
Selamat membaca....
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
REIJI
Aku sudah tak berpikir lagi apakah ada yang mengganjal di hati Lia perihal aku dan Irly, setelah ia memergoki aku yang berbohong padanya dan Lia datang saat aku sedang berada di apartemen Irly.
Lalu Lia berpikir yang bukan-bukan, hingga kemudian dia menghindariku. Dan akhirnya si bibit pebinor b*jingan itu sampai membius dan menculiknya.
Yang jelas\, saat Lia begitu intensnya mencumbuku\, mataku sudah kian berkabut g*irah. Terlebih\, setelah Lia menarik lepas handukku dan langsung menyentuh j*niorku yang memang sudah mulai menunjukkan pertumbuhan---selain mengeras.
Jadi ya sudah.
Aku tidak berpikir apa-apa lagi, selain membuat Lia menjadi dalam keadaan sepertiku.
Polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh.
Dan balik mencumbui Lia, setelah tadi dia menyerang bibir dan leherku dengan mulutnya.
Lalu tangan Lia m*raba dada polosku. Serta memainkan ujungnya. Membuat otak m*sumku menguasai diriku sepenuhnya.
โReeii ...โ
Lia melirih manja. Ketika aku sedang menyusuri setiap inci tubuhnya.
Lalu kian melirih dan menjambak gemas rambutku, saat aku sedang asyik bergerilya itu.
Aku paham arti jambakkan itu.
---
Jadi aku mulai merangkak naik, dan memposisikan diriku sejajar dengan Lia---dengan aku yang berada di atasnya.
Menahan tubuhku dengan kedua tanganku yang berada di sisi kanan dan kiri kepala Lia.
Dengan tubuh bagian atas kami yang sedikit berjarak.
Dan aku dapat melihat wajah Lia sudah memerah dengan menatapku sayu.
Obat perangsang yang diberikan oleh si bibit pebinor b*jingan itu sedang bekerja di tubuh Lia sekarang. Dan aku tidak dapat membayangkan\, jika dengan kondisi Lia seperti sekarang ini\, Lia masih berada dalam kuasa si bibit pebinor b*jingan itu.
Untung saja aku cepat datang. Dan benar-benar mensyukuri bahwasanya aku dapat mengenal Tuan Alvarend dan keluarganya, hingga aku dibantu sampai sebegitunya untuk bisa dengan cepat menyelamatkan Lia.
Setelah Lia sudah tidak syok lagi nanti, aku akan langsung menemui Tuan Alvarend, keluarga, Ammar, bahkan orang-orang mereka.
Untuk berterima kasih karena telah banyak menolongku, terlebih untuk menolongku menyelamatkan Lia dengan secepat-cepatnya, hingga bisa sampai---walau agak lambat karena sebelum aku menemui Tuan Alvarend yang memintaku untuk segera menemuinya ketika aku ijin tidak melakukan tugasku, aku sibuk bertanya-tanya tentang Lia ke beberapa orang.
Termasuk pergi ke rumah orang tua Lia.
Lalu menunggu papa mertuaku menghubungi kenalannya yang mempunyai pangkat cukup tinggi di kepolisian guna membantu mencari keberadaan Lia.ย Yang mana---bukan aku tidak berterima kasih karena kenalan papa mertuaku itu telah cepat menggerakkan anak buahnya untuk mencari informasi tentang Lia.
Hanya saja, mereka yang bergerak lebih dulu---kalah cepat dengan Tuan Alvarend dan orang-orangnya. Yang saat aku datang ke rumah megahnya, dia sudah memberikanku banyak informasi tentang keberadaan Lia dan apa yang telah menimpanya.
Dan mendapatkan akses cepat---sangat cepat bahkan, untuk pergi menyelamatkan Lia.
---
Lia diberikan obat perangsang. Begitu yang Ammar katakan padaku, dan sekarang aku sedang mendapati jika hal itu benar adanya. Karena Lia sikap Lia seolah berubah tiga ratus enam puluh derajat dalam tindak-tanduk menuju keintiman.
Lia yang biasanya tidak terlalu mengumbar g*irahnya ketika kami melakukan hubungan suami istri yang memang selalu mencoba menyeimbangiku setelah ia mengaku telah mencintaiku, kini menjadi sangat agresif. Bahkan terkesan liar.
Dan keagresifan serta keliaran Lia itu, telah juga membakar g*irahku. Yang setelah intens dicumbu Lia dan kemudian melakukan hal yang sama padanya, aku mulai mendesakkan โmiikkuโ ke dalam diri Lia. Melakukan penyatuan. Yang memang sudah sangat ingin aku lakukan, dan melihat wajahnya yang memerah serta tatapan sayunya padaku, aku rasa Lia juga sudah sangat menginginkannya.
Selain aku yakin sih, memang Lia sudah terdesak oleh efek obat perangsang yang sedang bekerja di tubuhnya saat ini.
Jadi ya sudah. Lanjutkeun.
Aku dan Lia sama-sama m*ndesah ketika aku telah mendesakkan penuh โmilikkuโ ke dalam tubuh Lia.
Saling tatap sebentar. Sampai kemudian aku mulai bergerak. Perlahan tapi pasti.
Hingga gerakan perlahanku berubah menjadi cepat dan tak terkendali.
__ADS_1
Ketika Lia sudah langsung melingkarkan kakinya di pinggang belakangku, dan perlahan tapi pasti Lia juga bergerak dengan liar.
Er*ngan dan ******* aku dan Lia\, memenuhi kamar dalam penthouse milik adiknya Tuan Alvarend ini. Yang tidak aku pikirkan jika aku dan Lia ini sedang menggunakan kamar orang lain dalam kami yang sedang berpacu dalam g*irah ini.
Habis mau bagaimana? ...
Istriku sedang terdesak g*irah dan nampak tersiksa.
Jadi sebagai suami yang baik, aku harus membantunya lepas dari siksaan.
Hehe ...
---
โCinta kamu, Yang,โ bisikku disela pompaanku pada Lia. Yang aku terima sebagai balasan adalah bisikkan mesra yang sama dari Lia. Namun tergesa ia ucapkan. Karena Lia langsung m*ndesah setelahnya, dengan lebih keras saat aku lebih mempercepat pompaanku. Lalu membungkam bibirnya dengan bibirku.
โHmmpphh ...โ
Bukan apa. Aku kan sedikit merasa tidak enak juga jika er*angan dan d*sahan Lia yang sedang โkupompaโ ini terdengar oleh ART nya Tuan Jonathan dan istrinya.
Meskipun aku harus memikirkan bagaimana tentang ranjang Tuan Jonathan dan istrinya ini, yang nanti pastinya akan mendapatkan jejak percintaanku dan Lia.
Ah sudahlah, nanti saja aku pikirkan soal seprei tempat tidurnya Tuan Jonathan dan istrinya ini. Fokusku hanya untuk mencapai pelepasanku yang sebentar lagi sampai.
โRei ...โย Namun sebelum aku sampai, Lia sudah melepaskan bibirnya dari bungkamanku dan memekik tertahan.
Dengan tubuh Lia yang menegang.
๐
Malia yang menegang, diikuti Reiji tak lama kemudian---yang sebentar mempercepat pompaannya pada Malia, lalu tak lama dari itu, lenguhan kuat namun tertahan keluar dari mulut Reiji. Yang setelahnya ambruk di atas tubuh Malia. Dengan nafas Reiji dan Malia yang terengah-engah.
โKamu ... udah, keluar Yang? ...โ tanya Reiji sebagai formalitas.
Meski Reiji sebenarnya tahu persis jika Malia telah sampai pada pelepasannya.
Bahkan Malia mendapatkannya lebih dulu.
Namun sudah menjadi kebiasaan bagi Reiji untuk mempertanyakan hal itu pada Malia, setiap mereka selesai dengan ritual suami istri---dari sejak pertama kali mereka melakukannya.
Malia mengangguk menjawab pertanyaan Reiji barusan, dan Reiji pun tersenyum, lalu mengecup mesra kening Malia. Setelahnya Reiji beringsut ke samping Malia.
๐
โYang โโ
โLagi, Rei ...โ
Baru saja Reiji memposisikan dirinya dan Malia agar lebih nyaman berbaring di ranjang dan Reiji hendak menanyakan apakah Malia ingin diambilkan minum, namun tahu โ tahu Malia sudah duduk di atas Reiji.
โHeu? ...โ
Membuat Reiji terkesiap selain melongo.
Karena Malia tidak sekadar mendudukinya, namun sudah mulai mencumbuinya lagi.
Membuat Reiji jadi kikuk sendiri. Selain ada desir โ desir gairah yang mulai menjalar karena cumbuan Malia yang walau perlahan.
Namun cukup membuat api g*irah di tubuh Reiji yang baru saja mereda, tersulut lagi.
Yang pada dasarnya, memang Reiji seringnya m*sum kalau sudah berada di dekat Malia.
Tapi Malia yang saat ini sedang mendudukinya berbeda.
Istrinya yang suka protes kalau Reiji minta nambah jatah โiya โ iyaโ, kini meminta nambah duluan tanpa malu dan terlihat risih.
Masih agak lelah sih karena pertempurannya yang pertama dengan Lia. Namun bila dicumbui lagi oleh Malia dengan intensnya seperti sekarang ini, lelah Reiji pun terbang ke angkasa. Lalu menanggapi Malia yang minta โnambahโ.
๐
MALIA
Aku merasakan untuk yang kedua kalinya aku membuka mata di dalam ruangan yang sama. Sebuah kamar yang asing, mirip sebuah kamar hotel kelas VVIP. Mungkin?
__ADS_1
Tapi yang jelas aku sangat lapar sekarang. Setelah ...
Ah ya, aku ingat sesuatu sebelum aku tak sadarkan diri untuk yang kedua kali.
Jika yang pertama pandanganku tiba โ tiba langsung buram dan gelap, yang kedua karena aku sangat mengantuk.
Setelah aku dan Rei โbertempurโ entah berapa kali.
Aku tidak mengingatnya. Yang aku rasa lebih dari dua kali, bagaimana aku dan Rei saling berpacu untuk menggapai sebuah kenikmatan yang hakiki.
Ah Rei.
Seketika aku mengingatnya.
---
Dan saat aku mengingat Rei, aku merasakan pelukan posesif di perutku bersamaan dengan hembusan nafas yang teratur menyentuh tengkukku.
Meski kemudian memori percintaanku bersama Rei berkelebat di otakku, yang aku rasa belum lama terjadi, namun aku masih sedikit agak paranoid.
Tentang siapa yang sedang memelukku dengan posesif dari belakang ini, serta hembusan nafasnya aku rasakan menyapu hangat tengkukku. Yang mana---tentu saja aku berharap orang itu adalah Rei.
Aku mengendurkan tangan yang melingkar di pinggangku, dan aku bergerak perlahan untuk menoleh ke belakangku.
Dan bibirku spontan tertarik ke atas, ketika aku mendapati wajah Rei dengan matanya yang terpejam sambil memelukku itu dengan perasaanku yang lega.
Namun seketika aku merasa malu, saat mengingat kelebatan sesi percintaanku dengan Rei sebelum kami berdua terlelap pulas.
Dimana aku yang begitu bernafsu untuk menyentuh dan mendapat sentuhan Rei, bahkan aku menjadi seperti perempuan binal.
Iya, aku ingat setiap hal yang aku lakukan untuk menggoda Rei dengan cumbuan dan rabaanku sebelum akhirnya Rei menyambut godaanku yang liar itu.
Bahkan aku ingat, aku yang meminta nambah.
Ya Tuhan, malunya aku pada Rei ...
Dan itu semua karena si biadab Irsyad yang menyuntikkanku obat perangsang sialan.
โEenggg ...โ
Aku dengar gumaman samar dari mulut Rei.
Dan aku sebenarnya sedang merasa dilema antara aku berharap Rei bangun atau tidak.
Aku ingin Rei bangun, karena aku merasa sangat lapar.
Dan karena aku tidak tahu ini dimana, makanya aku rasa aku butuh bantuannya untuk mendapatkan makanan.ย Tapi tidak ingin juga Rei bangun cepat โ cepat, karena aku masih merasa malu dengan kelakuanku sebelum kami berdua terlelap pulas.
Yang macam kuda binal itu.
๐
Malia sontak membeku setelah ia mendengar gumaman samar Reiji, karena dirinya sedang merasa kikuk sendiri.
Masih merasa malu pada Reiji. Dan meski merasa dirinya lapar, namun untuk sebentar Malia rasanya akan memejamkan matanya dulu dan berpura โ pura masih tidur.
Namun baru saja Malia ingin menjalankan rencananya, suara Reiji sudah terdengar pelan di telinga Malia.
โKalau mau mulai ronde baru lagi, aku siap ...โ
โHeu?? ...โ
Malia terkesiap karena ucapan Reiji barusan, dimana ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bagian bongkahan belakangnya, lalu perlahan benda itu bergerak nakal dan bertumbuh?
Malia hendak menyergah, namun Reiji telah memposisikan tubuhnya mengukung tubuh Malia dengan satu tangan Reiji yang menopang tubuhnya itu agar tidak menimpal Malia.
โAyo, abis di sini nanti kita main di kamar mandi.โ
Reiji merundukkan tubuhnya hingga dadanya dan dada Malia menempel, lalu menyambar leher Malia.
'Mati gue!' pekik Malia dalam hatinya.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Bersambung .......