WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 203


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Untuk yang satu ini aku ga punya bukti yang bisa mendukung ucapan aku ....”


Malia sudah mengatakan semua hal yang berhubungan dengan Irsyad pada Reiji tanpa terkecuali, bahkan sampai tindakan Irsyad yang pernah melecehkannya walau hanya sebatas ciuman dengan penuh pemaksaan.


Namun hal itu tetap membuat Malia syok bagaimanapun juga, meski Irsyad sudah pernah datang untuk meminta maaf secara langsung padanya.


“Tapi aku harap, kamu percaya kalau aku ga seburuk yang mungkin kamu pikir. Engga Rei, engga .... sekalipun saat itu aku belum mencintai kamu, aku ga akan bertindak di luar batas walau sekedar ciuman, meski aku masih mencintai dia saat itu. Aku terdesak saat ciuman itu terjadi---itu aja yang bisa aku bilang,” lirih Malia.


Istri Reiji itu mengusap wajah putus asanya, sebelum ia lanjut bicara.


“Itupun terjadi secara sepihak, Rei .... Aku sendiri jijik sama diri aku sendiri habis itu ....”


Didetik berikutnya Malia menutup wajahnya dan isakannya mulai sedikit intens. Dengan bahu Malia yang juga nampak bergetar. Dimana hal itu, tak butuh lama bagi Reiji untuk menarik Malia dan memeluk istrinya tersebut erat. Malia pun kian terisak.


“Maafin aku yang sembunyikan ini dari kamu, Rei-“ isak Malia dalam pelukan Reiji. “Aku malu dan takut untuk cerita soal ini ke kamu sebelumnya-“ sambungnya. “Aku takut kamu ga percaya lalu jijik sama aku dan ngejauhin aku ...”


Reiji kemudian mengurai dengan perlahan pelukannya pada Malia selepas istrinya itu sedikit meracau. “Itu ga akan terjadi, oke? ...”


♠♠♠


Reiji sudah menenangkan Malia yang kini sudah tidak lagi terisak, namun sesekali masih sesenggukan.


‘Ga bisa! Gue ga bisa diem aja atas apa yang udah si bangst ini lakuin ke Lia!*’ batin Reiji yang sedang diliputi amarah berlipat pada Irsyad sekarang.


Reiji telah menegaskan dan memutuskan satu hal yang ingin segera dia lakukan pada laki-laki yang ia anggap telah berlaku sangat kurang ajar pada Malia.


“Kamu masih simpan nomor dia?” Lalu pertanyaan itu keluar dari mulut Reiji sambil menatap Malia yang masih nampak sedikit basah matanya, sambil kembali ibu jari Reiji menyeka jejak air mata Malia itu.


“Engga. Udah aku hapus ga lama setelah aku blok-”


Malia menjawab seraya ia menggeleng.


“Tapi kamu masih hafal kan?”


Lalu Reiji berucap, dengan bertanya lagi pada Malia.


“Tulis. Aku mau minta ‘ganti rugi’ karena dia udah melecehkan kamu.”


Dimana Malia langsung mendongak dan menatap Reiji dengan intens.


Sedikit bergidik, karena sorot mata Reiji nampak berbeda dari biasanya.


Namun Malia tahu persis jika sorot mata yang menguarkan aura kemarahan Reiji itu bukan tertuju padanya.


Malia membasahi bibir bawahnya sebelum ia memberanikan diri untuk bertanya pada Reiji. “Kamu, minta nomor telefon dia, buat apa Rei?”


“Mau aku ajak ketemu, lalu aku hajar tanpa ampun,” tegas Rei dengan rahangnya yang nampak kian mengetat.


♠♠♠

__ADS_1


Malia kembali terperangah dan bergidik disaat yang bersamaan ketika Reiji mengucapkan sebaris kalimat yang Malia tahu jika itu ditujukan pada Irsyad, dengan segenap kemarahan yang nampak sekali di wajah Reiji.


“Jadi mana si nomor b*jingan itu,” ucap Reiji dengan datar, namun gurat emosinya masih cukup terlihat oleh Malia. “Tulis ...” ucap Reiji lagi, namun menjeda sesaat ucapannya.


Kemudian Reiji bangkit dari tempatnya, lalu berjalan tergesa ke dalam kamar pribadinya dan Malia pada unit apartemen mereka itu. Dan kembali lagi dengan cepat, dimana Reiji sudah memegang ponsel pribadinya.


“Ini, kasih aku nomor b*jingan itu.” Reiji menyodorkan ponselnya itu pada Malia.


Sementara Malia menggigit bibirnya.


“Sorry, aku ga ada maksud apa-apa ngomong gini ke kamu, Yang. Tapi sekalipun kamu udah menghapus nomornya dari ponsel kamu, aku rasa kamu hafal nomornya dia kan?-“


Malia mengangguk samar.


♠♠♠


Malia tahu jika Reiji sedang sangat geram pada Irsyad.


Tapi Malia sebenarnya agak ragu untuk mengetikkan nomor ponsel Irsyad di ponsel Reiji.


“Kenapa?” tanya Reiji karena Malia belum mengetikkan nomor laki-laki yang Reiji sebut sebagai bibit pebinor itu.


“Heu?-“ sahut Malia, yang sedang melamun itu. Sambil kepalanya spontan mendongak, dan ia bertatapan dengan Reiji kemudian.


“Kenapa kamu kok kayaknya ragu ngasih nomor telfon bajing*n itu ke aku?” tukas Reiji sambil memandang Malia dengan tatapan yang membuat Malia sedikit merasa dicurigai.


♠♠♠


Bukannya aku tidak mau memberi nomor kontak ponsel Irsyad pada Reiji, yang mana sebenarnya aku agak ragu juga memberikannya.


Pasalnya aku sungguh was – was bahkan takut, memikirkan apa Rei akan benar – benar menantang Irsyad untuk bertemu lalu mereka terlibat baku hantam.


“Sorry Yang, aku ga ada maksud kasar ...”


“Engga Rei, aku ga apa. Aku paham kok,“ sahutku pada Reiji yang wajahnya nampak merasa tidak enak padaku, karena ucapannya yang ketus tadi.


Tanpa Rei mengklarifikasi pun aku paham, jika kata yang sedikit kasar bahkan ketusnya nada suara Rei itu tidak ia maksudkan padaku.


Jika Rei memarahiku habis – habisan pun aku akan menerimanya dengan lapang dada.


Toh sedikit banyak, meski ciuman Irsyad itu adalah sebuah pemaksaan, namun tetap saja ada andil kesalahanku di sana sampai hal itu bisa terjadi.


Andai saat hari itu terjadi aku dengan tegas menolak Irsyad untuk mengantarku pulang, hal itu tidak akan terjadi.


Namun kenaifanku atas dasar rasa tidak enak dan pernah berhubungan baik selain memang selama aku mengenalnya --- karena yang aku tahu Irsyad memang baik dan perhatian padaku disaat kami masih dekat dulu, menjadi bahan pertimbanganku untuk menerima tawarannya untuk mengantarku hari itu.


Yang sebenarnya kalau diurut – urutkan, ya Irsyad yang seolah lepas kendali atau berubah dari Irsyad dengan kepribadian yang aku kenal dulu, utamanya adalah aku dan kelabilanku lah biang keroknya --- selain kenaifanku. Kegamangan yang kini aku anggap kebodohanku itulah yang rasanya membuat hal yang mengganggu serta tidak nyaman diantara aku dan Rei ini sampai terjadi.


Andai aku lebih ikhlas menerima perjodohanku dan Rei yang telah sampai ke pernikahan yang sah secara hukum dan agama, aku tidak mungkin akan segamang itu saat Irsyad kembali dalam kehidupanku.


Andai aku tidak naif dengan harapan saat Irsyad kembali lalu dia mengatakan jika sebenarnya kembalinya dia ke Jakarta adalah untukku, aku tidak akan kelepasan soal pernikahanku dan Rei yang berdasarkan perjodohan dengan tampang memelas yang aku tunjukkan pada Irsyad kala itu.


Andai aku tidak melakukan itu, mungkin Irsyad tidak sampai berpikir jika aku sangat tersiksa dan tertekan menikah dengan Rei --- hingga harapnya melambung tinggi pada hubungan kami, lalu pada akhirnya menggila dengan pemikirannya sampai ia nekat berlaku kasar padaku yang mengarah pada sebuah pelecehan.

__ADS_1


Andai ...


Aku hanya bisa berandai – andai sekarang.


Pengandaian yang sungguhlah percuma, walau betapa besar aku menyesalinya.


Terlepas dari itu, hatiku kini merasa lega.


Apa yang mengganjal di hatiku --- tentang Irsyad yang selama ini aku simpan rapat – rapat dari Rei, sudah aku katakan semua tanpa ada lagi yang aku sembunyikan dari Rei. Jadi aku bisa bernafas dengan lega sekarang ini, terlebih --- Demi Tuhan aku sungguh bersyukur lagi – lagi, untuk keberadaan Rei dalam hidupku, karena dia begitu mempercayaiku.


Meski yah, ada geram yang kulihat mencuat dalam diri Rei selepas ceritaku soal Irsyad yang menciumku --- dan geram itu masih kentara sampai dengan detik ini. Dimana hal itu masih tergambar di keketusannya dalam bicara.


Yang aku tahu jika hal itu spontan saja, karena Rei dengan cepat menyadari jika nada bicaranya lumayan tajam walau volumenya datar. Lalu ia langsung mengklarifikasi keketusannya itu padaku.


Aku tersenyum pada Rei selepas ia memberikan klarifikasi atas nada bicaranya padaku tadi.


Dan Rei membalas senyumanku itu dengan senyuman yang memang adalah senyumannya yang biasa, sambil kembali menarik diriku agar rapat dengannya.


---


“Aku bukannya ragu yang gimana – gimana buat kasih nomornya Ir ---“


“B*jingan,” sambar Rei. “Aku haramkan kamu sebut namanya, Yang.”


Rei berucap datar, namun kalimatnya cukup terdengar tajam.


Rei bisa menjadi cukup membuat ngeri sekarang.


Hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


Tapi sudahlah, aku memahami Rei yang seperti itu saat ini.


Dan aku yang dibawa Rei untuk bersandar padanya mengangguk patuh saja.


Aku melemparkan senyuman lagi ke Rei sambil mendongak untuk memandangnya sambil mengusap satu sisi pipinya, dimana rahang Rei kuperhatikan sedikit mengetat.


“Jangan gini. Jujur aku agak takut liat kamu yang begini ---“


“Sorry,” tukas Rei yang kemudian juga tersenyum dan mengecup singkat pucuk kepalaku.


“Aku itu bukannya ragu atau ga mau kasih nomor telpon dia ke kamu, Rei ...”


Lalu aku meneruskan apa yang ingin aku katakan pada Rei sebelumnya mengenai pendapatku.


“Aku Cuma berpikir, ga guna juga kamu ajak dia ketemu --- selain aku ga mau kamu buang waktu dengan meladeni dia ---“


“Yang penting aku puas dulu hajar dia ...”


Aduh, Rei ...


♠♠♠♠♠♠


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2