
Baca dulu sebelum Like/Comment, yah?
Thank you.
***
Selamat membaca...
***
Atas sikap-ucapan Irsyad lebihnya, Malia begitu terkejut sampai terperangah.
“Jangan membohongi hati kamu. Karena dari sejak kita bertemu lagi lalu menghabiskan waktu bersama, aku yakin kalau kamu juga mencintai aku, Lia ...."
Begitu ucapan Irsyad yang membuat Malia terperangah sampai sedikit membuka mulutnya tanpa sadar.
“Kamu begini ke aku karena tekanan suami dan orang tua kamu kan untuk menerima perjodohan kamu dan suami kamu tanpa kamu diperbolehkan untuk protes kan?...“
Dan ucapan Irsyad selanjutnya itu, kian membuat Malia semakin terperangah pada Irsyad-selain ada rasa tak terima dalam hati Malia atas dugaan Irsyad berdasarkan kesimpulan laki-laki dari masa lalunya itu.
“A – apa Kakak bilang? ....” respons Malia. Ia bahkan sampai tergugu karena ucapan Irsyad.
“Kamu ....“
Dimana Irsyad sudah membuka mulutnya lagi untuk bicara.
“Tidak ada yang menekanku. Tidak orang tua, apalagi suami aku! ....“
Namun Malia sudah keburu menyergah dengan cepat saat Irsyad hendak berbicara.
Tapi, alih-alih Irsyad menyadari gusarnya Malia, pria itu malah menyahut dengan entengnya.
“Ga perlu takut untuk mengakui perasaan kamu ke aku, Lia. Hanya ada kita disini-“
“Stop, Kak. Aku tekankan sekali lagi pada Kakak, jika baik orang tua atau suamiku, tidak ada dari mereka yang menekanku untuk menerima perjodohanku ini.. So mind your words, please.”
Malia memotong ucapan enteng Irsyad itu dengan kalimat yang menyiratkan penegasan pada Irsyad, dimana Malia mulai merasa geram karena Irsyad sudah membawa-bawa kedua orang tuanya segala.
Irsyad cukup dibuat terkejut juga pada Malia yang mendelik padanya dengan nada suara yang tegas, sambil pria itu menatap Malia dengan lekat. Namun alih-alih diam dan meminta maaf pada Malia, Irsyad malah terkekeh.
__ADS_1
“Aku ga percaya..“ kata Irsyad kemudian.
“Itu urusan Kakak..“ sahut Malia acuh tak acuh, karena dia sudah merasa mulai geram pada Irsyad sekarang.
“Tentu itu seharusnya menjadi urusan aku. Kebahagiaan kamu prioritas aku, Lia. Dan aku sangat yakin kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahan perjodohan kamu ini ... Seyakin aku merasa, jika kamu mencintaiku..“
Dan ucapan Irsyad barusan itu membuat Malia berpikir sinis antara pria dari masa lalunya itu sedang mabuk, atau mungkin Irsyad sudah gila.
Kemudian Malia benar-benar mengatai Irsyad dalam hatinya, setelah Irsyad lanjut bicara.
“Aku akan membantu kamu menyadarinya-“
‘Ya Tuhan Kak Irsyad mungkin udah bener-bener gila!’
Malia merutuki Irsyad dalam hatinya.
Lalu dimana Malia sudah tidak dapat menahan geramnya lagi pada Irsyad, Malia berucap tegas sekali lagi, bahkan dengan nada suara yang sedikit tinggi, sambil Malia mendelik pada Irsyad.
“Aku sadar betul kalau aku mencintai suamiku! ... Reiji Shakeel!” seru Malia.
“Kamu mencintai aku, Lia ... Sebesar aku mencintai kamu ...”
‘Okay that’s it! ( Oke ini rasanya udah cukup! )’ geram Malia dalam hatinya. “Stop Kak, berhenti menerka-nerka sendiri!”
Malia berucap dan menyergah Irsyad dengan mendelik lebih tajam ke arah pria itu.
“Suami kamu itu yang sudah memaksa kamu untuk menerima dia kan?-“
“Stop aku bilang.....”
“Aku ga akan berhenti sampai kamu jujur dan mengakui perasaan kamu ke aku.”
“Aku bilang stop!” hardik Malia pada akhirnya ke Irsyad yang langsung menoleh pada Malia.
Pria dari masa lalu Malia itu nampak jelas terkejut dengan Malia yang menghardiknya. Namun Irsyad terdiam.
Lalu kemudian menggerakkan perseneling dengan nampak kesal, lalu berhenti setelah berbelok di dekat belokan sebuah Plaza.
Malia tersadar jika Irsyad tidak melajukan mobilnya ke arah gedung apartemen tempat tinggalnya dan Reiji, walaupun tempat Irsyad menghentikan mobilnya sekarang sudah tidak begitu jauh dari tempat tinggal Malia dan Reiji tersebut.
__ADS_1
Atas hal itu, Malia sudah ingin melayangkan protesnya pada Irsyad yang membawanya ke arah yang sedikit berbeda dari gedung apartemen yang Malia tinggali bersama Reiji.
“Munafik kamu, Lia.” Namun belum sempat Malia melayangkan protesnya pada Irsyad, laki-laki itu sudah keburu bicara.
Dan perkataan Irsyad itu sungguh membuat geram Malia rasanya sudah bulat pada Irsyad.
“Terserah Kakak mau bilang apa, aku ga peduli.. Aku hanya men-cin-tai suamiku.. Camkan itu baik-baik!”
Malia berkata seraya menatap Irsyad dengan tajam sambil juga tanpa sadar mengarahkan telunjuknya pada Irsyad.
“Jadi hentikan sikap Kakak ini, karena aku tidak suka-“
“Kamu yang berhenti bersikap munafik Lia!”
Sungguh Malia dibuat terkejut karena Irsyad yang menghardiknya barusan.
Ada geram dalam hati Malia pada Irsyad memang, namun sekarang-setelah menghardiknya barusan, Irsyad membuat Malia merasa was-was.
Semakin merasa was-was, dengan jantungnya yang mulai berdegup kencang, kala Irsyad telah dengan cepat mencengkram kedua bahu Malia.
“Berhenti mencoba membodohi aku dengan menyembunyikan perasaan kamu hanya karena rasa tanggung jawab kamu pada orang tua kamu yang memaksakan kehendaknya pada kamu.”
Malia ingin sekali menyergah ucapan Irsyad itu yang mana maksudnya adalah menyalahkan orang tua Malia. Namun tatapan dingin dan tajam Irsyad sekarang ini membuat Malia sedikit merasa takut pada pria itu.
“Akui, jika kamu itu mencintaiku, Lia,” tuntut Irsyad dengan mempertipis jarak di antara wajahnya dengan wajah Malia. “Dan aku akan membuat kamu mengakuinya sekarang-“
“Ap-“
Malia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena telah dengan cepat Irsyad mencengkram kuat dagu Malia.
Dimana didetik berikutnya, Irsyad memaksakan ciumannya pada bibir Malia, yang mana dengan sekuat tenaga juga Malia mencoba melepaskan diri dari sikap dan ciuman yang penuh pemaksaan dari Irsyad.
Malia meronta sekuat tenaga, namun bukannya malah melepaskan Malia, Irsyad semakin kuat menahan tubuh Malia sembari menambah cengkramannya di dagu Malia.
Hingga Malia dibuat tak berkutik oleh cengkraman kuat Irsyad itu, selain ia tetap terus meronta dengan menggerakkan tubuh dan kepalanya untuk lepas dari Irsyad yang seperti sedang kesetanan itu.
'Ya Tuhan tolong aku!' jerit Malia dalam hatinya.
**
__ADS_1
Bersambung ..