WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 129


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


“Yang ..”


“Janjinya Cuma satu kali loh Rei—“


Reiji pun sontak terkekeh pada Malia yang mengerucutkan bibirnya sambil memandang was-was pada dirinya, setelah mereka selesai main kuda-kudaan untuk yang ke empat kalinya.


“Iya, Sayangku Malia.”


Kemudian Reiji berucap dengan tersenyum lebar.


“Aku hanya ingin peluk kamu sambil tidur. Itu juga kalo boleh.”


Reiji kembali berucap, kali ini sambil tersenyum teduh pada Malia.


“Boleh?..” tanya Reiji untuk kesediaan Malia.


Dan Reiji kembali melebarkan senyumnya, kala Malia mengangguk mengiyakan.


***


REIJI


Aku segera mencubit diriku kala aku terbangun dari tidurku, setelah langit yang terangnya sudah menyusup ke dalam ventilasi kamarku dan Lia. Aku memastikan jika yang terjadi semalam antara aku dan Lia, bukanlah hanya sebuah mimpi untukku.


Aku merasakan perih di pipiku sendiri yang aku cubit saking aku benar-benar tidak percaya jika semalam aku dan Lia sampai bercinta sebanyak empat kali, tanpa aku memaksa Lia-bahkan terkesan jika Lia yang menyodorkan dirinya padaku. Dan betapa bersyukurnya aku sekarang, karena hal indah juga nikmat yang aku alami semalam bukanlah mimpi.


Semua itu nyata, senyata tubuh Lia yang masih terlelap dalam dekapanku saat ini.


I love you.


Aku langsung membisikkan kalimat romantis itu, setelah aku benar-benar terjaga.


Dan aku bahagia.


Yah, semoga saja Lia tidak berubah sikap saat ia terbangun nanti.


-


Apa yang aku khawatirkan tidak terjadi.

__ADS_1


Aku mendapat sapaan lembut, kala Lia membuka matanya juga setelah aku terjaga beberapa menit lebih dulu.


Yang mana, tentu saja hal itu membuatku tersenyum lebar, selain hatiku menghangat. Dan aku tanpa berpikir lama untuk menjawab sapaan lembut Lia, dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar seksi di telingaku.


“Kamu baru bangun? ..”


Lia kemudian bertanya.


“Iya belum lama ---“


“Eh ngomong-ngomong ini jam berapa Rei?!”


Lalu Lia tahu-tahu bangun dengan tergesa, sambil nampak sedikit panik.


“Baru jam tujuh Yang ..”


Aku langsung menjawab.


“Bablas Shubuh ya kita?—“


“Iya.” Jawabku pada Lia yang hendak bangun dari posisinya yang berbaring.


“Emang kamu ga pasang alarm?” tanya Lia yang kini sudah menegakkan tubuhnya, dan bersandar di kepala ranjang.


Yang membuat mataku jadi tertuju ke satu arah secara otomatis.


Lia yang mungkin merasa heran karena aku tidak menjawab pertanyaannya, kemudian menepuk pipiku-dimana aku baru saja menelan air liurku sembari memperhatikan dengan seksama pemandangan indah yang tersaji di depan mataku ini.


Aku terkesiap, saat Lia menepuk pipiku. Dimana aku langsung tersenyum kikuk juga gemas sambil menatap pada Lia. “Pagi-pagi udah bengong.”


“Aku ga bengong ya ..” jawabku.


“Kalo ga bengong, kamu kenapa diem aja waktu aku tanya emang kamu ga pasang alarm.” Ucap Lia sambil memiringkan tubuhnya-sambil ia memegang rambutnya yang telah ia satukan dan ia genggam dengan satu tangannya, dan satu tangan lainnya sedang membuka laci nakas di samping Lia.


Lia hendak mengambil kunciran untuk rambutnya yang memang selalunya ia simpan beberapa di dalam laci nakas tersebut.


Sepertinya juga Lia tidak sadar dengan keadaan tubuh atasnya saat ini yang terekspos jelas di mataku saat ia duduk dan selimutnya melorot cantik ke pinggangnya.


Baru setelah Lia berbalik dan melihatku cengengesan sambil menggigit bibir bawahku dengan mataku yang tertuju ke satu bagian tubuhnya, Lia langsung mendelik dan dengan spontan menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


Aku terkekeh kemudian melihat tingkah Lia yang nampak kikuk sekaligus was-was itu.


“Kita harus buru-buru buat bersiap ke acara kantor kamu loh Rei.” Ucap Lia dengan sikap waspada. Aku tersenyum geli saja, dan semakin geli-saat ketika aku bergerak, Lia nampak lagi lebih waspada sembari menatapku dengan selidik.


“Buat apa juga ditutupin dada kamu Yang.” Ucapku jahil. “Semalem juga udah aku liat dan lahap habis.”


“Rei!”

__ADS_1


Lia mendelik, lalu memekik, saat aku bangkit dengan santainya dari tempat tidur dengan tubuhku yang tidak memakai sehelai benang pun-hingga Lia membuang mukanya ke samping dengan rona kemerahan yang sedikit nampak di pipinya.


“Malu sedikit kenapa!” protes Lia dengan wajahnya yang masih tertoleh ke samping.


“Kenapa mesti malu?” jawabku santai. “Sama istri sendiri kok.” Sambungku. “Lagian udah sering liat, bahkan rasa, masih aja malu—“


“Rei Ish!”


Lia mendesis sebal.


“Rei!”


Lia lalu memekik lagi, saat aku telah bergerak cepat bangkit dari tempat tidur dan segera menyibak habis selimut yang tinggal menutupi setengah tubuh Lia yang masih polos sepertiku itu.


“Ayo mandi ....” ucapku sambil mengangkat tubuh polos Lia dari tempat tidur, dan tersenyum penuh arti padanya. Arti yang mesum pastinya. Haha! ...


-


Lia mengerucutkan bibirnya, setelah aku dan dia telah siap untuk berangkat ke acara family gathering yang di adakan oleh kantor maskapai tempatku bernaung.


Karena saat mandi tadi, aku sekali lagi meminta 'jatah' pada Lia meski dia berkali-kali memperingatkanku jika kami ada acara pagi ini.


Yang tentu saja aku abaikan peringatannya itu dengan membombardir tubuh Lia dengan cumbuan, yang pada akhirnya melemahkan dirinya.


"Badan aku rentek nih Rei!"


Malia berucap sebal padaku yang cengengesan saja di kursi kemudi.


"Iya maaf. Habis aku ga tahan setiap kali liat tubuh kamu Yang.." sahutku.


Malia mencebik kemudian. "Omes!" rutuk Lia padaku.


"Yang penting aku bahagia."


Aku menjawab santai, namun menatap Lia penuh arti, yang kemudian aku genggam satu tangannya.


"Makasih Ya Yang. Makasih udah mau memberi aku kesempatan lebih."


Aku berucap tulus kemudian, dengan hati yang menghangat, kala Lia tersenyum dengan cantiknya padaku.


"You deserve it ( Kamu pantas mendapatkan itu ), Rei ....."


Dimana ucapan Lia barusan, membuatku melambung tinggi.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2