WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 116


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Reiji bilang aku skeptis. Seperti itukah?...


Apa yang Reiji maksud adalah dugaanku, tentang jika memang dia masih memiliki pada sahabat perempuannya yang bernama Shirly itu?.


Well, bisa iya bisa tidak. seperti halnya Reiji, akupun bersikap sebagaimana otakku ini berpikir.


Yang mana aku rasa, para istri yang mengetahui, lalu melihat jika suami mereka membawa jejak masa lalunya dengan orang yang pernah berkesan di hati suaminya, akan menjadi skeptis sepertiku.


Well, bicara tentang aku yang menurut Reiji adalah orang yang memiliki sifat skeptisisme, aku sebenarnya ingin mendebat Reiji mengenai hal yang disebut skeptis itu.


Karena bukankah Reiji juga bersikap skeptis sekarang? Toh dia berpikir aku selingkuh dengan Irsyad, yang mana menurutku jika hal yang dinamakan ‘selingkuh’ itu adalah menjalani hubungan terlarang – termasuk berbuat yang diluar norma, di belakang pasangan kita.


Sementara aku dan Irsyad kurang lebih sama dengan Reiji yang berteman dengan Shirly.


Well, meski Irsyad telah mengungkapkan perasaannya padaku, tapi aku juga tidak menanggapi lebih jauh.


Walau tak menampik juga jika aku merasa bahagia saat tahu ternyata Irsyad mencintaiku, seperti halnya aku yang mencintainya.


Lega memang, mengetahui tentang bagaimana  sebenarnya perasaan Irsyad padaku.


Bahagia.


Tapi apa yang bisa aku perbuat selain hanya menikmati kebahagiaan itu dalam hati?.


Aku sudah menjadi istri orang, yang mana ungkapan perasaan Irsyad hanya aku bisa terima saja, tanpa aku bisa menjanjikan apa –apa padanya.


Jadi bagaimana ini alur takdirku ini mengalir – dan kemana, aku ikuti saja. Sampai dengan detik ini, aku anggap aku dan Irsyad berteman, seperti pertemanan kami dulu kala masih berkuliah di Kampus yang sama. Seperti sebelum Irsyad sibuk dengan dunianya di London. Dunia yang kata Irsyad, adalah sesuatu untuk dia persembahkan padaku jika waktunya telah tepat.


Namun sayang, waktu yang tepat itu, justru adalah waktu yang sangat terlambat bagi Irsyad. Waktu yang disesalipun, rasanya percuma. Karena nasi sudah menjadi bubur, aku telah menikah dengan Reiji. Dan perasaan cinta yang sama aku dan Irsyad miliki pun, rasanya sia –sia.


----


“Kamu terlalu skeptis ....”


Itu yang Reiji katakan padaku, setelah aku mencibirnya dengan mengulang kembali perkataan Reiji soal,


‘Kalo aku masih ada perhatiannya walau cuma sama jam kerjanya Reiji, saat perhatian aku sudah mulai tersita dengan yang lain.’


Yang mana dengan entengnya Reiji menyahut dan mengatakan jika ia hanya mengucapkan apa yang ia pikirkan selain kebenaran.


Dimana otakku langsung dengan cepat menangkap makna terselubung dari ucapan Reiji yang berbunyi ‘Selain Kebenaran’.


“Kalo maksud ucapan kamu mau membahas hal yang ujung – ujungnya si Shirly itu, sorry aku ga minat ngebicarain dia—“


Iya, pikiranku kesitu. Reiji sedang menyentil urusan dugaanku yang masih mencurigai jika dirinya masih punya perasaan dengan Reiji, dan hubungan pertemanan mereka, mengingat betapa dekatnya Reiji dan Shirly dari foto –foto mereka.


Belum lagi note dengan bahasa mesra yang Shirly tuliskan di salah satu foto mereka.


“Aku juga ga ada niatan untuk membahas dia kok.” Sahut Reiji padaku, atas ucapanku yang sebelumnya.


Dan setelahnya ya itu, Reiji mengatakan padaku, jika aku ini skeptis.

__ADS_1


Dengan entengnya, dengan santainya menyeruput teh manis yang aku buatkan untuknya.


Yang ingin aku sergah ucapannya itu, dengan membalikkan tudingan skeptisnya padaku, pada dirinya sendiri.


Namun urung aku lakukan, karena ponsel Reiji berdering saat aku hendak buka mulut untuk menyergah ucapan Reiji yang mengatakan aku ini skeptis.


Dan mataku spontan saja langsung melirik ponsel Reiji yang berdering itu, yang kebetulan ada didekatku. Aku tersenyum miring, melihat nama pemanggil yang muncul di ponsel Reiji.


“Irly is calling!” Aku sengaja berseru kencang pada Reiji yang nampak santai saja berdiri dan menyeruput teh buatanku dan dia juga melirikku santai saja saat aku telah berseru menyebutkan siapa nama pemanggil yang sedang menghubungi ponselnya itu.


Plus,


“Angkat aja.” Sahut Reiji masih dengan ia yang bergeming di tempatnya.


“Ogah banget!”


Aku dengan cepat membalas ucapan Reiji dengan ketus. Dan ya memang, ogah banget menerima panggilan di ponsel Reiji yang mana si Shirly itu pemanggilnya.


“Angkat sih? Berisik tau ga?!” ucapku ketus sekali lagi.


Memang terasa lebih berisik dering ponsel Reiji aku rasa jika si Shirly itu yang menelpon.


Ya ampun, kenapa juga aku menjadi gusar dan kesal karena panggilan dari si Shirly itu ke ponselnya Reiji?!.


Aku lihat Reiji menghela nafasnya, lalu berjalan mendekatiku dan meraih ponselnya.


“Mati.” Ucap Reiji setelah ia meraih ponselnya dan mendudukkan dirinya di sampingku.


Seolah dia sengaja agar aku bisa mendengar percakapannya dan sahabat perempuannya itu.


“Kamu yang setahu aku jadwal terbangnya sore terus sekarang tau-tau udah rapih, jangan-jangan janjian sama dia?---“ Tapi mulutku rasa gatal karena penasaran. Bukankah suatu kebetulan, jika Reiji yang jam kerjanya sore itu, tapi sudah rapih di jam segini.


Lalu, tahu-tahu Shirly menelpon.


Ada indikasi jika Reiji punya janji temu dengan sahabat perempuannya itu, toh?!.


Tidak salah kan aku berpikir begitu?....


“Kalo iya, kenapa?---“


Dan jawaban Reiji membuatku tercengang.


Sekaligus, kesal!. Ah ya ampuunnn.... kenapa juga aku harus kesal?.


Aku juga sudah sering telponan, bahkan janjian dan bertemu dengan Irsyad dibelakang Reiji, kan?....


Jadi kenapa aku merasa kesal sekarang pada Shirly yang menghubungi Reiji saat suamiku itu telah nampak rapih dengan seragam pilotnya.


Yang mana aku akui, jika Reiji yang tampan itu semakin nampak gagah dengan balutan seragam pilotnya.


Namun sayang, itu rasanya tidak cukup untuk menggetarkan hatiku dan jatuh cinta padanya.


Well, kembali pada jawaban Reiji yang mengiyakan tudinganku. Dimana mulutku rasanya kembali gatal untuk melayangkan cibiranku yang tertunda pada Reiji karena panggilan telepon dari Shirly itu.


Tapi baru saja aku hendak berucap, Reiji yang setelah menerima panggilan dari Shirly namun kemudian panggilan itu keburu mati-lalu ia nampak sibuk dengan ponselnya, Reiji menyodorkan ponselnya padaku.


“Ini.”

__ADS_1


“Apa?...”


Aku bertanya kala Reiji menyodorkan ponselnya itu padaku.


“Baca ...” kata Reiji.


Tapi aku tak menyahut, tidak juga mengambil ponsel Reiji yang sedang ia arahkan padaku itu.


“Jawaban dari dugaan skeptis kamu yang berpikir aku janjian dengan Shirly sebelum aku bertugas ---“


‘Pak Reiji, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak Michael mengadakan rapat dadakan dengan para Pilot di jam 11 ini.’


Pesan yang tertulis di ponsel Reiji dari kontak yang bernama Ibu Jill WAL.


Yang mau tidak mau aku baca karena Reiji membuat kedua tanganku meraih ponselnya lalu memegang tanganku sampai aku mau membaca pesan yang sedang terbuka itu.


Aku terkejut Reiji bersikap seperti itu sebenarnya.


Tapi aku tidak menunjukkan keterkejutanku itu pada Reiji, yang seolah menjadi begitu pemaksa.


Atau memang seperti itu sifat Reiji yang sebenarnya?. Dan selama ini, sifat sabar yang ia tunjukkan padaku hanya kamuflase belaka?.


Tapi rasanya tidak. Reiji yang aku kenal bukanlah seorang pemaksa.


----


“Getol juga ya dia nelponin kamu?...”


Entah kenapa mulutku kembali malah membahas Shirly, padahal aku baru saja membaca pesan chat dari orang kantor dari Maskapai tempat Reiji bernaung.


“Getol? ...”


Reiji menyahut lalu ia terkekeh.


“Kamu, getol juga ya ketemuan sama si Irsyad itu?!”


Aku merutuki mulutku yang kadang tak terkontrol ini.


Karena kata-kata balasan dari Reiji atas ucapanku terdengar begitu menohok.


“Kamu pergi kemana sama dia kemarin sampai pulang hampir larut malam?”


“Mana ada larut malam?! Jam sepuluh kurang aku udah ada di sini ya.”


“Iya, tapi dari pagi kamu pergi, Malia Leonard!”


Aku lihat rahang Reiji mengeras.


“Apa harus aku ingatkan lagi, jika nama kamu sekarang sudah menjadi Malia Shakeel ---“


Reiji menatapku tajam kemudian.


“Silahkan kamu mau pergi kemana dan sama siapa aja, tapi ga hanya pergi berduaan sama teman lelaki kamu yang namanya Irsyad itu!”



**Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2