
Selamat membaca....
🕐🕓🕑🕐🕓🕐🕓🕑🕐🕓
REIJI
Aku dilanda gelisah dan penasaran seketika, kala Ammar terlihat gusar berjalan ke satu sudut yang ada di halaman belakang villa tempat dimana Ammar dan orang-orangnya yang adalah para bodyguard keluarga Tuan Alvarend mengatakan jika Lia ada di dalam villa tersebut. Aku pun segera bertanya ada apa pada Ammar.
Entah memperhatikan atau tidak jika aku sedang bertanya padanya, namun Ammar tidak menjawab pertanyaanku yang jadi ikutan gusar karena sikap Ammar sekarang.
“Buka!”
Aku hendak mempertanyakan lagi tentang apa yang terjadi, namun urung karena Ammar nampak serius dan dia memerintahkan satu anak buah yang bersama dengan kami untuk membuka sebuah pintu yang tertutup rapat dengan gorden.
---
Sikap Ammar yang nampak serius seperti ia khawatir atau waspada akan sesuatu itu, seketika membuatku berpikir tentang ada sesuatu yang terjadi pada Lia. Dan membuatku kian yakin jika Lia memang ada di dalam villa yang sedang aku datangi ini.
Dan hal itu membuat perasaanku jadi tak karuan, hingga gusar dan ingin segera masuk ke dalam villa.
Jadi setelah Ammar menyuruh satu orangnya yang sudah berada tepat di depan pintu yang merupakan pintu belakang villa, aku memajukan langkah berniat untuk membuka pintu tersebut dengan paksa.
Namun sebelum hal itu terjadi, satu anak buah yang sudah lebih dulu mendapatkan perintah dari Ammar untuk memasuki villa dari lantai dua, nampak dari dalam dengan gorden yang telah ia singkap dengan cepat dan dengan cepat juga membukakan pintu dari dalam.
“Tuan..“ satu anak buah Ammar yang muncul dari dalam villa itu langsung menyapa Ammar dengan sopan saat ia telah membukakan pintu dan Ammar masuk dengan tergesa dengan aku mengekorinya.
“ENGGAA... JANGAANN!!!!...”
Namun saat itu juga, aku mendengar sebuah suara teriakan panjang dan histeris di dalam villa, yang aku tahu betul jika itu adalah suara Lia.
*****
Lengking suara yang Reiji yakini adalah suara Malia itu sungguh mengejutkannya.
Tidak hanya Reiji, tapi semua orang yang bersamanya saat ini. Yang tanpa babibu lagi langsung berlari ke arah sumber suara dimana satu orang anak buah Ammar yang sudah masuk duluan sebelumnya kemudian menendang dengan kuat pintu sebuah kamar.
Dan pemandangan yang Reiji dapati serta orang-orang yang bersamanya saat pintu kamar itu terbuka membuat mereka membelalakkan mata.
“LIA!”
Reiji menyebut Malia dengan kencangnya, setelah pintu kamar yang ditendang keras oleh salah satu anak buah Ammar telah terbuka paksa.
“R-eii...” lirih Malia ketika Reiji telah berhasil mendekapnya.
Sementara Irsyad sudah diamankan dengan kasar oleh anak buah Ammar, yang langsung menodongkan pistol pada pria itu dan langsung ditarik tanpa babibu dari atas Malia yang bagian atas tubuhnya telah terekspos--akibat kemejanya dibuka Irsyad dengan paksa hingga kancing-kancing kemeja Malia itu tercerai berai.
“Lia...”
Reiji melirih menyebut panggilan istrinya dengan dirinya yang mendekap erat Malia yang sudah melingkarkan dengan erat tangannya di leher Reiji.
*****
Reiji mendekap Malia dengan rasa syukur di hatinya.
Meski keadaan Malia sungguh memprihatinkan saat ini, namun Reiji lega—karena dari apa yang terlihat, Irsyad belum sampai melakukan pelecehan yang lebih parah.
__ADS_1
Yakni, memperkosa Malia.
Namun begitu, Reiji tetap saja geram pada Irsyad yang orangnya sudah diseret keluar oleh anak buah Ammar yang memalingkan wajah mereka dari ranjang--karena sempat melihat bagian atas Malia yang terbuka, termasuk juga Ammar yang ikut memalingkan wajahnya.
“Ma-afin aku, Rei... Aku ga kuasa melawan dia...”
Malia melirih seraya menangis dengan dia yang masih memeluk erat Reiji.
“Sstt...”
Reiji menenangkan Malia.
“Yang penting dia ga sampai berbuat lebih jauh dari ini.”
“Ta-pi... Dia... sempat meraba aku, Rei...”
*****
Reiji kemudian mengurai dekapannya dari Malia yang langsung Reiji tangkup wajahnya.
Ada gurat kesedihan di mata Reiji saat melihat Malia yang nampak kacau keadaan dirinya—yang sudah lepas kancing kemejanya secara keseluruhan, hingga bagian pembungkus dada Malia yang hanya mencakup setengah dari bukit kembar Malia itu terpampang nyata.
“Udah ya?”
Reiji berujar lembut.
“Kamu udah aman sekarang,” ujar Reiji lagi.
Sambil dirinya menghapusi air mata yang sudah membanjiri wajah Malia.
Lalu mata Reiji menangkap kemeja Malia yang sudah tidak berkancing lagi, kemudian Reiji mendekap Malia kembali untuk menutupi bagian atas depan istrinya yang sangat terbuka itu, walaupun Ammar dan anak buahnya langsung memalingkan wajahnya dari Malia saat melihat kondisi istri Reiji itu karena sang suami ikut serta dalam upaya penyelamatan Malia dari Irsyad yang membius dan menculiknya.
*****
REIJI
“Ini...” Ammar yang tadi berdiri di ambang pintu kamar tempat kami menemukan Lia, tahu-tahu sudah ada di dekatku yang sedang celingukan mencari sesuatu untuk menutup tubuh bagian atas Lia yang terekspos, karena kancing kemejanya sudah tidak lagi berada di tempatnya. “Gunakan saja ini untuk menutupi tubuh istri kamu---“
“Makasih, Am,” tukasku sambil menerima sebuah jaket kasual yang aku tahu adalah milik Ammar yang ia pakai sejak kami pergi dari Jakarta menuju villa, tempat Malia disembunyikan oleh si bajingan Irsyad itu.
Tadinya aku ingin membungkus tubuh Lia dengan selimut yang ada di atas ranjang tempat kami duduk sekarang.
Karena aku tidak menggunakan outer selain dari kaos kerah yang aku pakai.
Yang mana tidak mungkin juga aku buka untuk aku berikan pada Lia agar tertutup bagian dadanya itu.
Tapi jika memang kondisinya mengharuskan seperti itupun, aku tidak akan sungkan untuk mengorbankan diriku melepas baju, asal tubuh Lia tertutupi. Namun karena aku sadar tentang ranjang tempat Lia berada, jadi selimut yang ada di ranjang itu sudah aku pikirkan untuk aku gunakan membungkus tubuh Lia.
Hanya saja, Ammar cukup peka dan langsung menyodorkan sebuah jaket padaku.
“Aku tunggu di luar...”
Ammar berujar setelah aku meraih jaket miliknya yang ia sodorkan padaku, dengan dirinya yang memalingkan wajah ke arah pintu.
Aku acungi jempol, sikap Ammar dan anak buahnya yang adalah anak buah Tuan Alvarend dan keluarganya itu dalam bagaimana mereka bersikap atas keadaan Lia saat ini.
__ADS_1
Tak sedikitpun mereka kulihat curi-curi kesempatan melihat tubuh bagian atas Lia yang terumbar jika aku melepaskan dekapanku dari Lia. Dan untuk bagaimana mereka menghargai harga diri Lia itu, aku sungguh salut.
Selain memang dari sikap mereka yang sigap mengamankan si bibit pebinor bajingan bernama Irsyad itu, Ammar dan anak buahnya hanya fokus pada laki-laki sialan itu saat aku langsung masuk mendekati Malia ketika satu dari mereka menendang pintunya dengan keras hingga terbuka paksa.
“Iya, Am...” sahutku pada Ammar yang langsung melangkahkan kakinya menjauh dari Lia setelah aku menerima jaket dari tangannya. Lalu aku langsung membalut tubuh Lia dengan jaket milik Ammar itu, yang aku naikkan resletingnya begitu rapat. Hingga tubuh Lia bagian atas yang tadinya terpampang itu, tertutupi sepenuhnya.
Aku bangkit setelah memakaikan jaket Ammar pada Lia. “Ayo, Yang...”
Lia mengangguk, saat aku memegang kedua lengannya dan membantunya untuk berdiri.
Namun Lia limbung saat berdiri, dan aku dengan segera langsung mengangkat tubuhnya dan membawa Lia keluar dari dalam kamar terkutuk itu.
---
“Kau pergilah duluan...”
Ammar yang berkata padaku ketika aku telah membawa Lia sampai ke teras villa tempat Lia dibawa oleh si bajingan Irsyad itu setelah membiusnya.
“Biar aku dan orangku yang mengurus pria itu---“
“Tuan Ammar...” satu anak buah Ammar menyela saat Ammar sedang bicara padaku yang sedang menggendong Lia ala bridal style.
*****
Reiji mengedarkan pandangannya saat Ammar menanggapi satu anak buah pria itu yang datang mendekat, dan matanya menangkap Irsyad yang kedua tangannya berada di belakang, serta bersimpuh di atas lantai pada garasi luar villa.
Rahang Reiji mengetat kuat saat melihat Irsyad, namun perhatiannya kemudian teralih karena Ammar mengajaknya bicara lagi.
Setelahnya, Reiji berjalan menuju satu mobil yang sudah terparkir di dekat gerbang villa.
“LIA!---“
“Rei...” lirih Malia, saat ia mendengar Irsyad menyebut namanya dengan keras dan Malia nampak ketakutan sambil mencengkram erat kaos kerah yang Reiji kenakan.
Reiji tersenyum pada Malia dengan menatap lembut istrinya itu yang Reiji bawa untuk masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh Ammar melalui anak buahnya untuk membawa Reiji dan Malia pergi dari villa.
“Ga perlu takut... keparat itu udah diamankan...”
Reiji berujar lembut pada Malia, sekaligus menenangkan istrinya yang nampak ketakutan itu.
Reiji memang geram pada Irsyad, namun otaknya fokus pada Malia yang ingin segera ia bawa pulang.
Jika tidak memikirkan kondisi Malia yang terguncang, mungkin Reiji akan langsung memukuli Irsyad tanpa ampun saat ia melihat pria itu hendak memperkosa Malia.
Reiji membiarkan Ammar dan anak buahnya yang mengurus Irsyad, termasuk mengabaikan Irsyad yang barusan memanggil Malia dengan kencang.
Sudah hendak masuk ke dalam mobil, setelah Reiji lebih dulu mendudukkan Malia di kursi tengah penumpang.
“Untuk apa kamu masih mau bersama suami kamu itu Lia?! Dia udah selingkuh di belakang kamu!!!!... Harusnya kamu jijik sama suami yang punya simpanan di belakang kamu!...”
Namun suara Irsyad membuat Reiji urung masuk mobil, dan ucapan laki-laki itu berhasil memprovokasi emosi Reiji. ‘KEPARAT!!---‘
“TUAN!” Satu anak buah Ammar yang sedang memegangi pintu mobil kala Reiji mendudukkan Malia di dalamnya, kemudian terdengar memekik.
Saat Reiji dengan cepat meraih pistol yang tersampir di pinggang satu anak buah Ammar tersebut. “REI!...” Malia juga ikut memekik histeris, kala Reiji berbalik dan berjalan dengan cepat ke arah Irsyad dengan pistol yang sudah Reiji genggam kuat di tangannya.
__ADS_1
********
Bersambung....