WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 294


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


REIJI


Aku lega, selain merasa kalau setelah insiden antara aku, Irly termasuk juga Argan serta Irfan di lobi luar gedung apartemen tempat tinggalku dan Lia---aku rasa Irly tidak akan lagi berani muncul ke hadapanku dan juga Lia.


Aku rasa Irly cukup punya harga diri untuk tidak lebih merendahkan dirinya, setelah aku yang sudah mengatainya dengan cukup sarkas itu.


Keterlaluan sikapku itu padanya mungkin, tapi aku hanya mengatakan persepsiku secara jujur. Karena aku tidak menyukai provokasi yang sudah dilakukan Irly pada Lia, dari mulai chatnya yang dibaca Lia saat setelah aku menyelamatkannya istriku itu dari sekapan si bibit pebinor bajingan bernama Irsyad.


Bahkan Irly terkesan memojokkanku dengan melibatkan Argan, yang berlanjut sampai ia berani mendatangi tempat tinggalku dan Lia, meski hanya di lobi luar gedung saja.


Dan batas kesabaranku, habis kala itu.


Jadilah aku merendahkan Irly yang dengan cukup sarkas aku bilang kalau kelakuannya itu macam perempuan murahan yang menggunakan anaknya karena tahu betapa aku menyayangi anaknya itu—untuk menjeratku.


Bukan aku kepedean, tapi memang seperti itu kesan Irly dengan sikapnya tersebut. Yang bahkan menyalahkan Lia dengan menuding perempuan tercintaku itu sebagai pengaruh buruk atas perubahan sikapku padanya dan Argan. Serta juga Irly meninggikan dirinya dengan mengatakan jika Malia cemburu buta karenanya.


Sekalipun jika Lia mungkin cemburu buta, tetap aku tidak terima Irly seperti itu pada Lia—meski dulu Irly cukup berjasa dalam aku yang mengejar dan menentukan titik masa depanku. Akademis dan pekerjaan dalam hal ini.


Yang rasanya balas budiku pada Irly terkait dua hal tersebut aku rasa cukup.


Apalagi setelah situasinya menjadi seperti sekarang, setelah aku sudah menikah dan mencintai perempuan yang aku nikahi itu dengan teramat sangat.


Dan perempuan yang aku cintai itu, tidak bisa menerima keberadaan Irly sebagai sahabatku meski sudah beberapa kali aku mencoba untuk mendekatkan Lia dan Irly.


Lia begitu antipati pada Irly. Memposisikanku untuk memilih dirinya dan Irly yang menurutku konyol untuk dilakukan. Namun setelah apa yang terjadi terkait persahabatanku dan Irly dimana aku dan Lia jadi banyak bertengkarnya, jadi keputusan untuk memutuskan persahabatanku dengan Irly aku bulatkan.


Lalu ragam kejadian yang tidak mengenakkanku terkait persahabatanku dan Irly, ditambah pengakuan Irly yang mencintaiku dalam chatnya dan bagaimana dia memojokkanku atas nama Argan, aku semakin membulatkan tekad untuk benar-benar menjauh dari Irly dan memutus semua hubungan dan urusanku dengannya.


Termasuk juga Argan, bocah lelaki yang selama ini aku anggap anak sendiri. Namun sayangnya, bocah lelaki yang aku sayangi dan sudah aku anggap anak sendiri itu, juga menjadi ganjalan bagi Lia.


Yang membuatnya merasa kalau Argan telah mengambil hak anak kami yang belum ada, hingga membuat Lia memutuskan untuk membatalkan promilnya.


Jadi ya sudah, demi Lia yang aku inginkan terus berada di sisiku karena aku juga tidak mau kehilangan perempuan yang aku cintai itu—aku harus tega pada Argan.


Namun ketegaanku pada Argan, pada akhirnya menguntungkan diriku.


Karena selepas merasa percaya diri kalau Irly tidak akan berani mengangguku lagi—istilahnya—lalu lega karena aku masih memiliki dua sahabat yang bertahan selain Irly, Babbas dan Aldo yang telah menemuiku selepas insiden antara aku, Irly, Argan serta juga Irfan— salah satu sahabatku juga.


Yang kini samar rasanya bagaimana hubunganku dengan salah satu sahabat lelakiku yang sempat bersitegang denganku,  karena begitu ikut campur dengan masalahku dan Irly.


Hingga kemudian aku tinju wajah Irfan,  karena ikut mengatai Lia seperti Irly yang mencibir istriku dalam mengatainya—dan sekarang aku kiranya masih agak geram pada Irfan karena hal itu.


Tidak tahu bagaimana ke depannya hubunganku dengan salah satu sahabat lelaki itu selain Babas dan Aldo ke depannya nanti, yang jelas aku lebih memilih fokus pada masa depanku dan Lia sekarang—dimana masa depan yang aku harapkan dengan istriku itu, sepertinya akan berjalan sesuai dengan harapanku. Karena disaat setelah Babas dan Aldo undur diri dari apartemenku dan Lia setelah kami bicara selepas insidenku dengan Irly, Argan serta juga Irfan—aku mendapat kesempatan untuk ‘menyentuh’ Lia.


----


Seronde saja, aku main ‘kuda-kudaan’ dengan Lia semalam. Namun kiranya cukup untuk membuat moodku menjadi sangat bagus.


Hingga aku begitu sumringah dan bersemangat dipagi harinya. Saking semangatnya, aku menyiapkan air mandi Lia dan ngacir untuk membeli sarapan kala Lia sedang mandi.


Inginnya sih aku memasakkan Lia, tapi berhubung stok bahan makanan siap olah sedang kosong di kulkas serta di lemari penyimpanan, karena aku dan Lia sama tidak memperhatikan isi kulkas yang hanya ada makanan bekas kemarin yang belum aku cek apakah masih layak untuk dimakan setelah dipanaskan.


Dan hanya ada kue yang merupakan oleh-oleh dari Avi.


Yang walaupun dapat aku dan Lia konsumsi untuk sarapan, tapi aku tetap pergi untuk membeli bubur ayam pagi di tempat langganan kami.


----


Aku sudah cukup senang dan bersemangat sekali, karena mendapat ‘jatah’ suami dari Lia semalam. Tapi Tuhan nampaknya begitu iba padaku, hingga rasa senang dan semangat yang aku rasa cukup karena Lia, Ia tingkatkan menjadi rasa bahagia yang membuncah di dalam hatiku.


Kala Lia bilang, “Aku mau nerusin promil....” setelah sebelumnya membuatku tertegun memikirkan jika aku tidak salah mendengar Lia yang sempat bertanya padaku lebih dulu tentang jadwalku hari ini, lalu mengatakan, “Mau ajak ketemu dokter Dewi.” Dan aku langsung bertanya pada Lia untuk memastikan ucapannya itu.


“Beneran???“ begitu aku bertanya pada Malia.


Sangat antusias.


“Iya....“


Dimana jawaban Lia yang disertai anggukkan beserta senyuman manis padaku dan nampak sungguh-sungguh selain tulus, membuatku sungguh sangat bersyukur—selain bahagia.


Kian bersemangat aku menjalani hari.


Menuntaskan dengan cepat urusanku terkait pekerjaan namun tetap profesional walau aku hanya mengikuti meeting dengan para staf maskapai dan beberapa pilot lain yang sebenarnya tidak wajib untuk ikuti, mengingat aku bukan pilot reguler lagi.

__ADS_1


Namun karena ada penanggung jawab maskapai—tangan kanan dari salah satu bos besarku, yang memintaku ikut serta dalam meeting, jadi aku tidak mungkin menolak ucapannya itu. Dan untungnya meeting yang aku ikuti lalu berlanjut dengan pembicaraan pribadiku bersama penanggung jawab maskapai, tidak berlangsung lama.


Jadi aku bisa tepat waktu sampai di rumah sakit dimana sebelum tiba giliranku dan Lia untuk menemui seorang dokter yang menangani ragam hal tentang fertilitas serta kandungan, dan selama ini menjadi tempatku dan Lia berkonsultasi soal promil.


----


Aku dan Lia datang secara terpisah, karena rumah sakit yang kami sambangi berada di tengah antara kantor pusat maskapai dan kantor Lia. Selain untuk efisiensi waktu, karena jam praktek dokter yang selama ini membantu kami dihari Lia membuat janji dengannya berada pada hari kerja lepas jam makan siang.


Keburu jam praktek dokter habis kalau lepas dari kantor pusat maskapai aku menjemput Lia dulu ke daerah perkantoran tempatnya bekerja yang amat sangat hectic di jam makan siang sampai satu dua jam setelahnya, dan jalanan di daerah itu hanya akan lengang sebentar saja karena segitiga emasnya Jakarta. Atas hal itu aku dan Lia pun sepakat untuk bertemu di rumah sakit tempat kami berada sekarang.


“Makasih, ya Yang?” ucapku pada Lia yang kini sedang berjalan berdampingan denganku menuju ruang tunggu, dekat ruang praktek dokter yang selama ini membantu kami dalam usaha memiliki momongan dalam waktu cepat.


Cepat dalam arti Lia bisa segera hamil, tanpa kami menunggu sampai bertahun-tahun untuk bisa memiliki anak.


Yang mana ucapan terima kasihku itu sungguh sangat ingin aku katakan pada Lia, yang tak jadi membatalkan promil yang sempat ia batalkan atas dasar emosinya.


Meski Lia menjawabnya dengan selorohan yang bilang bosan hanya berduaan saja denganku kalau kami sedang berada di apartemen. Yang aku tanggapi dengan kekehan.


Lalu berbisik mesra di telinga Lia kemudian. Dimana bisikan mesraku mendapat jawaban dari Lia yang memang ingin selalu aku dengar. “Love you too, Rei—“


“Love you more, Yang. Dan makasih sekali lagi dari mulai kamu yang sudi nerima perjodohan kita, sampai dengan kesediaan kamu untuk mengandung anak aku—andai Tuhan memang kasih kita kepercayaan itu.”


Balasanku pada Lia.


“Aamiin,” jawab Lia.


Lalu setelahnya ia lanjut berkata.


“Makasih juga buat kamu yang udah sabar sama aku. Dan makasih buat cinta kamu.”


Membuatku tak mampu menahan senyum bahagiaku terbit setelah mendengar kalimat Lia itu.


****


Telah tiba giliran Reiji dan Malia untuk bertatap muka dengan seorang dokter wanita yang selama ini membimbing Malia dalam promilnya.


“Saya melakukan pengecekan seperti biasa dulu ya, Bu Malia? Pak Reiji?....”


Dimana setelah sedikit berkonsultasi yang dijeda sejenak, Malia hendak diperiksakan dulu kondisinya—terutama pada bagian rahim.


Tapi tugas suster dari dokter tempat Reiji dan Malia berkonsultasi itu, selalunya diambil alih oleh Reiji selepas Malia selesai melakukan pemeriksaan.


****


“Gimana, Dokter Dewi?”


“Apa jeda waktu penghentian promil saya, harus membuat saya memulai lagi dari awal?”


Reiji dan Malia langsung bersahutan bertanya, ketika keduanya telah duduk kembali dikursi konsultasi.


Dimana dokter wanita yang bernama Dewi itu memberikan jawaban yang memuaskan Reiji dan Malia. “Kalau jeda waktunya sih ga mengharuskan Ibu Malia memulai lagi dari awal, karena hanya terjeda sebentar aja.”


Hanya saja, setelahnya Reiji dan Malia dibuat was-was sampai sempat saling tatap khawatir, ketika lepas memberikan jawaban yang melegakan, ada kata sergahan yang kemudian keluar dari mulut dokter Dewi.


“ Tapi—“


“Tapi apa, Dok?....”


Reiji dan Malia berbarengan menukas ucapan dokter Dewi yang sepasang suami istri itu menyampaikan kabar yang tidak mengenakkan terkait kondisi Malia sekarang.


****


MALIA


Aku sudah berdebar-debar, dan mungkin Rei juga sama. Saat dokter Dewi nampak hendak menyampaikan hal yang mungkin bisa membuat aku dan Rei kecewa. Debaran was-was dan penuh kekhawatiran dan hatiku kian menjadi ketika dokter Dewi lanjut bicara, seraya menjawab kegelisahanku dan Rei.


Dimana beliau mengatakan, “Tapi promil bu Malia agar anda berdua bisa memiliki momongan dalam waktu cepat, rasanya tidak bisa dilanjutkan....“


Aku pun menggigit bibirku dengan spontan, lalu menoleh lagi pada Rei yang juga sedang menoleh ke arahku dimana ekspresi memelas, yang aku rasa kini Rei lihat di wajahku.


Selain itu, ada rasa takut yang bergelung di hatiku yang berpikir seraya menerka, jika ada yang tidak beres dengan rahimku yang kala pemeriksaan dan konsultasiku terakhir sebelum hari ini, masih dikatakan baik-baik saja oleh dokter Dewi berdasarkan hasil pemeriksaan yang aku jalani.


----


Rei seolah paham ketakutanku itu, karena didetik berikutnya ia menggenggam tanganku dan mengelus lembut punggungku yang aku yakini adalah usahanya untuk menenangkanku—meski aku yakin, jika Rei pun sedang merasa was-was karena ucapan dokter Dewi yang mengatakan kalau promilku tidak dapat dilanjutkan—dan alasan dari ucapan dokter Dewi itu kemudian Rei yang tanyakan padanya.


Karena aku yang takut jika ada sesuatu yang salah pada rahimku, yang mungkin baru terdeteksi sekarang—membuat lidahku serasa kelu, karena otakku sudah berpikir yang bukan-bukan terkait kondisiku karena ucapan dokter Dewi itu.

__ADS_1


Serta juga membuatku rasa ingin bangkit dari dudukku. Karena aku enggan mendengar informasi jika memang ada yang salah dengan rahimku. Demi Tuhan aku takut. “Terakhir.... bukannya kondisi istri saya dinyatakan baik ya, Dok?....” begitu pertanyaan yang Rei cetuskan kepada dokter Dewi.


Membuat aku yang sedang memikirkan hal buruk yang kemungkinan akan dikatakan oleh dokter Dewi terkait pertanyaan Rei barusan, jadi spontan fokus memandang pada dokter itu—dan aku yang hendak bangkit untuk keluar dari ruang praktek dokter Dewi, jadi urung melakukannya. Karena jadi fokus pada dokter tersebut, selain genggaman tangan Rei seolah memaksaku untuk tetap di tempat. Dan aku menyiapkan hatiku saja, jika terkaan bahwa diriku mengidap sesuatu terkait rahimku, benar adanya. Lalu, “Sangat baik bahkan,” jawaban dokter Dewi terdengar.


“Lalu.... kalau memang yang terakhir hasilnya sangat baik, kenapa sekarang menjadi tidak baik, Dok?”


Rei kembali bertanya pada dokter Dewi, dengan pertanyaan yang sama terbersit di otakku.


Dan ditengah Rei yang sedang bertanya pada dokter Dewi itu, aku sempat memejamkan mata sambil menarik nafas was-wasku dengan pelan dan sekejap. Lalu usapan lembut ibu jari Rei, aku rasakan di punggung tanganku selepas ia melontarkan pertanyaannya tadi pada dokter Dewi.


Dan aku lantas menoleh dan saling tatap dengan Rei yang kembali mengulas senyuman untuk menenangkanku. Sebentar saja aku saling tatap dengan Rei, lalu kami sama-sama menoleh kepada dokter Dewi.


----


Aku sungguh gelisah. Dan aku yakin Rei pun sama. Selain was-was. Lalu kami dengar dokter Dewi berkata.


“Saya tidak bilang hasilnya tidak baik.”


Begitu yang dokter Dewi bilang, membuatku spontan bertanya karena agak bingung dan penasaran juga.


“Tapi tadi Dokter bilang kalau promil saya tidak bisa dilanjutkan.”


Aku bertanya ragu-ragu, sambil fokus pada dokter Dewi—begitu juga Rei yang matanya fokus pada beliau.


“Untuk apa dilanjutkan?—“


Kalimat dokter Dewi yang membuat aku dan Rei lebih fokus memandanginya, dengan sama mengernyit dan berekspresi bingung.


“Kalau sudah menuai hasil....” Dokter Dewi lanjut bicara, sambil mengarahkan monitor pcnya ke arahku dan Rei.


“Maksud.... Dokter....”


Aku dan Rei sama tergugu sambil melihat pada monitor, lalu kembali memandang pada dokter Dewi ketika beliau bicara lagi.


“Calon Bapak Reiji dan Ibu Malia junior sudah hadir.... jadi program kehamilan tidak perlu lagi dilanjutkan. Karena setelah ini, program yang harus Ibu Malia jalani dengan dukungan Pak Reiji adalah menjaga janin dalam perut Ibu Malia berkembang dan tumbuh dengan sehat sampai tiba waktunya dia lahir nanti....”


Didetik dimana dokter Dewi berhenti bicara seraya memandangku dan Rei bergantian sambil tersenyum, didetik itu pula air mata haru keluar dari pelupukku. Dan Rei langsung merengkuhku dengan dirinya yang sama menitikkan air mata haru sepertiku. Lalu aku berbagi senyum bahagia dengannya.


Menatap monitor pc dokter Dewi yang ditunjukkan oleh beliau, dimana ada calon bayiku dan Rei yang belum bisa aku tangkap jelas bentuknya dengan mataku. Namun begitu, aku tidak henti-hentinya tersenyum lebar.


Begitu juga Rei yang bahkan senyumannya lebih lebar dariku, dan setelah puas memandangi monitor pada pc dokter Dewi, Rei langsung menghujani pucuk kepalaku dengan kecupan yang tidak aku sergah luapan bahagia suamiku itu—meski ada orang lain di dekat kami yang nampak senyum-senyum memandang padaku dan Rei.


----


Berita kehamilanku sudah membuatku bahagia. Tapi kemudian, aku mendapatkan satu kebahagiaan lagi setelah aku dan Rei telah selesai dengan pertemuan kami dengan dokter Dewi dengan hasil yang begitu menggembirakan setelah aku membuka aplikasi m-bankingku.


Tanggal gajianku di hari ini.


Tapi bukan karena gajiku yang telah masuk yang membuatku begitu gembira, setelah sempat heran lalu terkejut kemudian.


Karena jumlah yang masuk di rekeningku berlipat-lipat jumlahnya dari gajiku.


Dimana suara Rei yang bertanya terdengar—karena dia mungkin melihatku nampak terkesima memandangi ponselku.


“Kenapa, Yang?”


“Ada transferan dari Smith’s Airlines kok ke rekening aku????”


Aku menjawab Rei dengan sudah menoleh padanya yang kemudian tersenyum.


“Kayaknya gaji kamu ini, Rei? Rekening kamu lagi bermasalah?” aku pun juga bertanya pada Rei yang langsung tersenyum.


“Oh itu,” ucap Rei kemudian. “Mulai bulan ini, dan bulan-bulan seterusnya sama aku pensiun dan atau diberhentikan oleh mereka.... gaji aku sebagai pilot pribadinya keluarga Tuan Alva, akan ditransfer ke rekening kamu....”


“Heu?!”


Aku terkejut sampai melongo setelah mendengar ucapan Rei barusan.


“Itu salah satu penebusan maaf aku ke kamu yang udah melangkahi kamu karena sering memberikan uang pada Irly tanpa sepengetahuan kamu,” ucap Rei lagi. “Aku juga udah transfer balik uang yang kamu pernah transfer ke aku. Dan silahkan kamu gunakan uang itu sesuka hati kamu.”


Daebak!


Sepertinya aku bisa bergabung dengan para sosialita sekarang.


*******


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2