
Selamat membaca....
***
MALIA
‘Aku kayaknya lembur, Rei.’
Aku sudah mengetik satu kalimat itu di kotak pesan chat pada laman aplikasi kolom chat-ku dan Reiji.
Tapi aku tidak langsung mengirimkan pesan yang sudah aku ketik itu pada Reiji.
Jempolku seolah kaku, karena menggantung diam di atas ikon tanda panah hijau yang ada di sudut kanan bawah layar ponselku.
Dan aku masih memandangi layar ponselku itu, hingga kemudian ada sebuah panggilan masuk dari orang yang kolom chat pada nomor kontaknya sedang terbuka ini.
“Ya Rei?...”
Aku menerima panggilan telepon dari Reiji itu tanpa pikir panjang.
“Assalamu’alaikum, Yang...”
Reiji langsung mengucapkan salam setelah mendengar sahutan dariku.
“Wa’alaikumsalam...” jawabku.
“Sorry ya aku telepon kamu.”
Dimana ada sebersit rasa tak nyaman kala mendengar Rei berkata seperti itu.
Apa dia takut membuat kesalahan hanya karena menghubungiku di jam kantorku?.
Padahal kan juga sudah biasa, jika Rei sesekali menghubungiku saat aku masih di kantor.
Tapi kemudian aku ingat jika hubunganku dan Rei sedang renggang saat ini.
Jadi mungkin itu yang membuat Rei seolah sungkan menghubungiku saat ini, saat aku masih di kantor.
Mengingat kala itu aku pernah bilang jika aku ‘ingin sendiri’, lalu aku menjadi acuh tak acuh padanya.
“Ga masalah kok Rei. Telpon aku kenapa?” tanyaku.
“Ga ada apa-apa sih, Cuma penasaran. Tadi aku kirim chat ke kamu terus aku lihat udah centang biri dan terlihat kamu sedang ngetik tapi aku tungguin ga ada kiriman dari hasil ketikan kamu, jadi aku putuskan untuk langsung nelpon kamu aja, Yang...”
“Oh...” tanggapku pada ucapan Reiji yang lumayan panjang itu. “Aku emang lagi ketik balasan chat kamu, tapi interkomku bunyi, jadi aku terima itu dengan posisi aku belum selesai ngetik chat balasan aku ke kamu ...” dustaku.
Padahal aku sedang gamang tadi saat ingin mengirimkan chat balasan untuk Reiji yang kalimatnya sudah lengkap itu.
“Huumm ..”
Reiji berdehem pelan.
“Jadi gimana, kamu lembur ga? ..”
“Engga. Aku akan langsung pulang setelah jam kantor selesai ...”
Akhirnya aku mengambil keputusan dengan cepat, keputusan yang berbeda dengan chat balasanku ke Reiji.
“Syukur deh kalo gitu...”
“Ada yang mau kamu titip ke aku? ...”
“Ada dan selalu. Hati aku ...” Dan jawaban Reiji diluar ekspektasi ku
Lalu aku seketika tergugu.
Tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Reiji barusan.
“Ya udah, aku tunggu di apartemen ya?...”
Lalu, suara Reiji terdengar.
Yang mana aku merasakan, jika Reiji mencoba berucap dengan nada yang nampak baik-baik saja padahal sesungguhnya mungkin Reiji sedang menelan kekecewaan di seberang sana karena aku tak memberikan jawaban setelah ia mengatakan apa yang ia katakan sebelumnya.
Sebelum masalah ‘masa lalu’ ini ada diantara aku dan Reiji-meski aku belum mencintainya, tap aku selalu menanggapi ucapan-ucapan Reiji yang seperti itu, baik di telepon atau secara langsung. Dan aku pasti akan berseloroh,
__ADS_1
“Gombal!”
Tapi kali ini tidak.
“Aku tutup ya? ...”
“Iya...” jawabku.
“Soal hati aku yang aku titipin ke kamu, jangan jadi beban ...”
“Aku---“
“Aku masih sadar diri kok Yang, tenang aja. Aku cuma pengen kamu tahu aja, walau aku tahu kamu masih ragu soal ---“
Reiji menggantungkan kalimatnya.
“Ya udah, nanti kita bicara aja di apartemen... Yang jelas, aku ga sembarangan menitipkan hati aku pada sembarang orang. Itu aja.”
Kemudian, Reiji mengucapkan salam lalu memutuskan panggilan setelah aku menjawab salamnya.
Dan rasa tak nyaman dalam hatiku kian terasa. Lebih ke perasaan, bersalah?...
****
“Assalamu’alaikum...”
Malia mengucapkan salam saat ia telah masuk ke dalam apartemennya dan Reiji.
“Wa’alaikumsalam ...” suara jawaban salam pun terdengar dari arah pantri.
“Kamu-lagi ngapain, Rei? ...” tanya Malia spontan.
Lalu Malia langsung berjalan ke arah pantri, dimana ada Reiji yang sedang berdiri dibalik meja pantri.
“Bikin makan malem buat kita ...”
“Thanks ya, Rei ...”
“Kamu nih, Yang ..”
“Makan yuk?. Kamu pasti udah laper kan?” ajak Reiji yang telah mengangkat dua piring dari meja dengan kedua tangannya, untuk ia pindahkan ke meja makan.
Malia menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis pada Reiji yang sebentar tersenyum padanya tadi. “Aku mandi dulu kalo gitu—“
“Nanti aja mandinya.” Potong Reiji. “Lebih baik makan dulu. Atau kamu Maghrib dulu aja mendingan ketimbang mandi.” Sambungnya.
Dimana Reiji yang telah meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja makan dekat pantri, lalu ia berjalan lagi ke arah bagian pantri dekat kompor untuk mengambil satu piring chicken wings instan yang sudah Reiji goreng.
Malia pun mengiyakan ucapan Reiji untuk mengerjakan shalat Maghrib, saat Reiji membawa sepiring chicken wings tersebut ke arah meja makan. “Ya udah aku maghrib dulu deh kalo gitu, Rei ..” kata Malia.
“Iya ..” sahut Reiji.
****
“Sini, Yang..”
Reiji menarik kursi makan disebelah tempatnya duduk, saat melihat Malia keluar dari kamar setelah menjalankan sholat Maghrib.
Malia mengangguk samar, sambil melangkah menuju meja makan dan duduk di kursi yang sudah Reiji tarik untuk memudahkannya duduk.
“Thanks.” Ucap Malia dan Reiji tersenyum.
“Sama-sama.”
****
“Besok kamu ada jadwal terbang Rei?” tanya Malia basa-basi disela ia menyantap nasi goreng berikut tambahan chicken wings yang ada di piringnya.
“Aku free besok, Yang. Kan kalau habis terbang ke luar negeri yang lumayan jauh sampai stay berhari-hari aku biasanya akan off dihari berikutnya. Masa lupa?” jawab Reiji.
“Oh iya..” tukas Malia.
Lalu keheningan berada diantara Malia dan Reiji lagi untuk sesaat. Dimana keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
“Habis makan, bisa langsung bicara kan?” ucap Reiji seraya bertanya, memecahkan keheningan yang sempat ada diantara dirinya dan Malia saat menyantap makanan mereka.
__ADS_1
“Aku mandi dulu ya sebelum kita bicara?..” jawab Malia.
Dan Reiji pun mengangguk seraya tersenyum.
“Ya udah..”
Reiji menyahut kemudian.
Lalu keduanya kembali fokus pada makanan mereka, tanpa lagi ada pembicaraan hingga sampai Malia dan Reiji sama-sama menandaskan makanan mereka.
“Biar aku aja yang cuci piring Rei..” ucap Malia, saat Reiji hendak mengambil piring bekasnya makan. Reiji tersenyum.
“It’s okay. Kamu kan katanya mau mandi habis makan?..”
Reiji berujar kemudian.
“Gih mandi sana, nanti kita Isya bareng, habis itu kita bicara..” sambung Reiji.
Malia pun menanggapi ucapan Reiji dengan anggukan dan senyuman tipis.
Setelah kurang lebih setengah jam, Malia keluar dari kamar mandi dan sudah nampak lebih segar.
“Jadi mau Isya bareng Rei?..” tanya Malia saat mendapati Reiji yang sedang duduk di ruang tamu sekaligus ruang santai mereka, dan juga sedang menatapnya.
Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala Reiji memang spontan menengok ke arah kamar mandi.
Hal yang seolah sudah menjadi kebiasaan Reiji, jika Malia mandi sendiri tanpa ia ganggu, namun kemudian akan langsung menyerang Malia apabila istrinya itu memang sedang available untuk diserang hingga berakhir ke atas ranjang.
Namun Reiji hanya dapat menghela pelan nafasnya, dan menepiskan keinginannya untuk memadu kasih dengan Malia karena hubungan mereka yang sedang sedikit kurang baik saat ini. Makanya Reiji mengajak Malia untuk bicara dari hati ke hati.
Bukan karena soal memadu kasih yang menjadi prioritas utama Reiji untuk mengajak Malia bicara dari hati ke hati. Melainkan Reiji ingin menghilangkan ketidak-nyamanan yang saat ini sedang bergelung dalam hubungannya dan Malia di usia pernikahan mereka yang baru berjalan kurang lebih empat bulan ini.
“Iya jadi.”
Reiji pun menyahut, seraya ia bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu.
****
Reiji dan Malia telah selesai beribadah bersama.
Hal yang sebenarnya sering dilakukan oleh Reiji dan Malia jika ada kesempatan.
Namun selama beberapa hari belakangan-meskipun ada kesempatan, karena hubungan keduanya sedang katakanlah renggang, Reiji dan Malia beribadah sendiri-sendiri.
“Mau bicara disini atau dimana?” tanya Reiji, saat ia dan Malia telah merapihkan peralatan ibadah mereka dan meletakkan kembali pada tempatnya.
“Di ruang santai aja ya?..”
“Ya udah.”
Malia mengangguk menanggapi ajakan Reiji.
“Kamu duluan aja Rei, bentar aku nyusul..” ucap Malia, karena ia hendak mengambil ponselnya yang berbunyi. Yang merupakan bunyi nada notifikasi pesan masuk.
“Oke,” sahut Reiji. “Aku buatin teh mau? Aku mau sekalian buat kopi soalnya..”
Reiji menjeda langkahnya, lalu menoleh pada Malia yang sedang mengambil ponselnya.
Malia mengangguk lagi.
“Iya boleh..”
Malia menyahut, memandang pada Reiji sejenak, lalu beralih ke ponselnya.
“Rei..”
Reiji kembali menjeda langkahnya, saat mendengar Malia memanggil dirinya.
“Ya?..” sahut Reiji.
“Sepertinya kita harus menunda waktu kita untuk bicara malam ini..”
****
Bersambung...
__ADS_1