
Selamat membaca....
***
Sebuah alat yang disebut interkom berbunyi pada salah satu meja kubikel pada sebuah bagian lantai di satu gedung perkantoran.
Interkom yang terdengar berbunyi itu, adalah interkom yang berada di kubikel kerja Malia.
“Ya?..” ucap Malia setelah ia mengangkat gagang interkom yang unitnya berada di atas meja kubikel kerja Malia, yang langsung ia tempelkan di telinganya.
“Mba Lia, ada yang nyariin nih.” Ujar sebuah suara dari sebrang interkom.
Suara itu adalah milik resepsionis pada lantai dimana divisi kerja Malia berada.
Mendengar ucapan sang resepsionis yang bernama Icha itu, membuat Malia mengernyit kecil.
“Siapa, Cha? ...” tanya Malia pada resepsionis yang bernama Icha itu.
“Temen lama Mba Lia katanya.”
Icha pun menjawab pertanyaan Malia.
“Temen lama aku?”
Malia bertanya lagi.
Sekaligus Malia makin mengernyitkan dahinya.
‘Temen lama gue?’ batin Malia. ‘Siapa?’ lalu bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
“Iya Mba,” jawab Icha.
“Namanya?”
“Irsyad.”
“Hah?! Siapa?!”
Malia terlonjak, sampai ia berseru dengan spontan, hingga membuat teman-teman satu divisi yang berada didekat Malia sontak menengok ke arahnya, tanpa Malia sadari.
“Beneran itu nama orang yang cari aku, Cha?!” Malia memastikan.
Malia rasanya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Selain Malia benar-benar merasa terkejut dengan apa yang disampaikan oleh resepsionis di lantai bagian kerjanya itu.
“Iya bener, Mba .. Ini cowo tamunya Mba Lia bilang kalo namanya Irsyad ..” ucap Icha.
‘Ini bener Irsyad yang dateng?’ Malia sungguh tidak percaya jika Irsyad sampai datang ke tempatnya bekerja untuk sengaja menemuinya. ‘Ga mungkin Irsyad selain dari Irsyad yang gue tau dan kenal kan?? ..’
“Mba Lia mau nemuin ga?” tanya Icha kemudian, yang membuat Malia terkesiap dari lamunannya sesaat tadi.
“Eh, iya .. suruh tunggu.”
Seketika Malia menjawab, seraya ia berdiri dari duduknya.
Lalu Malia berjalan sedikit cepat untuk sampai ke lobi lantai tempatnya bekerja, menghiraukan pertanyaan rekan kerja dekatnya, serta beberapa mata rekan kerja Malia lain yang memperhatikan gelagat Malia yang nampak panik di mata mereka itu.
Karena yang ada di otak Malia saat ini adalah ingin memastikan apa benar-benar jika itu Irsyad yang Malia kenal yang datang untuk menemuinya sekarang. Malia penasaran, dan hatinya ia rasa sedikit menjadi tak karuan. ‘Terus kalo itu beneran Irsyad, kenapa dia tiba-tiba dateng kesini buat nemuin gue?..’
Malia bertanya-tanya dalam hatinya.
**
MALIA
Aku rasanya tidak mempercayai apa yang mataku lihat sekarang ini. Irsyad yang dikatakan Icha - si resepsionis bersuara merdu itu, adalah benar satu-satunya Irsyad yang aku tahu, yang aku kenal. Yang kini sedang melempari-ku senyum, ketika ia melihatku datang dari bagian dalam lantai tempat divisi kerjaku berada.
“Hai, Lia ..” Irsyad yang tadi sudah seketika berdiri dan tersenyum padaku ketika ia melihatku muncul, menyapaku dengan tidak menghilangkan senyumannya.
“K-kak Irsyad,” aku balik menyapa dengan raut wajah yang terkejut.
“Apa kabar, Lia?” Irsyad mengulurkan tangannya untuk berjabat denganku.
“Baik Kak.”
Aku menjawab wajar dan menyambut uluran tangannya.
Namun aku menyadari jika aku dan Irsyad bersalaman sedikit lama.
Hingga aku menyadarinya, lalu aku yang terlebih dulu menarik tanganku dengan perlahan.
“Sorry ya, aku ganggu waktu kerja kamu? ..” ucap Irsyad.
“No problem, Kak.”
Sekali lagi aku menjawab dengan wajar, dengan menampakkan senyuman yang aku rasa juga dalam kadar yang wajar.
Irsyad juga melemparkan senyuman padaku.
Sedikit lebih lebar dari yang sebelumnya.
Sementara otakku sedang berpikir, dikala hatiku sedang bertanya-tanya, sehubungan dengan kedatangan Irsyad ke kantorku.
Irsyad benar-benar sengaja datang ke kantorku ini, memang untuk menemuiku, kah? ....
__ADS_1
Aku pikir dia sudah kembali ke London.
“Eeumm. Kak Irsyad datang ke sini---“
“Mau nemuin kamu, Lia ..”
Irsyad yang seolah tahu pertanyaan apa yang ingin aku ajukan, langsung memotong kalimatku.
“Untuk?” tanyaku pada Irsyad. Aku bertanya dengan normal, padahal hatiku cukup terkejut. Benar-benar Irsyad datang kesini untuk menemuiku.
Tapi untuk apa?.
Dan aku sedang menunggu jawaban Irsyad, mengenai kepentingannya datang ke kantorku yang sengaja untuk menemuiku ini.
“Mau ngobrol aja Li .. Udah lama kita ga ketemu, dan ga komunikasi juga .. And I lost your number ( Dan aku kehilangan nomor kamu ), waktu aku pindah apartemen.”
Aku menarik tipis sudut bibirku kala Irsyad menjawab pertanyaanku.
“Mungkin ponsel lama aku terjatuh disuatu tempat, saat aku pindahan. Saat ada waktu luang dan mau coba ngobrol dengan kamu di messenger, ikon kamu selalu invisible .... Dan aku lupa minta nomor hp kamu waktu kita ketemu di Groove waktu itu.”
“Oh iya, ya... Kita ngobrol singkat banget waktu di Groove ...” aku menimpali perkataan Irsyad.
“Iya ...” sahut Irsyad. Dan sesaat kemudian, kami saling melempar senyum. Senyum kecanggungan.
“Uuummm, Kak ...” panggilku pada Irsyad.
“Ya? ...” sahutnya.
“Sorry banget sebelumnya ...” Aku menampakkan senyum pada Irsyad.
Sedikit merasa tidak enak, namun aku harus mengatakan pada Irsyad.
“Ini masih jam kerja aku. Jadi kayaknya aku ga bisa lama-lama nemuin Kak Irsyad sekarang ini ...”
Bukan bermaksud mengusirnya, tapi aku hanya mencoba profesional saja di tempat kerjaku ini.
Aku tidak bisa bersikap santai menerima tamu pribadi pada jam kerjaku.
“Iya ...”
Irsyad bersuara.
“Sorry ya ganggu waktu kerja kamu, Lia.”
“Ga apa, Kak ...”
“Aku kesini karena mau ajak kamu ngobrol-ngobrol sih nanti sepulang kamu kerja.”
Dan ajakan Irsyad itu sedikit mengejutkanku.
“Bisa?” tanya Irsyad sambil menatapku.
“Iya, boleh ....” jawabku, dan Irsyad langsung merekah kan senyuman.
“Kira-kira jam berapa? .....” tanya Irsyad lagi.
“Uumm ..... aku belum bisa kasih waktu pasti Kak, soalnya mau ada meeting. Takutnya lama dan ga pas waktu jam pulang selesainya itu meeting .....”
“Ga masalah sih.”
Irsyad masih berbicara tanpa menanggalkan senyumnya.
“Aku minta nomor kontak kamu ya? .....”
“Iya .....”
Aku pun mengetikkan nomor kontakku di dalam ponsel Irsyad, yang ia sodorkan padaku.
Aku segan menolak karena aku pikir Irsyad sampai mencariku sampai ke kantorku ini.
Sekaligus bertanya-tanya dalam hati, untuk apa Irsyad sampai repot mencariku dan ingin sekali bertemu lagi denganku?.
---
Ponselku bergetar selepas meeting-ku selesai.
Aku langsung meraih ponselku yang aku simpan di saku blazer kerjaku.
Pesan mengapung yang ada di layar kunci ponselku ada pesan chat dari Reiji.
‘Yang, nanti aku ga bisa jemput ga apa ya?. Aku udah di Cengkareng sih, tapi ada sedikit trouble dan aku harus ikut meeting. Ketemu di apartemen ya?’
Dan akupun menjawab pesan chat Reiji dengan, ‘Ok!’.
Berikut emoticon jempol yang menyertainya.
---
Dan kulihat ada satu pesan chat lagi dibawah nomor kontak Reiji.
Irsyad pengirimnya.
‘Sorry ganggu Lia. Cuma mau mastikan kamu ada waktu apa engga buat ketemuan sama aku hari ini.’
Ah iya aku lupa soal rencana janji temu-ku dengan Irsyad.
__ADS_1
Aku dilema sebenarnya. Tapi .....
‘Oh iya sorry Kak aku baru selesai meeting. Mau ketemuan dimana?’
Akhirnya aku iyakan undangan Irsyad.
Tak seberapa lama pesan chat-ku pada Irsyad mendapat balasan darinya.
Irsyad menanyakan soal tempat pertemuan kami.
‘PP?’
Aku mengajukan sebuah Mal yang berada di daerah Jendral Sudirman.
Dan Irsyad pun menyetujuinya.
Aku ingin menyarankan untuk bertemu di Groove sebenarnya, tapi aku berpikir jika memilih tempat itu, seolah aku ingin bernostalgia dengan kenanganku dan Irsyad, berikut orangnya yang akan aku temui sore nanti.
Dan kini, pikiranku tertuju pada Reiji.
Apa aku harus memberitahu Reiji soal Irsyad? .....
Sekali lagi aku dilema.
Aku ingin jujur pada Rei sebenarnya.
Tapi aku khawatir jika nantinya Reiji akan berprasangka, seperti aku yang pernah berprasangka pada Shirly.
***
Tiba waktu jam kerja Malia selesai di kantornya.
Setelah meeting tadi, Malia sudah tidak disibukkan lagi dengan pekerjaannya. Hanya membereskan berkas yang tadi menjadi materi meeting saja.
Jadi sampai jam bekerjanya selesai, setelah berkas materi yang tak seberapa itu Malia rapihkan, ia berleha-leha di kubikel dan mengobrol santai dengan teman-teman satu divisi yang selama ini dekat dengannya.
Sekaligus menjawab pertanyaan mereka soal kegusaran Malia saat sebelum meeting tadi.
“Ada temen lama gue dateng kesini. Udah lama banget ga ketemu, trus tau-tau dia dateng kesini, ya gue kaget aja.”
Begitu jawaban Malia pada teman satu divisinya yang melihat kegusaran Malia tadi.
Dan rekan-rekan Malia yang bertanya itu pun hanya menanggapi dengan ber-oh ria saja.
***
MALIA
‘Kita ketemuan di PP atau kamu mau aku jemput?’
Pesan chat dari Irsyad setelah aku mengiyakan untuk menyediakan waktu untuk bertemu dengannya, dan telah menentukan tempat pertemuan kami.
‘Ketemuan disana aja.’
Pesan balasanku pada Irsyad.
‘Tempat?’ tanya Irsyad lagi pada pesan chatnya.
‘Kak Irsyad aja yang pilih.’ Jawaban yang aku tulis dan kirim pada Irsyad, yang tak lama berbalas lagi.
‘Ok.’
Balasan dari Irsyad, yang setelahnya dia mengirimkan nama restorannya pilihannya sebagai tempat kami untuk bertemu.
Dilema aku rasakan lagi.
Kenapa aku harus menerima ajakan Irsyad untuk kami bertemu lagi dan ‘mengobrol’?.
Mengobrol .....
Dia tidak mencetuskan ajakan untuk ' mengobrol' itu setelah ia mulai nyaman di London.
Kenapa baru sekarang?.
Dan bukankah seharusnya aku menolak ajakan untuk ‘mengobrol’ itu, agar hatiku tidak lagi merasa terusik?.
Tapi sisi hatiku yang lain menginginkan hal itu.
Bertemu dan ‘mengobrol’ dengan Irsyad.
Waktu ‘mengobrol’ yang kenapa baru Irsyad cetuskan sekarang?.
Disaat aku sudah menjadi ‘milik orang’.
Oh tidak, aku tidak perlu menyesali selama beberapa waktu belakangan ini tentang Irsyad yang tidak punya waktu untuk ‘mengobrol’ denganku.
Mungkin sisi hatiku yang ingin bertemu dengan Irsyad ini, menggiringku untuk menuntaskan ‘obrolan’ ku dengan Irsyad. Mungkin, hatiku ini sudah lelah terusik oleh satu nama itu. Irsyad.
Sebagai bagian dari tekadku, untuk menjadikan Irsyad masa lalu.
Masa lalu yang satu jam kemudian aku temui di sebuah restoran, ah bukan resto, karena di perjalanan tadi Irsyad mengatakan jika ia akan menungguku di sebuah kedai kopi.
Kedai kopi yang namanya, mengapa terdengar seperti sindiran, atau apalah itu, bagiku.
Kenapa Irsyad harus memilih tempat yang memiliki embel-embel ‘Kenangan’ dibelakangnya?!.
__ADS_1
***
Bersambung ...