WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 233


__ADS_3

Selamat membaca....


*******************


Aku di head office kantor kamu---


Ada Malia yang sedang berdiri di dekat area lobi sebuah apartemen.


‘Engga engga ..’ Malia membatin sambil geleng-geleng, setelah ia mengetikkan sebaris chat ke nomor kontak Reiji. ‘Kalau gue buat Rei keluar sekarang, gue ga akan bisa menemukan sedang apa dia di sini .. Dan yang paling penting, Rei sedang bersama siapa ..’


Malia menghapus huruf per huruf yang tadi ia ketikkan di room chat pribadinya dengan Reiji.


‘Trus gue harus gimana ini??!! ..’ Malia jadi gemas sendiri.


Namun yang jelas, Malia sedang tidak dapat berpikir positif sekarang.


Satu sisi hati Malia mengatakan, ‘Rasanya tidak mungkin Rei melakukan hal rendahan dengan yang namanya selingkuh dan melakukan hal menjijikkan dengan selingkuhannya di belakang gue’


Tapi satu sisi hati Malia yang lain, menimpali hati yang tidak pro pada Rei dengan pertanyaan, ‘Terus kenapa dia sampai membohongi kamu, Malia? ..’ lalu, ‘Dan kenapa sampai suami kamu yang percayai setia itu, membelikan sekaligus memberikan bunga dan cokelat kepada perempuan lain tapi kamu tidak diberikan apa – apa? Yah, meskipun perempuan itu sahabatnya .. Mungkin sahabat perempuannya yang itu sedang berulang tahun atau apa?’


Yang pada akhirnya,


‘HISH!’


Malia mendesis ketus dalam hatinya, saking kesal sendiri pada hatinya yang terbagi menjadi dua kubu itu dan kesal juga pada dirinya yang sekarang ini bingung harus bagaimana.


Karena keputusan Malia untuk menunggu Reiji di tempatnya sekarang, Malia rasa tidak efektif.


‘Ah iya!’


Malia yang hatinya sedang dirundung dilema selain geram dan bingung itu, kemudian teringat akan sesuatu.


Dimana Malia kemudian membuka satu room chat di dalam ponselnya itu, dan membaca lagi isi pesan terakhir dari seseorang yang masih misterius itu.


Lantai 4, unit 406


Detail bagian apartemen yang Malia yakini, jika itu adalah informasi bahwa Reiji sedang ada di satu unit apartemen tersebut.


****


Dan di situlah Malia sekarang, di depan unit apartemen yang detailnya ia terima dalam chat yang masuk dari seseorang yang misterius ke ponselnya.


Namun Malia tidak langsung mengetuk pintunya, karena ia sedang menyiapkan diri dengan konsekuensi yang bisa saja membuat Malia tidak dapat berpikir jernih.


****


“Ada yang bisa dibantu, Bu?”


Malia yang terkesiap, karena dikala ia berdiri dan ragu untuk mengetuk pintu atau menekan bel---tahu-tahu pintu tersebut terbuka dari dalam itu membatin.


“Shirly nya, ada? ..”


Namun begitu, otak Malia berpikir cepat.


“Oh ada, Bu.”


Dimana jawaban perempuan berusia kisaran 20 tahunan itu, membuat Malia tercengang sendiri.


****


“Sebentar, Bu ..”


Malia telah dipersilahkan masuk oleh perempuan 20 tahunan yang Malia terka adalah seorang art, tanpa bermaksud tidak sopan.


Perempuan yang Malia terka adalah seorang art itu sedikit melipir untuk meletakkan plastik sampah yang tadi ditentengnya.


Dan disaat itu, Malia samar – samar mendengar suara canda tawa dari dalam satu ruangan.


Dan kepala Malia pun spontan menoleh ke sumber suara, yang berasal dari dalam satu – satunya kamar di unit tersebut.


Yang mana Malia memicingkan matanya, ketika dirinya merasa melihat sepasang benda yang rasanya sangat ia kenali.


Meskipun sepasang benda yang adalah sepatu pria itu, diproduksi tidak hanya satu pasang oleh pabrik yang membuatnya. Tapi atas namanya kepunyaan dari seseorang yang hidup bersamanya, Malia yakin sekali itu sepatu Reiji.


****


“Mohon maaf, Ibu ini---“


Brak!


Di saat perempuan yang tadi membukakan pintu untuk Malia lalu berlalu sejenak dari Malia untuk meletakkan plastik sampah yang tadi hendak ia buang, Malia telah berjalan cepat ke arah sumber suara canda tawa yang sayup-sayup ia dengar.

__ADS_1


Samar, namun Malia masih dapat mengenali jika suara tawa dari seorang laki-laki di dalam satu kamar pada unit apartemen yang sudah ia masuki itu, makanya Malia memantapkan langkah kepada satu-satunya kamar di sana.


“Oh, kantor maskapai kamu sekarang udah pindah ke apartemen janda anak satu ya, Bapak Reiji Shakeel?...” ucap Malia yang sudah meyakini jika benar Reiji ada di dalam kamar tersebut, dan pemandangan yang ia dapati membuat Malia spontan mengeluarkan cibiran itu.


Dan sebab melihat Reiji sedang duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan seorang perempuan dimana Reiji sedang memangku seorang anak kecil dan perempuan itu duduk begitu dekatnya dengan Reiji sambil memangku satu tangannya di pundak Reiji lalu Reiji nampak biasa-biasa saja---membuat emosi Malia tambah tersulut.


Dan disaat yang bersamaan dengan Malia yang membuka kasar pintu kamar satu unit apartemen itu lalu, mereka yang berada di dalam sebuah kamar itu terlihat terkejut saat pintu kamar tersebut di buka dengan sedikit kasar.


“Y-Yang...”


Ada Reiji yang langsung membeku di tempatnya dan tergugu menyebut panggilan sayangnya pada Malia, saking tidak menyangka dengan kehadiran Malia di hadapannya sekarang.


Reiji terkejut dengan teramat, karena hitungannya dia kepergok oleh Malia. Meski bukan kepergok sedang melakukan tindakan asusila, tapi didatangi istri dikala diam-diam Reiji menemui orang yang pernah membuatnya berjanji pada Malia untuk dijauhi kan sama juga kepergok namanya?...


“Laki-laki munafik.”


Dan atas nama merasa dibohongi sekaligus dibodohi, kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Malia ketika ia memergoki suaminya itu ada di apartemen sahabat perempuannya yang seharusnya sudah jadi eks sahabat seperti janji Reiji padanya.


Tapi coba lihat sekarang?


Reiji malah menghabiskan waktunya bersama sahabat perempuannya itu, di dalam sebuah kamar meski tidak berduaan.


Namun hal tidak berduaan itu, justru mengganggu untuk Malia. Karena yang matanya lihat sekarang, ia sedang melihat gambaran keluarga kecil bahagia.


Jadi jangan salahkan, jika hati dan otak Malia berbisik dan berpikir soal ‘jangan, jangan.’


‘Anak ini, anaknya ini perempuan?... Atau anak mereka berdua?’


Malia menelisik Reiji, Shirly dan anak laki-laki Shirly yang kini telah berpindah dari pangkuan Reiji setelah Reiji memberikan bocah itu secara spontan pada ibunya.


Yang Malia yakini karena Reiji bilang, "Argan sama Mami dulu ya?"


Dimana anak itu mengangguk patuh pada Reiji yang tersenyum padanya.


****


Tidak ada yang salah memang, dari sikap Reiji pada anak lelaki itu.


Tapi dalam kondisi seperti ini, Malia yang melihat Reiji begitu lembutnya pada seorang anak laki-laki dalam sebuah kamar apartemen dan juga dengan adanya keberadaan seorang wanita di sana, membuat gelenyar tak nyaman menyeruak di hati Malia.


Dengan hati dan otaknya yang kembali bertanya dengan serempak, Apa benar yang dipikirkannya jika bocah laki-laki itu adalah anak Reiji dan Shirly yang mereka sembunyikan macam di sebuah novel yang pernah Malia baca?


Karena sikap Reiji tampak seperti sikap seorang ayah pada anaknya di mata Malia.


“Laki-laki munafik.”


Dan ketika Malia melontarkan kata cibiran tajamnya pada Reiji saat membuka tanpa permisi kamar dimana Malia langsung melemparkan tatapan tajam pada Reiji dan Shirly---lalu perempuan yang adalah memang seorang art itu nampak gugup datang di belakang Malia kemudian pergi dari satu kamar tersebut atas kode kepala Reiji dan Shirly, Malia kembali lagi melontarkan kalimat bernada datar namun tetap terdengar tajam.


“Begini, jadi kelakuan kamu di belakang aku, Rei??...“ ketus Malia, dengan rahangnya yang agak mengetat dan menatap penuh permusuhan pada Reiji dan Shirly.


“Aku bisa jelasin, Yang.”


Reiji langsung menukas ucapan Malia setelah mengatainya sebagai laki-laki munafik.


“Ini ga seperti yang kamu pikirkan---“


“Saya ga ngomong sama kamu ya?” tukas Malia pada Shirly yang barusan angkat bicara sambil mengarahkan telunjuknya pada sahabat perempuan Reiji itu.


“Yang---“


“Perempuan ga tau diri---“


“Yang!” tukas Reiji tegas ketika Malia melontarkan ucapan yang terdengar merendahkan Shirly.


Membuat Malia segera menoleh kepada suaminya itu, dimana ucapan Reiji yang terdengar bicara padanya dengan nada yang sedikit tinggi membuat Malia tak senang hati, selain sedikit tercubit hatinya.


Bisa-bisanya Reiji menaikkan suara padanya di hadapan orang lain?


Terlebih di hadapan perempuan yang sudah Malia cap sebagai bibit pelakor. Atau malahan sudah jadi pelakor beneran yang menikung Reiji darinya sampai Reiji mulai berbohong dan sembunyi-sembunyi darinya?...


Atau selama ini memang kiranya dirinya telah dibohongi dan dibodohi oleh Reiji dan perempuan yang diakui sebagai sahabatnya itu?...


Entah, tak tahu. Dan sedang tak ada waktu untuk berpikir logis sekarang.


Karena fakta jika Reiji tak menepati janjinya untuk menjauhi Shirly ditambah membohonginya lalu sembunyi-sembunyi menemui perempuan itu bahkan sampai ke ranah pribadi yang adalah sebuah kamar meski ada seorang anak kecil di sana, tak dapat membuat Malia berpikir positif dan logis.


Malia menatap Reiji dengan sinis, ketika nada tinggi Reiji itu ia dengar tertuju padanya.


“Yang,” Reiji melembut. “Aku jelasin di apartemen.”


Reiji meraih pergelangan tangan Malia, dan hendak membawa istrinya yang nampak emosi di mata Reiji itu untuk segera keluar dari apartemen Shirly.

__ADS_1


“Jelasin di sini. Apartemen juga kan?”


Malia menepis tangan Reiji hingga lepas dari pergelangan tangannya.


“Bedanya ini apartemen janda gatel bercover sahabat!” seru Malia.


“Yang!” Reiji berseru pada Malia. “Jangan bicara seperti itu---”


“Terus kayak gimana aku mesti ngomong? Dia janda terhormat gitu?”


Malia mencibir sinis.


“Kalo emang mau dianggap janda terhormat ga seharusnya dia membiarkan suami orang masuk ke kamarnya meskipun ada anaknya!”


“Yang! Astagfirullaahhh---“


“Baru sekarang kamu istighfar? Waktu kamu bohongin aku, buat nemuin ini janda gatel diam-diam, sadar ga buat istigfar??!!”


Reiji menghela berat sekali nafasnya sambil mengusap kasar wajahnya. “Iya, udah makanya aku jelasin di apartemen---“


“Aku udah bilang, ini juga apartemen. Ngomong di sini aja apa beda?!”


Intonasi suara Malia mulai meninggi, menukas ucapan Reiji.


“Iya, oke aku salah...” Reiji berkata sambil meraih tangan Malia.


“Reiji ga salah---“


“Lo punya kuping?!”


Malia langsung beralih pada Shirly yang kembali bersuara.


“Yang---“


“Gue bilang lo ga usah ikut campur---“


“Aku harus ikut campur karena---“


“Mamiii...”


Namun sebelum Shirly menimpali ucapan Malia, anak laki-laki Shirly yang didudukkan Shirly di atas ranjang itu melirih dengan tetap menangis.


“Argan sayang, sebentar ya? Mba Sitii...”


“Ayo kita pulang, Yang,” Reiji kembali memegang pergelangan Malia saat Shirly bicara pada anak lelakinya, kemudian memanggil asisten rumah tangganya.


Reiji sudah hendak melangkahkan kakinya dengan membawa serta Malia.  “Papii!!” Namun suara seruan itu membuat Malia menghentikan dirinya untuk mengikuti Reiji yang hendak membawanya pergi dari kamar dan apartemen Shirly.


Lalu Malia menatap Reiji dengan pandangan penuh selidik. “Papi?...”


“Jangan salah paham. Argan---“


“Papi jangan pelgi---“


“Argan...”


Interaksi Reiji yang langsung melepaskan pergelangan tangannya ketika anak itu datang berhambur kepada Reiji lalu memeluk kaki suaminya itu, dan kemudian Reiji pun langsung berjongkok dan mengusap lembut kepala anak lelaki itu berikut menyeka air matanya, kembali membuat Malia berspekulasi.


“Argan, Argan sama Mami di sini ya, Papi ada urusan sayang...” Shirly berujar lembut pada anaknya itu.


“Ga mau! Algan maunya sama Papi!...” kata bocah bernama Argan itu kemudian, menanggapi ucapan ibunya yang membahasakan dirinya ‘Mami’.


Lalu siapa lagi yang anak lelaki itu maksud sebagai ‘Papi’ kalau bukan Reiji?.


Jadi atas dasar itu makanya kemudian suara Malia terdengar. Lalu bilang, “Dia, anak kalian?”


Yang mana kiranya para perempuan yang ada di posisi Malia sekarang, bukankah akan berpikir sama dengannya ketika melihat suami mereka sedang bersama perempuan lain di sebuah tempat tinggal, lalu ada seorang anak yang menyebut suami mereka dengan sebutan ‘Papi’ sementara anak Malia dan Reiji masih dalam program?


“Bukan.” Adalah suara Reiji yang menyangkal dengan cepat dugaan Malia barusan.


Namun Malia tersenyum sinis.


“Bukan anak kalian...” Setengah menggumam kemudian.


“Memang bukan, Yang---“


“BERHENTI JADI LAKI-LAKI MUNAFIK REI! DAN AKUI AJA KALAU DIA ADALAH ANAK HARAM KALIAN!” teriak Malia.


PLAK!


******

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2