kamu di sana selama 2 hari itu.”
“Engga kok Rei. Aku oke sekarang. Selama dua hari aku disekap itu, aku di tempatkan di dalam sebuah kamar. Dia rutin memberikan aku makanan dan minuman. Cuma akunya aja yang males nyentuh ... tapi selebihnya aku oke.” Malia lalu menanggapi ucapan Reiji yang sedikit menyiratkan kekhawatiran itu.
***
Reiji tersenyum seraya menggenggam tangan Malia selepas istrinya itu memberikan jawaban.
“Kami balik aja hari ini juga aja kalo gitu, Am. Dan kalau memang lo dan lainnya yang tadi nemenin gue nyelametin istri gue masih mau di sini dan istirahat, gue bisa panggil taksi online buat anter kami balik ke Jakarta.”
Lalu Reiji beralih pada Ammar. Dimana Ammar langsung berkomentar setelahnya. “Kalian yakin mau kembali hari ini juga? ...”
“Iya lah,” jawab Reiji seraya mengangguk. Dimana Ammar langsung nampak manggut – manggut kecil.
“Ya sudah kalau begitu. Terserah kalian saja.”
Ammar lalu berkata lagi.
“Tadinya kalau kalian memang mau menginap sekali lagi, gue mau hubungi temannya Tuan Alva yang gue bilang memiliki yayasan rehab di sini dan mengirim stafnya untuk memeriksa istri lo, sekaligus mungkin ambil sample darah untuk dicek lebih lanjut apa ada indikasi ada zat lain yang diberikan oleh pria letoy itu kepada istri lo. Termasuk mengecek kadar seberapa banyak dia memberikan obat perangsang pada istri lo itu agar bisa antisipasi kerusakannya dalam tubuh kalau memang dosisnya berbahaya.”
‘Ih, kok dia tau gue dikasih obat perangsang sama Irsyad?’ sehubungan kalimat panjang lebarnya Ammar barusan itu, Malia pun langsung membatin. Sekaligus merasa malu sendiri. ‘Pantes aja tadi waktu makan dia ngeledek Rei begitu.’ Malia bermonolog lagi dalam hatinya. ‘Selain karena pasti si Ammar memperhatikan itu jejak merah di leher Rei! ...’
Sambil Malia melirik ke arah leher Reiji yang memang ada beberapa tanda merah di sana, yang Malia jelas tahu persis penyebabnya.
“Ammar yang kasih tau kalau si bibit pelakor bajingan itu udah memberikan kamu obat perangsang, Yang ... Waktu kamu pingsan, Ammar langsung tanya sama dia soal apa dia memberikan kamu sesuatu ... Gitu kan, Am? –“
“Iya ... Saya hanya langsung curiga saja jika penyebab pingsan anda ada hubungannya dengan dia,” tukas Ammar. Dimana Ammar sedikit memajukan tubuhnya yang sedang duduk di samping Reiji itu, sambil menoleh ke arah Malia. “Dan dia mengatakan kalau sebelum suami kamu datang itu, dia menyuntikkan obat perangsang kepada kamu,” Ammar menyambung ucapannya.
***
“Dan atas dasar kamu pingsan, jadi saya berpikir jika dosis yang dia berikan mungkin saja cukup banyak. Atau memang jenis obat yang dia berikan adalah jenis yang dapat membuat korbannya tidak sadarkan diri ...”
Ammar lanjut berucap dengan sikapnya yang sedikit formal pada Malia.
“Dan persepsi saya atas pingsannya kamu karena efek obat perangsang jenis itu,” tambah Ammar.
***
“Tapi selain itu, saya juga memiliki persepsi lain atas pingsannya kamu.” Ammar bicara lagi, saat Malia dan Reiji nampak manggut – manggut samar setelah mendengar ucapan Ammar sebelumnya.
“Apa, Am? ... Kayaknya lo belum kasih tau gue soal persepsi lo yang satu lagi ini? ...” Reiji yang langsung menanggapi ucapan Ammar barusan ini.
“Yah, jika bukan karena tubuh istri lo tidak tahan dengan dosis obat perangsang yang mungkin diberikan dalam dosis yang tinggi, atau istri lo bukan penderita anemia akut yang tidak bisa sedikit saja keletihan ...”
Ammar pun menanggapi ucapan Reiji yang serupa bertanya padanya itu.
“Sehingga dia pingsan tiba – tiba,” lanjut Ammar, yang tersenyum simpul sebelum melanjutkan kata – katanya. “Mungkin persepsi gue yang satu ini tepat adanya,” kata Ammar lagi.
“Apa itu? ...”
Malia yang spontan bertanya, menanggapi ucapan Ammar.
“Anda sedang berbadan dua, Nyonya Reiji Shakeel ...”
__ADS_1
❇❇❇❇❇❇❇❇
Bersambung ....