
Selamat membaca....
***
“Kenapa muka lo kusut begitu?..”
Abbas, salah satu sahabat Reiji, sontak bertanya pada Reiji yang sudah sampai di apartemennya.
Setelah Reiji mengirimkan chat di grup chat yang anggotanya adalah para sahabat karibnya dari sejak SMA itu bersambut.
Para sahabat yang sempat disibukkan dengan kesibukan masing-masing, dan sempat vakum berkomunikasi baik dalam aplikasi obrolan ataupun bertemu, kini sedang mengeratkan lagi jalinan persahabatan mereka yang sempat vakum itu dengan pertemuan rutin.
“Eh, ngomong-ngomong, kenapa lo dateng sendirian? Katanya mau ajak bini lo?..” Ini Abbas yang bicara seraya bertanya-salah seorang sahabat Reiji, saat ia telah menyambut kedatangan Reiji di apartemen pribadinya.
Apartemen Abbas yang menjadi tempat pilihan Reiji dan para sahabatnya itu berkumpul , karena Reiji memajukan waktu bertemu mereka yang rencananya diadakan sore hari di sebuah kafe lalu akan menghabiskan sabtu malam minggu bersama melakukan apa saja yang menyenangkan.
“Ga bisa ikut, udah keburu ada janji sama temennya.” Reiji menjawab pertanyaan Abbas sambil ia mengambil tempat di ruang tamu apartemen Abbas.
Abbas yang sudah menutup pintu apartemennya itu, lalu berjalan mendekati Reiji mendengus geli. “Jangan-jangan karena bini lo ga bisa ikut lagi, muka lo jadi kusem begitu?”
Abbas berkelakar kemudian.
“PS nyalain!”
Reiji tak menggubris kelakar Abbas dan meminta salah satu sahabatnya itu untuk menyalakan mesin game konsol miliknya yang Reiji lihat, kala Reiji telah menghempaskan dirinya dengan kasar ke atas sofa yang ada di ruang tamu apartemen Abbas.
“Iya Tuaan! ...” seloroh Abbas yang kemudian melangkah untuk menyalakan mesin game konsol miliknya.
Reiji pun mendengus geli dengan kelakuan Abbas yang menjawabnya dengan tingkah yang konyol itu. Lalu ia menangkap dengan tangkas game konsol yang Abbas lemparkan padanya.
Dan setelahnya Abbas mengambil tempat disamping Reiji, sambil menunggu sahabat mereka lainnya datang.
Abbas melirik pada Reiji yang sedang memilih game dalam mesin game konsol miliknya.
“Ribut sama Malia lo?”
Abbas pun bertanya seraya menduga.
Reiji mengangguk samar tanpa menoleh pada Abbas dengan mata Reiji yang nampak fokus ke layar televisi tempat di mana mesin game konsol milik Abbas terpasang.
“Mau minum apa lo? ...” tanya Abbas yang menjeda dulu untuk bertanya lebih lanjut pada Reiji, karena ia menangkap gelagat Reiji yang sedang gusar saat ini.
“Keluarin aja apa yang ada!” jawab Reiji sambil tetap fokus ke layar televisi.
“Bir?” tanya Abbas.
__ADS_1
“Serah!” jawab Reiji.
Abbas terkekeh saja melihat tampang jutek nan kusut salah seorang sahabatnya itu.
“Nih soda ae ...”
Abbas meletakkan sekaleng minuman bersoda di atas meja didekat Reiji duduk.
“Lo kalo mabok kan rese!”
“Sekate-kate lo kalo ngomong, nyet!” Reiji membalas cibiran bernada selorohan dari Abbas.
Dan Abbas sontak tergelak.
“Jadi, mau cerita apa engga? ...”
“Cerita apaan?”
Reiji balik bertanya pada Abbas yang bertanya padanya barusan.
“Bini lo ga bisa ikut karena emang udah ada janji sama temennya, atau lo ribut sama dia terus lo lari kesini?”
Abbas sedikit mengoceh seraya bertanya, sambil ia sudah menemani Reiji memainkan satu permainan dalam mesin konsol game miliknya.
Sambil juga menunggu kedatangan para sahabat mereka yang lain.
Sambil Reiji menoleh malas pada Abbas yang mendengus geli kemudian. “Ya kali udah berubah abis nikah? ... Biasanya kan gitu? ...”
“Gitu gimana maksud lo? ...”
Reiji balik bertanya pada Abbas, tanpa mengalihkan pandangannya dari game yang sedang ia mainkan.
“Ya lari ke best-prend abis ribut sama bini!”
Abbas pun menjawab sekenanya. Membuat Reiji mendengus geli.
“Lo pikir gue bocah?!”
Reiji menyahut jengah atas ucapa Abbas tadi.
Abbas pun terkikik kemudian.
“Nah abis muka lo asyem begitu, terus lo minta janjian kita dimajuin pula!” Abbas berucap kemudian. “Mo curhat kan lo?!”
“Sok you know lo!” sergah Reiji.
__ADS_1
Namun setelahnya Reiji terdiam, nampak menghela nafasnya sedikit berat.
Dan hal itu tak luput dari pandangan Abbas.
“Lo ribut sama Malia? ...”
Abbas kemudian melontarkan pertanyaan.
“Atau muka ganteng lo yang lagi seasem ketek ini, Cuma gara-gara Malia yang ga bisa lo bawa lagi buat kumpul bareng kita-kita orang?”
“Kepo sekali anda Mas Abbas?! ... Admin lambe lo sekarang? ...” cibir Reiji, namun setelahnya ia terkekeh.
Abbas pun tertawa mendengar cibiran Reiji barusan.
“Btw, gimana rasanya nikah? ...”
***
REIJI
Aku melipir dari ruang baca ke balkon apartemen, di malam minggu yang terasa menyedihkan yang aku rasa selama hidupku.
Memiliki pasangan resmi, sah dan halal, namun di malam minggu yang mana seharusnya aku ditemani oleh pasanganku yang statusnya adalah istri itu, aku malah sendirian di bawah langit Jakarta tanpa bintang.
Sungguh miris.
Di balkon apartemen yang baru aku tinggali selama hampir lima bulan bersama istriku ini, aku sedang merenung memikirkan pernikahanku dan Lia yang berjalan kurang lebih sama dengan waktu kami berada di apartemen ini.
Dan aku teringat pertanyaan Abbas saat di apartemen salah satu sahabatku itu. Gimana rasanya nikah? ...
Entah bagaimana menjabarkannya.
Pernikahanku dan Lia yang berawal dari perjodohan.
Lalu kuanggap dan aku yakin jika aku dan Lia akan saling menyesuaikan diri dalam pernikahan ini.
Saling mencintai dan dicintai.
Tapi kenyataannya, penyesuaian diriku dan Lia pernikahan kami ini, sudah keburu direcoki oleh urusan masa lalu sebelum aku dapat memenangkan hati istriku itu.
Dear Lia,
Kamu maunya aku gimana sih?.
***
__ADS_1
Bersambung...
LIKE dengan ikhlas yaa 😁