WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 152


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


“Kamu ga pulang aja Rei? Bisa istirahat kan di rumah? Aku teng – go kok nanti pulangnya. Lagi longgar banget kerjaan –“


Rei memang datang ke kantorku siang ini, dimana aku sudah bertemu dengannya di ruangan Pak Andra – atasanku.


Aku memintanya untuk lebih baik pulang saja, karena jika melihat penampilan Rei dengan seragam pilotnya dan Navy Bag miliknya yang aku lirik – ada di atas sofa dalam ruangan Pak Andra, Rei pasti baru saja kembali ke Jakarta setelah selesai bertugas dan langsung datang ke kantorku.


Rei pasti sangat lelah, dan aku tidak tega untuk itu.


“Ga apa – apa aku tungguin kamu aja – Tanggung udah disini.”


Namun sayangnya Rei tetap ngotot untuk menungguku, alih – alih kembali ke apartemen.


“Tapi –“


“It’s okay.” potong Rei.


“Beneran? ...”


Rei pun manggut – manggut seraya tersenyum.


“Bener,” jawab Rei. “Aku akan tungguin kamu disini. Kecuali kamu ada janji lain selepas pulang kerja kamu nanti.”


Aku spontan menoleh pada Reiji, dengan hatiku yang berdegup gelisah.


Jadi apa Rei tahu jika aku ketemuan dengan Irsyad tadi?..


----


“Aku-“


“Udah Yang-“


Rei memotong ucapanku.


“Serius ga apa kalau kamu tinggal aku buat balik ke meja kamu.”


Rei mengusap kepalaku.


“Aku tunggu kamu disini,” kata Reiji lagi. “Ga akan terasa aku nungguin kamu kalau ngobrol sama Bos kamu itu ... Toh dia juga yang minta aku stay disini ...”


Aku pun mengangguk pada akhirnya. “Ya udah kalau gitu Rei-“ sahutku. “Aku tinggal dulu ya?-“


“Iya istriku sayang-“


“Ih apaan sih ih?” cebikku.


“Apanya yang apaan?-“


“Ya ini di kantor lah,” tukasku.


Sambil aku melirik Pak Andra yang nampak masih sedang asik bertelepon ria.


“Iya, iya-“


Rei tersenyum simpul.


“Ya udah sana gih kalau kamu mau balik kerja Yang-“


Akupun mengangguk.


“Kamu udah makan?-“ tanyaku pada Rei sebelum aku melangkahkan kaki dari ruangan Pak Andra. “Kalau belum aku pesenin makan ya?-“


“Gampang udah ...” jawab Rei. “Aku juga belom laper-laper amat Yang.”


“Tapi-“


Aku hendak menyergah, tapi kemudian aku dengar Pak Andra berucap,


“Lo makan bareng gue aja Ji ... kebetulan istri gue ga kesini hari ini, jadi lo maksi sama gue aja kalo emang lo belum maksi.”


“Tuh, ada yang mau traktir aku,” tukas Rei.


“Ya udah kalo gitu—“ aku merasa lega jika memang Rei akan pergi maksi dengan Pak Andra.


“Kamu mau ikut Malia? ---“ potong Pak Andra.


“Makasih Pak, saya kan udah maksi tadi,” jawabku.


“Ya kali mau nemenin suaminya?..” tukas Pak Andra santai.


“Maunya sih, tapi saya ga mau dibilang aji mumpung kalo suami saya temen Bapak, terus saya seenaknya aja di waktu kerja saya .. Besok-besok kalo saya bikin salah, Bapak nyinyirin saya lagi? ..” sahutku, sedikit mencibir Pak Andra.

__ADS_1


Pak Andra terkekeh. Dan jujur saja aku merasa takjub Pak Andra bisa sesantai ini ternyata orangnya.


“Mentang-mentang ada suaminya ..”


Pak Andra berseloroh.


Aku tersenyum dan Rei mendengus geli.


----


Singkat kata, waktu bekerjaku telah hampir selesai.


Masih sekitar satu jam lagi, tapi kubikelku sudah rapih.


Untungnya hal itu bukan suatu pemandangan aneh di divisiku jika kami sedang longgar kerjaan.


Karena bukan hanya aku seorang yang sudah ready to go berhambur ke lobi dan meletakkan ibu jari di finger machine jika kerjaan sedang longgar seperti sekarang.


Namun saat ini satu jam terasa lama bagiku.


Ya tak lain dan tak bukan karena Rei, yang membuatku merasa gelisah karena tak tega atas dirinya yang sedang menungguiku sampai berjam-jam.


Yah, walaupun mungkin Rei sedang bernostalgia dengan Pak Andra di ruangan atasanku itu. Dan juga aku beberapa kali berbalas pesan chat dengan Rei yang katanya mendapat ledekan dari Pak Andra karena berbalas pesan chat denganku padahal kami berada di satu tempat yang hanya berbeda ruangan saja.


Tapi tak bisa aku pungkiri, jika aku merindukan Rei setelah kurang lebih empat hari tiga malam aku tidak bertemu dengannya.


Jika saja sedang di apartemen, aku mungkin sudah bermanja dan bermesra ria dengan suamiku itu sekarang.


“Malia.”


Aku segera mendongak ketika aku dengar sebuah suara memanggilku.


“Ya Pak? –“ sahutku pada dia yang barusan memanggilku itu. Yang mana adalah Pak Andra.


“Kamu boleh pulang sekarang-“ ucap Pak Andra yang membuatku sedikit terperangah.


“Seriusan Pak? –“ tanyaku memastikan, dan Pak Andra pun manggut-manggut.


Akupun spontan tersenyum lebar.


Tapi kemudian aku melirik kanan dan kiriku, karena tidak enak dengan rekan sesama divisiku, yang mana aku yakin mereka pasti bertanya-tanya – well, mungkin.


Kenapa Pak Andra menyuruhku pulang duluan, karena kemungkinan rekan-rekan satu divisiku itu tidak tahu jika alasan Pak Andra adalah karena Rei.


Dan pasti juga mereka bertanya-tanya perihal sikap Pak Andra padaku yang nampak serius tapi santai padaku ini.


Yang mana baru kali ini Pak Andra yang biasanya apa-apa pasti menyuruh sekertarisnya itu, kini datang sendiri ke kubikel karyawannya, ditambah hanya untuk menyuruhku pulang saja.


“Suami kamu jemput dan bilang ada keperluan,” kata Pak Andra kemudian.


Ah tapi syukurlah ternyata Pak Andra peka pada kekhawatiranku akan timbulnya gosip di kantor antara aku dan dia.


Aku pun tersenyum lega. “Iya Pak, makasih,” ucapku pada Pak Andra.


“Sama-sama.”


Pak Andra menjawab datar saja seperti bagaimana sikapnya selama ini di kantor.


“Tapi inget, saya ga sering-sering kasih ijin kayak gini.”


“Iya Pak ..” jawabku dengan sikap yang profesional.


**


Malia langsung mengecek lagi kubikel kerjanya sebelum ia meninggalkan kubikel kerjanya itu sebelum jam kerja berakhir.


“Guys –“ Malia hendak berpamitan kepada rekan satu divisinya ketika ia telah rasanya siap untuk segera hengkang dari kubikelnya. “Kenapa?” tanya Malia yang menggantungkan ucapannya kala ia menyadari beberapa rekan kerja yang lebih dekat dengannnya itu memandang Malia dengan tatapan yang nampak heran selain penasaran.


“Lu apain Pak Andra sampai dia jadi begitu?” tanya salah seorang rekan Malia yang cukup dekat dengannya itu.


“Iya Lia, tumbenan itu orang mau repot-repot ngomong sama karyawan sampe dateng sendiri ke kubikel? Biasanya dia nyuruh si Dhea? ..” timpal salah satu rekan Malia yang lain.


Malia mendengus geli saja melihat rasa heran dan penasaran beberapa rekan satu divisinya yang cukup dekat dengannya itu. “Gue jampe-jampe.”


Rekan kerja Malia yang cukup dekat dengan Malia itupun terkikik. “Lo sembur juga? –“ tanya rekan Malia lagi dan gantian Malia yang terkikik.


“Pengennya sih gitu!”


“Gue daftar ya, kalo pas lo punya jadwal nyembur dia? ..”


“Berani emang? ..” kekeh Malia.


“Ya kaga!” sambar salah seorang rekan kerja Malia yang sedang kasak-kusuk bersama itu.


“Laki gue temennya Pak Andra ternyata.” Ucap Malia yang ingin menyudahi kasak-kusuknya bersama beberapa rekan kerja satu divisi yang cukup dekat dengannya itu, karena ia ingin segera menyambangi Reiji.


Dan rekan kerja Malia itupun kompak membentuk huruf O dengan mulut mereka.

__ADS_1


“Besok aja kalo mau tanya-tanya –“ ucap Malia.


“Oke deh Mba Lia! –“


“Ya udah ya, see you guys tomorrow –“ pamit Malia pada beberapa rekan satu divisinya itu.


**


Wajah Malia nampak sumringah dari sejak ia meninggalkan kubikelnya sampai dengan ia sampai di lobi kantornya, dimana Reiji telah ada berdiri disana bersama atasan Malia yang merupakan teman lama Reiji itu.


Reiji mengulas senyuman kecil saat melihat Malia telah keluar dari sebuah lorong yang terhubung dengan ruangan divisi kerja Malia. Dan Malia pun melempar senyum balasannya untuk Reiji.


“Pak Andra, makasih ya?”


Malia berucap tulus pada atasannya itu.


Pak Andra mengangguk sembari tersenyum tipis.


“Sama-sama ..” Lalu atasan Malia itu menyahut.


“Lo jangan sering-sering jemput dia sebelum jam kerjanya kelar, karena gue ga tegaan sama temen yang bisa kering nungguin istrinya kerja ..” celoteh Pak Andra, dan Reiji terkekeh.


“Ya udah gue balik dulu, Ndra –“ pamit Reiji kemudian.


“Sipp.” Sahut Pak Andra. “Gue tinggal masuk ya? ..”


“Oke ..”


Reiji pun menyahut.


“Yuk ah!” ucap Pak Andra. “Keep in touch, Ji –“ tambah Pak Andra.


“Pasti –“ sahut Reiji. “Yuk, Ndra. Thanks by the way –“


“You’re welcome ..” tukas Pak Andra. “Yuk gue masuk.”


Pak Andra mengangkat tangannya pada Reiji dan Malia lalu ia berbalik badan dan melangkahkan kakinya menjauhi Reiji dan Malia yang membalas lambaian tangannya, serta ucapan terima kasih dari Malia sebelum atasannya itu hengkang dari hadapannya dan Reiji.


“Cantik, duluan ya?” Malia berpamitan pada resepsionis kantornya itu.


“Iya, hati-hati Mba Lia. Sekalian nitip kalo ada satu lagi yang kayak suaminya bawain ya?”


Reiji dan Malia pun terkekeh setelah mendengar celotehan si resepsionis cantik kantor Malia itu.


**


MALIA


“Sini kunci mobil kamu Yang-“ ucap Rei saat kami telah sampai di parkiran gedung perkantoran tempatku bekerja.“Biar aku yang nyetir,” sambungnya.


“Aku aja Rei, kamu pasti cape banget-“ sergahku. “Kamu bisa tiduran sebentar selama perjalanan.” Tambahku.


“Masa aku tega ngebiarin istri aku nyetir dan aku tinggal tidur juga?” Reiji balik menyergah.


“Iya tapi ..”


“Udah siniin kunci mobil kamu.”


Rei menadahkan tangannya ke arahku.


“Ini—“ akhirnya mau tidak mau, akupun memberikan kunci mobilku pada Rei.


“Yuk?”


“Yuk.”


Aku mengangguk menjawab ajakan Rei untuk masuk mobil.


“Yang?..”


“Eh iya?” aku terkesiap saat aku dengar Rei memanggil seraya menyentuh tanganku.


“Kenapa?”


Aku tersenyum kikuk pada Rei yang kini berdiri didekatku, lalu menggeleng.


“Ga apa-apa—“ jawabku pada Rei, dengan hatiku yang menjadi agak gelisah.


Lalu Rei tersenyum dan membukakan pintu mobil penumpang bagian depan.


Aku memanfaatkan momen Rei yang sedang berjalan memutar untuk masuk ke kursi kemudi, untuk memastikan pandanganku.


Aku menolehkan sedikit kepalaku untuk memastikan sesuatu. Sesuatu yang merupakan sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari mobilku.


Aku yakin tidak salah mengenali, jika mobil itu adalah mobil dari seseorang yang aku kenal.


Irsyad.

__ADS_1


**


Bersambung..


__ADS_2